Share

Kebodohan Count Demarcus

Penulis: Yoru Akira
last update Tanggal publikasi: 2026-03-14 22:46:37

Suasana di aula agung Astrum-Glace tidak lagi sekadar dingin karena sihir es dari Utara, melainkan membeku oleh amarah sang penguasa tertinggi Valeranthia.

Kaisar Benedict berdiri di undakan takhta dengan napas yang memburu. Sementara dokumen-dokumen yang berserakan di lantai marmer menjadi saksi bisu atas runtuhnya martabat seorang Count.

"Count Demarcus von Astrea!" suara Kaisar Benedict menggelegar kembali.

Kali ini lebih rendah, namun sarat dengan getaran murka yang membuat lilin-li
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Peringatan!

    Kereta kuda dengan lambang serigala perak itu membelah kabut fajar yang masih tebal menyelimuti jalanan berbatu Ibu Kota. Di balik jendela yang tertutup rapat, Seraphina menatap siluet istana Astrum-Glace yang perlahan mengecil di kejauhan. Ia tidak tahu—dan mungkin tidak peduli—badai apa yang sedang meledak di dalam sana saat Kaisar Benedict menemukan sisa-sisa kegilaan putranya. Baginya, setiap putaran roda kereta ini adalah jarak yang menjauhkannya dari monster masa lalunya. Di dalam kabin yang hangat, keheningan menyelimuti. Killian duduk tepat di hadapannya, namun kali ini pria itu tidak sedang mempelajari peta atau dokumen militer. Matanya tertuju pada Seraphina, menatap jemari gadis itu yang sesekali masih terpaku pada kotak perhiasan di pangkuannya. Kejadian di balkon semalam masih menggantung di antara mereka—bukan sebagai beban, melainkan sebagai sebuah pengakuan yang belum tuntas terucap. "Kita akan sampai di kediaman Duke dalam satu jam," suara Killian memec

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Kemarahan Sang Kaisar

    Matahari fajar baru saja menyentuh puncak menara tinggi Astrum-Glace saat jeritan seorang pelayan membelah keheningan koridor sayap tamu. Tak butuh waktu lama bagi berita itu untuk sampai ke telinga Kaisar Benedict. Sang penguasa Valeranthia itu bahkan belum sempat mengenakan jubah kebesaran saat ia melangkah dengan gusar menuju lokasi kejadian. Diikuti oleh barisan pengawal yang gemetar ketakutan. "Ulah apalagi yang dilakukan anak sialan itu! Apa belum cukup mempermalukan aku?!" gumam Kaisar Benedict pada dirinya sendiri. Langkahnya tegap tanpa keraguan sedikit pun. Justru didominasi oleh kemarahan yang mencapai ubun-ubun. Tak butuh waktu lalu sampai mereka sampai lokasi kejadian. Wajah kaisar memucat. Pemandangan di dalam kamar sayap tamu itu lebih mirip medan perang daripada kamar bangsawan. Lantai marmernya retak-retak oleh sisa es hitam yang mulai mencair. Menciptakan genangan air dingin yang bercampur dengan darah pekat. Enam jasad Shadow Guard tergeletak dalam posisi

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   After Midnight

    Valerius sempat menunjukkan binar harapan. Ia mengira Seraphina akan membelanya demi alasan politik. "Ya, Sera! Beritahu dia! Jangan biarkan dia melakukan kegilaan ini!" Seraphina menatap Valerius dengan tatapan yang jauh lebih dingin daripada pedang Killian. "Jangan salah paham, Valerius. Aku tidak menyelamatkanmu karena aku peduli. "Aku hanya tidak ingin tangan calon suamiku kotor oleh darah sampah sepertimu di dalam istana ini. Itu akan merusak rencana kepulangan kami." Ia beralih menatap Killian. "Biarkan dia hidup dengan rasa malu ini. Biarkan dia menjelaskan pada Kaisar kenapa seluruh pasukan elitnya membeku di kamarku sementara dia sendiri berlutut di kakiku dengan luka di pahanya." Killian menatap Seraphina sejenak, lalu kembali menatap Valerius yang kini benar-benar terlihat seperti pecundang yang malang. Dengan satu sentakan kasar, Killian menendang dada Valerius hingga pria itu terjerembap ke belakang, nyaris terjatuh dari balkon. "Pergilah sebelum aku b

