LOGINKu rebahkan diriku di atas ranjang setelah pulang dari sungai, pikiranku melayang cukup jauh untuk mencerna semua peristiwa hari ini. Seorang penari tiba-tiba makan bersama seorang ningrat dan cukup akrab untuk berbicara. Selama memikirkan itu semua tidak terasa mataku cukup berat sampai akhirnya terlelap untuk tidur.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa meskipun sekarang saat pergi mencuci ke sungai mereka sudah tidak lagi mengejekku, kehidupanku cukup tenang selama seminggu ini tidak ada masalah sama sekali. Aku juga masih rutin datang ke keraton untuk latihan dan selama ini aku tidak pernah bertemu dengan Kaningrat, entah dia di mana mungkin saja sedang menikmati kehidupannya di luar keraton.
“Kita istirahat sebentar!” perintah Manik setelah kami berlatih, aku merapikan kain selendangku.
“Hah...aku cukup lelah, Danastri,” ucap Mirah yang duduk sambil mengipasi dirinya menggunakan selendang.
“Aku pun,” ucapku yang kemudian beralih melihat sekitar sampai mataku melihat sesuatu.
“Itu–”
“Lihat, itu Raden Kaningrat!”
“Wah, dia benar-benar tampan sekali, apa aku sudah cantik?”
“Apa yang dia lakukan di sini?’
“Tentu saja untuk melihatku!”
“Arsitektur manusia jawa sangatlah tampan!”
Suara itu berhasutan memuji Kaningrat yang sedang berbicara dengan salah satu abdi dalem yang menjaga sanggar tari. Aku bisa melihat mereka juga berjalan kemari, hal ini semakin membuat teman-teman yang lain kegirangan melihat Kaningrat yang tersenyum manis.
“Semuanya ayo kita kembali berlatih!” teriak Manik memberitahu bahwa kami harus kembali. Namun, yang kudapati suara-suara enggan sampai satu sorotan tajam dari Manik berhasil membuat kami berbaris dengan rapi.
Ku dapati Wardi sedang melihatku dan memberikan kode lewat mata, jujur saja aku tidak mengerti karena dirinya menatapku kemudian menatap Kaningrat dan kembali ke arahku. Terlihat wajahnya sangat kesal karena aku tidak cepat mengerti bahkan dirinya sampai mengepalkan kedua tangannya di udara. Aku yang tidak terlalu peduli kembali fokus pada latihanku.
“Manik, kemarilah!” Manik yang merupakan ketua langsung datang ke arah abdi dalem itu, sedangkan teman-teman yang lain terlihat girang bisa menatap Kaningrat sedekat ini. Di satu sisi, Wardi masih memberikan kode yang tidak ku mengerti sampai dia sedikit mendekatiku.
“Astaga, Danastri kenapa kamu tidak paham?” tanyanya, “Apanya? Dari tadi matamu seperti ini aku jelas tidak tahu maksudmu,” ujarku yang menatap sekeliling tidak peduli dengan obrolan kami.
“Raden Kaningrat ingin melihatmu, jadinya kami kemari,” jawab Wardi berhasil membuatku terdiam.
“Untuk apa?” tanyaku, “Tidak tahu, sedari kemarin dia memaksaku untuk menemaniku bertemu denganmu,” jawab Wardi yang kemudian mendekati Kaningrat.
Tatapan mata Kaningrat mengarah padaku, dia benar-benar menatapku dan tersenyum. Perasaan aneh apa ini yang muncul tiba-tiba membuatku secepat mungkin mengalihkan perhatianku, tanpa lama Manik meminta kami untuk menari karena Raden Kaningrat ingin sekali melihat kami menari.
Sial demi apapun pandangannya selalu tertuju padaku, rasanya seperti pertama kali dia melihatku menari waktu pagelaran itu. Sorot matanya sangat indah dan terlihat menikmati tarian dari kami. Selesai menari dia tersenyum dan memberikan tepukan tangan, kemudian pergi entah kemana.
“Wah, aku benar-benar lelah hari ini,” gumamku seorang diri setelah keluar dari keraton untuk pulang.
