LOGINNothing special, tidak ada sesuatu disini Nothing special, tidak ada sesuatu disini Nothing special, tidak ada sesuatu disini Nothing special, tidak ada sesuatu disini
View MoreElysia worked like a machine in the kitchen, sautéing, simmering, frying and cooking different dishes at once, if there was one thing she was good at, it was making magic with dishes and that night she had purposefully gone all out to curate magic for her husband.
"Set the table, we have less than half an hour." She glanced at the digital clock in the kitchen as she worked and gave instructions to those that assisted her. She had an apron over her dress and a chef's cap hid her soft brown hair, her pair of mittens hung on the oven's door, she had long taken out the fish she had put in it and didn't have need for it anymore. Carefully, she sprinkled the already cut pepper and onions in the pot and left it to steam for a while before adding her vegetable and stirring. The island in the middle of the space provided her with a kind of feeling that often made her feel like she was in a cooking show as she moved with skill beating the hands of the clock. "Done," she exhaled excited giving a high five to the members of staff that had aided her. Excited was one emotion she couldn't contain; only the day before, she had visited the hospital and got the best news of her life. She was carrying a child. What made it even more exciting was the fact that the father of her child and husband who had been on a month's long trip was finally returning home, hence, her charade of a lavish dinner to welcome him and break the news to him. Elysia sat at the table with her hands crossed on her lap when she heard the door open. Suddenly the butterflies in her stomach formed a knot, she became nervous soaking the back of her dress in a cold sweat. Yes, she longed to break the news to him but Orion Steelhart was not a predictable man at all. "Hi," he greeted casually when he found her at the dining table with dinner already served. "Hi," Elysia flushed pink, though they had been married for a year, he still had the effect he had on her when she was just a young teenage girl. "I see you went through the stress to throw a banquet, what's the party about?" He threw a light comment at her as he took his seat directly opposite her and fixed his napkins properly. "No occasion really, I - I was just..." she stuttered not knowing where to start from. Though Orion had a cold personality to the rest of the world, he was always soft and gentle with her yet she couldn't find the words to say to him. She noticed he was distracted as he picked his plate without eating. "You don't like the food?" Her heart skipped a beat and she was ready to fix him something else if he asked. "It's great," he paused and dropped his fork. She thought it was either that or he was exhausted from his trip. "Elysia, there's something I have to tell you," He shut his eyes and breathed, away on his trip a lot had changed and he thought it wise to inform her. "Me too," she saw it as an opportunity to finally say what was on her mind as she looked up at him expectant. The stoic look on his face made her cower, her heart suddenly beat irregularly and her stomach churned, she was curious to know what had happened. Whatever he was going to say didn't sound like good news. "Alright you go—" "No please, you first. Mine can wait." She pleaded, big puppy brown eyes gently compelling him as she forked farfale ready to feed her mouth. "She's back, let's get a divorce." The words that rolled off Orion's lips made her choke on her saliva causing her to drop the fork to the plate with an unexpected clang resounding. "Elysia," "I'm fine," she immediately composed herself and took a sip of water biting back the tears that threatened to fall. That was the last thing she had expected to hear, she knew their union had conditions but everyday she woke up and said a prayer to the man in the sky to let her keep him forever but one year seemed like the meaning of forever. Her eyes glistened with unshed tears so she looked away and bit her lower lip to stop them from falling. She had loved Orion every single day of her life but she knew their marriage hung on a thread even if he never treated her badly. "Hey, you don't have to get uncomfortable. I'll still take of you and granny like I've always done. You're still my family and this changes nothing at all, you won't lack any thing and no one would dare—" "Are the papers ready?" She asked pulling herself to her feet as she straightened her gown forcing a smile. He frowned, that wasn’t the response he expected.Petir saling menyambar, jalan menuju Gedung Tua saat itu belum terlalu bagus, masih tanah asli. Jadi saat sedang hujan deras, tidak ada mobil yang bisa lewat. Termasuk mobil Ali saat itu. Terpaksa dia berjalan kaki, mengabaikan badannya yang sudah basah kuyup. Matanya mengerjap beberapa kali karena terkena percikan air. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai Gedung Tua dengan jalan kaki di kondisi hujan deras seperti saat itu. Sesampainya disana Ali diam sebentar, mengusap wajahnya yang terkena air hujan, berdiri di depan pintu gerbang Gedung Tua, lalu menghubungi seseorang untuk membukakan pintu gerbang. Tentu saja saat itu bukan hal sulit untuk Ali masuk ke Gedung Tua, karena beberapa minggu setelah kejadian tawuran terbesar dalam sejarah SMA Gajah Mada dan SMA Erlangga, Ali secara sah menjadi pemilik Gedung Tua itu. Kakek Erlangga sudah menunggu kedatangannya di ruang utama, menatap Ali takjim tersenyum tipis
Lintang cemberut, kesal menatap Elang yang tetap tidak bergerak dari tempatnya. Sudah dua jam Lintang menungguinya kerja. Sore itu tiba-tiba saja Elang mengiriminya pesan, meminta Lintang untuk datang ke kantor. Lintang pikir akan ada hal serius yang mau dibicarakan, mungkin tentang kakek? Tapi ternyata salah, dia hanya disuruh menghadap Elang. "El ..." panggil Lintang, melipat tangannya di dada, kakinya sudah dinaikkan ke kursi bersila. Sudah jadi kebiasaan Lintang memang kalau datang ke ruangan Elang, dia suka duduk seenaknya sendiri. Kalau orang lain mungkin sudah Elang hajar, tapi ini Lintang. Elang hanya tersenyum, geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan tingkah Lintang yang seperti anak kecil itu. "Hemm," Elang cuma berdehem, tidak beralih sedikit pun tatapannya dari dokumen yang tengah ia kerjakan. "Ini udah dua jam, El." Rengek Lintang, bibirnya mengerucut tanda protes.
