Share

17

last update publish date: 2026-08-11 14:00:09

Suara derap langkah yang sangat rapi dan terukur itu menyusul usai bentakan tajam tadi. Aku langsung mengenali suara bariton yang seketika membekukan darahku itu.

Itu sama sekali bukan suara preman rendahan, melainkan suara dari mimpi burukku yang lain.

"Mundur kalian semua, sekumpulan manusia bodoh! Tuan Aditya tidak membayar kalian untuk menghancurkan fasilitas publik dan membuat keributan yang menarik perhatian banyak orang!" perintah suara itu dengan nada yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Naumi Cantika
jgn nyesel dan nyerah gituu donkk km pasti bisaa kokkk
goodnovel comment avatar
Nari Ratih
kesel banget dengan semua nya. ini knapa bsa nyerah segampang itu. seharusnya pinterin dikit aja knapa blooooooon banget sih
goodnovel comment avatar
nyai halu
emang yaa gak bisa lari dari genggaman sang predator seperti Adit ini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 45

    [Sudut Pandang Raditya] Layar monitor pengawas di atas mejaku menampilkan pergerakan yang sangat terkoordinasi. Aditya berjalan angkuh menyusuri lorong klinik, mendorong kursi roda yang diduduki oleh Sarah. Belasan tentara bayaran elit bersenjata laras panjang langsung menyebar, mengambil posisi di setiap sudut koridor untuk membentuk barikade. Pertahanan kembaranku ini benar-benar tanpa celah, layaknya sedang mengawal seorang tawanan perang bernilai triliunan rupiah. Pintu ruang konselingku diketuk dengan keras. Aku menarik napas dalam-dalam, menekan detak jantungku yang berpacu liar. Mengubah postur tubuhku agar sedikit membungkuk khas Dr. Wagner, aku menekan tombol pembuka pintu otomatis dari bawah meja kayuku. Pintu ek itu bergeser terbuka. Aditya berdiri di ambang pintu, aura intimidasinya menguar pekat memonopoli ruangan. Di depannya, duduk lemah di atas kursi ro

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 44 Mengkudeta Sang Dokter

    [Sudut Pandang Raditya]Jalanan aspal yang membelah hutan pinus di pinggiran Munich telah sepenuhnya tertutup lapisan es tipis dan tumpukan salju. Aku menatap layar pelacak di tabletku dengan mata menyipit tajam. Titik merah yang menunjukkan posisi mobil Dr. Felix Wagner melaju dengan kecepatan sedang, berjarak kurang dari satu kilometer dari posisiku saat ini."Klaus, bersiaplah. Target akan melewati tikungan ini dalam waktu tiga puluh detik," ucapku melalui sambungan penyuara telinga."Mobil van sudah memblokir jalan, Kawan. Dia sama sekali tidak akan punya ruang untuk kabur," sahut Klaus dari ujung jalan sana.Aku menghembuskan napas yang membentuk kepulan asap tipis di udara beku. Tepat sesuai perhitungan matematikaku, sebuah mobil sedan Mercedes-Benz hitam muncul dari balik tikungan tajam. Melihat sebuah van logistik mogok melintang di tengah jalan sempit yang licin, pengemudi sedan itu terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Ban mobiln

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 43 Celah Menuju Sangkar

    Udara sedingin es menyapu wajah pucatku untuk pertama kalinya sejak aku disekap di benua ini. Mataku berkedip pelan, menatap kosong pada deretan pasukan bersenjata laras panjang yang membentuk barikade berlapis di sepanjang lorong sayap timur. Suara langkah sepatu bot militer mereka menggema seirama dengan derit kursi roda yang kunaiki.Aditya mendorong kursi rodaku dengan napas memburu dan rahang mengeras. Tangan kirinya tak pernah melepaskan cengkraman dari bahuku, seolah takut aku akan menguap tertiup angin badai musim dingin."Bertahanlah, Sayang. Kita akan menemui dokter ahli sekarang. Kau pasti akan segera sembuh," bisiknya di dekat telingaku. Nada suaranya bergetar, sebuah perpaduan antara ketakutan kehilangan pewaris yang ada di rahimku dan kemarahan karena harus menyerah pada situasi yang di luar kendalinya.Aku hanya membisu, menatap kosong lurus ke depan. Kebebasan sesaat ini sama sekali tak memberiku setitik pun kebahagiaan. Duniaku sudah

