Share

Bab 3

Author: Emma
Aku benar-benar ingin menyuruhnya berhenti, tapi tak berani mengatakannya. Aku takut begitu bersuara, yang keluar bukannya kata-kata, melainkan….

Di tengah kegundahanku, suara Robert kembali terdengar di telingaku, “Aku sudah dengar semuanya….”

Kelopak mataku tersentak, aku buru-buru bertanya apa yang dia dengar? Pria di belakangku itu mendekat ke telingaku dan berbisik sambil terkekeh, “Kak Bobi payah, ‘kan?”

Jantungku bergetar. Kok… kok dia bisa tahu? Ini benar-benar memalukan dan membuatku canggung setengah mati!

Dengan kesal, aku mendengus, “Kamu… mana boleh menguping urusan ranjang keluarga orang lain?!”

Robert tertawa nakal dan berkata, “Kak Tesa, bukannya kamu juga bersembunyi di balik celah pintu mengintip aku dan pacarku melakukannya?”

“Hobi kita berdua sama, benar-benar pasangan yang serasi!”

Mendengar ucapan Robert, seketika aku merasa sangat malu sampai ingin rasanya menghilang saja dari muka bumi, “Sembarangan… siapa… siapa yang serasi denganmu!”

“Tentu saja kamu, Kak Tesa!” Usai bicara, Robert tiba-tiba meniupkan napas hangat ke telingaku.

Aliran listrik yang menggelitik naik dari perutku, seketika menyebar ke seluruh tubuh. Tubuhku tersentak dan gemetar karena rangsangan itu….

“Tsk Tsk… Kak Tesa sensitif sekali. Pasti sudah sangat kesepian, ‘kan? Bagaimana kalau aku bantu Kak Tesa melampiaskannya….”

Sambil bicara, tangan Robert yang tadi di pinggang, tiba-tiba menyelinap ke dadaku. Lalu mulai meremas dan mempermainkannya perlahan….

Tekanan yang kadang lembut kadang kuat itu membuatku hampir saja mengerang. Suara di tenggorokan bisa kutahan, tapi reaksi tubuhku tak bisa dikendalikan….

Rasa basah di celana dalamku mulai membuatku tak nyaman. Aku sangat ingin menariknya, tapi tak berani menggerakkan tangan karena takut ketahuan pria di belakangku ini….

“Kak Tesa, saat pertama kali melihatmu, aku sudah jatuh hati. Ceraikan saja Kak Bobi dan ikutlah denganku!”

“Aku pasti akan lebih memanjakanmu daripada dia….”

“Kok Kak Tesa diam saja? Kamu nggak percaya dengan kemampuanku?”

“Kalau Kak Tesa nggak percaya, terpaksa aku harus membuktikan kekuatanku sekarang juga….”

Awalnya, aku mengira dia hanya menakut-nakutiku dengan kata-kata, tapi detik berikutnya, aku mendengar suara ikat pinggang dilepaskan.

Seketika, kulit kepalaku terasa merinding.

Belum sempat aku bereaksi, celana luar dan celana dalamku sudah ditarik paksa ke bawah.

Sentuhan keras dan panas itu hampir membuatku berteriak. Otakku berdengung seolah-olah ada ribuan lebah yang terbang di dalamnya.

“Robert… jangan… kumohon… uh… jangan masuk….”

Robert di belakangku menghembuskan napas berat. Dengan suara serak, dia tertawa nakal, “Kak Tesa sudah basah begini, pasti sudah nggak tahan, ya….”

“Biarkan aku memanjakanmu, agar kamu merasakan bagaimana rasanya menjadi wanita seutuhnya….”

Melihat dia benar-benar mulai mencoba mendorong ke depan, aku hampir gila.

Dengan suara gemetar, aku memohon padanya agar tak bertindak sembarangan.

Pria di belakangku mengerang pelan, lalu bertanya dengan suara serak, “Kak Tesa… coba bilang punyaku lebih besar dan kuat dari punya Kak Bobi….”

Tak bisa dipungkiri… ukurannya memang lebih besar.

Namun, aku tak berani mengatakannya, takut dia akan semakin berani dan kurang ajar.