“Danastri,” panggil seseorang yang tidak kutemui keberadaannya. “Danastri!” ku arahkan diriku melihat seseorang di balik semak-semak.
“Sedang apa di sini?” tanyaku, “Ayo ikut aku sebentar,” ujarnya yang kemudian menarikku. Aku hanya menuruti kemauan Wardi dan berjalan di belakangnya sampai akhirnya aku menemukan laki-laki itu duduk sendirian di pendopo kecil sebelah taman.
“Apa yang Raden lakukan sendirian di sini?” tanyaku pada Wardi, “Tentu saja menunggumu,” jawab Wardi malas dan berjalan lebih cepat.
“Danastri,” sambutnya yang baru saja sampai terlihat wajahnya berbinar menatapku dan menyuruh untuk ikut duduk bersama mereka. Pandanganku mengarah di meja kecil yang sudah tersusun oleh beberapa makanan.
“Ini untukmu,” ucap Kaningrat terdengar lembut sambil menyerahkan makanan ke arahku dengan ragu-ragu aku menerimanya.
“Terima kasih,” balasku sambil melirik Wardi yang mulutnya sudah terisi oleh makanan.
Ini aneh semua serba aneh setelah mengenal laki-laki ningrat ini, pikiranku juga berkecamuk, pemandangan saat ini adalah waktu makan siang yang seharusnya keluarga ningrat makan bersama. Namun, yang ku lihat dua orang di depanku dengan santainya makan dengan rakyat kalangan bawah benar-benar menyalahi aturan. Benar, jika ada orang yang melihatnya aku bisa ditangkap.
“Danastri, kamu mau kemana?” tanya Kaningrat yang bingung melihatku sudah berdiri begitu juga dengan Wardi yang menatapku aneh.
“A-anu, begini sebenarnya aku merasa tidak sepantasnya makan bersama dengan Raden. Jika ada yang melihat aku bisa diadili massa karena aku hanya rakyat bawah,” jawabku yang terasa berbelit.
“Hah? Apa yang dibicarakan anak ini, Raden?” tanya Wardi sambil memutar bola mata dengan malas dan kembali berkutat dengan makanannya.
“Danastri, aku hari ini memang menyempatkan diri untuk makan denganmu, jadi duduklah. Tidak akan ada yang mengadili dirimu,” jelas Kaningrat yang mengajakku kembali duduk.
“Se-sebenarnya...apa tidak masalah jika Raden mengajakku makan di sini? Maksudku bukannya Raden harus makan bersama keluarga yang lain?” tanyaku sedikit takut.
“Begini...Raden Kaningrat itu–”
Kaningrat langsung menghentikan ucapan Wardi dan menatapku dengan lekat, “Apa kamu belum mendengar rumor tentang diriku?” tanyanya kemudian aku berpikir rumor yang mana terlalu banyak rumor ku dengar tentang Raden Kaningrat setelah dia muncul.
“Ah, itu...rumor tentang Raden Kaningrat sangat tampan,” jawabku enteng yang membuat Kaningrat langsung memalingkan wajahnya, sedangkan Wardi tersedak sampai terbatuk-batuk.
“Ma-maksudku rumor yang lainnya,” sela Kaningrat yang mana telinganya sudah merah, “Tidak ada, paling sering ku dengar Raden sangat tampan dan banyak orang menyukai Raden.”
Wardi mendekatkan wajahnya padaku membuatku langsung mundur sedikit, terlihat dirinya seperti mencari sesuatu di wajahku sambil menyipitkan matanya. Di satu sisi Kaningrat mengeluarkan suara kecil hingga membuat Wardi mundur dan mengeluarkan suaranya.
“Aku tahu jika Radenku ini memang tampan dan semua wanita menyukainya, sekarang ku tebak dirimu juga menyukainya bukan?” tanya Wardi membuatku membulatkan mata sempurna.
“Memangnya salah menyukai laki-laki tampan?” balasku yang membuat Kaningrat memalingkan wajahnya, sedangkan Wardi mengernyitkan dahi.
“Jadi kamu menyukainya?”
