Share

BAB 5

Author: arctrs_
last update publish date: 2026-07-28 22:24:40

Selamat dari harimau, tapi tak selamat keluar kandang. Sora meratapi kebodohannya sendiri dalam hati. 

Ia pikir ia kini bisa memegang kendali atas dendamnya, tapi Zayne baru saja membuktikan siapa pemangsa yang sebenarnya di ruangan ini. 

Apalagi sebagai Manajer yang masih terikat kontrak satu bulan, Sora tetap harus mendampingi Dion di setiap aktivitas keartisannya.

Termasuk pemotretan perdana hari ini—sebuah sesi first look dan poster promosi awal untuk proyek film layar lebar besar yang akan dibintangi Dion bersama Vivianne ke depannya.

Di tengah set, Dion dan Vivianne tampak memamerkan pose terbaik mereka di depan kamera. 

“Sialan,” gumam Sora ketika ia lihat Vivianne berusaha melakukan pose saling berpangku dan terlihat seperti akan berciuman.

Kau pikir aku cemburu? Jangan mimpi! Kata beruntung lebih bisa aku pakai, daripada menjadi korban buaya gila!

Rutuk Sora dalam hatinya. Demi Tuhan ia hanya kesal dan merutuki nasib sialnya sebulan ke depan.

Siapa yang bisa menebak masa depan, bahwa mantan pacarnya—Dion akan tergoda pada perempuan yang selama sekolah pernah merundungnya. Ini adalah penghinaan terbesar sepanjang hidup Sora!

Saat sesi rehat pertama padahal baru usai, tapi Vivienne masih kembali akting dengan akting terbaiknya.

"Teman-teman kru semua, istirahat dulu ya! Aku ada bawain kopi dan camilan buat kalian semua," seru Vivianne manis, membagikan nampan berisi beberapa cup kopi demi membangun citra "aktris utama yang dermawan" di depan publik.

Namun, begitu melangkah mendekati area sofa tempat Sora duduk memegang tab berisi jadwal kerja Dion, raut manis Vivianne seketika berganti menjadi senyuman meremehkan.

Vivianne membawa dua cup kopi panas di tangannya, melangkah menghampiri Sora. 

"Dion, tolong ambilkan ponselku di meja makeup dong," pinta Vivianne bermanja-manja pada Dion, membuat Dion melangkah menjauh beberapa meter dari mereka.

Begitu Dion berbalik membelakangi mereka, Vivianne sengaja mengayunkan kakinya dan Pyarrr!

Cup kopi di tangan Vivianne terlepas, dan cairan kopi hitam yang masih panas menyiram bagian depan kemeja kerja Sora dan sedikit ke tangannya. Panasnya cairan itu seketika menembus kain, membakar kulit perut dan tangan Sora.

"Aduh!" jerit Vivianne nyaring, merubuhkan tubuhnya ke lantai studio seraya memegangi pergelangan tangannya. 

"Sora... aku cuma mau kasih kamu kopi. Kalau kamu gak suka sama aku, gak usah sampai dorong dan nyiram aku gini!" lanjut Vivianne dengan menampilkan wajah sedihnya.

Seluruh perhatian kru di studio seketika tertuju ke arah mereka. Dion yang mendengar jeritan itu langsung berlari menghampiri dengan wajah panik. 

“Sora! Kamu apa-apaan sih?!" teriak Dion keras tanpa sadar, suaranya memantul di seluruh sudut studio yang mendadak hening.

"Vivi… kamu gapapa?” Dion langsung berlutut membendung Valerie, menatap Sora dengan raut emosi dan penuh kekecewaan. 

"Kenapa? Kamu gak suka lihat aku maju dapat proyek film ini, kan? Jangan kekanak-kanakan begini di depan kru!" bentak Dion lagi.

Sora berdiri kaku. Kulit dadanya terasa perih memerah akibat siraman kopi panas, tapi rasa sakit di hatinya jauh lebih memekakkan. 

Sora menatap Dion yang membentaknya di depan puluhan pasang mata kru, lalu beralih pada Vivianne yang berada di pelukan Dion.

Sora masih bergeming. Ia sudah terlalu lelah menanggapi drama murahan yang tidak ada habisnya jika harus melawan aktor dan aktris palsu sesungguhnya.

Sora tidak berteriak. Ia tidak membela diri, juga tidak menangis. Rasa muaknya pada Dion sudah mencapai batas puncak hingga tak ada lagi air mata yang tersisa.

"Aku permisi ke belakang untuk ganti baju," ujar Sora dingin dan datar, tanpa membalas tatapan Dion sedikit pun.

“Hei, minta maaf dulu pada Vivianne sebelum pergi!” ujar Dion dengan nada ringan namun menambah emosi di dalam diri Sora.

Seluruh perhatian kru di studio seketika tertuju ke arah mereka. Kasak-kusuk menyengat. 

"Sora! Aku bilang minta maaf!" bentak Dion, hendak mengejar. “Manager apaan kamu baperan kayak gitu?!”

Melihat Sora yang tidak merespons provokasinya, Vivianne menyunggingkan kecil.

