MasukAdrian menatap menu di depannya, tapi pikirannya jauh dari daftar hidangan yang ada. Lampu restoran yang hangat dan gemericik piring kaca terasa seperti dunia lain, satu-satunya yang ia pikirkan adalah sosok wanita yang tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya.
Matt duduk di sampingnya, santai, tersenyum tipis sambil mengamati sahabatnya yang tampak tegang. Asisten nya, Lucas, sibuk dengan catatan keamanan, tapi matanya sesekali menoleh ke arah Adrian. “Ada temuan baru Matt?” Matt mengangkat alis, tersenyum sarkastik. “Ad, Gue bisa nyari orang hilang, bro. Tapi Ayla… dia beda. Baik dulu maupun sekarang Gue merasa ada yang aneh. Kalau dia pergi, harusnya gue bisa nemuin. Tapi dia kayak sengaja nggak mau ditemui, atau ada orang lain yang sengaja membuat dia hilang.” Adrian mengerutkan dahi. “Gue juga mikir gitu.” “Gue gak bisa bilang sekarang, tapi jangan anggap semua ini kebetulan. Ayla… dia nggak mungkin sanggup nutupin dirinya begitu rapat, Ad.” Matt menatap sahabatnya serius. “Gue yakin ada yang… main di balik layar waktu itu.” Lucas menimpali singkat, “CCTV di sekitar tempat biasanya Ayla datang ,kantor, apartemen dia dan apartemen bos waktu itu gak menunjukan tanda apapun kan?.” Matt mengangguk, “Kita bisa cek satu-satu lagi besok, kayaknya harus benar-benar di cek, bukan cuma lewat CCTV” “Pokoknya kita harus temuin alasan dibalik ini, terutama Lo Matt.” Lucas dan Matt mengangguk. “Siap, boss.” Sementara itu, pintu restoran terbuka, masuklah Ayla bersama seorang pria yang terlihat hangat dan lembut. Senyuman mereka yang terlihat akrab seperti cahaya yang tiba-tiba menyinari ruang itu. “Diomongin, muncul dia.” Celetuk Matt Sementara Adrian, matanya membesar tubuhnya memegang. Siapa pria itu? “Aku sudah pesan menu spesial untuk kamu, pasti suka,” kata pria itu sambil menarik kursi untuk Ayla duduk. “Aku bisa sendiri, Revan.” katanya lembut sopan sambil duduk di kursi itu. “Aku tahu, tapi aku senang melakukannya, Ayla.” “Karena kamu seorang gentleman?” canda Ayla sambil tersenyum. “Nah. Itu kamu tahu” Revan terkekeh “Kalau kamu mau nambah menu, pilih saja” Revan menyerahkan buku menu ke Ayla. “Aku bisa makan apapun, yang penting ini dulu.” Ayla memperlihatkan sesuatu di tablet nya. Sementara itu di meja lain, tangan seseorang tengah mengepal keras melihat interaksi itu, senyum wanita yang dia cintai tapi bukan untuknya itu seperti menusuk-nusuk hatinya. “Sepertinya dia kliennya bos.” Kata Lucas mencoba menurunkan atmosfer di sekitar bos nya yang Mulai menebal, seolah ada sesuatu yang bisa meledak kapan saja. “Klien mana yang narik kursi buat duduk? Memesan menu spesial untuknya? Heh” Timpal Matt malah menambah ketegangan, kayaknya dia sengaja. “Apalagi tatapannya, tatapan lelaki itu seperti….” Tangan Adrian makin mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, Matt hanya tersenyum melihat itu. “Lo juga tahu tatapan apa itu kan, Ad? Heh” Seolah diyakinkan Adrian berdiri dengan mata yang siap membakar apapun. Tapi Matt segera menahan tangan Adrian. “No, Ad! Lo harus tahan. Lucas bener itu mungkin klien nya, Lo mau… mengacau heh?” Matt menekan bahu Adrian supaya dia duduk kembali. “Tenang, giliran Lo bakal datang, jangan bikin dia takut” “Iya bos, tarik nafas bos” “Sabar… tahan…” Adrian mulai melemaskan bahunya yang tadi tegang tapi mata nya tetap menatap ke arah Ayla, memperhatikan. “Bagus, makanannya datang tepat waktu.” Revan berbinar “Ini loh… menu spesialnya, bisa tolong jelaskan sedikit menu nya?” Pintanya pada pelayan yang menyajikan “Set menu spesial malam ini adalah starter berupa sup labu krem lembut dengan taburan biji labu panggang dan sedikit krim vanila, hidangan utama salmon panggang dengan saus beurre blanc yang kaya dan sayuran musim semi rebus sempurna, diikuti dessert mousse coklat hitam dengan sentuhan buah merah segar.” Ayla menatap hidangan itu tersenyum “Wah.. terdengar… menarik” “Iya kan.” Di Meja lain tetap ada Adrian yang mengepal menahan