Rejected Twice, And Claimed By The Alpha

Rejected Twice, And Claimed By The Alpha

last updateLast Updated : 2022-10-22
By:  Author CharityOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
7Chapters
2.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Being with alpha Lorenzo as her mate has always been her only dream, despite knowing that she doesn't belong there. However, her expectations were shattered as the alpha ended up rejecting her. Failed to control her anger, her power which has been bind within her for years, unleashes and she ended up destroying the pack. Will alpha Lorenzo forgive her for the massacre and treason, or will she pay with her life?

View More

Chapter 1

Rejected her

“Dokter ini … kenapa terima pasien waktu klinik sudah mau tutup?”

Suara setengah menggerutu dari asistennya itu membuat Syifa menghela napas pelan. Meski begitu, tangannya sudah bergerak lincah mengambil sampel dari ikan arwana yang baru saja tiba di kliniknya.

Seharusnya, ia sudah berada dalam perjalanan ke kantor catatan sipil untuk menikah saat ini. Namun, di detik-detik terakhir, seorang pria paruh baya datang dengan wajah nyaris menangis dan memaksa Syifa memeriksa ikan yang ia bawa.

“Sudahlah, Fi,” ucap Syifa kemudian. “Pemiliknya memaksa. Katanya pasien udah ditolak beberapa klinik.”

“Tapi saya juga sebenarnya mau sarankan buat tolak aja, Dok,” balas Afi, si asisten. “Salah sedikit, kita dituntut miliaran nanti.”

“Kalau gitu, gerak yang cepat.” Syifa menanggapi singkat. Ia menyodorkan tabung berisi sampel lendir dan darah si ikan. “Jangan ngomel mulu.”

Sepeninggal Afi, fokus Syifa kembali ke pasien di hadapannya, seekor ikan arwana dengan sisik warna putih keperakan. Penggemar ikan dan dokter hewan seperti Syifa tahu ini bukan ikan arwana biasa. 

Ikan itu masuk ke dalam deretan ikan sultan yang harganya bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung pada usia si ikan. Bahkan, bayi platinum arowana saja bisa mencapai puluhan juta sendiri.

Karenanya, ia tidak boleh salah langkah. Syifa memastikan betul kadar oksigen dalam air, suhu air dan segala macam pendukung untuk memastikan ikan itu tetap bertahan sampai hasil laboratorium keluar dan Syifa bisa mengambil tindakan apa yang akan dia lakukan. 

Namun, tak lama kemudian, Syifa menyadari bahwa gerakan insang si ikan makin lama makin pelan dan jarang. Lalu–

–tubuh ikan itu oleng ke samping dan diam.

“Astaga!” pekik Syifa tertahan. Ia buru-buru memastikan kondisi si ikan miliaran rupiah itu.

“Dok, ini hasil lab–loh, Dok, ikannya kok oleng…”

Syifa seperti tidak mendengar suara si asisten. Dirinya fokus mencoba memulihkan ikan mahal yang dipaksakan ke meja pasiennya ini. Tapi mau dicek berapa kali, hasilnya tetap sama.

Ikan itu sudah mati. Tidak bisa hidup lagi.

Seketika Syifa diliputi keringat dingin.

“D-Dok, ikannya mati?” gumam Afi dengan suara bergetar. “Kita gimana, Dok? Kalau pemiliknya nuntut kita–”

"Loh, Dok? Ikannya mati?" pekik suara lain memotong kalimat Afi. Bapak-bapak paruh baya yang membawa ikan mahal ke klinik Syifa itu tiba-tiba muncul dan meratap. “Aduh, Dok. Mati. Bos saya bisa ngamuk. Kita bisa dituntut!”

Pikiran Syifa langsung kosong. “Bapak bukan pemiliknya…?”

***

Setelah menenangkan pria paruh baya yang ternyata hanya sekadar supir tersebut, Syifa menunggu kehadiran si pemilik ikan dengan hati yang gelisah. Pikirannya sibuk menyusun penjelasan secara runut mengenai penyakit si Boy dan kronologi tewasnya mendiang ikan arwana tersebut.

Katanya pemilik asli si ikan itu dokter penyakit dalam. Itu bagus, berarti seharusnya, si pemilik paham kalau hidup dan mati pasien, sekalipun diusahakan, berada di tangan Tuhan.

Sebagai sesama petugas medis, Syifa mengharapkan pemiliknya mengerti.

Ting, tong!

Suara bel pintu depan klinik membuat Syifa sontak berdiri. Wanita itu tersenyum sopan dan siap menjelaskan dengan hati-hati disertai permohonan maaf untuk ikan yang mati itu.

Namun, rencana Syifa buyar seketika saat melihat siapa yang datang. Sepasang matanya yang jernih seketika membola tidak percaya.

"Ka-kamu ...." Syifa tergagap, matanya menatap sosok itu dengan saksama. 

“Selamat siang,” ucap pria tinggi tegap berkulit sawo matang tersebut. Manik hitamnya menatap Syifa tajam. “Saya pemilik ikan platinum arowana yang baru saja tewas.”

Syifa langsung lemas, sama sekali tidak menyangka bahwa pemilik ikan seharga miliaran itu adalah musuh bebuyutannya saat SMA.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Plank Writes
Plank Writes
The book is good. when will next updates come? I'm eager
2022-10-29 23:42:15
0
0
Author Charity
Author Charity
I recommend this to readers, and please, do drop your reviews as you read. Thanks
2022-10-19 15:57:02
2
0
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status