เข้าสู่ระบบTirai beludru tebal berwarna biru tua itu akhirnya menutup dengan sempurna. Mengisolasi ranjang kebesaran Eisenhardt dari sisa dunia yang membeku di luar sana. Di balik kain berat itu, dunia hanya berputar di antara mereka berdua. Bahkan Seraphina tak lagi peduli dengan tujuan awalnya menggeret Killian dalam rencana. Entah sejak kapan, Seraphina telah terjebak dalam permainan perasaannya sendiri."Katakan kalau kau ingin berhenti sekarang, Duchess. Aku tak akan memaksamu," bisik Killian dengan suara serak menahan hasrat."Tidak perlu, Tuan Duke. Lakukan. Ini termasuk tugasku sebagai pasanganmu."Killian hanya tersenyum tipis. Bibirnya bergerak menyentuh pundak Seraphina yang tak lagi berbalut busana.Cahaya keemasan dari perapian yang menembus celah tirai memberikan pendar temaram pada siluet tubuh mereka. Menciptakan atmosfer yang begitu pekat oleh hasrat dan keintiman yang mendalam. Kancing terakhir dari gaun malam Seraphina akhirnya terlepas di bawah jemari Killian yang terampi
Ketika pintu kayu ek tebal kamar utama pengantin akhirnya berdentang menutup, seluruh hiruk-pikuk Perjamuan Agung dan intrik politik di aula bawah mendadak lenyap. Keheningan malam Utara yang pekat langsung menyelimuti ruangan luas itu. Hanya dipecah oleh suara kayu pinus yang berderak pelan di dalam perapian besar. Seraphina berdiri beberapa langkah dari pintu. Membiarkan punggungnya bersandar pada permukaan kayu yang dingin. Jubah bulu cerpelai yang terasa berat di pundaknya perlahan melorot, menumpuk di atas lantai karpet beludru. Napasnya agak memburu. Bukan karena lelah setelah menghadapi Raja Phillipe dan para penguasa benua. Melainkan karena sepasang mata biru di seberang ruangan.Yang kini mengunci pergerakannya dengan intensitas yang nyaris membuat napasnya macet."A-apakah ini perlu, Tuan Duke?" tanya Seraphina dengan suara gemetar.Ini bukan pertama kalinya bagi Seraphina melewati malam pertama. Mereka bahkan sudah pernah melakukan hal yang mirip seperti malam pertama,
Perjamuan Agung pasca-pernikahan di aula utama Eisenhardt malam itu berlangsung dengan kemegahan yang menandingi pesta-pesta di Ibukota. Denting piala perak, aroma daging panggang berempah khas Utara, dan gelak tawa para bangsawan dari berbagai kerajaan kecil menciptakan ilusi kedamaian. Namun, di bawah meja-meja kayu ek yang panjang, arus politik bergulir dengan deras. Semua orang tahu bahwa penahanan Pangeran Valerius pagi tadi akan memicu amukan badai dari Ibukota. Terutama faksi bangsawan yang masih mendukung sang pangeran. "Kau siap, Duchess Eisenhardt?" tanya Killian sebelum mereka masuk ke aula utama yang disulap menjadi meja perjamuan. Seraphina menghela napas panjang. Sebelum mengangguk tanpa ragu. Ini pertama kalinya ia dikenal sebagai Duchess Eisenhardt. Bukan perkara sulit bagi perempuan itu menghadapi raja-raja dari kerajaan kecil di sekitar Valeranthia ataupun kaum bangsawan. Di kehidupan sebelumnya, ia sudah terbiasa mendampingi Putra Mahkota untuk urus
Langkah kaki kedua mempelai beriringan dengan ritme lambat organ pipa yang agung. Gema musik liturgi kuno itu merayap naik, memenuhi langit-langit kubah tinggi aula utama yang disangga oleh pilar-pilar batu hitam kokoh berlapis emas. Karpet beludru merah tua yang membentang di sepanjang aula tengah kini bertabur kelopak bunga musim dingin abadi berwarna perak. Memantulkan cahaya dari ribuan lilin madu di lampu gantung raksasa. "Kedua mempelai memasuki ruangan!" suara Cedric yang memberikan pengumuman seiring berjalannya Grand Duke Killian dan Seraphina menggema ke seluruh ruangan.Ratusan pasang mata dari para raja dan bangsawan tinggi menatap tanpa kedip. Terpesona oleh aura dominasi yang terpancar dari Killian dan keanggunan mutlak yang dimiliki Seraphina. Setiap pasang mata di ruangan itu menyadari bahwa di balik keindahan visual ini, ada sebuah poros kekuatan baru yang sedang lahir untuk mengguncang takhta pusat."Aku seperti melihat Kaisar dan Permaisuri, bukan sebagai pengua
Pintu aula utama yang megah akhirnya tertutup rapat. Secara simbolis mengunci semua jeritan Liza, keputusasaan Demarcus, dan arogansi Valerius di masa lalu. Kasus pengkhianatan itu kini resmi beralih ke tangan hukum. Namun, Benteng Eisenhardt tidak diizinkan untuk tenggelam dalam atmosfer suram lebih lama lagi. Hari ini adalah hari penegasan kekuasaan Utara. Tak ada lagi yang boleh mengganggu apalagi berusaha menggagalkan upaya tersebut. "Kalian bersekongkol?" Suara Duchess Sophia bergetar menahan amarah. "Maafkan saya, Duchess. Ini semua rencana saya dan maaf tidak melibatkan Anda." Seraphina menjawab lebih dulu sebelum Killian memberikan tanggapan. Duchess Sophia mengurut keningnya. Wanita paruh baya itu sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak meledak sejak beberapa hari terakhir. "Kalian pikir ini masuk akal? Kalian baru saja hampir menghancurkan pernikahan kalian sendiri!" ucap Duchess Sophia penuh penekanan. "Maafkan kami, Ibu. Kami tahu, Pangeran Valerius tak akan
Keheningan yang mencekam menyelimuti area gerbang samping saat Noah dan Jeremiah melangkah maju. Kedua ksatria tertinggi Kekaisaran Valeranthia itu, melaksanakan perintah adik perempuan mereka dengan efisiensi militer. "Kalian tak bisa melakukan ini padaku!" teriak Valerius dengan sisa-sisa terakhir keberanian yang dimiliki. "Kami memiliki surat perintah resmi, Yang Mulia," ujar Noah dengan nada dingin. Tangannya bergerak cepat di balik jubah dan mengeluarkan perkamen dengan stempel lilin milik permaisuri Valeranthia. "Otoritas tertinggi berada pada Kaisar, bukan Permaisuri!" Valerius masih mencoba mengelak, tapi Jeremiah dengan cepat melumpuhkan pria itu. "Anda bisa membela diri di hadapan para dewan agung, Yang Mulia. Untuk saat ini, lebih baik Anda mengikuti prosedur dan jangan melawan. "Anda sudah berusaha melawan dekrit Kaisar!" tandas Jeremiah dengan sikap seorang perwira yang tak bisa terbantahkan. "Aku dijebak! Kalian ksatria Kekaisaran Valeranthia! Seharusnya kalian







