LOGINCahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela besar bangsal bedah saraf Heidelberg Universitätsklinikum, namun kehangatannya sama sekali tidak mencapai Lily Braun. Ia berdiri di barisan paling belakang, mencoba berlindung di balik bahu lebar Marco Huston yang menjulang. Napasnya terasa berat, terhimpit oleh keramaian staf medis dan aroma antiseptik yang menyengat.
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra di kamar sayap barat, menciptakan garis-garis emas yang jatuh di atas sprei kasmir yang berantakan. Lily menguap kecil, merasakan kehangatan yang tidak biasa melingkupi tubuhnya. Saat ia mencoba berbalik, ia menyadari bahwa ada beban berat namun kokoh yang melingkar di pinggangnya.Lily membeku. Kesadarannya perlahan terkumpul, dan jantungnya berdegup kencang saat ia menyadari bahwa punggungnya bersandar sempurna pada dada bidang Leon. "Protokol keamanan," bisiknya dalam hati, mengingat alasan kaku yang diberikan pria itu semalam. Namun, saat ia merasakan napas teratur Leon di tengkuknya dan bagaimana tangan pria itu secara posesif menangkup perutnya, Lily harus mengakui satu hal yang menakutkan: ini terasa terlalu nyaman.Rasanya seolah ia memang diciptakan untuk berada di sana, di dalam dekapan pria yang biasanya ia anggap sebagai monster bedah saraf. Aroma sandalwood yang maskulin bercampur dengan wangi sabun mandi
Kamar utama di sayap barat mansion Kahnwald terasa lebih seperti galeri seni daripada tempat untuk beristirahat. Langit-langitnya yang tinggi dihiasi ukiran stucco yang rumit, dan lantai kayu ek yang dipoles gelap ditutupi oleh karpet bulu setebal jempol kaki. Lily berdiri di tengah ruangan, merasa sangat kecil dan tidak pada tempatnya. Kamar ini beraroma seperti Leon—campuran antara kayu sandalwood, kertas lama, dan sisa-sisa aroma antiseptik yang samar.Ia baru saja selesai mandi, mengenakan salah satu piyama sutra pemberian Sofia yang terasa begitu lembut di kulitnya hingga ia merasa hampir telanjang. Lily berjalan perlahan menuju meja rias antik yang cermin besarnya memantulkan cahaya temaram dari lampu tidur.Di sana, dalam kesunyian malam yang hanya diinterupsi oleh detak jam dinding perak, Lily perlahan meletakkan tangannya di atas perutnya sendiri. Masih sangat rata. Secara medis, janin di dalamnya mungkin belum lebih besar dari sebutir kacang polong, namun berat tanggung jawa
Lantai lima Heidelberg Universitätsklinikum pagi itu terasa lebih sibuk dari biasanya, namun bagi Lily, suasana rumah sakit terasa seperti medan perang yang baru. Ia melangkah menyusuri koridor bangsal bedah dengan perasaan waswas. Meski ia tetap mengenakan jas laboratorium yang sama, ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya: aura yang terpancar dari wajahnya.Berkat ritual perawatan wajah paksa yang dilakukan Sofia Kahnwald tadi malam—menggunakan masker emas dan serum yang harganya mungkin setara dengan biaya satu semester kuliah—kulit Lily tampak luar biasa segar. Lingkaran hitam di bawah matanya menghilang, digantikan oleh rona sehat yang sangat kontras dengan wajah lelah para residen lainnya."Lily! Kau memakai apa di wajahmu? Apakah kau baru saja melakukan suntik vitamin atau menemukan sumber mata air awet muda di ruang sterilisasi?" Clara Manhann, sahabat sekaligus rival terdekatnya, menyergap di dekat meja perawat.Lily tersentak, hampir menjatuhkan papan klipnya.
Malam semakin larut, namun cahaya lampu meja di ruang kerja pribadi Leon di dalam mansion masih berpendar keemasan. Lily duduk di kursi beludru yang berhadapan langsung dengan Leon. Di atas meja kayu mahoni yang dipoles mengilap itu, tergeletak beberapa lembar kertas linen tebal yang tampak sangat formal. Ini bukan rekam medis atau jurnal penelitian, melainkan "perjanjian domestik" yang dirancang Leon untuk menyeimbangkan dua dunia mereka yang bertabrakan.Leon melepaskan kacamata bacanya, memijat pangkal hidungnya yang mancung. Ia tampak lelah, namun matanya tetap tajam saat menatap Lily. "Kita harus realistis, Lily. Di rumah sakit, kau tetaplah Residen Braun, dan aku adalah Dr. Kahnwald. Tidak ada perlakuan khusus. Tidak ada makan siang bersama yang romantis di kantin. Jika kau melakukan kesalahan medis, aku akan tetap menegurmu sekeras aku menegur residen lainnya."Lily mengangguk cepat, merasa sedikit lega. "Itu yang kuinginkan. Aku tidak mau Marco, Clara, atau bahkan Sarah Adelin
Mansion Kahnwald kembali ke dalam keheningan yang megah saat limusin yang membawa "badai belanja" Sofia baru saja mendarat di lobi depan. Lily melangkah masuk dengan perasaan campur aduk; separuh darinya merasa pening karena gunungan kotak bermerek yang dibawa para pelayan di belakangnya, separuhnya lagi merasa teror yang sesungguhnya baru saja dimulai.Sofia telah naik ke lantai atas untuk mengatur penempatan "harta karun" barunya, sementara Leon harus menerima telepon darurat dari rumah sakit. Hal itu meninggalkan Lily sendirian di ruang kerja utama yang luas, tempat Hans Kahnwald—sang patriark dinasti medis—sedang duduk di balik meja kayu mahoni yang besar.Lily berdiri mematung di ambang pintu. Ruangan itu berbau cerutu mahal, buku-buku kulit tua, dan wibawa yang menyesakkan. Hans sedang menunduk, fokus pada tumpukan berkas laporan keuangan rumah sakit. Kacamata bacanya bertengger di ujung hidung, dan garis-garis di dahinya tampak seperti pahatan batu granit yang keras.Hans mendo
Heidelberg di jam dua pagi biasanya sunyi, namun pusat perbelanjaan Kahnwald Galleria tampak seperti mercusuar yang menyala terang di tengah kegelapan kota. Sofia Kahnwald melangkah keluar dari limusin dengan keanggunan seorang ratu yang sedang melakukan inspeksi wilayah, sementara Lily mengekor di belakangnya dengan langkah ragu, masih merasa asing dalam balutan jas laboratorium yang kini ditutupi mantel bulu pinjaman dari Sofia.Christian, manajer butik yang wajahnya pucat karena dibangunkan mendadak, membungkuk sangat dalam di depan pintu kaca yang tinggi. "Selamat datang, Nyonya Kahnwald. Semuanya sudah siap sesuai instruksi Anda. Koleksi musim semi terbaru dari Paris dan Milan sudah kami keluarkan dari gudang.""Bagus, Christian. Dan tolong, siapkan kopi paling mahal untuk Leon karena dia tampak seperti orang yang akan pingsan jika tidak segera mendapatkan kafein," ujar Sofia sambil melambaikan tangan ke arah putranya yang berjalan malas di belakang mereka.Leon hanya mendengus,







