Share

Bab 5

Penulis: Budi Nanas
Begitu 80 lembar uang pecahan 10 ribu dikeluarkan, semua orang langsung terdiam. Kelima anak buah yang berdiri di depan pintu sampai memelotot melihat segepok uang itu.

Pekerjaan mereka adalah menjaga lapak judi milik Badrul. Kalau seluruh penghasilan mereka dalam sebulan digabungkan, totalnya hanya sekitar 40 ribu. Namun, sekarang Ardi dengan santainya mengeluarkan segepok uang pecahan 10 ribu di depan mereka.

Dilihat dari ketebalannya, jumlahnya setidaknya ada 70 sampai 80 lembar.

Itu hampir setara dengan gaji mereka selama dua tahun!

Badrul menatap uang di tangan Ardi, matanya membelalak.

Dari mana datangnya uang itu? Di desa ini, siapa yang tidak tahu bahwa Keluarga Rinjani sangat miskin? Satu-satunya harta yang mereka miliki sudah berhasil dia menangkan secara curang lewat perjudian.

Saat dia datang kemarin saja, Ardi masih tidak punya uang sepeser pun. Mana mungkin dia bisa mendapatkan uang sebanyak ini dalam semalam?

Ardi mengabaikan tatapan terkejut dan heran dari semua orang. Dia menggoyangkan uang di tangannya. "Nih uangnya. Mana surat utangnya?"

Badrul tersadar dan sikapnya langsung berubah ramah. Dia buru-buru mengeluarkan surat utang dari saku dan menyerahkannya sambil tersenyum lebar. "Ini surat utangnya."

"Ardi, tadi aku cuma bercanda. Jangan dimasukkan ke hati. Kita ini teman sejak kecil, 'kan? Aku paham sifatmu. Kalau nggak dipaksa sedikit, mana mungkin kamu bisa menghasilkan uang sebanyak ini."

"Malam ini aku yang traktir. Gimana kalau kamu datang ke tempatku buat minum bareng?"

Ardi menerima surat utang itu, lalu langsung merobeknya menjadi serpihan kecil.

Setelah itu, dia mengambil 40 lembar uang pecahan 10 ribu dan melemparkannya kepada Badrul. Sekilas saja dia sudah bisa menebak isi pikiran Badrul. Pria itu pasti ingin membuatnya mabuk, mengajaknya berjudi lagi, lalu mencari tahu dari mana asal uang sebanyak itu.

Namun, Ardi tidak menolak dan malah mengangguk.

"Boleh. Sekalian ajak pamanmu juga."

Badrul sedikit mengernyit. "Buat apa mengajak dia?"

Ardi tersenyum, lalu sengaja menggoyangkan sisa uang di tangannya.

"Aku bisa dapat uang sebanyak ini karena semalam aku menemukan lokasi yang bagus. Aku bisa menangkap ratusan kilogram ikan gulama di sana."

"Menurut perkiraanku, di sana masih ada banyak ikan. Aku nggak mungkin menghabiskan semuanya sendirian. Aku tahu pamanmu ahli menangkap ikan."

"Jadi, malam ini kita makan bareng, lalu berdiskusi bagaimana caranya menangkap semua ikan itu. Kalau ada kesempatan seperti ini, lebih baik dibagi-bagikan ke semua orang, 'kan?"

Mendengar ucapan itu, mata Badrul langsung berbinar. Dia memang penasaran dari mana Ardi mendapatkan uang sebanyak itu. Ternyata uang itu dari hasil menangkap ikan!

Harus diakui, keberuntungan Ardi memang luar biasa. Dia hampir setiap hari berkeliaran di pelabuhan, tetapi selama sebulan terakhir tidak pernah melihat satu pun ikan gulama. Namun, saat Ardi melaut, dia langsung mendapatkan ratusan kilogram.

