FAZER LOGINSelamat dari harimau, tapi tak selamat keluar kandang. Sora meratapi kebodohannya sendiri dalam hati.
Ia pikir ia kini bisa memegang kendali atas dendamnya, tapi Zayne baru saja membuktikan siapa pemangsa yang sebenarnya di ruangan ini.
Apalagi sebagai Manajer yang masih terikat kontrak satu bulan, Sora tetap harus mendampingi Dion di setiap aktivitas keartisannya.
Termasuk pemotretan perdana hari ini—sebuah sesi first look dan poster promosi awal untuk proyek film layar lebar besar yang akan dibintangi Dion bersama Vivianne ke depannya.
Di tengah set, Dion dan Vivianne tampak memamerkan pose terbaik mereka di depan kamera.
“Sialan,” gumam Sora ketika ia lihat Vivianne berusaha melakukan pose saling berpangku dan terlihat seperti akan berciuman.
Kau pikir aku cemburu? Jangan mimpi! Kata beruntung lebih bisa aku pakai, daripada menjadi korban buaya gila!
Rutuk Sora dalam hatinya. Demi Tuhan ia hanya kesal dan merutuki nasib sialnya sebulan ke depan.
Siapa yang bisa menebak masa depan, bahwa mantan pacarnya—Dion akan tergoda pada perempuan yang selama sekolah pernah merundungnya. Ini adalah penghinaan terbesar sepanjang hidup Sora!
Saat sesi rehat pertama padahal baru usai, tapi Vivienne masih kembali akting dengan akting terbaiknya.
"Teman-teman kru semua, istirahat dulu ya! Aku ada bawain kopi dan camilan buat kalian semua," seru Vivianne manis, membagikan nampan berisi beberapa cup kopi demi membangun citra "aktris utama yang dermawan" di depan publik.
Namun, begitu melangkah mendekati area sofa tempat Sora duduk memegang tab berisi jadwal kerja Dion, raut manis Vivianne seketika berganti menjadi senyuman meremehkan.
Vivianne membawa dua cup kopi panas di tangannya, melangkah menghampiri Sora.
"Dion, tolong ambilkan ponselku di meja makeup dong," pinta Vivianne bermanja-manja pada Dion, membuat Dion melangkah menjauh beberapa meter dari mereka.
Begitu Dion berbalik membelakangi mereka, Vivianne sengaja mengayunkan kakinya dan Pyarrr!
Cup kopi di tangan Vivianne terlepas, dan cairan kopi hitam yang masih panas menyiram bagian depan kemeja kerja Sora dan sedikit ke tangannya. Panasnya cairan itu seketika menembus kain, membakar kulit perut dan tangan Sora.
"Aduh!" jerit Vivianne nyaring, merubuhkan tubuhnya ke lantai studio seraya memegangi pergelangan tangannya.
"Sora... aku cuma mau kasih kamu kopi. Kalau kamu gak suka sama aku, gak usah sampai dorong dan nyiram aku gini!" lanjut Vivianne dengan menampilkan wajah sedihnya.
Seluruh perhatian kru di studio seketika tertuju ke arah mereka. Dion yang mendengar jeritan itu langsung berlari menghampiri dengan wajah panik.
“Sora! Kamu apa-apaan sih?!" teriak Dion keras tanpa sadar, suaranya memantul di seluruh sudut studio yang mendadak hening.
"Vivi… kamu gapapa?” Dion langsung berlutut membendung Valerie, menatap Sora dengan raut emosi dan penuh kekecewaan.
"Kenapa? Kamu gak suka lihat aku maju dapat proyek film ini, kan? Jangan kekanak-kanakan begini di depan kru!" bentak Dion lagi.
Sora berdiri kaku. Kulit dadanya terasa perih memerah akibat siraman kopi panas, tapi rasa sakit di hatinya jauh lebih memekakkan.
Sora menatap Dion yang membentaknya di depan puluhan pasang mata kru, lalu beralih pada Vivianne yang berada di pelukan Dion.
