Share

BAB 6

Author: arctrs_
last update publish date: 2026-09-01 19:30:53

"Siapa... yang sudah melakukan ini padamu?" tanyanya dingin.

Sora buru-buru menarik tangannya, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya meski peluh dingin mulai membasahi dahi. "Bukan siapa-siapa kok... aku yang ceroboh, Pak Zayne. Tadi tidak sengaja tersiram air kopi sendiri."

Zayne menatap Sora dalam-dalam. Ia tahu Sora berbohong, tapi ini bukan saatnya berdebat. "Ikut saya ke rumah sakit. Sekarang."

"T-tapi, Pak... saya bisa sendiri," balas Sora.

Tanpa mengindahkan penolakan Sora, Zayne memegang siku perempuan itu—menghindari bagian yang melepuh—dan menuntunnya bergegas menuju ke parkiran mobil.

Namun tepat di lobi utama, langkah mereka terhenti. Dion berlari menghampiri mereka dengan raut wajah merah padam penuh amarah. Tanpa melihat situasi, Dion langsung meluapkan emosinya pada Sora.

"Sora! Kalau kamu memang udah nggak mau jadi manajerku lagi, bukan begini caranya!" bentak Dion kasar di depan beberapa staf lobi. "Vivianne udah ngalah dan nyamperin kamu ke toilet buat minta maaf baik-baik, tapi kamu malah mendorongnya sampai jatuh dan mengancam bakal merusak kariernya!"

Sora hanya diam. Ia terlalu lelah dan menahan sakit yang luar biasa untuk sekadar membela diri.

"CUKUP."

Suara berat dan penuh penekanan dari Zayne memotong kalimat Dion seketika. Suasana lobi mendadak membeku.

"Ini situasi darurat. Sora harus segera dibawa ke rumah sakit," tegas Zayne dingin.

Baru saat itulah pandangan Dion teralih ke arah Sora. Dion tersentak. Ia melihat tubuh Sora yang gemetar hebat, bibirnya yang pucat memutih, dan pergelangan tangan hingga kulit di balik kemejanya yang memerah parah dan melepuh.

Rasa panik mendadak menyergap dada Dion. "S-Sora... tanganmu..." Dion melangkah maju, hendak meraih tangan Sora. "Kenapa bisa begini? Ayo, biar aku yang antar kamu ke—"

"Mas Dion!" seorang kru pemotretan berlari terengah-engah memotong ucapan Dion. "Mas Dion, sesi pemotretan berikutnya sudah mau dimulai! Produser dan sutradara sudah menunggu di set, tinggal nunggu Mas Dion aja!"

Dion membeku. Langkahnya tertahan di udara. Ia menatap Sora yang kesakitan, lalu beralih menatap kru yang mendesaknya. Matanya memancarkan kebingungan dan kebiasaannya yang selalu memprioritaskan karier.

Zayne yang menyadari kebimbangan Dion langsung melangkah maju, memotong jarak dan menempatkan tubuhnya di antara Dion dan Sora.

"Serahkan saja padaku," ujar Zayne tenang namun penuh otoritas. "Aku yang akan mengantarnya."

"Ayo, Mas Dion, takutnya nanti nggak selesai-selesai," lanjut kru dengan terburu-buru.

Dion menghela napas kasar. Ia menatap Zayne dengan pandangan awas. "Makasih, Zayne. Aku berhutang padamu untuk ini."

Kemudian pandangan Dion beralih ke Sora. Ia mendekat dan berusaha mengusap kepala Sora seperti yang sering ia lakukan dulu. Namun Sora berhasil berkilah sebelum tangan Dion mencapai puncak kepalanya dan membuatnya menggantung di udara.

Zayne seketika menahan tawanya melihat penolakan Sora. Sementara Dion berdehem, berusaha menghilangkan kecanggungan yang tercipta.

"Sora... aku harus kembali ke set dulu. Selesai pemotretan aku langsung susul kamu," ujar Dion pelan.

Sora tidak menjawab. Ia bahkan tidak sudi menatap wajah pria itu lagi. Dalam diam, benang kesabaran dan sisa perasaan yang ia jaga selama sembilan tahun resmi putus sepenuhnya.

Dion masuk kembali dengan kru menyisakan Sora dan Zayne dalam diam.

Zayne merangkul bahu Sora dengan protektif, menuntunnya masuk ke dalam mobil. Saat pintu mobil VIP itu tertutup dan Dion memutar tubuh kembali ke set, Sora menatap profil samping Zayne yang dingin.

Sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah sakit VIP, Zayne bergerak cepat tanpa banyak bicara. Ia memastikan dokter spesialis terbaik langsung menangani pergelangan tangan dan leher Sora yang memarah parah akibat luka bakar derajat dua.

