LOGINAyla menekan tombol kunci mobil, lampu garasi memantulkan garis-garis panjang di lantai keramik. Nafasnya masih berat, dada berdebar, mungkin karena rapat? Atau… ciuman? Yang jelas ketegangan itu belum hilang dari tubuhnya. Ia menutup pintu mobil, menatap sejenak lorong parkir yang sunyi, lalu menarik napas panjang.
“Lo gak boleh lemah sekarang, Ayla. Lo punya Reya,” gumamnya sekali lagi menguatkan hati dan tubuhnya sendiri. Langkahnya cepat menuruni tangga menuju rumah, tas masih tergenggam erat. Begitu masuk, aroma teh hangat dan kue panggang menyambutnya. Reya sedang duduk di sofa, memeluk boneka kesayangan. Mata abu-abu kecil itu menatap Ayla penuh semangat, mata yang… persisi milik seseorang. “Ibu!” seru Reya sambil meloncat ke arah Ayla. Ayla tersenyum tipis, menunduk dan mendaratkan ciuman lembut di dahi putrinya. “Ibu pulang sayang…. Gimana hari ini Hmm? Kamu oke?” Reya mengangguk cepat. “Aku oke, Bu. Justru ibu, lihat tuh matanya merah … capek ya..?” Ayla tersenyum mendengar itu “Sedikit, tapi melihat putri ibu masih bersemangat gini meski sudah gelap, semua capek ibu hilang, sayang…” Reya tersenyum, tapi lalu matanya menyipit menyelidik “itu beneran… atau… cuma rayuan biar ibu gak usah bacain dongeng buat Reya, hmm?” “Ya ampun sayang…, ya bener lah. Lihat kamu sehat, baik kayak gini tuh bikin ibu sembuh dari apapun sayang. Tapi nak, serius, gak ada yang sakit kan hari ini hmm??” “Gak ada bu.” Reya tersenyum “Reya sehat, lihat” katanya lalu memutarkan badannya sendiri membuat Ayla tersenyum “Oke ibu percaya, tapi kalo ada apa-apa, Reya harus bilang ya sama ibu, biar ibu bisa selalu bisa jagain Reya, oke?” Reya mengangguk cepat sambil tersenyum. “Reya sama nenek dulu ya… biar ibu mandi dulu, oke?” “Oke” Ibunya Ayla muncul dari dapur, “Sudah pulang sayang? Makan malam dulu sayang, belum makan kan?” kata ibunya dengan senyum lembut. Pandangan itu menenangkan Ayla. “belum Bu, tapi Ayla mau mandi dulu, gerah,” jawab Ayla sambil menyandarkan tasnya. Ia menatap ibunya sebentar. “Ada apa sayang?” Tanya ibunya. “Ga papa Bu, Ayla cuma lelah” katanya lalu berjalan ke kamarnya sendiri. Di sisi kota lain, Adrian masuk ke apartemennya yang jarang ia tempati. Sunyi, hanya langkahnya di lantai kayu yang terdengar. Ia meletakkan jas dan dasi, duduk di sofa, menatap lampu kota yang memantul di jendela. Bayangan parkiran, bibir Ayla, tatapan itu, berputar di kepalanya. Adrian menekan sebuah nomor di handphone nya. “Matt. Lo masih bangun?” Suaranya campur aduk, tapi menahan diri. “iya, kenapa? gue lagi di bar, ada apa bro?” suara Matt santai. Adrian menghela napas, “Lo pernah nyari Ayla, Matt. Waktu dia… hilang dulu, lo serius nyari sampai mentok gak?” Matt tertawa ringan. “Ya .. gue serius lah, gue nyari ke semua blind spot tapi Nihil Ad. gak ada jejak gak ada petunjuk seolah dia hilang ditelan bumi” “Kalo dia ditelan bumi, dia gak akan muncul di rapat hari ini, hah” Adrian tertawa pahit “Wait…. Dia muncul?” kaget “Iya.” lirih “Serius?” “Hmm” “Ya udah kalo gitu Lo tanyain aja ke dia apa yang terjadi” “Dia gak mau cerita” “Aneh… kalow dia bisa muncul sekarang, berarti dulu… bisa jadi ada alasan Ad” “Makannya, gue mau Lo selidiki lagi Matt, Kali ini… gak boleh ada yang terlewat, kalau terlewat lagi jabatan direktur keamanan Lo terancam.” “Apa? Lo ngancem pake jabatan huh? Ohh ayolah Ad… gue sahabat Lo lebih lama dari Lo kenal Ayla…. Haaah, memang ya seribu kebaikan sahabat kalah sama satu wanita” katanya suaranya lebih ke dramatis. “Kenapa? Gak bisa Lo?” “Gue kan cuma manusia biasa bro, dulu udah sekuat tenaga gue cari tetep gak ketemu tuh wanita pujaan Lo” “Bukannya Lo mantan Intel heh? Pokoknya gue gak mau tahu, Lo harus selidiki ini, Matt, sampai