MasukKetukan ritmis di pintu kayu ek luar akhirnya memecah keheningan kamar pengantin. Menandakan bahwa waktu bagi sang penguasa untuk bersembunyi dari dunia telah habis. "Sudah waktunya menyambut dunia baru, Duchess. Kau siap?" tanya Killian sebelum turun dari tempat tidur. Sebenarnya, ranjang megah itu lebih nyaman ketimbang apa pun yang menunggu di balik pintu. Namun, tentu saja orang-orang di kastil ini tak akan membiarkan hal itu terjadi. Seraphina menarik sudut bibirnya. "Tentu saja, Grand Duke. Kita harus siap dalam situasi apa pun!" Mereka pun bersiap. Cedric berdiri di luar dengan kepala tertunduk hormat saat pintu terbuka. Memamerkan sosok Killian dan Seraphina yang kini telah berbalut pakaian kebesaran Eisenhardt yang senada—perpaduan beludru hitam, benang perak, dan jubah bulu cerpelai yang megah. "Selamat pagi, Grand Duke, Duchess," sapa Cedric formal. Tatapannya lurus ke depan. Berusaha sopan dengan tidak melirik tanda kemerahan yang samar di leher Seraphina. Mesk
Fajar di wilayah Utara selalu datang dengan sunyi yang dingin. Namun, di dalam kamar utama Benteng Eisenhardt, sisa-sisa kehangatan semalam masih mendekam dengan erat. Udara di luar boleh saja membeku oleh sisa badai, tetapi di balik tirai beludru tebal yang tertutup rapat, atmosfer kamar masih pekat oleh jejak keintiman yang baru saja mengunci takdir dua penguasa baru itu. Seraphina perlahan membuka matanya saat secercah pendar matahari musim dingin yang pucat menyelinap di antara celah tirai. Kesadarannya tidak disambut oleh rasa dingin yang biasa ia rasakan di kediaman Astrea. Sebaliknya, kehangatan yang asing namun protektif langsung melingkupi seluruh tubuhnya. Lengan kekar Killian masih melingkar erat di pinggangnya. Menarik tubuh polos Seraphina untuk menempel tanpa celah pada dada bidang pria itu. Seraphina bergerak sedikit, berniat memosisikan tubuhnya, namun gerakan kecil itu memicu derit halus dari ranjang sutra. Detik itu juga, dekapan di pinggangnya justru semakin
Tirai beludru tebal berwarna biru tua itu akhirnya menutup dengan sempurna. Mengisolasi ranjang kebesaran Eisenhardt dari sisa dunia yang membeku di luar sana. Di balik kain berat itu, dunia hanya berputar di antara mereka berdua. Bahkan Seraphina tak lagi peduli dengan tujuan awalnya menggeret Killian dalam rencana. Entah sejak kapan, Seraphina telah terjebak dalam permainan perasaannya sendiri."Katakan kalau kau ingin berhenti sekarang, Duchess. Aku tak akan memaksamu," bisik Killian dengan suara serak menahan hasrat."Tidak perlu, Tuan Duke. Lakukan. Ini termasuk tugasku sebagai pasanganmu."Killian hanya tersenyum tipis. Bibirnya bergerak menyentuh pundak Seraphina yang tak lagi berbalut busana.Cahaya keemasan dari perapian yang menembus celah tirai memberikan pendar temaram pada siluet tubuh mereka. Menciptakan atmosfer yang begitu pekat oleh hasrat dan keintiman yang mendalam. Kancing terakhir dari gaun malam Seraphina akhirnya terlepas di bawah jemari Killian yang terampi
Ketika pintu kayu ek tebal kamar utama pengantin akhirnya berdentang menutup, seluruh hiruk-pikuk Perjamuan Agung dan intrik politik di aula bawah mendadak lenyap. Keheningan malam Utara yang pekat langsung menyelimuti ruangan luas itu. Hanya dipecah oleh suara kayu pinus yang berderak pelan di dalam perapian besar. Seraphina berdiri beberapa langkah dari pintu. Membiarkan punggungnya bersandar pada permukaan kayu yang dingin. Jubah bulu cerpelai yang terasa berat di pundaknya perlahan melorot, menumpuk di atas lantai karpet beludru. Napasnya agak memburu. Bukan karena lelah setelah menghadapi Raja Phillipe dan para penguasa benua. Melainkan karena sepasang mata biru di seberang ruangan.Yang kini mengunci pergerakannya dengan intensitas yang nyaris membuat napasnya macet."A-apakah ini perlu, Tuan Duke?" tanya Seraphina dengan suara gemetar.Ini bukan pertama kalinya bagi Seraphina melewati malam pertama. Mereka bahkan sudah pernah melakukan hal yang mirip seperti malam pertama,
Perjamuan Agung pasca-pernikahan di aula utama Eisenhardt malam itu berlangsung dengan kemegahan yang menandingi pesta-pesta di Ibukota. Denting piala perak, aroma daging panggang berempah khas Utara, dan gelak tawa para bangsawan dari berbagai kerajaan kecil menciptakan ilusi kedamaian. Namun, di bawah meja-meja kayu ek yang panjang, arus politik bergulir dengan deras. Semua orang tahu bahwa penahanan Pangeran Valerius pagi tadi akan memicu amukan badai dari Ibukota. Terutama faksi bangsawan yang masih mendukung sang pangeran. "Kau siap, Duchess Eisenhardt?" tanya Killian sebelum mereka masuk ke aula utama yang disulap menjadi meja perjamuan. Seraphina menghela napas panjang. Sebelum mengangguk tanpa ragu. Ini pertama kalinya ia dikenal sebagai Duchess Eisenhardt. Bukan perkara sulit bagi perempuan itu menghadapi raja-raja dari kerajaan kecil di sekitar Valeranthia ataupun kaum bangsawan. Di kehidupan sebelumnya, ia sudah terbiasa mendampingi Putra Mahkota untuk urus
Langkah kaki kedua mempelai beriringan dengan ritme lambat organ pipa yang agung. Gema musik liturgi kuno itu merayap naik, memenuhi langit-langit kubah tinggi aula utama yang disangga oleh pilar-pilar batu hitam kokoh berlapis emas. Karpet beludru merah tua yang membentang di sepanjang aula tengah kini bertabur kelopak bunga musim dingin abadi berwarna perak. Memantulkan cahaya dari ribuan lilin madu di lampu gantung raksasa. "Kedua mempelai memasuki ruangan!" suara Cedric yang memberikan pengumuman seiring berjalannya Grand Duke Killian dan Seraphina menggema ke seluruh ruangan.Ratusan pasang mata dari para raja dan bangsawan tinggi menatap tanpa kedip. Terpesona oleh aura dominasi yang terpancar dari Killian dan keanggunan mutlak yang dimiliki Seraphina. Setiap pasang mata di ruangan itu menyadari bahwa di balik keindahan visual ini, ada sebuah poros kekuatan baru yang sedang lahir untuk mengguncang takhta pusat."Aku seperti melihat Kaisar dan Permaisuri, bukan sebagai pengua







