LOGINSorot mata Atma mencoba menyakinkan sambil mengusap rambutku beberapa kali. Tangannya terasa cukup dingin kali ini. Pagi ini kami berencana untuk pergi dari desa menunju desa asal bapak. Rencana kami kemarin akhirnya terealisasikan pagi hari, waktu ini dipilih untuk menghindari orang keraton atau para prajurit mengetahui kepergianku.“Sebentar lagi kita akan berangkat,” ucap Barga kepadaku. “Danastri,” panggil Manik yang kali ini ikut mengantarkanku pergi dia memelukku dengan erat.“Aku akan kembali, Manik,” ujar Atma bergantian memeluk gadis itu yang sebentar lagi akan ditinggalkan sementara waktu.Aku mendekati Pakdhe Asmoro dan Pakdhe Terjo yang sudah bangun pagi-pagi untuk mengantarkanku.“Pa-pakdhe,” panggilku yang tidak terasa mataku sudah panas.“Hati-hati di jalan,” ucap Pakdhe Asmoro. Aku memeluknya dengan erat, rasanya aku tidak sanggup meninggalkan kedua orang tua ini. Air mataku menetes dengan deras, sedangkan Pakdhe Asmoro menahan diri bahkan tidak ingin mempe
Tanganku gemetar dan ku coba melihat sekitarku tatapan semua orang yang ditujukkan padaku cukup berbeda, ku pandangi wajah Barga dan Atma yang tidak berubah sama sekali terlihat serius. Bisa ku simpulkan mereka sudah tahu kebenarannya, mataku beralih ke Raden Kaningrat yang menatapku dengan serius sudah tidak ada lagi wajahnya yang teduh.“I-itu, tidak mungkin aku, kan?” tanyaku mencoba tenang. “Danastri....”“Aku Lintang Kemukus itu?” tanyaku lagi, tapi tidak ada yang berani memberikan jawaban atas pertanyaanku.“Antara Setyaki dan dirimu Danastri,” jawab Raden Sembada akhirnya. “Tapi...tapi, Setyaki sudah meninggal beberapa tahun lalu.”Rasanya aku ingin muntah terlalu banyak hal yang terjadi sekarang dan aku tidak sanggup memikirkan masa depanku. Aku tahu incaran keraton sekarang adalah aku dan pastinya diriku karena Setyaki laki-laki itu sempat bunuh diri setelah gagal menikah.“Maafkan aku tidak memberitahumu sama sekali, Danastri. Aku berusaha keras untuk melindungimu,” tambah R
Beberapa waktu setelah berbaikan dengan Raden Kaningrat. Raden Sembada dan Raden Airlangga berkunjung ke rumah milik Raden Kaningrat yang tidak jauh dari keraton sebagai hadiah ulang tahunnya ke-20. Rumah itu dibelikan agar Raden Sembada bisa mengawasi kehidupan adiknya dan sampai kini tidak ada yang tahu dari pihak keraton tentang rumah itu. Bahkan rumah itu diberikan penjagaan khusus yang diminta langsung oleh Raden Sembada selain mengawasi kehidupan Raden Kaningrat, Raden Airlangga juga menjadi prioritas utamanya. Makan malam hari itu cukup mewah dengan daging sapi panggang yang diminta langsung oleh Raden Sembada pada pihak juru masuk keraton. Raden Airlangga menepuk punggung Raden Kaningrat karena bisa makan makanan enak, Raden Airlangga meskipun sering pulang ke keraton dia lebih nyaman tinggal bersama Raden Kaningrat dan Wardi. Dia akan berbohong pada ibunya bahwa dirinya sudah tidur, tapi yang ada dia akan melarikan diri untuk tinggal bersama dengan Raden Kaningrat
Semua mata tertuju pada perempuan bertudung hitam itu dengan tangannya yang penuh dengan gelang, mungkin ciri khas dari seorang ahli tenung. Dia maju beberapa langkah menunjukkan wajahnya tersenyum ke arahku, senyum yang membuatku merinding dan mundur beberapa langkah. Hawanya berbeda, bahkan Raden Sembada menutupi tubuhku agar tidak terlihat dengannya, aku tidak mengerti.“Sumi, anak ini ingin mengetahui rama–” ucapan Ratu Yumitansih terpotong saat orang yang disebut Sumi, ahli tenung itu maju dan tertawa.“Dia sudah datang! Hahaha! Lintang Kemukus sudah datang sekarang!”“A-apa maksudnya?” tanya Ratu tidak mengerti, begitu juga dengan kami yang mencoba memahami ucapan tenung itu.“Mas Sembada,” panggil Raden Kaningrat dan Raden Sembada mengangguk mengerti.“Pengorbanan yang sudah dilakukan sejak kecil sepertinya sudah selesai sekarang. Lintang Kemukus, perombakan, dunia baru! Hahahah!”“Dasar gila, apa maksudmu, Sumi?!” tanya Ratu frustasi. “Ku perintahkan kamu menjawabnya atau aku
Tubuhku membeku saat melihat wanita itu tersenyum manis seperti menungguku menyetujui sarannya. Raden Sembada menatapku sarat akan sesuatu di sana seperti memberi perintah untuk tidak mengganggu dirinya. Bisikan orang-orang karena aku anak dari Citro terdengar memasuki pikiranku. Otakku seperti tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini, teriakan Atma yang memintaku segera meminta maaf dan pergi dari sana seperti menyadarkanku.“Memang benar aku Danastri anak dari Citro dan Kinasih. Bapakku yang membantu selir Kahiyang untuk melahirkan Raden Kaningrat,” ucapku sedikit bergetar dan ku kepalkan tanganku erat-erat.“Jadi kamu punya kuasa akan peristiwa ini karena anak itu yang membunuh bapakmu. Sembada berikan pedangnya pada Danastri!”Raden Sembada menatap wajah ibunya dan kembali menatapku, “Ambil ini Danastri,” perintah Raden Sembada memberikan pedangnya padaku.“Atma bagaimana ini?” panik Barga yang melihatku menerima pedang itu, “Sialan, sialan. Anak itu kalau kalap tidak kira-kira,
Perkataan Barga membuat semua inderaku seperti aktif dan tujuanku sekarang adalah menemui Raden Kaningrat.“Barga, jawab di mana Raden Kaningrat sekarang!”“Da-Danastri, dia di aula keraton semua ora–”Aku tidak sempat mendengarkan Barga menyelesaikan kalimatnya tanpa peduli ku berlari ke keraton, sedangkan Barga dan Atma ikut menyusul. Mataku menangkap pemandangan keraton di penuhi orang-orang, terutama halaman keraton. Di sana aku bisa melihat Raden Kaningrat dirantai yang dipaksa untuk keluar dari aula untuk di bawa ke halaman disaksikan oleh semua orang.“Bersimpuh!” teriak salah satu prajurit memaksa Raden Kaningrat.“Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kita disuruh datang kemari?’“Tidak tahu.”“Ku dengar hari ini Raden Kaningrat akan dihukum?“Sepertinya dia akan dicopot gelarnya.” Berbagai bisikan terdengar jelas di telingaku terkait masalah ini. Semua keluarga keraton ikut turun duduk di kursi yang sudah disiapkan, aku melihat wajah Raden Airlangga yang kecewa dan tida