tuntas.” “Ya…. Mantan intel juga manusia…” “Jadi Lo lebih rela kehilangan jabatan Lo heh?” “E..eh enggak. Serius amat sih Lo. Iya iya… gue selidiki sampe mentok.” “Good, secepatnya.” “Oke, siap boss.” Adrian menutup telepon, membiarkan rasa frustasi sedikit mereda. Kalo Lo gak bisa kasih tau Ay, gue cari sendiri alasannya, gue takut… tapi gue lebih takut kalow gue gak tahu. *** Ayla menatap Reya yang tertidur pulas, wajah kecilnya begitu mirip dengan seseorang yang sangat ia rindukan, tapi di balik damai itu, ada rapuh yang selalu menghantui. Jari-jarinya menepuk lembut rambut hitam putrinya, namun hati Ayla menegang, teringat malam itu, ruangan gelap, asing, dikelilingi orang-orang yang bersiap mengambil sesuatu yang paling berharga dari dirinya. Ia menutup mata sejenak, menahan napas. Air mata jatuh diam-diam, tapi ia segera menyeka, tak ingin Reya tahu. Putrinya sekarang ada di hadapannya, aman, tapi luka yang malam itu tanam dalam tubuh dan jiwanya masih tersisa, bukan terlihat, tapi terasa dalam setiap detak jantung kecil itu. Ayla menarik selimut lebih rapat, pelukan yang lembut tapi tegas, seolah ingin menahan bayangan masa lalu itu jauh dari Reya. “Ibu jaga kamu… selalu,” bisiknya lirih. Suaranya hangat, tapi getarannya tak bisa sepenuhnya disembunyikan. Ada rasa bersalah juga yang kembali menyeruak ke dalam dirinya “Maafin ibu sayang” katanya lirih lalu mengecup kening putrinya itu. “Ibu janji kamu akan baik-baik saja dan tumbuh dewasa, Reya”Pintu kantor Adrian tertutup rapat, meninggalkan ruangan sunyi. Di meja, selembar kertas lusuh tergeletak, cek yang baru ia terima. Adrian menatapnya lama, jari-jari menekuk tepi kertas, nafasnya pelan tapi tegang.“Cek… sebuah cek” gumamnya, suara berat namun terkendali.Lucas masuk, langkah ringan tapi sigap.“Boss, semuanya oke kan?”Matt muncul di belakang, menatap cek di tangan Adrian.“Lo oke? Papa Lo ngapain?”“Ini… dia ngasih ini…”Matt mengambil kertas itu, meneliti setiap sudut.“Cek… pengirim Alaric Grady, penerima Ayla Virella. Tanda tangan terlihat asli, kertas lusuh, tanggal diterima empat tahun lalu.”“Menurut kalian… ini asli atau palsu?” suara Adrian rendah tapi menuntut jawaban.“Ini terlihat asli, Ad.”Adrian menelan ludah, tatapannya kosong sejenak.“Tapi terlihat asli nggak berarti nggak bisa dimanipulasi,” Matt menambahkan, nada seperti tertantang untuk membedah lebih jauh cek itu.Adrian menarik napas panjang, jarinya mengetuk meja perlahan, seolah mencoba menen
“Bu Ayla!” Santi langsung berseru saat melihat Ayla keluar dari ruangan Adrian.“Ya Tuhan… akhirnya ibu keluar juga.. haah” katanya seperti bernafas lega.Ia mempercepat langkah, mencoba menyamai tempo Ayla.“Aku dag-dig-dug nungguin ibu tahu... Kita kan ada janji makan sia—”“Aku ke toilet dulu, San.”Jawab Ayla datar, tanpa menoleh.Gedung Grady Group bukan ruang asing baginya, ia pernah hidup bertahun-tahun di dalam ritme kantor ini. Beberapa sudut berubah, tapi memorinya belum lapuk.Begitu masuk toilet, Ayla menaruh tas di atas wastafel lalu membasuh tangan. Air dingin tak cukup menenangkan denyut jantungnya.Deg… deg… deg.“Hahh… hhh…”Ia mengatur napas, memaksa dirinya kembali waras.“Tenang, Ayla. Tenang…”Tapi begitu ia menunduk, kilasan bibir dan tangan Adrian yang bermain di tubuhnya kembali menghantam kesadarannya.“Ugh… Ayla!”Lalu kata-kata Adrian bergema di pikirannya “kamu bahkan mencapai nipple orgasme”“OH.. my.. God ..” momen saat dia mencapai nipple orgasme itu kem
