Share

Road 2 KM

Sebelumnya di tempat yang sama –

Taehyung telah keluar dari pesawat sebelumnya memeriksa barang bawaannya. Taehyung mencari jemputannya utusan kakeknya. 

Berjalan terus ke depan hingga melihat deretan orang memegang karton dengan berbagai nama di belakang pagar pembatas.

Cepat tapi teliti Taehyung mencari namanya. Hasilnya nihil, Taehyung tak menemukan satupun namanya tertulis di karton mereka. 

Ditengah Jalan Taehyung mandapati Jiyeon. Taehyung melihat Jiyeon menjerit—sesuatu yang dirinya sendiri tidak tau kenapa. Sepertinya tangannya terjepit tapi apa peduli Taehyung dengan Jiyeon—orang asing yang baru ia temui di bandara? 

Lantas Taehyung meneruskan perjalanan untuk membeli kopi, saat ini yang ia butuhkan adalah kafein agar memulihkan tenaganya. Kasir kedai kopi sudah di depannya, lekas Taehyung memesan.

“Selamat datang, bisa saya bantu?” kata si pegawai.

“Saya pesan moccalatte.” pesannya.

Pegawai itu langsung membuat pesanan Taehyung dan beberapa menit sudah siap.

“Ini pesanan anda!”

Taehyung mengambil kopi tersebut. Membayar pada kasir barulah kembali mencari utusan kakeknya tapi beberapa langkah kemudian Taehyung mengubur niatnya, ia lelah berdiri memilih berkompromi dengan tubuhnya. 

Ia berjalan pelan menikmati suasana pagi hari yang dingin ini dengan segelas kopi, mencari tempat bersantai. Saat perjalanan Taehyung masih mendapati Jiyeon yang terjepit. Ia meneriaki Taehyung.

“Lihat langkahmu! Awas jangan injak!” serunya memperingatkan pada orang-orang yang melewati daerah itu. Jiyeon bertekat menyalamatkan kartonnya.

Taehyung jadi bertanya-tanya pada Jiyeon—seseorang yang belum ia kenal meninggalkan kesan aneh. 

Taehyung berhenti di tengah jalan mengikuti perintah Jiyeon. Kemudian Taehyung mengikuti arah tuju mata Jiyeon. Taehyung melihat sebuah objek tergeletak cukup dekat darinya. 

Karton dan ada tulisan, belum selesai membaca tiba-tiba Jiyeon yang berhasil lolos, karena banyak tenaga yang Jiyeon keluarkan membuatnya jatuh berguling ke lantai lantai. Lantas ia mengambil karton miliknya dan tak sengaja menubruk Taehyung.

Bukkk!!

“Kim Taehyung, kau selamat!”

“Akkh! Panasss panass!!” rintihnya. 

Jiyeon itu menyengol tangan Taehyung yang memegang kopi. Kopi itu mengguyur kulit perut Taehyung yang terlapisi kemeja putih dan sepertinya sedikit mengenai Jiyeon juga.

Bangsal bernomor 19 di huni seorang wanita penderita penyakit anemia aplastik. Penyakit anemia aplastik berbeda dengan anemia biasanya. 

Anemia biasa hanya kekurangan sel darah merah saja, sedangkan anemia aplastik mengalami kekurangan sel darah merah, sel darah putih dan trombosit.

Defsit sel darah pada tulang sumsum ini disebabkan kurangnya sel induk pluripoten sehingga sumsum tulang gagal membentuk sel-sel darah. 

Penyakit ini tergolong penyakit yang berpotensi mengancam jiwa dan biasanya dapat menyebabkan kematian.

Wanita yang kurang beruntung itu bernama Song Jiah. Ia berkerja di bidang industri hiburan—lebih tepatnya seorang selebritis. Sayang, Jiah terpaksa vakum dari kegiatannya karena kondisinya.

Jiah merupakan pasien utama rumah sakit Gyonghee saat ini dan ia salah satu alasan mengapa Kim Taehyung meninggalkan tempat kerjanya di China. Kim Taehyung mendapat tugas oleh kakeknya menjadi dokter Jiah secara khusus. 

Kakeknya tak ragu bila tugas berat ini ia berikan kepada cucunya.  Taehyung termasuk dari deretan  dokter termuda yang terkenal di Asia. Kemampuanya mendalami ilmu bedah umum mendapat apresiasi. Jarang diusia muda mendapatkan gelar dokter bedah umum.