diri. “Untuk minumnya, mocktail lychee-mint refresher, manis segar dengan aroma mint yang menenangkan.” Pelayan lain menyajikan minuman yang disebutkan itu, tapi tak sesuai rencana, kaki pelayan itu goyah, minuman di dalam gelas itu tumpah, ke bahu Ayla. Sensasi dingin Ayla rasakan di bahu yang terkena tumpahan itu, ia kaget tapi tetap berusaha tenang. “Maaf, maafkan saya, saya tidak sengaja” ucap pelayan itu sambil membungkuk hormat “Tidak apa-apa, kecelakaan bisa terjadi kapan saja” Ayla masih senyum “Kamu oke?” Tanya Revan wajah sedikit panik, Revan segera mengambil beberapa lembar tisu hendak menyerahkannya ke Ayla. Tapi sebelum Ayla menerima tisu itu, seseorang dengan cepat memakaikan jas-nya di bahu Ayla. “Maaf tuan, tapi wanita ini tidak bisa melanjutkan diskusi atau makan malam apapun, permisi” katanya lalu menggenggam tangan Ayla cukup kuat untuk tidak menerima penolakan. “Lepas, Adrian!.” Bisiknya tapi tegas. “Ayla!” Revan terkejut bingung dengan situasi itu, Apa yang terjadi? Siapa pria itu? Kenapa terlihat familiar? *** Diluar Restoran. “Adrian, lepas!” Tapi Adrian tidak menggubrisnya, dia cuma berjalan ke mobil nya, membuka pintu dan memasukan Ayla ke dalam mobil setengah paksa. Ayla mencoba membuka sisi pintu mobil yang lain, tapi telat, Adrian sudah masuk ke mobil dan mengunci semua pintu. Nafas Ayla terengah begitu juga Adrian. “Tolong… biarkan aku keluar tuan Adrian” pintanya sopan, lembut setelah berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tapi Adrian hanya diam menunduk, tubuhnya masih tegang. “Adrian….” Panggilnya lembut, berharap pria yang disampingnya itu adalah sosok pria lembut, baik yang dia cintai dulu. Adrian mendengus seperti mengejek panggilan itu, lalu dia menoleh ke Ayla dengan matanya yang masih membara namun ada pahit juga disana. Perlahan tapi tegas Adrian mencondongkan tubuhnya ke kursi tempat dimana Ayla duduk, jarak mereka semakin menipis membuat Ayla tegang, ia memejamkan mata, “Apa yang kau.. mau?”Pintu kantor Adrian tertutup rapat, meninggalkan ruangan sunyi. Di meja, selembar kertas lusuh tergeletak, cek yang baru ia terima. Adrian menatapnya lama, jari-jari menekuk tepi kertas, nafasnya pelan tapi tegang.“Cek… sebuah cek” gumamnya, suara berat namun terkendali.Lucas masuk, langkah ringan tapi sigap.“Boss, semuanya oke kan?”Matt muncul di belakang, menatap cek di tangan Adrian.“Lo oke? Papa Lo ngapain?”“Ini… dia ngasih ini…”Matt mengambil kertas itu, meneliti setiap sudut.“Cek… pengirim Alaric Grady, penerima Ayla Virella. Tanda tangan terlihat asli, kertas lusuh, tanggal diterima empat tahun lalu.”“Menurut kalian… ini asli atau palsu?” suara Adrian rendah tapi menuntut jawaban.“Ini terlihat asli, Ad.”Adrian menelan ludah, tatapannya kosong sejenak.“Tapi terlihat asli nggak berarti nggak bisa dimanipulasi,” Matt menambahkan, nada seperti tertantang untuk membedah lebih jauh cek itu.Adrian menarik napas panjang, jarinya mengetuk meja perlahan, seolah mencoba menen
“Bu Ayla!” Santi langsung berseru saat melihat Ayla keluar dari ruangan Adrian.“Ya Tuhan… akhirnya ibu keluar juga.. haah” katanya seperti bernafas lega.Ia mempercepat langkah, mencoba menyamai tempo Ayla.“Aku dag-dig-dug nungguin ibu tahu... Kita kan ada janji makan sia—”“Aku ke toilet dulu, San.”Jawab Ayla datar, tanpa menoleh.Gedung Grady Group bukan ruang asing baginya, ia pernah hidup bertahun-tahun di dalam ritme kantor ini. Beberapa sudut berubah, tapi memorinya belum lapuk.Begitu masuk toilet, Ayla menaruh tas di atas wastafel lalu membasuh tangan. Air dingin tak cukup menenangkan denyut jantungnya.Deg… deg… deg.“Hahh… hhh…”Ia mengatur napas, memaksa dirinya kembali waras.“Tenang, Ayla. Tenang…”Tapi begitu ia menunduk, kilasan bibir dan tangan Adrian yang bermain di tubuhnya kembali menghantam kesadarannya.“Ugh… Ayla!”Lalu kata-kata Adrian bergema di pikirannya “kamu bahkan mencapai nipple orgasme”“OH.. my.. God ..” momen saat dia mencapai nipple orgasme itu kem