Sora masih bergeming. Ia sudah terlalu lelah menanggapi drama murahan yang tidak ada habisnya jika harus melawan aktor dan aktris palsu sesungguhnya.
Sora tidak berteriak. Ia tidak membela diri, juga tidak menangis. Rasa muaknya pada Dion sudah mencapai batas puncak hingga tak ada lagi air mata yang tersisa.
"Aku permisi ke belakang untuk ganti baju," ujar Sora dingin dan datar, tanpa membalas tatapan Dion sedikit pun.
“Hei, minta maaf dulu pada Vivianne sebelum pergi!” ujar Dion dengan nada ringan namun menambah emosi di dalam diri Sora.
Seluruh perhatian kru di studio seketika tertuju ke arah mereka. Kasak-kusuk menyengat.
"Sora! Aku bilang minta maaf!" bentak Dion, hendak mengejar. “Manager apaan kamu baperan kayak gitu?!”
Melihat Sora yang tidak merespons provokasinya, Vivianne menyunggingkan kecil.
“Jangan salahin Sora, memang aku yang salah.”
“Gak usah dibela, Vivi.” potong Dion cepat, suaranya makin keras agar didengar seluruh kru. “Dari kemarin kerjaannya cuma bawa emosi pribadi ke lokasi syuting. Kalau gak becus jadi manajer, ngomong!”
Bisik-bisik kru di sekitar mereka makin tajam. Vivianne pura-pura menunduk sambil mengusap tangannya yang terkena sedikit cipratan.
Sora menolak berhenti. Dia melangkah pergi tanpa mempedulikan seruan Dion yang makin terdengar frustrasi di belakangnya.
Saat Sora berdiri di depan cermin toilet studio yang sepi, membasuh bagian kulit perut dan tangannya yang memerah akibat siraman kopi panas menggunakan tisu basah.
Wajahnya datar, namun gemetar di tubuhnya tak bisa membohongi. Ini sangat perih!
Namun saat pintu toilet terbuka, hatinya mengeras sekali lagi.
"Apa itu sakit, Sora?" ledek Valerie renyah. "Maaf, ya. Lain kali kupastikan akan lebih sakit lagi dari ini. Haha… "
Sora menghentikan usapan tisunya. Ia menatap pantulan Vivianne di cermin tanpa rasa takut sedikitpun.
“Hebat sekali aktris pendatang sudah membuat kericuhan. Gak takut kalau namamu tercoreng?”
Vivianne yang mendengarnya mulai naik pitam. Tangannya diangkat dan diayunkan ke atas, hampir saja menyentuh pipi Sora. Namun Sora berhasil menangkisnya dan membuat Vivianne sedikit terhuyung ke belakang.
“Kau…! Dasar kurang ajar!” pekik Vivianne tak terima mendapatkan perlakuan kasar dari Sora.
“Kenapa? Benar kan? Berhentilah menggangguku dan urusi saja sampah yang telah aku buang itu, Vivianne. Takutnya ada pengepul lain yang berniat mengambilnya juga.”
Vivianne yang mendengar ucapan merendahkan dari Sora, melotot tajam. “Jaga ucapanmu! Kau lah sampah yang telah dibuangnya. Sampah yang seharusnya ia buang sembilan tahun lalu!”
Vivianne melangkah maju, memamerkan cincin berlian di jari manisnya. “Kau lihat ini, Sora! Dion sangat serius ingin menikah denganku. Jadi sebaiknya kau jangan terlalu percaya diri!”
Sora sempat terpaku melihat desain cincin tersebut. Itu adalah desain yang sama persis yang pernah ia tunjukkan pada Dion dulu.
Ah… jadi.. wanita pirang malam itu, wanita ini?
“Selamat atas pertunanganmu kalau begitu. Hati hati kalau terlalu percaya diri, takutnya kalau kamu gak naik jadi artis, nekat tidurin pacar orang lagi. Semangat, ya.”
Tanpa membuang waktu lagi untuk melayani amarah murahan Vivianne, Sora merapikan pakaian gantinya, memutar tubuh, lalu melangkah keluar dari toilet studio. Setiap langkahnya terasa mantap tanpa rasa sesal sedikit pun.