“Jangan salahin Sora, memang aku yang salah.”

“Gak usah dibela, Vivi.” potong Dion cepat, suaranya makin keras agar didengar seluruh kru. “Dari kemarin kerjaannya cuma bawa emosi pribadi ke lokasi syuting. Kalau gak becus jadi manajer, ngomong!”

Bisik-bisik kru di sekitar mereka makin tajam. Vivianne pura-pura menunduk sambil mengusap tangannya yang terkena sedikit cipratan.

Sora menolak berhenti. Dia melangkah pergi tanpa mempedulikan seruan Dion yang makin terdengar frustrasi di belakangnya. 

Saat Sora berdiri di depan cermin toilet studio yang sepi, membasuh bagian kulit perut dan tangannya yang memerah akibat siraman kopi panas menggunakan tisu basah. 

Wajahnya datar, namun gemetar di tubuhnya tak bisa membohongi. Ini sangat perih!

Namun saat pintu toilet terbuka, hatinya mengeras sekali lagi.

"Apa itu sakit, Sora?" ledek Valerie renyah. "Maaf, ya. Lain kali kupastikan akan lebih sakit lagi dari ini. Haha… "

Sora menghentikan usapan tisunya. Ia menatap pantulan Vivianne di cermin tanpa rasa takut sedikitpun.

“Hebat sekali aktris pendatang sudah membuat kericuhan. Gak takut kalau namamu tercoreng?”

Vivianne yang mendengarnya mulai naik pitam. Tangannya diangkat dan diayunkan ke atas, hampir saja menyentuh pipi Sora. Namun Sora berhasil menangkisnya dan membuat Vivianne sedikit terhuyung ke belakang.

“Kau…! Dasar kurang ajar!” pekik Vivianne tak terima mendapatkan perlakuan kasar dari Sora.

“Kenapa? Benar kan? Berhentilah menggangguku dan urusi saja sampah yang telah aku buang itu, Vivianne. Takutnya ada pengepul lain yang berniat mengambilnya juga.”

Vivianne yang mendengar ucapan merendahkan dari Sora, melotot tajam. “Jaga ucapanmu! Kau lah sampah yang telah dibuangnya. Sampah yang seharusnya ia buang sembilan tahun lalu!”

Vivianne melangkah maju, memamerkan cincin berlian di jari manisnya. “Kau lihat ini, Sora! Dion sangat serius ingin menikah denganku. Jadi sebaiknya kau jangan terlalu percaya diri!”

Sora sempat terpaku melihat desain cincin tersebut. Itu adalah desain yang sama persis yang pernah ia tunjukkan pada Dion dulu. 

Ah… jadi.. wanita pirang malam itu, wanita ini?

“Selamat atas pertunanganmu kalau begitu. Hati hati kalau terlalu percaya diri, takutnya kalau kamu gak naik jadi artis, nekat tidurin pacar orang lagi. Semangat, ya.”

Tanpa membuang waktu lagi untuk melayani amarah murahan Vivianne, Sora merapikan pakaian gantinya, memutar tubuh, lalu melangkah keluar dari toilet studio. Setiap langkahnya terasa mantap tanpa rasa sesal sedikit pun. 

Namun, baru beberapa meter menyusuri koridor yang remang, tangannya diraih orang lain.

"Ah!" 

Jeritan kesakitan yang melengking lolos begitu saja dari bibir Sora. Tubuh Sora menegang hebat, refleks menarik tangannya seraya merintih sakit.

Buru-buru ia menengok ke orang yang menegurnya.

Zayne tersentak kaget. Ia seketika melepas cengkeramannya, iris kelabunya membelalak lebar melihat respons berlebihan Sora.

Tanpa membuang waktu, Zayne memutar tubuh Sora dan menarik pelan ujung kemeja luaran perempuan itu. Saat itulah, raut wajah Zayne yang biasanya sedingin es seketika berubah total.

Zayne bisa melihat kulit tangan Sora tampak memerah padam dengan lepuhan cairan yang mulai menggelembung.

"Siapa..." Zayne menatap mata Sora yang berkaca-kaca menahan sakit, "...yang berani melakukan ini padamu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 5

    Selamat dari harimau, tapi tak selamat keluar kandang. Sora meratapi kebodohannya sendiri dalam hati. Ia pikir ia kini bisa memegang kendali atas dendamnya, tapi Zayne baru saja membuktikan siapa pemangsa yang sebenarnya di ruangan ini. Apalagi sebagai Manajer yang masih terikat kontrak satu bulan, Sora tetap harus mendampingi Dion di setiap aktivitas keartisannya.Termasuk pemotretan perdana hari ini—sebuah sesi first look dan poster promosi awal untuk proyek film layar lebar besar yang akan dibintangi Dion bersama Vivianne ke depannya.Di tengah set, Dion dan Vivianne tampak memamerkan pose terbaik mereka di depan kamera. “Sialan,” gumam Sora ketika ia lihat Vivianne berusaha melakukan pose saling berpangku dan terlihat seperti akan berciuman.Kau pikir aku cemburu? Jangan mimpi! Kata beruntung lebih bisa aku pakai, daripada menjadi korban buaya gila!Rutuk Sora dalam hatinya. Demi Tuhan ia hanya kesal dan merutuki nasib sialnya sebulan ke depan.Siapa yang bisa menebak masa depa

