Se connecterSeraphina mengerjapkan mata sejenak. Meski masih ada beberapa hal pelik yang mengganggu benaknya tentang misteri darah Lysander. Perempuan itu segera menarik kesadarannya kembali. Ia membuang jauh-jauh kabut keraguan tersebut. Lalu memantapkan fokusnya pada tujuan utama yang telah ia tetapkan sejak pertama kali terbangun di masa lalu. "Sejarah sudah mencatat kepemilikan takhta Valeranthia, Kakak. Astrea menjaganya selama beratus-ratus tahun hingga berganti kaisar sejak kaisar pertama mangkat," ucap Seraphina. Suaranya mengalun tenan. Namun, bergema penuh wibawa di antara pilar-pilar ruang makan. Ia melangkah mendekati jendela besar, menatap hamparan salju Utara sebelum melanjutkan. "Kita tidak bisa menutup mata lagi terkait hal itu. Mungkin selama ini, Astrea bersikap diam dan tak peduli terhadap kebusukan istana karena kita sendiri memiliki kepentingan untuk menjaga posisi aman." Jeremiah dan Noah menyimak dalam diam, membiarkan sang adik membeberkan kebenaran pahit ya
Seraphina masih belum bisa menguasai situasi sepenuhnya. Pikiran perempuan itu masih bercabang, melompat dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain. Terutama tentang darah sang ibu yang mengalir dalam nadi mereka. "Ada yang kau pikirkan, Sera?" tanya Jeremiah mengagetkan Seraphina. Ia hanya menoleh sesaat. Menggeleng pelan, lalu kembali tenggelam dalam labirin pikirannya yang berliku. 'Lysander,' bisik perempuan itu pada dirinya sendiri. Lysander bukanlah keluarga sembarangan. Di Kekaisaran Valeranthia, tak banyak yang tahu tentang asal-usul mereka yang sebenarnya. Catatan tentang mereka sengaja dikubur oleh waktu. Namun, keluarga itu sendiri meyakini sebuah kebenaran mutlak yang diturunkan lewat bisikan dari generasi ke generasi. Bahwa leluhur mereka adalah seorang makhluk suci yang memilih menyembunyikan diri dari sorotan dunia demi kedamaian. Darah Lysander adalah benih dari segala keajaiban yang ada di benua ini. Mereka adalah ibu ataupun ayah dari para penyihir hebat k
Keheningan yang tercipta setelah kalimat Noah terasa begitu mencekik. Seraphina melangkah mundur satu tindak.Tangannya yang memegang selendang beludru bergetar hebat hingga porselen di atas meja di dekatnya berdenting halus. "K-kak... apa yang kau katakan?" bisik Seraphina.Suaranya nyaris hilang ditiup angin yang menderu di luar jendela. "Itu tidak mungkin..."Selama ini, Seraphina sengaja bungkam karena tak ingin dianggap gila dengan mengada-ada bahwa dirinya telah mengulang kehidupan.Namun, dengan pengakuan Noah dan Jeremiah yang baru saja terucap, membuatnya justru semakin merasa gila."Kau tidak percaya?" tanya Noah pada sang adik bungsu.Benar, bagi Noah dan Jeremiah, Seraphina tetaplah adik bungsu bagi mereka. Bukan Liza von Astrea.Sementara itu, Seraphina hanya sanggup menggelengkan kepala. Bukannya ia tidak percaya, tapi sulit menerima situasi yang mereka hadapi saat ini."Ini mustahil, tapi... aku sendiri juga mengalaminya dan...." Pundak Seraphina bergetar ketika mengu
Ketukan ritmis di pintu kayu ek luar akhirnya memecah keheningan kamar pengantin. Menandakan bahwa waktu bagi sang penguasa untuk bersembunyi dari dunia telah habis. "Sudah waktunya menyambut dunia baru, Duchess. Kau siap?" tanya Killian sebelum turun dari tempat tidur. Sebenarnya, ranjang megah itu lebih nyaman ketimbang apa pun yang menunggu di balik pintu. Namun, tentu saja orang-orang di kastil ini tak akan membiarkan hal itu terjadi. Seraphina menarik sudut bibirnya. "Tentu saja, Grand Duke. Kita harus siap dalam situasi apa pun!" Mereka pun bersiap. Cedric berdiri di luar dengan kepala tertunduk hormat saat pintu terbuka. Memamerkan sosok Killian dan Seraphina yang kini telah berbalut pakaian kebesaran Eisenhardt yang senada—perpaduan beludru hitam, benang perak, dan jubah bulu cerpelai yang megah. "Selamat pagi, Grand Duke, Duchess," sapa Cedric formal. Tatapannya lurus ke depan. Berusaha sopan dengan tidak melirik tanda kemerahan yang samar di leher Seraphina. Mesk
Fajar di wilayah Utara selalu datang dengan sunyi yang dingin. Namun, di dalam kamar utama Benteng Eisenhardt, sisa-sisa kehangatan semalam masih mendekam dengan erat. Udara di luar boleh saja membeku oleh sisa badai, tetapi di balik tirai beludru tebal yang tertutup rapat, atmosfer kamar masih pekat oleh jejak keintiman yang baru saja mengunci takdir dua penguasa baru itu. Seraphina perlahan membuka matanya saat secercah pendar matahari musim dingin yang pucat menyelinap di antara celah tirai. Kesadarannya tidak disambut oleh rasa dingin yang biasa ia rasakan di kediaman Astrea. Sebaliknya, kehangatan yang asing namun protektif langsung melingkupi seluruh tubuhnya. Lengan kekar Killian masih melingkar erat di pinggangnya. Menarik tubuh polos Seraphina untuk menempel tanpa celah pada dada bidang pria itu. Seraphina bergerak sedikit, berniat memosisikan tubuhnya, namun gerakan kecil itu memicu derit halus dari ranjang sutra. Detik itu juga, dekapan di pinggangnya justru semakin
Tirai beludru tebal berwarna biru tua itu akhirnya menutup dengan sempurna. Mengisolasi ranjang kebesaran Eisenhardt dari sisa dunia yang membeku di luar sana. Di balik kain berat itu, dunia hanya berputar di antara mereka berdua. Bahkan Seraphina tak lagi peduli dengan tujuan awalnya menggeret Killian dalam rencana. Entah sejak kapan, Seraphina telah terjebak dalam permainan perasaannya sendiri."Katakan kalau kau ingin berhenti sekarang, Duchess. Aku tak akan memaksamu," bisik Killian dengan suara serak menahan hasrat."Tidak perlu, Tuan Duke. Lakukan. Ini termasuk tugasku sebagai pasanganmu."Killian hanya tersenyum tipis. Bibirnya bergerak menyentuh pundak Seraphina yang tak lagi berbalut busana.Cahaya keemasan dari perapian yang menembus celah tirai memberikan pendar temaram pada siluet tubuh mereka. Menciptakan atmosfer yang begitu pekat oleh hasrat dan keintiman yang mendalam. Kancing terakhir dari gaun malam Seraphina akhirnya terlepas di bawah jemari Killian yang terampi