Namun, di mata Badrul, Ardi tetaplah orang bodoh yang tidak tahu caranya untuk menjadi kaya. Cuma dengan minum bareng sekali, dia sudah mengajak semua orang bekerja sama menangkap ikan.

Kalau nanti mereka benar-benar mendapatkan ikan dalam jumlah besar, hal pertama yang akan dilakukan Badrul adalah menyingkirkan Ardi.

Kesempatan untuk menjadi kaya seperti ini tentu harus dinikmati sendiri. Siapa yang mau berbagi?

Memikirkan hal itu, Badrul tersenyum sambil mengangguk berkali-kali. "Oke! Nanti aku pulang dan kasih tahu pamanku. Malam ini aku siapkan makanan dan minuman di rumahku. Kami tunggu ya!"

Setelah berkata begitu, dia mengajak kelima anak buahnya keluar dari rumah.

Setelah Badrul pergi, senyum di wajah Ardi langsung menghilang. Dia menatap ke arah Badrul pergi dan menyipitkan mata. Ucapan yang barusan dia lontarkan hanyalah taktik untuk mengulur waktu.

Tujuannya sederhana. Membuat Badrul menjauhkan Imsyaq dari lokasi penangkapan ikan.

Di kehidupan sebelumnya, lokasi yang dipenuhi ikan gulama itu memang ditemukan oleh Imsyaq.

Saat Ardi pulang semalam, dia juga melihat kapal Imsyaq melaju ke arah yang sama. Namun, karena Ardi sudah terlebih dahulu menebar jala dan mengusik kawanan ikan, Imsyaq tidak mungkin mendapatkan hasil apa pun.

Meski begitu, berdasarkan sifat Imsyaq, jika semalam tidak memperoleh hasil, malam ini dia pasti akan kembali lagi. Daripada membiarkan Imsyaq ikut menikmati keuntungan itu, lebih baik menyingkirkannya terlebih dahulu.

Dengan begitu, Ardi bisa menikmati semuanya sendiri.

Namun, dia juga paham. Mengandalkan dirinya seorang diri untuk menangkap seluruh ikan gulama di lokasi itu jelas mustahil.

Saat ini, yang paling dibutuhkannya adalah seorang rekan. Untuk urusan itu, dia sudah memiliki calon yang tepat. Siapa lagi kalau bukan calon mertuanya di masa depan, ayah Kinara, Madya?

Di Desa Pasirya ada lebih dari seratus keluarga dan hampir semuanya hidup dari melaut.

Namun, jika berbicara tentang kemampuan menangkap ikan, hanya ada beberapa gelintir yang benar-benar layak disebut ahli.

Ayah Ardi, Arman, adalah salah satunya. Yang kedua adalah Madya, lalu yang ketiga Imsyaq. Namun, karena Imsyaq tidak bisa membaca dan sebagian besar keberhasilannya bergantung pada keberuntungan, dia hanya layak disebut sebagai ahli jadi-jadian.

Selama bisa mengajak Madya ikut serta, menangkap 500 kilogram ikan gulama atau lebih jelas bukan masalah. Namun, sebelum itu dia masih harus melakukan beberapa persiapan.

Memikirkan hal itu, Ardi segera mengenakan pakaiannya dan membawa uang hasil penjualan ikan ke kota.

Sesampainya di sana, dia langsung menuju pasar gelap. Di situ, dia menghabiskan 360 ribu untuk membeli satu set sonar hasil modifikasi.

Jika ingin menangkap lebih dari 500 kilogram ikan gulama, metode light fishing saja tidak cukup. Dia harus mengombinasikannya dengan sonar.

Setelah membeli sonar, dia juga membeli satu set jaring nilon baru.

Saat hendak pulang, dia melewati lapak daging dan membeli 2,5 kilogram daging sapi berlemak. Baru setelah itulah dia memanggul semua belanjaannya dan pulang ke desa.