Adrian belum melepaskan hisapannya, sementara Ayla masih terengah-engah setelah merasakan sensasi yang begitu luar biasa untuk pertama kalinya.“Slurp…. Pc.. cp cp..”“Hah.. hah.. hah..”Tidak pernah dia merasakan sensasi ini bahkan dulu saat bersama Adrian, nipple orgasme tidak pernah tubuhnya berikan. “Plok..” akhirnya Adrian melepaskan hisapannya.Adrian memandang wajah Ayla yang masih Sayu dan terengah itu, jelas ada senyum kepuasan di wajah Adrian, “heh… so.. beautiful” gumamnya.“Kayaknya setelah 4 tahun, tubuhmu jadi lebih sensitif Ay,” sambungnya sambil tangannya kembali meremas penuh kedua payudara Ayla.Ayla tidak bisa menjawab, ia sendiri juga bingung dengan apa yang dilalui nya, apakah dirinya begitu merindukan sentuhan Adrian, hingga tubuhnya kewalahan menerima semua sentuhannya? Entah Ayla pun tidak tahu.“Cup…” Adrian kembali mencium bibir Ayla, lembut, penuh rindu dan ketulusan.“Mmm… cpcpcp” Ayla membalas ciumannya, membiarkan dirinya menikmati momen yang jujur sanga
Tidak ada kata apapun yang keluar dari mulut Ayla, hanya desahan dan nafas berat yang silih berganti.“Nghh… hah, hah”Adrian tersenyum puas melihat itu, aku tahu, kamu gak akan sanggup menahan sentuhanku sayang, begitu pikirnya sebelum dia kembali menghisap kulit putih payudara Ayla hingga meninggalkan bekas kemerahan, “slurp, pc… mmm..”Adrian mulai kembali menghisap satu pucuk payudara Ayla, masih satu payudara yang tadi, belum bergantian, payudara yang lainnya masih terus dipilin perlahan.“Ssh… aahh.. mmm.. slurp, pc.. slurp…, pc, aku lapar Ay…” katanya lanjut menaikan tempo hisapan, jilatan dan pilinannya. “Mmm… nghh… ahhh, Ad,” nafasnya sudah tidak beraturan, ia semakin merasakan sensasi basah di bawahnya, tapi dia tidak peduli, rasa ini… terlalu memabukan.“Iya sayang… mmh.. slurp… pc, slurp.. pc, cp cp cp cp..”Adrian mulai berpindah ke payudara yang satunya lagi, dan melakukan hal yang sama di sana, sementara tangan satunya kembali aktif memilin pucuk payudara satunya yang
“Nghh..” desah Ayla dengan tubuh yang mulai bergerak gelisah karena sensasi jari dan tangan Adrian yang terus bermain di pucuk payudaranya.“Lihatkan? Tubuhmu ingin lebih sayang.” “Mmm..” kepala Ayla masih menggeleng tapi jelas ekspresi nya menahan nikmatnya sensasi yang sudah lama ia rindukan juga.Bahkan kini mulai muncul pikiran untuk melepaskan bra-nya sendiri, tapi nggak, gak boleh Ay… begitu emosi dan logikanya berdebat.Adrian mencium kembali bibir Ayla, membuat Ayla melepaskan gigitan pada bibir bawahnya sendiri, dan mulai mengikuti ritme ciuman Adrian.Adrian Masih bermain di atas bra tipis itu, kadang diremas satu satu, atau ditarik pucuknya, atau dilebarkan tangannya hingga menekan kedua pucuknya seperti tadi.“Nghh…” “Mmm…”Desahan dan cecapan terdengar silih bergantian. Sepertinya logika Ayla juga mulai kalah, dia tidak menunjukan perlawanan apapun kali ini. Gelengan kepalanya sudah hilang, tangannya sudah melingkar kembali di leher Adrian.“Cpcpcp… nghh”Ditengah itu
Perlahan Adrian mendekatkan bibirnya ke bibir Ayla, dengan lembut dia meraup bibir itu, mencium, merasakan rasa yang sudah sangat dia rindukan. “Mmh…” kepala Ayla menggeleng, seperti ingin menolak, tapi bibirnya justru merespons.Bangun, Ayla… ingat Reya… suaranya di dalam kepala begitu lirih.Saat Adrian mulai menjelajah setiap sudut bibirnya lalu masuk lebih dalam, menghisap lidahnya lembut namun intens, Logika Ayla seolah hilang dalam sekejap.“Mmmh…” tangan Ayla terangkat, bukannya mendorong tapi melingkarkannya di leher Adrian.Adrian tersenyum di antara napas mereka yang berpadu, mereka saling berpagutan, meluapkan rasa yang sudah tertahan terlalu lama.Suara lembab basah pelan memenuhi ruangan itu, “Hhh…” napas Ayla terpecah, menahan antara sadar dan hanyut, sementara Adrian hanya menunduk lebih dalam, membiarkan dunia di sekitarnya lenyap.Ketika akhirnya mereka berpisah hanya untuk mencari udara, napas mereka sama-sama berat.“Ay…” suara Adrian serak, nyaris seperti desah