Saat dokter membersihkan lukanya, rasa perih yang membakar membuat Sora memejamkan mata rapat-rapt sambil merintih pelan.

"Kalau sakit, kamu bisa gigit tanganku," ujar Zayne rendah seraya mengulurkan tangannya.

Meski Sora tidak meremasnya, kehadiran Zayne yang berdiri tenang, memberikan rasa aman yang tak pernah ia dapatkan dari Dion—pria yang selama sembilan tahun ini justru selalu menuntut Sora untuk merawatnya.

Setelah selesai diberi penanganan medis dan obat-obatan, Zayne mengantar Sora pulang hingga ke depan pintu apartemennya.

"Istirahatlah. Pekerjaanmu di lapangan sudah saya alihkan sampai kamu sembuh," ucap Zayne seraya menyerahkan kantong obat dari rumah sakit.

Sora menerima kantong obat itu dengan tangan kirinya. Ia menatap Zayne yang berdiri tegap di bawah pendar lampu koridor.

"Terima kasih untuk hari ini, Pak Zayne," ujar Sora pelan seraya membungkuk hormat.

Zayne memperlihatkan senyum tipisnya. "Membantu karyawan sekaligus pacar teman termasuk kewajiban saya, Sora."

Pacar teman, katanya? tanya Sora dalam hati.

"Kami sudah putus sejak dia menyelingkuhi saya, Pak. Bukannya Pak Zayne sudah tahu waktu itu, ya?" jawab Sora dengan heran.

"Mengingat kebrutalan kamu ke saya waktu itu, saya pikir kamu masih mencintainya."

Rona merah tercipta pada wajah Sora yang sebelumnya sepucat tembok. "Ah, saya minta maaf waktu itu, Pak Zayne. Saya tidak sadar karena pengaruh alkohol."

Sora menggunakan kata 'saya' karena ini menyangkut kesalahan terhadap bossnya sendiri.

Zayne menatap Sora dalam-dalam, lalu memiringkan kepalanya sedikit. "Baiklah, asal kamu terima tawaran saya, Sora."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 26

    Cahaya hangat matahari pagi menyusup lewat celah tirai jendela kaca besar, jatuh tepat di atas permukaan ranjang. Sora mengedipkan matanya perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan silau ruangan yang asing baginya."Ngh, pegal sekali rasanya," bisik Sora pelan.Rasa pegal dan linu seketika menyengat seluruh persendiannya saat ia mencoba menggeser posisi duduk. Sora menunduk, menyadari dirinya hanya dibalut selimut tebal hingga ke dada.Ingatan tentang malam tadi seketika berputar ulang di kepalanya. "Astaga, apa yang udah aku lakuin?" Pipi Sora merona hebat. Harus ia akui, Zayne sangat gentle dan sabar. Walaupun sempat ada rasa sakit di awal, kepedulian pria itu membuat Sora akhirnya bisa menikmati setiap detiknya tanpa rasa takut sedikit pun.Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan. Zayne melangkah masuk dengan kemeja santai berwarna abu-abu yang kainnya agak longgar dan lengan tergulung rapi. Wajahnya terlihat begitu segar, tampan, dan penuh energi.Sora mengernyit heran di bali

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 25

    Kabin bianglala itu menggantung sunyi di titik tertinggi. Di luar kaca, lampu-lampu kota kelihatan melamun di bawah langit malam, tapi perhatian Sora sepenuhnya terkunci pada pria di hadapannya.Zayne masih menatapnya. Ibu jarinya yang hangat mengusap pelan bibir bawah Sora yang sedikit basah sisa ciuman tadi."Malam ini... tidur dengan saya."Suara Zayne tidak tergesa-gesa. Ia memberikan ruang kepada Sora untuk memutuskan pilihannya. Sora menahan napas. Jantungnya berdengung kencang.Tanpa disadari, memori lama Sora kembali tersulut. Perasaan takut dan mual yang kerap menyelimutinya tiap kali ada pria yang mencoba menyentuhnya.Dulu bersama Dion, setiap kali pria itu menuntut lebih, tubuh Sora selalu menolak. Kulitnya meremang dingin dan ada rasa tidak nyaman yang menjerit supaya dia menjauh. Dion selalu protes kalau Sora terlalu kaku seperti kayu, sampai Sora percaya kalau dirinya memang bermasalah.Tapi detik ini, saat tatapan Zayne mengunci matanya... benteng pertahanan itu anehn