Ketika tiba di Desa Pasirya, matahari sudah hampir terbenam. Dia terlebih dahulu pergi ke pelabuhan. Setelah mengunci sonar di kabin kapal, dia membawa jaring baru dan daging sapi itu menuju rumah Kinara.

Keluarga Kinara termasuk keluarga yang cukup berada di desa. Rumah mereka hanya berjarak kurang dari lima menit berjalan kaki dari pelabuhan.

Begitu sampai di depan rumah, Ardi hendak mengetuk pintu. Namun, dia melihat gerbang halaman hanya tertutup setengah. Dari dalam terdengar suara tangisan Kinara yang tertahan.

"Ayah, tolong biarkan aku keluar."

"Sejak semalam, aku nggak tahu gimana keadaan Ardi. Biarkan aku menemuinya sekali saja ...."

Sebelum Kinara selesai berbicara, terdengar bentakan keras Madya, "Diam!"

"Kinara, dengar ya. Kalau kamu masih berani menyebut nama Ardi lagi, kakimu akan kupatahkan!"

"Gadis muda sepertimu malah kelayapan ke mana-mana setiap hari. Kamu mungkin sudah nggak peduli sama harga dirimu, tapi aku masih!"

Di sampingnya, ibunya, Esti, ikut menimpali, "Kinara, jangan bikin ayahmu marah lagi. Di desa ini ada banyak sekali pemuda. Kamu mau bergaul sama siapa saja nggak masalah. Kenapa harus sama penjudi itu?"

"Aku juga sudah dengar. Katanya Ardi berutang 400 ribu ke Badrul karena judi! Itu hampir sama dengan penghasilan keluarga kita setahun. Coba kamu sebutkan, apa untungnya kamu berhubungan sama orang seperti itu?"

Kinara berpegangan pada kusen pintu rumah. Dengan mata yang memerah karena tangis, dia menatap kedua orang tuanya. Dia ingin membantah, tetapi tidak tahu harus berkata apa.

Semua yang dikatakan orang tuanya memang benar. Namun, di dalam hatinya, dia selalu merasa bahwa Ardi bukanlah orang yang seperti mereka bayangkan.

Terutama kemarin ....

Saat Ardi mengacungkan tombak ikan dan mengusir Badrul ke luar rumah, dia bisa merasakan dengan jelas. Ardi sudah berubah.

Selain itu, Ardi sudah mengatakan bahwa dia tidak akan lari sebelum berhasil menikahinya ....

Sejak pulang ke rumah, kalimat itu terus terngiang di telinga Kinara. Memikirkannya saja membuat hatinya dipenuhi kebahagiaan.

Kinara mengumpulkan keberanian. "Memang Ardi melakukan banyak hal yang salah. Tapi Ayah dan Ibu juga nggak seharusnya membicarakan dia seperti itu di belakangnya!"

Setelah kata-kata itu terucap, tubuh Madya sampai bergetar saking marahnya. Dia meraih tongkat kayu yang berada di halaman dan bersiap masuk ke rumah.

"Kalau nggak kupatahkan kakimu hari ini, sepertinya kamu belum jera!"

Esti buru-buru maju dan menahannya. Madya menunjuk Kinara dengan tongkat di tangannya sambil membentak istrinya, "Lihat anak yang kamu lahirkan ini! Sudah jelas-jelas lebih memilih orang luar daripada keluarganya sendiri! Berani membantah orang tuanya demi seorang penjudi?"

"Sialan!"

"Kamu pikir aku cuma berani bicarain dia di belakang? Kalau Ardi ada di sini sekarang, aku bakal mengatakan hal yang sama tepat di depan wajahnya!"

Pada saat itulah, embusan angin tiba-tiba datang. Gerbang halaman yang semula hanya tertutup setengah terdorong hingga terbuka. Suara engsel pintu yang berderit langsung menarik perhatian pasangan suami istri itu.

Mereka menoleh serentak.

Ardi berdiri di depan gerbang. Di tangan kirinya tergantung 2,5 kilogram daging sapi berlemak, sementara di tangan kanannya ada segulung jaring baru.