Namun, baru beberapa meter menyusuri koridor yang remang, tangannya diraih orang lain.
"Ah!"
Jeritan kesakitan yang melengking lolos begitu saja dari bibir Sora. Tubuh Sora menegang hebat, refleks menarik tangannya seraya merintih sakit.
Buru-buru ia menengok ke orang yang menegurnya.
Zayne tersentak kaget. Ia seketika melepas cengkeramannya, iris kelabunya membelalak lebar melihat respons berlebihan Sora.
Tanpa membuang waktu, Zayne memutar tubuh Sora dan menarik pelan ujung kemeja luaran perempuan itu. Saat itulah, raut wajah Zayne yang biasanya sedingin es seketika berubah total.
Zayne bisa melihat kulit tangan Sora tampak memerah padam dengan lepuhan cairan yang mulai menggelembung.
"Siapa..." Zayne menatap mata Sora yang berkaca-kaca menahan sakit, "...yang berani melakukan ini padamu?"
Tanpa membalas godaan Kakeknya, Zayne berbalik dan langsung mengambil langkah lebar setengah berlari menerobos pintu VVIP. Pria itu memotong jalur tangga darurat dengan dada bergemuruh penuh amarah. Masa bodoh dengan taruhan Kakek, ia tidak akan pernah membiarkan pria mana pun menyentuh wanitanya!Di tengah lantai dansa, pria itu menyunggingkan senyum lebar, merangkul pinggang Sora dan hendak menariknya ke dalam putaran dansa.SREK!Zayne mencengkeram pergelangan tangan pria asing itu dengan tenaga yang kuat hingga sang pria terdorong mundur dan meringis kesakitan.Sebelum Sora sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya ditarik paksa ke dalam pelukan dada bidang Zayne. Aroma khasnya yang menenangkan seketika melingkupi Sora.Zayne mengunci pinggang Sora dengan lengannya yang kokoh, mengambil alih posisi tepat saat musik waltz bertempo lambat mulai mengalun.Lampu sorot mengunci pergerakan mereka berdua di tengah lantai dansa. Para tamu bersorak meriah, mengira Zayne adalah pasangan
Sora yang mendengar penuturan Kakek Zayne hanya bisa tertunduk lesu. Ia tidak bisa mengelak apapun, karena menurutnya ia masih memiliki banyak kekurangan jika disandingkan sebagai asisten pribadi Zayne. Sementara itu Zayne cuma bergeming dengan raut datar. "Sora, kamu tunggu di balkon luar sebentar ya. Aku mau bicara sama Kakek kaku ini," ujar Zayne, seraya mengelus pelan jemari Sora. Sora mengangguk sopan. “Saya permisi dulu, Ketua,” ucapnya lalu melangkah keluar. Pintu tebal itu tertutup rapat. Kakek menyandarkan punggungnya, menatap Zayne sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Asisten biasa, hm? Kakek tahu cara matamu memandangnya saat masuk tadi. Kau tidak mungkin membawa wanita sembarangan ke ruangan ini." Zayne berdiri tegap. Jemarinya merapikan ujung jasnya dengan santai, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tertandingi. "Sora bukan sekadar asisten pribadiku, Kek," potong Zayne langsung, suaranya terdengar sangat tajam dan mutlak. "Dia wanita yang aku
Bibir Sora mengatup rapat, matanya membelalak menatap Zayne yang masih berjarak amat dekat darinya. Bisikan atasannya tadi sukses membuat debaran di dadanya kian bergemuruh tak terkendali."Zayne... jangan bercanda," cicit Sora pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri. "Acara Kakek itu sangat penting. Kamu sendiri padahal yang bilang kalau ini perintah. Kalau kita tidak datang—"Zayne mengikis jarak, terkekeh rendah seraya menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Sora, menggenggamnya hangat. "Aku tidak pernah bercanda soal kamu, Sora. Tapi tenang saja... aku tahu kapan harus mengalah."Zayne mengusap punggung tangan Sora dengan ibu jarinya, lalu menatap matanya dalam-dalam. "Ayo. Nanti kita terlambat."***Sedan hitam Zayne berhenti tepat di pelataran karpet merah Grand Ballroom hotel bintang lima milik Nareshwara Group. Kilatan lampu warna warni dan alunan musik instrumental menyambut kedatangan mereka.Zayne turun terlebih dahulu, membukakan pintu, lalu mengulurkan tanga