Jiah menyerahkan kepercayaannya pada Kim Taehyung. Hari inilah penantiannya terwujud. Jiah tersenyum di tempat duduknya sambil melihat keluar jendela.

Angin sepoy menerpa kulitnya yang pucat membuatnya nyaman. 

Sedari tadi Jiah tak berkutik dari tempatnya menunggu kedatangan Taehyung.

Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam ruangannya. Kehadirannya memecah lamunan Jiah. Pria tersebut menggeser sebuah kursi di dekatkan ke sisi Jiah. 

Pria itu bekerja sebagai dokter pribadi Jiah yang dulu. Hari ini memang belum ada jadwal kunjungan di tempat Jiah, namun sang pria sekedar berkunjung menemani Jiah.

Pria itu ikut tersenyum bersama Jiah. Menatap satu sama lain, entah apa yang membuat mereka tersenyum yang pasti mereka mempunyai alasan yang sama. 

 “Maaf,” katanya lembut.

“Untuk apa?” tanya Jiah.

“Harusnya aku lebih berusaha keras menyembuhkanmu, tapi kau masih memakai pakaian pasien di sini,” ungkapnya.

“Tidak apa-apa, dokter Lee. Aku yang seharusnya minta maaf karena telah menyusahkanmu,”

“Apa yang kau katakan, ini sudah jadi kewajibanku sebagai dokter untuk merawat pasiennya,”

“Kita sama-sama minta maaf jadi lupakan saja, lagi pula ada dokter Kim yang akan membuatku sembuh hahaha...” ujarnya agak terkekeh.

“Kalau begitu aku harus berterimakasih padanya telah datang untukmu hahaha,” godanya.

“Ya teman! Kau berlebihan sekali.” Jiah agak meninggikan suaranya tapi beraut wajah santai mengatakannya. Keduanya pun tertawa kecil.

“Saat seperti ini mengingatkanku waktu pertama kali bertemu denganmu, kau ingat?”

“Memangnya ada apa?”

“Kita dulu pernah bicara berdua seperti ini dan para wartawan mengambil foto kita diam-diam. Mereka membuat artikel romur kalau kita menjalin hubungan sepasang kekasih.” Jelasnya.

Jiah pun terkekeh mengingatnya, “Ah! Kkkk!”

“Waktu itu kesabaranku sebagai dokter diuji. Pergi kerja saja sudah dihadang wartawan di depan pintu bahkan saat aku pergi belanja ke supermarket. Ibu-ibu menanyaiku kondisimu, juga menanyai hubungan kita. Aku pernah dapat surat ancaman dari penggemarmu, dia menyuruhku menjauhimu. Bukan main melelahkan, aku sempat bertanya-tanya keseharianmu sebelum vakum apa lebih buruk daripa da yang aku rasakan. Bagaimana kau bisa hidup seperti itu, aku masih terkagum-kagum dengan pekerjaanmu.”

“Itu bukan seberapa bila dibandingkan dengan jadwalku dulu. Padat dan waktu tidurku rata-rata 3 jam paling lama 5 jam. Apalagi aku seorang wanita, jika aku mendekati actor lainnya, penggemar mereka menerorku. Mobilku pernah menjadi korban dari terror mereka. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan mereka yang membenciku. Karena wanita yang menjadi seorang entertainer berarti menjadi tempat tampung hujatan, beda dengan pria, yang bukan penggemar mereka saja mendapat dukungan dan belaan. Aku sempat merasa terkucilkan tapi lama-kelamaan setelah mereka mengetahui penyakitku. Mereka menjadi jinak seketika. Aku kadang merasa berterimakasih aku punya penyakit ini.”

“Aku jadi penasaran dengan Junsu, apa dia juga mengalami yang aku alami,”

“Ch, dia batu. Sekalipun orang mengatainya, ia kebal.”

“Apa kau pernah diserang penggemar Junsu?”

“Sering, tapi sekarang mereka mendukung hubunganku dengan Junsu,”

“Dulu aku pernah diancam Junsu kkkkk!”

“Benarkah?!”

“Dia terus mengirim pesan padaku agar menjahuimu dan tak berbuat macam-macam padamu. Dia lebih cerewet daripada ibuku. Tapi lama-kelamaan dia meminta saran padaku. Dia selalu menitip salam untukmu. Kenapa kau tak menggunakan ponselmu lagi? Junsu tidak pernah berhenti menanyai kabarmu, aku merasa sama dengan burung pengantar surat.”

“Kau sudah tau sendiri jawabanya apa.”