Dengan wajah canggung, dia berdiri di ambang gerbang.

Karena gerbang sudah telanjur terbuka, Ardi akhirnya melangkah masuk ke halaman. Dia menatap pasangan suami istri yang sedang memandangnya itu dengan ekspresi terkejut, lalu berdeham pelan.

"Om Madya, Tante Esti ... kebetulan banget, semuanya lagi di rumah ya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 50

    Di pelabuhan ....Madya sedang mengisi solar ke kapalnya ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil dari belakang."Om Madya!""Om Madya!"Dia menoleh dan melihat Badrul berlari cepat menghampirinya.Wajah Madya seketika menjadi muram. Dia masih ingat jelas kejadian tempo hari, saat Badrul datang ke rumahnya dan menagih paksa biaya sewa tambak.Setelah sampai di dekatnya, Badrul langsung berkata, "Om, ada sesuatu yang perlu aku ceritakan! Kinara dan Ardi sudah jadian!"Madya hanya melirik Badrul sekilas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan mengisi bahan bakar ke kapal.Melihat reaksinya, Badrul mengira Madya tidak mendengar. Dia pun mengulanginya lagi, "Om, Kinara sama Ardi betulan sudah jadian!"Madya mengernyit. Bahkan kepalanya pun tidak diangkat. "Ya, aku sudah dengar."Mendengar itu, kedua alis Badrul hampir menyatu. Dengan wajah penuh keheranan, dia berkata, "Om sudah pikun ya? Aku bilang putri Om, Kinara, sudah pacaran sama Ardi si bajingan itu! Kenapa Om sama sekali ngga

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 49

    Ardi memandang Badrul, lalu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut?"Badrul mendengus dingin. "Aku? Takut sama kamu?"Ardi mengangkat alis. "Kalau nggak, buat apa sengaja nungguin aku di sini?"Badrul mendengus pelan, sorot matanya penuh penghinaan. "Aku cuma mau ingatkan, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.""Dulu orang yang berebut jadi pemasok ikan restoran milik negara jumlahnya bisa antre sampai ujung jalan.""Tapi kenapa pada akhirnya yang dipilih justru keluargaku? Itu karena ayahku kenal sama Bu Rahayu, wakil manajer bagian pengadaan!""Jangan mentang-mentang sekarang dekat sama Pak Dayat, kamu merasa bisa merebut usaha keluarga kami. Selama Bu Rahayu masih ada, kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.""Dan satu lagi, jangan coba-coba nangkap ikan bahaba. Kalau nggak, aku akan kasih tahu Om Madya soal hubunganmu dengan Kinara.""Kita lihat saja nanti, kakimu bakal dibuntungin sama Om Madya nggak!"Mendengar itu, Ardi malah tertawa. Awalnya dia mengira Badrul sengaja mengadang

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 48

    Badrul mengangguk, tetapi dalam hati dia merasa heran. Kenapa tiba-tiba Rahayu menanyakan soal Ardi?Rahayu menatap Badrul. "Coba ceritakan, sebenarnya siapa Ardi itu?"Badrul mengernyit, lalu menjawab, "Bocah itu cuma penjudi kelas kakap. Sejak ayahnya meninggal, dia nggak pernah bekerja serius. Malah setiap hari datang terus ke rumahku, maksa ngajak main kartu.""Dia gila judi, tapi kemampuan mainnya payah. Akhirnya dia kalah sampai hartanya habis. Terus dia terus-terusan minjam uang dari aku. Setelah nggak sanggup bayar, dia mulai mencuri barang milik warga desa.""Pas sudah ketahuan, dia malah nggak mau ngaku. Orangnya juga suka nipu. Setiap hari ada saja kebohongan baru yang dia bikin buat nipu duit orang. Sekarang warga desa langsung menjauh kalau lihat dia."Rahayu sedikit memicingkan mata. Ardi ternyata lebih buruk daripada yang dia sangka. Kemungkinan besar, Dayat sudah ditipu oleh Ardi sampai berani menggantungkan harapannya pada orang semacam itu.Awalnya dia sedikit khawati