Adrian belum melepaskan hisapannya, sementara Ayla masih terengah-engah setelah merasakan sensasi yang begitu luar biasa untuk pertama kalinya.“Slurp…. Pc.. cp cp..”“Hah.. hah.. hah..”Tidak pernah dia merasakan sensasi ini bahkan dulu saat bersama Adrian, nipple orgasme tidak pernah tubuhnya berikan. “Plok..” akhirnya Adrian melepaskan hisapannya.Adrian memandang wajah Ayla yang masih Sayu dan terengah itu, jelas ada senyum kepuasan di wajah Adrian, “heh… so.. beautiful” gumamnya.“Kayaknya setelah 4 tahun, tubuhmu jadi lebih sensitif Ay,” sambungnya sambil tangannya kembali meremas penuh kedua payudara Ayla.Ayla tidak bisa menjawab, ia sendiri juga bingung dengan apa yang dilalui nya, apakah dirinya begitu merindukan sentuhan Adrian, hingga tubuhnya kewalahan menerima semua sentuhannya? Entah Ayla pun tidak tahu.“Cup…” Adrian kembali mencium bibir Ayla, lembut, penuh rindu dan ketulusan.“Mmm… cpcpcp” Ayla membalas ciumannya, membiarkan dirinya menikmati momen yang jujur sanga
Tidak ada kata apapun yang keluar dari mulut Ayla, hanya desahan dan nafas berat yang silih berganti.“Nghh… hah, hah”Adrian tersenyum puas melihat itu, aku tahu, kamu gak akan sanggup menahan sentuhanku sayang, begitu pikirnya sebelum dia kembali menghisap kulit putih payudara Ayla hingga meninggalkan bekas kemerahan, “slurp, pc… mmm..”Adrian mulai kembali menghisap satu pucuk payudara Ayla, masih satu payudara yang tadi, belum bergantian, payudara yang lainnya masih terus dipilin perlahan.“Ssh… aahh.. mmm.. slurp, pc.. slurp…, pc, aku lapar Ay…” katanya lanjut menaikan tempo hisapan, jilatan dan pilinannya. “Mmm… nghh… ahhh, Ad,” nafasnya sudah tidak beraturan, ia semakin merasakan sensasi basah di bawahnya, tapi dia tidak peduli, rasa ini… terlalu memabukan.“Iya sayang… mmh.. slurp… pc, slurp.. pc, cp cp cp cp..”Adrian mulai berpindah ke payudara yang satunya lagi, dan melakukan hal yang sama di sana, sementara tangan satunya kembali aktif memilin pucuk payudara satunya yang
“Nghh..” desah Ayla dengan tubuh yang mulai bergerak gelisah karena sensasi jari dan tangan Adrian yang terus bermain di pucuk payudaranya.“Lihatkan? Tubuhmu ingin lebih sayang.” “Mmm..” kepala Ayla masih menggeleng tapi jelas ekspresi nya menahan nikmatnya sensasi yang sudah lama ia rindukan juga.Bahkan kini mulai muncul pikiran untuk melepaskan bra-nya sendiri, tapi nggak, gak boleh Ay… begitu emosi dan logikanya berdebat.Adrian mencium kembali bibir Ayla, membuat Ayla melepaskan gigitan pada bibir bawahnya sendiri, dan mulai mengikuti ritme ciuman Adrian.Adrian Masih bermain di atas bra tipis itu, kadang diremas satu satu, atau ditarik pucuknya, atau dilebarkan tangannya hingga menekan kedua pucuknya seperti tadi.“Nghh…” “Mmm…”Desahan dan cecapan terdengar silih bergantian. Sepertinya logika Ayla juga mulai kalah, dia tidak menunjukan perlawanan apapun kali ini. Gelengan kepalanya sudah hilang, tangannya sudah melingkar kembali di leher Adrian.“Cpcpcp… nghh”Ditengah itu
Perlahan Adrian mendekatkan bibirnya ke bibir Ayla, dengan lembut dia meraup bibir itu, mencium, merasakan rasa yang sudah sangat dia rindukan. “Mmh…” kepala Ayla menggeleng, seperti ingin menolak, tapi bibirnya justru merespons.Bangun, Ayla… ingat Reya… suaranya di dalam kepala begitu lirih.Saat Adrian mulai menjelajah setiap sudut bibirnya lalu masuk lebih dalam, menghisap lidahnya lembut namun intens, Logika Ayla seolah hilang dalam sekejap.“Mmmh…” tangan Ayla terangkat, bukannya mendorong tapi melingkarkannya di leher Adrian.Adrian tersenyum di antara napas mereka yang berpadu, mereka saling berpagutan, meluapkan rasa yang sudah tertahan terlalu lama.Suara lembab basah pelan memenuhi ruangan itu, “Hhh…” napas Ayla terpecah, menahan antara sadar dan hanyut, sementara Adrian hanya menunduk lebih dalam, membiarkan dunia di sekitarnya lenyap.Ketika akhirnya mereka berpisah hanya untuk mencari udara, napas mereka sama-sama berat.“Ay…” suara Adrian serak, nyaris seperti desah