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   Bab 24

    "Kenapa Pak Zayne bilang aku pacar Bapak?" tanya Sora penasaran begitu mereka berjalan meninggalkan gadis berseragam sekolah tadi. Zayne melirik Sora santai, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Biar dia cepat pergi. Saya tidak nyaman diajak bicara sama orang asing, apalagi kalau bukan kamu." Jawaban santai namun tajam itu membuat dada Sora berdesir hangat. Pipinya mendadak merona merah, namun ia memilih diam dan pura-pura sibuk memandangi jajaran mesin permainan di sekitar mereka. Langkah mereka terhenti di depan sebuah wahana Basketball Shootout pasangan—permainan lempar bola basket dua ring yang skornya diakumulasikan bersama untuk mendapatkan hadiah utama di bagian atas rak display. Zayne menunjuk sebuah boneka beruang cokelat berukuran sangat besar yang berdiri gagah di rak paling atas. "Kamu suka beruang?" Sora menoleh, matanya berbinar melihat boneka jumbo itu. "Suka! Lucu banget, Pak." "Sini," panggil Zayne seraya melambaikan tangan, melipat lengan kemeja putihnya

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   Bab 23

    Mobil sedan hitam Zayne membelah jalanan kota yang padat. Di dalam kabin yang tenang, Sora melempar pandangannya keluar jendela. Langkah keputusannya meninggalkan kamar rawat Dion tadi masih menyisakan sedikit desiran lega di dadanya. Saat mobil melintasi pusat perbelanjaan di pinggir jalan raya, mata Sora tak sengaja menangkap papan lampu neon besar di lantai dua bangunan tersebut. Suara samar denting permainan dan warna-warni lampu bertuliskan Arcade Zone terlihat jelas dari kaca mobil. Sora menahan pandangannya di sana beberapa detik. "Pak Zayne... pernah ke tempat seperti itu?" tanya Sora tiba-tiba, menunjuk ke arah papan lampu neon tersebut. Zayne melirik sekilas lewat kaca spion tengah. "Tempat permainan? Belum pernah. Terlalu berisik." Sora tersenyum kaku lalu cepat-cepat menarik pandangannya. "Ah... begitu, ya. Yasudah, Pak, tidak jadi. Lain kali mungkin aku bisa pergi sendiri saja. Takutnya Pak Zayne nggak nyaman." Zayne tak membalas ucapan itu. Namun, detik berikutnya,

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 22

    Lewat celah sempit itu, pemandangan di dalam kamar terpampang jelas. Dion bersandar di bantal dengan tangan digips, sementara Vivianne duduk di tepi kasur, menundukkan tubuhnya rapat-rapat. Kedua orang itu sedang berciuman dengan sangat mesra dan intens. Nyuutttt. Jantung Sora mencelos. Ingatan kelam itu seketika berputar hebat di kepalanya—malam pertama saat Dion terpergok berselingkuh dengan Vivianne. Sensasi sesak, hancur, dan dikhianati yang dulu pernah merobek dadanya kembali membakar ingatan Sora. Melihat bahu Sora yang mendadak kaku dan napasnya yang tertahan, Zayne secara refleks mengulurkan telapak tangannya untuk menutup mata Sora. "Tidak perlu melihatnya," bisik Zayne di belakang punggung Sora. Namun, Sora tidak ingin membiarkan dirinya larut dan tenggelam dalam kelemahan masa lalu. Dengan gerakan mantap dan tegas, Sora menepis lembut tangan Zayne dari matanya. Ia menatap Zayne dengan binar mata yang kini berkilat penuh keberanian. "Saya tidak apa-apa, Pak Zay

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 21

    "Sayang, kamu sudah makan belum? Wajahmu pucat sekali lho ini," ujar Vivianne manja, menyentuh kening Dion yang dibalut perban. Dion menggeleng lemah, melirik jijik pada nampan bubur rumah sakit di atas meja. "Belum. Makanan di sini rasanya seperti kertas basah. Aku lagi pengen makan sup iga." "Aduh, tapi kan jauh dari sini, Sayang? Kalau pesan online gimana? Mau nggak, Sayang?" tanya Vivianne. "Nanti dingin dong," jawab Dion dengan nada manja. Sora menghela napas. Rasanya melihat pasangan di depannya ini membuat tensi darahnya naik seketika. "Aku saja yang pergi membelinya," sela Sora tenang seraya merapikan tali tas di bahunya. "Aku naik taksi ke sana. Supnya bisa dibungkus pakai wadah pemanas." Dion tersentak pelan. Pria itu menatap Sora sejenak—sadar betul bahwa wanita itu masih mengingat jelas restoran favoritnya—sebelum akhirnya membuang muka gengsi. "Terserah kamu." "Nah, gitu dong! Bagus kalau peka. Cepat ya, Sora!" seru Vivianne senang. Sora hanya mengangguk ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status