“Masalahnya apa denganmu, Wardi? Semua manusia menyukai hal-hal indah begitu juga dengan dirimu,” ucapku dengan mantap dan lantang.
“Tidak ada masalah hanya saja apa yang kamu suka dari Radenku–” Belum selesai Wardi berbicara aku memotongnya cepat setelah mengunyah makananku.
“Astaga, Wardi. Apa hal semudah itu harus ditanyakan? Lihatlah Raden Kaningrat dia sangat tampan dengan postur tubuh yang bagus dan tingginya di atas rata-rata, kemudian dirinya juga sangat baik. Selain itu, saat tersenyum Raden Kaningrat sangat manis dia adalah arsitektur Jawa yang sempurna. Apalagi yang kamu ragukan dari Raden Kaningrat?” jelasku panjang lebar dan beberapa detik kemudian aku menyadari sesuatu dan melirik ke arah Raden Kaningrat yang wajahnya sudah memerah.
Aku menikmati waktuku selama bersama Raden Kaningrat, tanganku tergerak untuk mengelus wajahnya yang mana kepalanya ditidurkan di pangkuanku. Semilir angin menerpa wajah kami, tapi tiba-tiba aku teringat Atma. Laki-laki itu belum kembali sampai sekarang, Raden Kaningrat seperti bisa membaca isi pikiranku.“Aku sudah bertemu dengan Atma beberapa waktu lalu dia baik-baik saja, Danastri.” Mata Atma mengecek sekelilingnya yang sepertinya desa itu baik-baik saja tidak ada penjaga keraton seperti terakhir kali dia lihat. Langkahnya dengan mantap bergerak maju untuk pergi ke rumah, pikirannya hanya ingin sampai di rumah memakan masakan ibunya dan tentu saja jika sempat dia akan pergi menemui gadisnya.“Aa-“ Tubuh Atma diseret dan diperintahkan untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun. Di balik rumah milik seseorang, Atma diminta untuk mengikuti seseorang.“Masuk... cepat masuk,” pinta orang itu dan Atma menurut memasuki rumah seseorang yang terlihat sangat megah dan dia tahu
Pagi-pagi buta aku mengantarkan Atma ditemani oleh Damar setelah dia dipaksa untuk bangun oleh Atma, cukup berat langkahku untuk melepaskan Atma kembali ke rumah bukan karena aku tidak nyaman di sini, hanya saja aku takut jika terjadi hal-hal buruk di sana karena kami sama sekali tidak tahu kondisi di sana seperti apa. Aku ingin sekali pergi bersamanya, untuk pertama kalinya Atma tidak ada di sisiku. Aku sempat membujuk Atma berulang kali agar aku bisa ikut, tapi laki-laki itu jelas melarangku untuk pergi.“Nah, sudah sampai. Aku harus pergi sekarang,” ucap Atma yang berdiri di pinggir sungai yang kering. Dari raut wajahnya bisa ku lihat dia sangat senang untuk kembali ke rumah.“Tolong jaga adikku, Damar. Pastikan dia aman dan baik-baik saja,” lanjutnya sambil menepuk pelan laki-laki yang ada di sebelahku. “Hahaha, tentu saja dia itu keluargaku tidak mungkin aku membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tenang saja, Mbak Danastri.”Aku mengangguk tapi dengan wajah lesu menatap
Selama aku di sini mereka menceritakan tentang kehidupan bapak yang membuatku kagum padanya, bapak terlahir dari kaum priyayi yang menjunjung tinggi rasa tolong menolong pada orang lain. Bahkan bapak dari umur belasan tahun sudah belajar meracik obat-obatan dan mencoba untuk merantau. Saat bapak tidak ada keluarga ini baru mengetahui kabarnya satu bulan kemudian, dan mereka membujuk ibu untuk ikut tinggal bersama, tetapi ibuku memilih untuk tetap tinggal di desanya. Terkadang aku bahagia bisa di sini menikmati waktu bersama keluargaku sepanjang waktu, tetapi tetap saja ada pikiran yang mengganjal di otakku tentang kehidupan orang-orang di desaku. Jujur saja aku juga merindukan Raden Kaningrat bagaimana keadaan mereka sekarang di sana apakah baik-baik saja.“Mbak, apa yang menganggu pikiranmu itu?” tanya Damar setelah aku ikut membantunya berkeliling mengobati orang-orang.“Ah, tidak ada. Hanya sedikit lelah saja,” jawabku singkat. Jika dilihat disandingkan wajahku, Damar,