Namun, diamku justru membuatnya kesal. Dia tiba-tiba menyentak maju lagi dan rasanya akan masuk sebentar lagi….

Aku langsung panik. Baru saja ingin menghentikannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di ruang tamu.

Seketika itu juga, suara berat suamiku terdengar dari luar pintu, “Sayang, nasinya sudah matang belum? Aku lapar sekali!”

Gawat, suamiku keluar… otakku rasanya mau meledak, tapi pria di belakangku seolah tak mendengarkannya. Dia tetap tak peduli dan terus mendorong maju.

Mampuslah, tamatlah riwayatku….

Melihat langkah kaki yang semakin mendekat, dalam kepanikan, aku mendadak menjulurkan tangan ke belakang dan langsung meremas benda yang ada di antara kedua kakinya itu.

Seketika, ukurannya membuatku tercengang. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk kagum. Aku memberikan sedikit tekanan dengan tanganku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 8

    Melihat tingkahnya yang pasrah mau diapakan saja itu, rasa sesak di hatiku pun menguap sebagian besar, “Cih… dasar si mulut manis!”Melihatku tersenyum, Robert pun ikut menyengir, “Hehe, karena Kak Tesa sudah nggak marah lagi sekarang, ayo kita lakukan hal yang lain….”“Waktu kerja tadi, isi otakku dipenuhi olehmu, sampai aku beberapa kali melakukan kesalahan….”Aku mencibir dan mendengus, “Kamu saja yang nggak konsentrasi, malah menyalahkanku. Aku nggak mau dijadikan kambing hitam… uh… jangan… jangan digigit….”Setelah bermain satu ronde, aku khawatir Robert tiba-tiba pulang dan menolak untuk lanjut.Namun, Robert terus membujuk dan merayuku. Aku pun sempat goyah dan akhirnya dengan linglung kembali ke kamarnya untuk melakukannya berkali-kali lagi.Setelah selesai, aku ingin pergi, tapi dia terus menahanku, sambil meyakinkan kalau Robert pasti tidak akan pulang.Dan benar saja, Robert baru pulang keesokan harinya waktu siang dan saat bertemu denganku, dia tak lagi mengungkit soal keja

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 7

    Tepat di saat itu, Robert bergegas keluar dari kamarnya dan langsung menarikku ke belakang tubuhnya.Sambil tersenyum lebar, Robert berkata pada Bobi, “Kak Bobi, tadi masih baik-baik saja, kok tiba-tiba jadi ribut begini?”“Robert, awas kamu! Ini urusan rumah tangga kami, jangan ikut campur. Wanita ini memang kurang dihajar.”“Baru setengah bulan aku nggak menghajarnya, dia sudah lupa diri. Hari ini, aku benar-benar harus membuatnya berlutut minta ampun….”Robert mengulurkan tangan untuk merebut sapu dari tangan Bobi, sambil berkata, “Kak Bobi, sudahlah, lupakan saja. Sudah siang, kita harus segera berangkat kerja.”Usai bicara, dia menoleh memberiku isyarat untuk segera masuk ke kamar. Kemudian, dia berbalik lagi merangkul lengan Bobi, memintanya untuk memberinya muka kali ini dan berjanji kapan-kapan akan mengajaknya minum-minum di luar.Setelah dibujuk, akhirnya Bobi berhasil dibawa pergi oleh Robert. Aku pun kembali ke kamar dan merebahkan diri di ranjang.Seketika, air mataku memb

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 6

    Aku menolak dan menyuruh dia sendiri yang pergi. Bagaimana kalau orangnya belum bangun dan aku mengetuk pintu, bisa-bisa dia kesal dan malah memarahiku, malah jadi kacau.Suamiku bilang Robert bukan orang seperti itu. Dia pun mendesakku untuk segera pergi, katanya siang nanti mereka harus berangkat kerja ke proyek.Jika sampai terlambat, mandor bakal memotong gaji mereka lagi. Apalagi Robert kemarin sudah berbaik hati mentraktirnya minum, jadi sudah sewajarnya untuk mengingatkannya.Melihat suamiku mulai kesal, aku pun cepat-cepat menyeruput buburku, lalu bangkit berdiri untuk mengetuk pintu kamar Robert.Meskipun aku tahu pintunya tak dikunci, karena suamiku memperhatikan dari jarak dekat, aku terpaksa pura-pura tidak tahu.“Tuk tuk tuk.” Setelah mengetuk beberapa kali, terdengar suara pria dari dalam yang masih sangat mengantuk.“Siapa?”Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memanggil dengan nada datar, “Robert, Kak Bobi menyuruhmu bangun untuk sarapan. Katanya sebentar lagi kalian ha