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 42 Pilihan Mematikan

    Nampan perak berisi bubur gandum dan susu hangat itu kembali tak tersentuh. Asapnya sudah lama menghilang, menyisakan makanan dingin yang membeku sejalan dengan matinya jiwaku."Nyonya Sarah, kumohon makanlah dua suap saja. Tuan Aditya bisa murka besar jika melihat Anda tidak menyentuh makanan ini seharian penuh," bujuk perawat wanita itu dengan wajah pucat pasi. Ia menyodorkan sendok tepat ke depan bibirku.Aku hanya menggeleng pelan. "Bawa pergi. Aku tidak mau.""Tapi Anda bahkan belum meminum setetes air pun sejak pagi tadi, Nyonya!""Aku bilang bawa pergi!" desisku parau. Suaraku terlampau lemah hingga nyaris menyerupai bisikan angin.Aku kembali membuang muka, menatap hamparan salju di luar jendela dengan tatapan kosong. Menolak makan dan minum bukanlah sebuah rencana pelarian yang kususun matang. Ini murni karena tubuhku menolak kehidupan. Rasa lapar dan haus itu seolah mati rasa, digantikan oleh kekosongan pekat yang mencengke

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 41 Jiwa yang Mati Rasa

    Hari-hari berikutnya berlalu seperti bayangan abu-abu. Waktu tak lagi memiliki makna di dalam ruang rawat VVIP bersalju ini. Ancaman Aditya tentang nyawa ibuku sukses besar membunuh sisa-sisa perlawananku.Aku tak lagi menangis, tak lagi meronta, dan tak lagi memohon. Kewarasanku telah hancur berkeping-keping, menyisakan cangkang kosong yang bernapas hanya demi satu hal: memastikan ibuku tetap hidup di paviliun sana.Pintu kamarku terbuka. Aditya melangkah masuk dengan senyum lebar yang terlihat begitu memuakkan, membawa sebuah gaun sutra berwarna pastel di tangannya."Lihat apa yang Mas bawakan untukmu hari ini, Sayang," sapa Aditya riang, seolah tak pernah ada luka mental yang ia torehkan padaku. Ia meletakkan gaun itu di pangkuanku. "Cobalah. Kau pasti terlihat sangat cantik mengenakannya.""Terima kasih, Mas," jawabku datar.Suaraku terdengar sangat serak, tanpa intonasi, tanpa emosi. Sama persis seperti robot yang diprogram

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 40 Kemarahan yang Tertahan

    Raditya Wardhana memundurkan langkahnya secara perlahan, menyembunyikan troli linennya ke dalam sebuah ruang pantri kecil di sudut lorong yang tak terjangkau oleh kamera pengawas.Rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol kaku.Barikade belasan tentara bayaran elit dan keberadaan Bara di depan pintu kamar VVIP itu benar-benar menjadi tembok baja yang mustahil ditembus hanya dengan tangan kosong.Namun, Raditya bukanlah pria bodoh yang akan menyerah pada keputusasaan begitu saja. Sebagai seorang peretas kelas dunia, ia selalu memiliki jalan belakang.Dengan gerakan cepat, ia merogoh saku seragam medis curiannya dan mengeluarkan sebuah tablet tipis berwarna hitam pekat.Jari-jarinya yang terlatih menari kilat di atas layar sentuh, meretas jaringan intranet rumah sakit swasta tersebut dalam hitungan detik.Mengabaikan sistem keamanan luar, Raditya langsung menargetkan frekuensi kamera pengawas internal yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status