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 47

    Rahayu sempat terdiam mendengar sindiran itu, lalu tersenyum sambil mengangguk. Kini, dia sudah paham. Dayat memang sengaja melawannya."Karena kamu juga sudah dapat orang, gimana kalau tugas ini dikasih ke kedua pihak saja? Siapa yang berhasil menangkap ikan yang lebih besar, dialah yang kita pakai."Dayat mengangguk. "Oke, sepakat.""Tapi, rasanya kurang menarik. Gimana kalau kita tambahkan sedikit taruhan?"Rahayu memutar bola matanya dan langsung memahami maksud Dayat. Ini berarti mereka berdua akan bertaruh hasil.Dia tahu kemampuan melaut Badrul dan Imsyaq. Memang kemampuan Badrul biasa saja, tetapi kemampuan Imsyaq termasuk salah satu yang terbaik di Desa Pasirya. Dengan dua orang itu, dia yakin ikan bahaba pasti akan jatuh ke tangannya.Menurutnya, Dayat hanya sedang panik dan asal bertaruh pada seorang mantan penjudi. Kalau orang seperti itu bisa menang, baru aneh."Boleh. Kalau mau main, kita main yang besar sekalian. Kalau kamu kalah, kamu harus menemui manajer utama dan min

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 46

    Saat mereka sedang berbincang, Siddiq mendorong pintu belakang dan keluar.Begitu melihat ikan kerapu di tangan Dayat, dia sempat tertegun sejenak, lalu cepat-cepat mendekat sambil menunduk. "Pak, Bu Rahayu cari Bapak."Dayat langsung mengernyit. "Cari aku untuk apa?"Terhadap Rahayu ini, dia memang sama sekali tidak punya kesan yang baik. Rahayu adalah wakil manajer mereka. Dia bertanggung jawab atas bagian pengadaan di restoran milik negara.Dari sisi wewenang, posisi mereka memang sering berbenturan. Dahulu setiap kali Dayat ingin membeli bahan baku, dia harus mengajukan laporan dan meminta persetujuan Rahayu.Belakangan karena sudah tidak tahan, dia pernah menemui manajer utama. Baru setelah itulah dia mendapatkan hak pembelian sendiri dalam jumlah tertentu. Namun, batasnya hanya 3 juta per bulan. Jika nilai pembeliannya melebihi batas itu, dia tetap harus melapor kepada Rahayu.Kalau hanya soal itu, sebenarnya Dayat tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang membuatnya curiga adalah

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 45

    "Tapi, ayahku dulu pernah bilang, kalau mau mengakui seseorang sebagai kakak, nggak bisa cuma asal panggil. Harus ada hadiah perkenalan.""Kamu juga tahu, aku cuma nelayan. Selain ikan, aku nggak punya barang lain yang pantas dijadikan hadiah. Jadi, semoga kamu mau menerima ikan ini."Dayat menatap ikan kerapu besar di hadapannya. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Ikan kerapu ini adalah yang paling besar dan paling bagus di antara seluruh hasil tangkapan tadi. Menurut perkiraannya, berat ikan itu bisa mencapai sekitar 2,5 kilogram.Dengan harga yang baru saja mereka sepakati, yaitu 60 ribu per kilogram, nilainya mencapai sekitar 150 ribu.Bagi seorang teknisi pabrik, 150 ribu setara dengan penghasilan sebulan penuh. Apalagi Ardi hanyalah seorang nelayan desa.Seorang nelayan muda yang memiliki cara berpikir dan keluasan hati seperti ini benar-benar sulit dipahami.Melihat Dayat tidak segera merespons, Ardi juga tidak terburu-buru. Dia yakin Dayat pasti akan menerimanya. K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status