Senin siang di kantor pusat Nareshwara Group. Suasana di area kubikel mendadak bising. Bisik-bisik antusias merayap di setiap sudut ruangan, terutama di deretan meja Divisi Perencanaan Bisnis. Rumor mengenai siapa saja yang berhak memegang kartu akses ke pesta ulang tahun Ketua Besar Nareshwara nanti malam sudah merebak luas sejak jam makan siang tadi."Serius, tahun ini cuma eksekutif sama staf pilihan yang dapet!" bisik Rika pada Nadia yang sedang merapikan riasan tipis di mejanya. "Masuk ke ballroom pestanya aja udah kayak mimpi. Dengar-dengar sih pesta ulang tahun Ketua Besar tahun ini dibikin jauh lebih megah dari tahun lalu!"Nadia hanya tersenyum tipis dan anggun, mengatupkan cermin kecilnya dengan tenang. "Acara keluarga Nareshwara memang selalu berkelas, Rika. Nggak sembarang orang bisa berbaur di sana."Sora yang baru saja selesai mencetak beberapa lembar berkas draf laporan berjalan melewati kubikel divisi tersebut dengan tenang.Langkah Sora terhenti di depan meja kerjan
Dion melangkah maju dua tapak, mengabaikan cengkeraman tangan Vivianne di lengannya. Matanya yang merah menatap Sora dari ujung kepala sampai ujung kaki, melihat dress mahal yang melekat sempurna di tubuh wanita itu, tatanan rambutnya yang anggun, serta deretan tas belanjaan merek terkemuka yang bertumpuk di dekat meja. "Sora..." Dion menelan ludah kasar. Suaranya serak, penuh gejolak emosi yang bercampur aduk. "Kamu... kamu benar-benar pindah ke tempat pria ini? Secepat ini kamu menjual dirimu hanya demi harta, Sora?!" Plak! Suara itu tidak datang dari tamparan, melainkan dari dentang nyaring gelas kristal yang diletakkan Zayne secara perlahan di atas meja marmer. Gerakannya sangat tenang, namun gema suaranya cukup untuk memotong kalimat Dion secara telak. Zayne bersedekap dada, bersandar santai di kursinya. Aura dingin dan dominan yang menguar dari tubuhnya seketika menekan atmosfer di sekitar meja mereka. "Jaga mulut kamu, Dion," potong Zayne datar. Suaranya tidak keras, t
Namun Zayne benar-benar bebal. Pria itu seolah tuli, malah makin mengeratkan genggamannya di pinggang Sora dari belakang dan melanjutkan ciuman hangatnya di tengkuk wanita itu, membuat persendian Sora mendadak lemas tak berdaya. Mata Sora sampai berkaca-kaca karena kewalahan. Antara malu, jantungan, dan gelombang desiran hebat yang tak sanggup ia pangkas, Sora merasa matanya mulai memanas. Bagaimana jika pegawai butik datang dan memergoki mereka berdua sekarang? Pekik Sora dalam hati. Mau ditaruh mana mukanya? "Zayne, tolong… berhentilah..." bisik Sora jujur dengan nada merengek yang sangat pasrah, matanya sudah berkaca-kaca menatap bayangan Zayne di cermin. Zayne sendiri justru menikmati Sora yang pasrah dalam dekapannya. Apalagi nada memohon yang keluar dari bibir perempuan itu malah makin memantik gairahnya. “Zayne… kumohon... berhenti, ya. “ Pria itu akhirnya memandang Sora dari cermin. Terlihat mata Sora yang kini sudah menggenang air mata dan bibirnya yang melengku







