Mag-log in[Sudut Pandang Raditya]Aku berlutut di depan kursi roda itu, menatap lekat wajah pucat wanita yang menjadi pusat semestaku. Tanganku perlahan terulur, bergetar hebat, ingin sekali merengkuh tubuh rapuh Sarah ke dalam pelukanku dan membisikkan bahwa aku akhirnya datang untuk menyelamatkannya.Namun, sebelum jemariku sempat menyentuh punggung tangannya, suara panik Marco kembali berderak nyaring di telingaku."Tuan Raditya, tahan diri Anda! Alat pelacak inframerah kami mendeteksi bahwa Tuan Aditya baru saja menempelkan stetoskop penyadap getaran berfrekuensi tinggi tepat di balik pintu kayu itu! Jika Anda mengubah suara atau berbicara hal di luar konteks medis, dia akan langsung mendobrak masuk!"Aku mengatupkan rahangku rapat-rapat. Sialan! Paranoid Aditya benar-benar tak memiliki batas. Kembaranku itu masih terus mengawasi layaknya iblis yang haus darah. Aku terpaksa menelan kembali seluruh kerinduan ini bulat-bulat.Dengan berat ha
[Sudut Pandang Raditya] Suasana di ambang pintu seketika berubah sedingin es di kutub utara. Mata kelam Aditya yang semula hanya memancarkan arogansi, kini menyala beringas dipenuhi insting membunuh. "Lapisan benda asing?!" desis Aditya menggelegar. Dalam kedipan mata, moncong pistol hitam telah tercabut dari balik jasnya dan menempel tepat di pelipis kiriku. Belasan tentara bayaran elit di belakangnya serempak mengokang senapan serbu mereka. Bunyi logam bergesekan itu terdengar bagai melodi kematian di lorong klinik. "Siapa kau sebenarnya, Keparat?! Beraninya kau menyamar untuk mendekati istriku!" raung Aditya. Telunjuknya sudah menegang kaku di atas pelatuk. Aku menelan ludah, menahan lonjakan adrenalin yang nyaris meledakkan dadaku. Jika aku salah bicara sedikit saja, peluru ini akan langsung menembus tengkorakku. Aku harus memainkan peran Dr. Wagner dengan sangat sempurna. "Singkirkan senjata kotor Anda dari
[Sudut Pandang Raditya] Layar monitor pengawas di atas mejaku menampilkan pergerakan yang sangat terkoordinasi. Aditya berjalan angkuh menyusuri lorong klinik, mendorong kursi roda yang diduduki oleh Sarah. Belasan tentara bayaran elit bersenjata laras panjang langsung menyebar, mengambil posisi di setiap sudut koridor untuk membentuk barikade. Pertahanan kembaranku ini benar-benar tanpa celah, layaknya sedang mengawal seorang tawanan perang bernilai triliunan rupiah. Pintu ruang konselingku diketuk dengan keras. Aku menarik napas dalam-dalam, menekan detak jantungku yang berpacu liar. Mengubah postur tubuhku agar sedikit membungkuk khas Dr. Wagner, aku menekan tombol pembuka pintu otomatis dari bawah meja kayuku. Pintu ek itu bergeser terbuka. Aditya berdiri di ambang pintu, aura intimidasinya menguar pekat memonopoli ruangan. Di depannya, duduk lemah di atas kursi ro
[Sudut Pandang Raditya]Jalanan aspal yang membelah hutan pinus di pinggiran Munich telah sepenuhnya tertutup lapisan es tipis dan tumpukan salju. Aku menatap layar pelacak di tabletku dengan mata menyipit tajam. Titik merah yang menunjukkan posisi mobil Dr. Felix Wagner melaju dengan kecepatan sedang, berjarak kurang dari satu kilometer dari posisiku saat ini."Klaus, bersiaplah. Target akan melewati tikungan ini dalam waktu tiga puluh detik," ucapku melalui sambungan penyuara telinga."Mobil van sudah memblokir jalan, Kawan. Dia sama sekali tidak akan punya ruang untuk kabur," sahut Klaus dari ujung jalan sana.Aku menghembuskan napas yang membentuk kepulan asap tipis di udara beku. Tepat sesuai perhitungan matematikaku, sebuah mobil sedan Mercedes-Benz hitam muncul dari balik tikungan tajam. Melihat sebuah van logistik mogok melintang di tengah jalan sempit yang licin, pengemudi sedan itu terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Ban mobiln
Udara sedingin es menyapu wajah pucatku untuk pertama kalinya sejak aku disekap di benua ini. Mataku berkedip pelan, menatap kosong pada deretan pasukan bersenjata laras panjang yang membentuk barikade berlapis di sepanjang lorong sayap timur. Suara langkah sepatu bot militer mereka menggema seirama dengan derit kursi roda yang kunaiki.Aditya mendorong kursi rodaku dengan napas memburu dan rahang mengeras. Tangan kirinya tak pernah melepaskan cengkraman dari bahuku, seolah takut aku akan menguap tertiup angin badai musim dingin."Bertahanlah, Sayang. Kita akan menemui dokter ahli sekarang. Kau pasti akan segera sembuh," bisiknya di dekat telingaku. Nada suaranya bergetar, sebuah perpaduan antara ketakutan kehilangan pewaris yang ada di rahimku dan kemarahan karena harus menyerah pada situasi yang di luar kendalinya.Aku hanya membisu, menatap kosong lurus ke depan. Kebebasan sesaat ini sama sekali tak memberiku setitik pun kebahagiaan. Duniaku sudah
Nampan perak berisi bubur gandum dan susu hangat itu kembali tak tersentuh. Asapnya sudah lama menghilang, menyisakan makanan dingin yang membeku sejalan dengan matinya jiwaku."Nyonya Sarah, kumohon makanlah dua suap saja. Tuan Aditya bisa murka besar jika melihat Anda tidak menyentuh makanan ini seharian penuh," bujuk perawat wanita itu dengan wajah pucat pasi. Ia menyodorkan sendok tepat ke depan bibirku.Aku hanya menggeleng pelan. "Bawa pergi. Aku tidak mau.""Tapi Anda bahkan belum meminum setetes air pun sejak pagi tadi, Nyonya!""Aku bilang bawa pergi!" desisku parau. Suaraku terlampau lemah hingga nyaris menyerupai bisikan angin.Aku kembali membuang muka, menatap hamparan salju di luar jendela dengan tatapan kosong. Menolak makan dan minum bukanlah sebuah rencana pelarian yang kususun matang. Ini murni karena tubuhku menolak kehidupan. Rasa lapar dan haus itu seolah mati rasa, digantikan oleh kekosongan pekat yang mencengke







