LOGIN“Kak Tesa… coba bilang punyaku lebih besar dan kuat dari punya Kak Bobi….” Tengah malam, aku keluar untuk minum air, tak sengaja malah mengintip rekan kerja suamiku sedang melakukannya dengan pacarnya…. Aku tak tahan untuk mengintip sedikit, tapi ternyata malah ketahuan oleh pria itu. Keesokan harinya, dia menghadangku di depan pintu kamar mandi. “Kalau Kak Tesa nggak percaya, terpaksa aku harus membuktikan kemampuanku di sini sekarang juga….” Belum sempat aku bereaksi, celana luar dan celana dalamku sudah ditarik paksa ke bawah….
View MoreMelihat tingkahnya yang pasrah mau diapakan saja itu, rasa sesak di hatiku pun menguap sebagian besar, “Cih… dasar si mulut manis!”Melihatku tersenyum, Robert pun ikut menyengir, “Hehe, karena Kak Tesa sudah nggak marah lagi sekarang, ayo kita lakukan hal yang lain….”“Waktu kerja tadi, isi otakku dipenuhi olehmu, sampai aku beberapa kali melakukan kesalahan….”Aku mencibir dan mendengus, “Kamu saja yang nggak konsentrasi, malah menyalahkanku. Aku nggak mau dijadikan kambing hitam… uh… jangan… jangan digigit….”Setelah bermain satu ronde, aku khawatir Robert tiba-tiba pulang dan menolak untuk lanjut.Namun, Robert terus membujuk dan merayuku. Aku pun sempat goyah dan akhirnya dengan linglung kembali ke kamarnya untuk melakukannya berkali-kali lagi.Setelah selesai, aku ingin pergi, tapi dia terus menahanku, sambil meyakinkan kalau Robert pasti tidak akan pulang.Dan benar saja, Robert baru pulang keesokan harinya waktu siang dan saat bertemu denganku, dia tak lagi mengungkit soal keja
Tepat di saat itu, Robert bergegas keluar dari kamarnya dan langsung menarikku ke belakang tubuhnya.Sambil tersenyum lebar, Robert berkata pada Bobi, “Kak Bobi, tadi masih baik-baik saja, kok tiba-tiba jadi ribut begini?”“Robert, awas kamu! Ini urusan rumah tangga kami, jangan ikut campur. Wanita ini memang kurang dihajar.”“Baru setengah bulan aku nggak menghajarnya, dia sudah lupa diri. Hari ini, aku benar-benar harus membuatnya berlutut minta ampun….”Robert mengulurkan tangan untuk merebut sapu dari tangan Bobi, sambil berkata, “Kak Bobi, sudahlah, lupakan saja. Sudah siang, kita harus segera berangkat kerja.”Usai bicara, dia menoleh memberiku isyarat untuk segera masuk ke kamar. Kemudian, dia berbalik lagi merangkul lengan Bobi, memintanya untuk memberinya muka kali ini dan berjanji kapan-kapan akan mengajaknya minum-minum di luar.Setelah dibujuk, akhirnya Bobi berhasil dibawa pergi oleh Robert. Aku pun kembali ke kamar dan merebahkan diri di ranjang.Seketika, air mataku memb
Aku menolak dan menyuruh dia sendiri yang pergi. Bagaimana kalau orangnya belum bangun dan aku mengetuk pintu, bisa-bisa dia kesal dan malah memarahiku, malah jadi kacau.Suamiku bilang Robert bukan orang seperti itu. Dia pun mendesakku untuk segera pergi, katanya siang nanti mereka harus berangkat kerja ke proyek.Jika sampai terlambat, mandor bakal memotong gaji mereka lagi. Apalagi Robert kemarin sudah berbaik hati mentraktirnya minum, jadi sudah sewajarnya untuk mengingatkannya.Melihat suamiku mulai kesal, aku pun cepat-cepat menyeruput buburku, lalu bangkit berdiri untuk mengetuk pintu kamar Robert.Meskipun aku tahu pintunya tak dikunci, karena suamiku memperhatikan dari jarak dekat, aku terpaksa pura-pura tidak tahu.“Tuk tuk tuk.” Setelah mengetuk beberapa kali, terdengar suara pria dari dalam yang masih sangat mengantuk.“Siapa?”Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memanggil dengan nada datar, “Robert, Kak Bobi menyuruhmu bangun untuk sarapan. Katanya sebentar lagi kalian ha
Aku berniat menyuruhnya berhenti, tapi di saat diriku ragu sejenak, tangan Robert sudah menyelinap masuk ke balik bajuku.Tangannya yang kapalan mulai menjalar ke mana-mana, mengelus dan membakar api gairah. Tekstur kasar tangannya di atas kulitku yang halus memberikan sensasi gesekan yang aneh.Gesekan itu membuat tubuhku terasa mati rasa, geli, sekaligus gelisah, seolah ada banyak semut yang sedang mengerubutiku….Aku masih ingin mencoba memberontak, tapi Robert sudah tak tahan lagi. Dia tiba-tiba mengangkat pinggangku, menggendongku dan langsung menerjang masuk ke kamarnya.Setelah pandanganku terasa berputar, aku sudah ditindih kuat olehnya di bawah tubuhnya. Dia membenamkan kepalanya di leherku dan menghirup aromaku dalam-dalam.“Hm… Kak Tesa wangi sekali, sampai membuatku mabuk kepayang, hehe….”Aku mendorong dadanya yang bidang dan kekar. Kulit dadanya yang terasa panas membuat hatiku bergetar dan tanpa sadar aku juga menelan ludah.“Robert… kamu… aku, jangan… kita nggak boleh b
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.