“Aku tak tahan lagi dengannya,”

“Apalagi aku kkkk,”

Pria itu melihat jam di dinding menujukan pukul 11:30. Mau tak mau si pria harus mendatangi ruang rapat yang akan diadakan di rumah sakit. 

Disana akan didatangi beberapa specialis dan beberapa tamu penting untuk menyambut kedatangan Taehyung.

“Sepertinya aku harus ke ruang rapat sekarang. Maaf aku di sini cuman sebentar, besok aku dan Taehyung menjengukmu!” ucapnya. Pria itu pun beranjak dari kursi dan meninggalkan Jiah sendiri.

“Lee Seungjoo!” panggilnya.

“Hmn?” dia hanya bergumam dan menoleh ke Jiah.

“Semoga sukses!”

“Makasih.”

Jiah kembali melihat ke luar jendela. Ia melihat sebuah sport kuning yang tidak asing bagi Jiah, berhenti di depan rumah sakit. Kemudian keluarlah seseorang yang di dalam mobil. 

Dua pria dan satu wanita. Jiah menajamkan padangannya pada Jiyeon yang tak asing baginya.

“Bukankah itu suster Park? Siapa pria yang bersamanya?” ia pun berganti melihat ke pria yang memakai pakaian lengkap dokter.

“Apa dia Kim Taehyung?”

Belum lama keluar dari ruangan Jiah, Seungjoo mendapati dirinya berada dikoridor. Ia bergegas ke tempat meeting tapi suara keras memanggil namannya bersumber dari belakang menghentikannya. 

Seungjoo berbalik ke belakang mendapati Minsoo, juniornya sedang berlari mengejarnya.

“Dokter Lee!” panggil Minsoo cukup keras. Minsoo menghampiri Seungjoo yang menunggunya.

“Anda mau ke mana, dokter Lee?”

“Keruangan meeting tentunya,”

“Kebetulan saya juga ke sana,” mereka meninggalkan  bangsal yang berada di lantai 3 menggunakan lift menekan tombol yang mengantarkan ke lantai dasar. 

Minsoo dan Seungjoo termasuk tim kerja bersama Taehyung. Sebelum tim kerja Taehyung dibuat, Seungjoo dan Minsoo sudah mengenal satu sama lain. 

Seungjoo adalah senior yang paling akrab dengan Minsoo. Hubungan mereka begitu dekat layaknya kakak adik. 

Oleh sebab Itu Minsoo selalu mengutamakan Seungjoo, apalagi masalah wanita, Minsoo berusaha mencari seorang wanita yang cocok untuk Seungjoo karena dibalik kesempurnaan Seungjoo kurang terlengkapi sosok kekasih.

“Hyung[panggilan kakak laki oleh adik laki], apa kau masih berminat dengan tawaranku tentang kencan buta?” tanya Minsoo.

Bila mereka berada di tempat yang hanya ada mereka atau tempat yang tidak formal Minsoo memanggil Seungjoo dengan sebutan hyung.

“Sudahku bilang aku tidak tertarik mengikuti kencan buta dengan siapapun, Minsoo,” ujarnya kesal.

Minsoo selalu memaksanya berkencan dengan temannya.

“Hyung, kenapa kau selalu menolak tawaranku, padahal mereka wanita cantik dan menarik. Hyung, kau ini tampan tapi sayang kau belum punya wanita. Jangan sia-siakan wajah tampanmu dengan membujang.” oceh Minsoo.

“Mungkin saat ini belum ada yang tepat dan belum sampai kepikiran,”

“Hanya obat dan aroma oksigen dipikiranmu. Ahh, kalau aku jadi kau pasti sudah tiga wanita ku kencani dalam satu hari tanpa susah payah merayu mereka, dengan kedipan mata saja sudah cukup melumpuhkan hati mereka,” umpat Minsoo bahagia. 

Seungjoo menggelengkan kepala mendengar sebuah khayalan lucu Minsoo. Pintu lift kini terbuka, Seungjoo berjalan keluar dari lift mendahului Minsoo.

“Hyung, aku belum selesai bicara!” Minsoo kini menyusulnya.

“Tenanglah sebentar lagi pasti aku bertemu seseorang yang tepat. Aku hanya perlu menunggu saja.” balas Seungjoo dengan senyuman.

“Coba saja orang-orang mendengar ucapanmu tadi, pasti mereka mertertawaimu. Di mana-mana wanita yang menunggu bukannya pria.” tungkasnya kesal.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status