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 4

    Sensasi pertama yang menyapa Sora saat kesadarannya berangsur pulih adalah rasa pening yang luar biasa hebat, seolah tengkorak kepalanya dihantam oleh palu godam secara bertubi-tubi. “Pusing,” ringisnya pelan.Dengung konstan bergaung di telinganya, menyertai rasa mual yang masih tersisa di dasar perutnya. Sora merintih pelan, memejamkan mata erat-erat seraya memegangi pelipisnya yang berdenyut kencang.Ketika Sora melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia membelalak tak percaya saat melihat pantulan dirinya di cermin. Banyak bercak kemerahan di sepanjang leher dan dadanya.“Apa.. ada nyamuk?” gumamnya bingung sambil berusaha menggosok-gosok bercak kemerahan itu agar hilang. Namun nihil. Bercak kemerahan nyaris keunguan itu masih di sana.“Apa aku alergi alkohol, ya? Harusnya aku enggak minum tadi malam—”​Lalu, seperti bendungan yang runtuh, potongan-potongan ingatan semalam mendadak merangkak masuk ke kepalanya tanpa ampun.​Ingatan saat ia menyiram seorang laki laki di ambang

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 3

    Kalimat itu masih bergema di kepalanya, menampar sisa kesadaran Zayne yang tinggal separuh. Dua puluh menit saat wanita itu terlelap, Zayne berhenti di parkir apartemen wanita itu. Zayne tak pernah berkunjung ke tempat ini, tapi navigasi di dasbor dan deretan data karyawan di ponselnya memudahkan segalanya. "Kita sampai," gumam Zayne datar.Sora yang terkulai di kursi penumpang bergerak gelisah. Kepalanya terkulai ke samping, menatap deretan jendela unit yang sepi dengan pandangan buram."Gak usah... turun," bisik Sora parau. Jemarinya yang lemas mencoba membuka sabuk pengaman, tapi gerakannya kelewat kacau. "Saya bisa naik sendiri..."Zayne tak mengacuhkan racauannya. Pria itu mencondongkan tubuh, menekan tombol seatbelt Sora hingga terlepas, lalu keluar mengitari kap mobil. Begitu pintu unit apartemen Sora terbuka, Zayne mendorong pintu hingga tertutup rapat dengan tumitnya, lalu menurunkan Sora perlahan hingga tumit wanita itu menyentuh lantai Sora terhuyung sedikit, namun cen

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 2

    "Lepas dulu bajunya." racau Sora tak terima. "Basah begini... nanti makin kotor."Zayne menegang. "Saya bisa urus sendiri, Sora," suara Zayne merendah, menatap tajam tangan wanita itu yang masih meremas kemejanya.Sora malah terkekeh parau, matanya menyipit akibat kepalanya yang makin berat. "Bapak kaku banget... Biar saya bantu."Kamu lagi mabuk, Sora," bisik Zayne serak, “Dan saya bukan pria yang suka memanfaatkan keadaan.”Zayne memutus kontak mata, berbalik cepat hendak meraih jasnya."Mau ke mana, Pak?" potong Sora serak. Jemari wanitanya meraih pergelangan tangan Zayne, menahannya. "Minumnya kan belum habis. Kenapa sudah ingin pergi?”Zayne menghentikan langkahnya. Matanya mengedar pelan, dia tahu bahwa tidak baik meninggalkan perempuan patah hati.“Mari saya antar pulang.”Ada guratan maklum yang mendadak muncul di wajah tegasnya.Sora tertawa hampa. Dia menyambar botol wine di meja, menegaknya lagi langsung dari mulut botol. Alkohol pertama dalam hidupnya itu merusak daya pik

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 1

    "Punya kamu sempit banget. Sora mana pernah mau diajak kayak gini.”Sora memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas gemetar. Dengan kaki yang bergetar hebat dan napas yang tertahan di tenggorokan, Sora melangkah pelan mendekati celah pintu kamar. Ia berusaha berpikir positif, mencoba membodohi dirinya sendiri bahwa suara desahan itu mungkin berasal dari apartemen sebelah atau sekadar televisi yang lupa dimatikan. Tapi.. kalaupun adalah sekadar televisi mengapa menyeret namanya?Dengan jemari yang gemetar, Sora melangkah ke kamar.Langkahnya terasa begitu berat, seolah setiap pijakan ditarik oleh beban ratusan ton. Namun rasa penasaran dan firasat buruk menyeretnya untuk terus berjalan, meski dadanya kian bergemuruh hebat.Begitu kakinya terhenti tepat di depan pintu kamar tidur Dion yang sedikit terbuka, pemandangan di dalamnya membuat seluruh tubuh Sora terpaku kaku. Darahnya seolah berhenti mengalir.Di atas ranjang berantakan itu, Dion—pria yang selama sembilan tahun ini selalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status