“Jika tidak?” tanyaku meragu, “Yah, mungkin kita berdua mati muda di sana,” jawabnya sambil tertawa.“Mulutmu ini benar-benar Atma.” Atma terkekeh mendengarnya dan raut wajahnya menjadi serius.“Danastri semisal kedepannya kamu tidak bisa pulang lagi ke sana dan tiba-tiba Raden Kaningrat menikah bagaimana?”Langkahku terhenti dan pikiranku membayangkan hal itu, “Tidak tahu, aku takut membayangkannya,” jawabku sedikit sedih dan menundukkan kepala mengamati kakiku sendiri.Atma yang mengerti langsung merangkulku, “Hahaha, tenang saja bocah. Dia sepertinya sangat mencintaimu bahkan semalam setelah aku bertemu Manik dia berkata aku harus menjagamu jangan sampai kamu bersama laki-laki lain selain dirinya.” Wajahku bersemu merah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Atma dan terbesit di otakku wajah Raden Kaningrat. Perjalanan kami sudah menempuh jarak yang cukup jauh dari tempat kami berpisah dengan Raden Kaningrat dan Raden Airlangga, sudah beberapa kali aku dan Atma berhen
Sorot mata Atma mencoba menyakinkan sambil mengusap rambutku beberapa kali. Tangannya terasa cukup dingin kali ini. Pagi ini kami berencana untuk pergi dari desa menunju desa asal bapak. Rencana kami kemarin akhirnya terealisasikan pagi hari, waktu ini dipilih untuk menghindari orang keraton atau para prajurit mengetahui kepergianku.“Sebentar lagi kita akan berangkat,” ucap Barga kepadaku. “Danastri,” panggil Manik yang kali ini ikut mengantarkanku pergi dia memelukku dengan erat.“Aku akan kembali, Manik,” ujar Atma bergantian memeluk gadis itu yang sebentar lagi akan ditinggalkan sementara waktu.Aku mendekati Pakdhe Asmoro dan Pakdhe Terjo yang sudah bangun pagi-pagi untuk mengantarkanku.“Pa-pakdhe,” panggilku yang tidak terasa mataku sudah panas.“Hati-hati di jalan,” ucap Pakdhe Asmoro. Aku memeluknya dengan erat, rasanya aku tidak sanggup meninggalkan kedua orang tua ini. Air mataku menetes dengan deras, sedangkan Pakdhe Asmoro menahan diri bahkan tidak ingin mempe
Tanganku gemetar dan ku coba melihat sekitarku tatapan semua orang yang ditujukkan padaku cukup berbeda, ku pandangi wajah Barga dan Atma yang tidak berubah sama sekali terlihat serius. Bisa ku simpulkan mereka sudah tahu kebenarannya, mataku beralih ke Raden Kaningrat yang menatapku dengan serius sudah tidak ada lagi wajahnya yang teduh.“I-itu, tidak mungkin aku, kan?” tanyaku mencoba tenang. “Danastri....”“Aku Lintang Kemukus itu?” tanyaku lagi, tapi tidak ada yang berani memberikan jawaban atas pertanyaanku.“Antara Setyaki dan dirimu Danastri,” jawab Raden Sembada akhirnya. “Tapi...tapi, Setyaki sudah meninggal beberapa tahun lalu.”Rasanya aku ingin muntah terlalu banyak hal yang terjadi sekarang dan aku tidak sanggup memikirkan masa depanku. Aku tahu incaran keraton sekarang adalah aku dan pastinya diriku karena Setyaki laki-laki itu sempat bunuh diri setelah gagal menikah.“Maafkan aku tidak memberitahumu sama sekali, Danastri. Aku berusaha keras untuk melindungimu,” tambah R







