Masuk"Vendi, jangan sentuh lagi .... Tubuhku gatal sekali ...." Di dalam kamar, kakak tetangga membuka kakinya. Wajahnya memerah karena sekujur tubuhnya tidak nyaman. Kerah bajunya terbuka, memperlihatkan sebagian besar kulit putihnya. Aku tak tahan lagi dan naik ke tubuhnya. "Kak, gatal sekali ya? Mau kubantu?"
Lihat lebih banyakSaat malam tiba, Ayah membawaku pulang ke kampung untuk tinggal sementara di rumah Kakek, agar bisa menghindari masalah ini.Di rumah tua Kakek, lampu kuning redup menyala, cat dinding mengelupas, sarang laba-laba saling bersilangan.Kedua pamanku juga ada di sana. Setelah mendengar penuturan ayahku, mereka berdua diam-diam menyalakan rokok."Masalah Vendi ini kelihatannya susah ditangani. Bagaimanapun juga mereka punya video sebagai bukti," kata Paman Besar sambil mengembuskan asap rokok perlahan. Wajahnya serius.Paman Ketiga berdiri dan berkata, "Kalau menurutku sih, kamu nikahi saja. Toh usia kehamilannya belum lama, digugurkan saja selesai. Sekarang perempuan susah dinikahi, kamu malah dapat yang datang sendiri. Masa ditolak?"Kakek mengangkat tongkatnya dan memukul pantat Paman Ketiga. "Di keluarga ini, kamu yang paling ngawur! Sampai sekarang juga belum nikah! Di otakmu cuma ada ide busuk! Vendi itu mahasiswa, masa disuruh menikahi perempuan seperti itu?"Setelah dipukul, Paman
Sikap ayahku sangat tegas. Dia menentang pernikahan ini dengan keras."Nggak bisa! Jangan kira aku nggak tahu anak perempuanmu itu orang seperti apa. Cuma lulusan SMP, setiap hari keluyuran sama orang-orang yang nggak jelas. Bagaimana kelakuannya aku tahu betul. Orang seperti itu nggak boleh masuk ke keluargaku!"Sejujurnya, aku juga tahu Shinta hanya lulus SMP dan tidak melanjutkan sekolah. Katanya, setelah itu dia bekerja di bar. Dia juga baru pulang ke rumah akhir-akhir ini dan sebelumnya jarang sekali terlihat.Ucapan ayahku seperti siraman air dingin. Suasana langsung membeku. Wajah keluarga Shinta semuanya tampak agak pucat.Ayahnya menunjuk ayahku dan berkata, "Jangan sembarangan menuduh ya! Anak perempuanku bersih. Hari ini, pernikahan ini harus ditetapkan!""Omong kosong! Urusan pernikahan bukan hal sepele, siapa kamu sampai berani memaksa!" Ayah dan ibuku juga tidak mau kalah, langsung membalas mereka.Pertengkaran meledak di ruang tamu, membuat kepalaku luar biasa sakit. Shi
Melihatku berdiri kikuk di tempat, Shinta menarik tanganku, langsung menyeretku ke tepi ranjang. Dia mendorongku duduk perlahan, lalu duduk mengangkang di atas pahaku. Kedua tangannya melingkar di leherku."Jangan tegang, aku yang akan mengajarimu." Dia membuka tutup krim, mengoleskan sedikit dengan ujung jarinya, lalu menaruhnya di dekat bibirku."Ayo, buka mulut." Ujung jarinya menyapu lembut lidahku. Rasa manis krim meledak di indra perasaku, bercampur dengan aroma tubuhnya.Jelas terasa suhu di antara kami terus memanas. Aku menggenggam jarinya, memakan krim di atasnya dengan rakus. Ujung lidahku melilit ujung jarinya. Dia terkekeh pelan dan berbisik, "Pintar."Setelah itu, dia melepas stokingnya dan menaruhnya di wajahku. "Sebetulnya aku sudah lama tahu kamu suka stokingku. Kamu sering mencuri yang sudah aku cuci. Rasanya nyaman, 'kan?"Wajahku langsung memerah. Aku menggaruk bagian belakang kepalaku. "Awalnya sih terasa menegangkan, tapi lama-lama jadi hambar. Cuma bau deterjen,
Aku akhirnya tak tahan lagi. Aku memegang pinggangnya, lalu menegakkan tubuhku. Seketika, perasaan intens seperti terselimuti itu menguasai otakku. Seluruh sarafku pun menegang.Ini pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan pria sejati. Benar-benar menyenangkan!Shinta terus melontarkan pujian, "Pakai tenaga sedikit lagi. Kamu benar-benar hebat."Seluruh punggungku seolah-olah kesemutan. Rasanya benar-benar nyaman. Namun, ketika kami semakin menikmati suasana, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.Di jam segini, ada orang yang datang ke rumah Shinta? Aku buru-buru mencabut kemaluanku, lalu mengenakan pakaian.Aku menatap Shinta dengan enggan, melihatnya memanyunkan bibirnya. Dia berkata, "Cepat pakai pakaianmu. Orang tuaku seharusnya sudah pulang."Mendengar itu, aku tak kuasa termangu. Bukankah orang tuanya pergi dinas? Kenapa malah pulang?Sebelum keraguanku sirna, orang tuanya sudah membuka pintu kamar. Sedetik sebelumnya, aku sudah mengenakan pakaianku dan Shinta sudah berbaring
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.