Mag-log inLONDON, JANUARI 2026.
“Arman, you’re staying late today? (Arman, kamu lembur hari ini?)” tanya Greg.
Arman mendongak dari memandang layar PC-nya, hampir saja melewatkan sapaan dari rekan kerjanya. Ia mengecek jam, tak menyangka sudah lewat dari jam 6 sore.
Pendar matahari mengintip dari balik langit biru kelabu, bersama
“Alright. If you don’t have any more questions, I think we can conclude this interview. Thank you so much for taking your time doing this call. I’ll let you know in a few days. I really hope we can meet in person in Rome,” ucap seorang wanita Eropa berambut ikal di layar laptop Miri.“Me too! It’s a pleasure talking to you, Meredith. I’ll be waiting for the good news,” balas Miri.Wajah bernama Meredith menghilang dari layar. Miri membuang napas lega. Ia memijat pipinya. Ternyata bicara bahasa Inggris dalam waktu yang panjang membuat wajahnya pegal.Sesi wawancara dengan ICA, Italian Chef Academy, baru saja berakhir. Miri melirik jam meja di sudut. Masih ada sisa satu jam sebelum hari ini berakhir.TOK! TOK!“Iya?” seru Miri, bangkit dari kursi.Miri membuka pintu, mendapati wajah ibunya yang menatapnya cemas. Ruangan di balik punggungnya riuh oleh Jihan dan Kemal yang saling beradu mulut.“Gimana, Mir? Udah selesai wawancaranya?” tanya Bu Sara.“Udah, Ma. Tinggal menunggu kabar dari
“Your chicken sandwich, Sir,” ucap pemilik food truck, menyerahkan sebungkus roti lapis pesanan Arman.“Thank you. Have a great day!” balas Arman, meletakkan sejumlah uang di meja konter.Pagi itu, Arman mendapat dorongan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ia bangun lebih awal, membersihakn diri sebelum meninggalkan unit apartemennya. Tak hanya menenteng tas kerja, tapi juga buku sketsa di satu tangan.Hari ini Arman mampir ke satu tempat yang baru saja ia kunjungi semalam. Arman kembali ke hadapan restoran ‘Kemirayu’. Bukan untuk memesan makanan, tapi sekedar menikmati fasadnya yang ia tuangkan pada lembaran kertas.“Lebih baik aku sarapan dulu,” gumam Arman.Ia menemukan tempat duduk, tepat di bawah pohon rindang yang berseberangan dengan muka rumah makan itu. Sambi
“Arman? Where are you going? Are you coming? (Arman? Kamu mau kemana? Kamu ikutan, nggak?)” panggil Greg dari depan pintu pub.Arman, mengabaikan ajakan temannya, memilih untuk menyeberang jalan. Ia melambaikan tangan, sembari berlari kecil.“I need to check something first! Save a seat for me! (Aku mau ngecek sesuatu dulu! Jagain kursi buatku, ya!)” teriak Arman.Langkahnya membawa Arman ke depan sebuah restoran kecil bertekstur susunan dinding bata yang dilapisi cat terakota. Dibandingkan gedung-gedung putih membosankan di kedua sisinya, restoran kecil itu tampak menonjol.Arman mendongak, memandang papan nama ‘Kemirayu’ yang mengedip redup malam itu. Nama yang tak umum. Selama ia hidup, hanya ada satu orang yang pernah memiliki nama itu.“Good evening, Sir. May I help you?” sapa seorang pria muda.Pria itu memegang gagang sapu. Perawakannya tinggi kurus, dengan jenggot tipis meliputi rahang dan di atas bibir. Kulitnya yang sawo matang, mata bulat berwarna coklat, hidungnya mancung.
LONDON, JANUARI 2026.“Arman, you’re staying late today? (Arman, kamu lembur hari ini?)” tanya Greg.Arman mendongak dari memandang layar PC-nya, hampir saja melewatkan sapaan dari rekan kerjanya. Ia mengecek jam, tak menyangka sudah lewat dari jam 6 sore.Pendar matahari mengintip dari balik langit biru kelabu, bersama semburat jingga di tepian horizon. Meski sudah dua minggu lebih ia di London, rasanya masih sulit terbiasa dengan perputaran waktunya.“I’m not. I didn’t realize it’s already this late (Nggak. Aku nggak sadar kalau udah gelap),” balasnya, sambil tersenyum.“Would you like to join us? There’s a new pub open nearby and we heard they serve good beer (Kamu mau ikutan? Ada bar baru dek
“Aku mengenal rasa itu dengan sangat baik, Ma. Dan aku masih menanggung pedihnya hingga sekarang,” ujar Miri, menepuk lengan ibunya.Menyadari kesalahannya, Bu Sara gelagapan.“Maaf, Miri. Mama nggak bermaksud menyinggung soal itu—”Miri menggeleng, melemparkan senyum pahit.“Tapi, Mama tahu aku nggak akan melakukan hal itu pada Mama, kan? Aku nggak akan pergi dan menghilang begitu saja tanpa kabar. Di situasi sesulit apapun, aku pasti akan memberi kabar,” ucap Miri lembut.“Tetap saja, Miri. Eropa sangat jauh. Kalau di luar kota, Mama masih bisa mengusahakan untuk menjengukmu. Tapi, kalau di luar negeri? Transportasinya saja lebih mahal,” bantah Bu Sara.Menjelang 30 tahun hidupnya, Miri menyadari ia tak pernah meninggalkan kota ini. Kota besar yang setiap sudutnya belum pernah ia jelajahi. Ia ingat pernah menolak kesempatan untuk bersekolah di luar kota, hanya karena ia tak tega meninggalkan ibunya sendirian.Kalimat ‘jangan pergi’ cukup sekali saja terucap, dan Miri akan berhenti m
“Selamat malam, Miri. Silakan masuk,” sapa Seno dengan senyum mengembang.Pria paruh baya itu menahan pintu, menunggu Miri melangkah masuk. Di luar, langit kelabu bergemuruh. Untung saja Miri memutuskan untuk berangkat lebih awal.“Ini aku bawain torta, Om,” ujar Miri, mengangkat kotak makanan yang ia bawa di satu tangan.“Wah, terima kasih, Mir. Pas banget aku lagi ingin makan yang manis-manis,” sahut Seno.Ia hendak meraih kantung kertas yang Miri bawa di tangan lain, tapi wanita itu mengelak.“Yang ini … spesial buat Mama,” Miri beralasan.Seno mengerti. Ia mengajak Miri masuk lebih dalam, di mana meja makan telah penuh oleh hidangan yang Seno siapkan.“Gimana persiapan untuk ke Itali? Ada kendala? Kalau ada masalah dengan visa, kasih tahu aku aja,” ucap Seno, meletakkan kue yang ia bawa di meja.“Hari ini aku baru memasukkan visa. Mudah-mudahan sih nggak ada kendala. Kendalanya cuma satu,” bisik Miri, menunjuk Bu Sara yang baru saja turun dari tangga.Seno menggeleng pelan.“Sabar
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten







