تسجيل الدخولChesia berjalan cepat menuju toilet dan meruntuk malu dengan wajah panas luar biasa. Chesia menatap pantulan dirinya di cermin dan mulai menyalakan keran untuk membasuh muka. " Aduh.. gue ngapain gilaa? Ini bukan mimpi kan? Ini serius kan? Beneran gue cium dia? Ihhh.." Chesia memekik tertahan dengan tangan memukul pelan pipinya. " Nggak, nggak bener. Ini nggak mungkin.. tapi.. tadi gue udah cium pipi diaaa" rengek Chesia hampir lemas sambil memegangi pipinya. " Gila, gue udah gila. Tapi dia lebih gila.. bisa-bisa nya dia minta kayak begitu. Gue pikir bakalan minta traktir atau setidaknya... Minta nge date- eh. Enggak.. nggak lah.." ucap Chesia tanya sendiri jawab sendiri di sana. " Gue malu banget mau ketemu dia.. gimana ya ini?" Tanya Chesia mondar-mandir tidak jelas lalu berhenti dan menatap kembali wajahnya di cermin. " Oke. Calm down. Santaii it's oke. Ayo keluar" setelah menarik nafas dalam-dalam akhirnya Chesia memilih keluar dari dalam toilet dan berjala
Pagi itu tampak cerah dan hangat saat matahari mulai terbit malu-malu di ufuk timur. Seriazer sudah berada di atas kuda besinya dan melaju santai menuju rumah gadis kesayangan nya. Motor perlahan melambat dan berhenti saat sudah merasa di depan rumah Tivane. Di halaman terlihat Rigecherta sedang memanaskan mobil dengan kemeja putih di tubuhnya. " Pagi om." Sapa Seriazer sopan dan menyalim tangan Rigecherta. " Eh? pagi Azer. Cepet amat jemputnya. Udah makan belum?" Tanya Rigecherta menepuk pundak Seriazer. " Sarapan roti om" jawab Seriazer sopan. " Loh kok belum sarapan yang bener? Ayo sekalian mampir dulu. Chesia juga kayaknya belum siap" ucap Rigecherta membuat Seriazer mengangguk kecil dan menurut saat di bawa ke dalam rumah. Di dapur terlihat Tivane yang sedang memasak sarapan dengan baju guru nya dan celemek di pinggangnya. " Mamihhh!" Teriakan melengking Vergean terdengar membuat Tivane menghela nafas panjang dan berbalik badan. Tivane sedikit te
Chesia dan Seriazer kini berdiri di tengah-tengah, semua mata tertuju pada keduanya yang tampak malu-malu kucing. " Aduh.. happy banget ya pas ulang tahun ke 15 malah dapat pujaan hati" goda Ella menatap keduanya dengan wajah menggoda. " Iya ih.. iri banget gue, dulu gue umur segitu masih main air di sungai" ucap Luci membuat semua orang tertawa bersama. " Tante ih.. nggak gitu kok" elak Chesia dengan wajah memerah padam. " Udah-udah. Sini make a wish dulu." Ucap Rigecherta membawa kue itu ke hadapan Chesia. Chesia tersenyum dan memejamkan mata sambil berdoa dalam hati. Lalu Chesia membuka mata kembali dan meniup lilin. " Yeey.. makan kue!" Heboh Vergean bersama Kelly. "Suapan pertama mau di kasih sama siapa nih hayoo?" Goda River dari samping. " Sama mami dan papi" ucap Chesia menyuapi Tivane dan Rigecherta. " Ke dua buat siapa?" Goda mereka lagi membuat Chesia melirik kecil ke arah Seriazer namun terlalu malu untuk memberikan. " Udah kasih aja.
Seriazer tertegun merasakan usapan singkat yang lembut itu di puncak kepalanya. Pikirannya terasa kosong dan santai saat gadis itu melakukannya. " Nggak papa. Sini usap lagi" ucap Seriazer mengambil tangan Chesia dan meletakkan tangan Chesia dia atas kepalanya. " Eh?" Kaget Chesia dengan mata melebar. " Usap lagi dong. Kakak suka." Ucap Seriazer membuat Chesia mendelik dan terkekeh kecil. " Modus" ucap Chesia namun tetap menuruti. Tangannya bergerak pelan di atas kepala Seriazer. " Mana ada modus. Kalau modus berarti kamu juga tadi modus dong" ucap Seriazer menyerang balik. " Refleks!" Ucap Chesia membela diri. " Untung refleks nya ke kakak ya, kalau ke cowo lain mereka pasti baper" ucap Seriazer tertawa kecil. " Emang kakak nggak baper?" Tanya Chesia menatap mata Seriazer dan menurunkan tangan nya dari kepala pemuda itu. " Baper lah. Siapa yang nggak baper di perhatiin sama cewe cantik?" Ucap Seriazer tengil membuat Chesia ternganga heran.
Seriazer terkekeh kecil dan merapikan sedikit rambut Chesia lalu tersenyum lebar, antara kagum, gemas dan sayang yang sangat tulus di wajahnya. " Lucu kok." Ucap Seriazer membuat Chesia menahan senyum dan mengangguk kecil dengan pipi merona. " Ayo naik lagi, kita lanjut jalan" ucap Seriazer mulai menaiki motornya kembali. Chesia naik kembali ke boncengan Seriazer dan duduk manis di sana. " Pegangan" ucap Seriazer membuat Chesia mengangguk dan menggenggam jaket Seriazer di bagian pinggang. " Jangan di situ, sini aja. Kakak takut kamu jatuh" ucap Seriazer menarik tangan Chesia agar melingkar di pinggangnya. Chesia membeku diam dengan badan yang otomatis maju memeluk tubuh pemuda di depannya. Apalagi ucapan Seriazer yang terdengar sangat lembut mengalun di telinganya membuat wajah Chesia yang sudah merah bertambah merah. " Kak? Nggak papa kah aku peluk kakak kayak gini?" Tanya Chesia polos membuat Seriazer tersenyum dan terkekeh kecil. " Kenapa emang? Kan p
Bel pertanda masuk membuat semua murid yang tadinya berkeliaran mulai kembali ke kelas masing-masing. Kantin yang tadinya ramai juga mulai sepi karena para murid sudah masuk ke kelas masing-masing. Chesia, Lucky dan Seriazer juga mulai berjalan beriringan kembali ke kelas. Lucky tertinggal di belakang karena ia terhalang oleh kerumunan yang membuat ia terpaksa mundur. Saat sudah berada di belakang Chesia dan Seriazer, ia menatap keduanya yang terlihat mengobrol santai dan terkadang tertawa bersama. 'bjir. Serasa nyamuk gue di tengah-tengah mereka' gumam Lucky dalam hati dan tetap berjalan sambil manyun di belakang. Denting handphone nya membuat ia mengambil handphone nya dan melihat pesan yang terlihat ramai di grup angkatan. Viko: liat nih guyss. Ternyata si Kiara diam-diam nusuk si Chesi di dari belakang. Parah. Lucky mengetuk video berdurasi singkat yang memperlihatkan kan Kiara yang sedang berbincang dengan Reki, dan pas di saat Kiara mengatakan bahwa akan
Kini ruangan Rigecherta itu sudah terasa lebih hangat dan lebih ringan setelah Rigecherta siuman dan mulai ikut menyahuti candaan serta kata-kata temannya. Tivane juga sudah lebih ceria tidak seperti dua hari belakangan yang selalu sedih dan lebih banyak diam, ia kini sudah tersenyum cerah dan mu
Ruangan Rigecherta kini penuh oleh Veros, Milenia, Luci, Risa juga Tivane yang duduk di kursi samping brankar. Tivane duduk sambil menggenggam tangan Rigecherta dengan helaan nafas berat. " Sudah beres masalahnya?" Tanya Risa pada mereka yang duduk di sofa. " Udah tan, tadi tadi di bawa
Rigecherta menarik tangan Tivane untuk masuk ke rumah nya. Rigecherta masuk sambil melepas sepatu. " Rige pulang!" Ucap Rigecherta sambil membuka sepatunya dan langsung duduk di sofa di ikuti oleh Tivane yang duduk canggung tak jauh darinya. "Udah pulang dek?" Ibu Rigecherta datang dari dap
Keesokan harinya Tivane berangkat ke sekolah lebih semangat karena ia ingin menjumpai Rigecherta. ' sorry bikin lo nunggu lama Rige ' Tivane berkata dalam hati. "Papa boleh tanya sama kamu?" Tanya Aliandra saat mereka sedang berada di mobil dalam perjalanan ke sekolah. "Mau tanya apa pah?" Tan