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Obsesi Sang Pangeran

    Seraphina tersenyum sinis menanggapi ucapan Valerius. "Kau sudah menyia-nyiakan kesempatan, Valerius! Dan aku tak akan pernah mau terjebak dalam ilusi yang bangun untuk memanipulasiku!" Valerius mengamati Seraphina dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan posesif yang menjijikkan. "Kau akan ikut denganku malam ini. Kita akan kembali ke Istana Barat, dan aku akan memastikan kau memohon ampunan di bawah kakiku karena telah mempermalukan aku di depan ayahanda. "Atau..." ia melirik ke arah jurang di belakang Seraphina, "kau akan jatuh dari balkon ini sebagai mayat cantik yang membeku. Pilih mana?" Seraphina berdiri tegak, memaksakan kakinya untuk berhenti gemetar. Ia menatap lurus ke dalam mata Valerius yang kosong. Seraphina bisa merasakan kebencian yang selama ini ia pendam kini mengkristal menjadi keberanian yang dingin. "Kau selalu menganggapku sebagai pilihan, Valerius. Kau pikir aku adalah barang yang bisa kau pilih warnanya atau kau buang jika sudah bosan,

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Serangan Tengah Malam

    Malam di Istana Astrum-Glace merambat pelan. Namun ketenangan yang menyelimuti sayap tamu itu hanyalah kulit ari yang menutupi ketegangan yang mendidih. Di dalam ruangan luas itu, lampu-lampu minyak telah dipadamkan. Menyisakan keremangan yang hanya ditembus oleh pucatnya sinar bulan yang membias dari balik jendela besar. Menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas lantai marmer. Seraphina berdiri di sudut ruangan yang paling gelap, punggungnya menempel pada dinding batu yang dingin. Tangannya yang mungil namun stabil mencengkeram erat busur panah pendek—sebuah senjata ramping namun mematikan yang ia pinjam dari persenjataan pribadi Killian.Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Namun bukan karena ketakutan, melainkan karena adrenalin yang mulai membakar nadinya. Di tengah ruangan, Killian duduk dengan tenang di atas kursi kayu ek yang berat.Pria itu tampak seperti monumen kematian yang tak tergoyahkan. Pedang besarnya yang legendaris, W

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Pesan Sang Permaisuri

    Seraphina menerima surat itu, membukanya dengan cepat. Matanya membelalak saat membaca baris demi baris tulisan tangan yang anggun namun tampak ditulis dengan terburu-buru.'Cucuku tersayang, Seraphina.''Darah Astrea yang mengalir di nadimu adalah alasan kenapa aku menulis ini. Anak kandungku sendiri, Valerius, telah kehilangan akal sehatnya.''Ia tidak tahan melihatmu berada di bawah perlindungan Utara. Malam ini, tepat saat jam berdentang dua belas kali, ia berencana mengirim pasukan rahasia ke sayap istanamu. Tujuannya bukan untuk membunuhmu, tapi untuk menculikmu dan membawanya ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Killian.'Tangan Seraphina tanpa sadar mengepal. Valerius sepertinya tidak kehabisan cara untuk mengusik kedaulatan wilayah Utara. Atau lebih tepatnya, mengusik kehidupannya dan Killian.Oh, tentu saja. Valerius tentu tak bisa kehilangan Seraphina. Apalagi dengan cara yang hina. Valerius hanya ingin menunjukkan kuasa yang dimilikinya untuk merebut kembali sesuatu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status