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 5

    Aku berniat menyuruhnya berhenti, tapi di saat diriku ragu sejenak, tangan Robert sudah menyelinap masuk ke balik bajuku.Tangannya yang kapalan mulai menjalar ke mana-mana, mengelus dan membakar api gairah. Tekstur kasar tangannya di atas kulitku yang halus memberikan sensasi gesekan yang aneh.Gesekan itu membuat tubuhku terasa mati rasa, geli, sekaligus gelisah, seolah ada banyak semut yang sedang mengerubutiku….Aku masih ingin mencoba memberontak, tapi Robert sudah tak tahan lagi. Dia tiba-tiba mengangkat pinggangku, menggendongku dan langsung menerjang masuk ke kamarnya.Setelah pandanganku terasa berputar, aku sudah ditindih kuat olehnya di bawah tubuhnya. Dia membenamkan kepalanya di leherku dan menghirup aromaku dalam-dalam.“Hm… Kak Tesa wangi sekali, sampai membuatku mabuk kepayang, hehe….”Aku mendorong dadanya yang bidang dan kekar. Kulit dadanya yang terasa panas membuat hatiku bergetar dan tanpa sadar aku juga menelan ludah.“Robert… kamu… aku, jangan… kita nggak boleh b

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 4

    Robert yang ada di belakangku tersentak dan napasnya jadi tertahan. Memanfaatkan momen saat dia lengah, aku buru-buru menyelinap keluar dari himpitan tubuhnya dan dinding.Setelah merapikan pakaian, aku bergegas lari keluar dapur, tapi sialnya malah menabrak suamiku yang hendak masuk.“Aduh! Dasar nggak punya mata! Sakit tahu!” Mendengar omelan suamiku, rasa tegang di dalam hatiku pun agak mereda.Aku buru-buru mengucapkan kata-kata menenangkannya sambil menuntunnya kembali ke kamar, beralasan ingin memeriksa apakah ada bagian tubuhnya yang sakit.Suamiku bilang dia baik-baik saja, lalu menyuruhku cepat masak dan jangan membuang-buang waktu dengan hal tak jelas.Aku mengiyakan sambil tersenyum canggung, menyuruhnya berbaring dulu di kamar dan menungguku sepuluh menit. Aku berjanji akan memanggilnya begitu masakan siap.Setelah susah payah membujuknya kembali ke kamar, aku berbalik ke dapur. Ternyata Robert sedang bersandar di dinding.Melihatku, dia mendengus dengan wajah penuh dendam

  • Rekan Kerja Suamiku   Bab 3

    Aku benar-benar ingin menyuruhnya berhenti, tapi tak berani mengatakannya. Aku takut begitu bersuara, yang keluar bukannya kata-kata, melainkan…. Di tengah kegundahanku, suara Robert kembali terdengar di telingaku, “Aku sudah dengar semuanya….”Kelopak mataku tersentak, aku buru-buru bertanya apa yang dia dengar? Pria di belakangku itu mendekat ke telingaku dan berbisik sambil terkekeh, “Kak Bobi payah, ‘kan?”Jantungku bergetar. Kok… kok dia bisa tahu? Ini benar-benar memalukan dan membuatku canggung setengah mati!Dengan kesal, aku mendengus, “Kamu… mana boleh menguping urusan ranjang keluarga orang lain?!”Robert tertawa nakal dan berkata, “Kak Tesa, bukannya kamu juga bersembunyi di balik celah pintu mengintip aku dan pacarku melakukannya?”“Hobi kita berdua sama, benar-benar pasangan yang serasi!”Mendengar ucapan Robert, seketika aku merasa sangat malu sampai ingin rasanya menghilang saja dari muka bumi, “Sembarangan… siapa… siapa yang serasi denganmu!”“Tentu saja kamu, Kak Tes

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status