Lintang tidak habis pikir, dia sampai harus mengedipkan matanya berkali-kali memastikan kalau yang berdiri di hadapannya itu manusia. Iya, ini bukan halusinasi kan? Astaga, Lintang menghembuskan napasnya kasar. Mukanya seketika kesal, pamit keluar dari ruangan Ali untuk mengambil foto gedung sebelum dua jam lagi akan dirobohkan. Pikirannya kacau, segera menuruni anak tangga menuju belakang sekolah, ke gedung itu. Mengobrak abrik isi tasnya, dan mengumpat kesal karena lupa kalau kameranya masih diperbaiki Saka. Kesalnya lagi, dia tidak punya nomor hapenya Saka. Terpaksa Lintang harus mencari Saka ke kelasnya. Tapi langkahnya terhenti di persimpangan koridor begitu ingat kalau dia bahkan tidak tahu Saka kelas berapa. Lintang menepuk keningnya frustasi, balik badan mencoba mencari Saka ke kantin, mungkin dia ada disana. Ini jam istirahat kan? Lintang melihat sekitar, murid-murid Gajah Mada sudah ramai di luar kelas. Elang Yudhistira, masala
Sekitar seratus pukulan dilayangkannya. Samsaks itu seolah seperti orang yang harus dia hancurkan. Napasnya menggebu. Bumi hanya duduk membaca kelengkapan dokumen yang sudah harus siap besok pagi. Cuaca sedang tidak bagus, udara semakin dingin, petir terus saja menyambar sejak satu jam yang lalu bersamaan dengan hujan angin. Tapi keringatnya terus mengucur dari sekujur tubuhnya, seiring jumah tinju yang dia layangkan. "Semua berkas sudah siap, lo bisa gabung besok. Yakin mau pakai serangan langsung?" tanya Bumi memastikan. Seandainya pun dia berubah pikiran, itu tidak masalah. Bumi masih bisa memikirkan cara lain. Dia menarik napas dalam-dalam. Duduk di lantai sambil melepas sarung tinjunya. Menegak habis air mineral yang sudah disiapkan sejak dia datang ke gedung tua, oleh asisten Bumi. "Lo berharap gue nggak bertemu Lintang?" tanyanya balik. Bumi hanya menaikkan alisnya sebelah, lalu tersenyum tipis. Hei, harus be
Baru Dua puluh menit, Ali sudah keluar lagi. Dia membatalkan begitu saja rapat bulanan SMA Gajah Mada setelah mendapat laporan dari satpam sekolah. Ali samasekali belum mengerti kenapa Lintang harus mengejar Saka. Dan otomatis, dia mengira Lintang akan dalam bahaya karena mengikuti Saka
Tiga puluh tahun sudah SMA Gajah Mada berdiri. Pendiri SMA Gajah Mada dulunya adalah mantan murid dari SMA Erlangga. Dia dikeluarkan karena sudah membuat masalah dengan kepala sekolah. Dia sudah berani melaporkan kepala sekolah dengan dugaan korupsi dari uang sumbangan siswa saat itu.
Saat ini Lintang tengah berada di pinggir lapangan upacara. Tadi Saka mengantarnya sampai ke sini, sebenarnya Saka ingin mengantar Lintang sampai rumah sebagai ganti karena telah merusak kameranya, dan akan memperbaiki juga kamera Lintang yang dia rusakkan itu. Tapi Lintang menolak, dia
Setahun yang laluSaka terus berlari, menyusuri gang demi gang. Sesekali dia menoleh ke belakang, napasnya ngos ngosan. Dia terus berlari meski sebenarnya segerombolan anak SMA Erlangga yang mengejarnya sudah berhenti sejak berpapasan dengan polisi yang teng












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.