LOGINNamun, baru saja ia mau mengambil dus dan mulai membereskan ruangan itu. Naren sudah lebih dahulu menahan tangannya."Kamu mau ngapain?" tanyanya, dingin.Althea yang tiba tiba dipegang Naren segera menarik tangannya, lalu menatap bingung ke arah bosnya itu."Loh? Bukannya pak Naren bawa saya kesini buat bersih bersih?" tanyanya.Naren segera mengantongi ponselnya, ia menatap ke arah wanita itu lalu menghela napas sejenak."Saya bawa kamu kesini, buat jagain petugas kebersihan yang sudah saya sewa. Lalu saya butuh bantuan kamu untuk menilai beberapa karyawan yang kerjanya bagus. Saya akan membagi perusahaan ini menjadi dua," jelasnya.Althea tampak bingung akan maksud bosnya itu, membagi perusahaan? Bukankah itu hal aneh yang ia dengar." Memangnya ada apa pak sampai pak Naren mau bagi perusahaan ini?" tanyanya.Naren terdiam sejenak, ia tidak tahu harus menjelaskan kepada wnaita itu atau tidak. Sebenarnya ia tidak mau masalah ini diketahui para karyawan, tetapi mau ia sembunyikan jug
Althea menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha menyingkirkan berbagai pikiran buruk yang terus bermunculan di benaknya. Namun, semakin ia berusaha melupakannya, semakin besar pula rasa penasarannya. Pada akhirnya, wanita itu meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang, lalu membuka kembali kontak Lisa. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam. Setidaknya, sahabatnya itu pasti mengetahui sesuatu yang tidak diingatnya. Namun, sialnya kepalanya mulai terasa nyeri, seolah bayangan kejadian semalam mulai bermunculan di kepalanya. Hingga matanya terbelalak saat bayangan samar terlintas tengah mencium seorang pria yang sudah dipastikan bahwa pria itu adalah Naren. "Sial, apa itu yang aku lakukan," gumamnya sambil memegang bibirnya sendiri. Matanya membulat sempurna. Ia menatap lurus ke depan dengan wajah pucat, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada mimpi buruk. Tidak mungkin dirinya melakukan hal segila itu! Namun, semakin
Althea sontak membeku ketika mendengar suara yang berasal dari balik pintu kamarnya. Matanya membulat, sementara tangannya yang masih menggenggam ponsel perlahan turun ke samping tubuh. Ia mengenali suara itu dengan sangat baik. Suara datar yang biasanya terdengar setiap kali atasannya tersebut memberikan perintah di kantor. 'Ya Tuhan, kenapa dia kembali lagi? Apa masih ada sesuatu yang belum selesai?' batinnya, panik. Althea menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap layar ponselnya. Lisa yang masih berada di seberang telepon rupanya ikut mendengar suara tersebut. Alih-alih merasa prihatin, wanita itu justru mengeluarkan tawa kecil yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Althea. "Astaga, Althea! Jangan bilang Pak Naren sedang berada di depan pintu kamarmu!" Althea hanya mendengus, tanpa pikir panjang ia segera mematikan telepon itu dan berjalan menuju ke arah pintu. Ia menghela napas panjang sebelum memberanikan diri untuk melihat bosnya itu. " Eh, pak Naren. Ada apa ya? "
Naren menatap Althea dengan tatapan datar. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu semalam pulang dalam keadaan mabuk, bahkan hampir tidak mampu berdiri tanpa bantuan Lisa. Belum lagi ocehannya yang tidak berhenti sepanjang perjalanan menuju kamar apartemen. "Kamu benar-benar tidak ingat?" tanyanya, memastikan. Althea menggelengkan kepala dengan ragu. "Saya ingat pergi minum bersama Lisa. Setelah itu, kami mengobrol sebentar, lalu ...." Ia mengerutkan kening, berusaha menggali ingatannya. "Lalu saya tidak ingat lagi, Pak." Naren mengernyitkan dahinya, bagaimana bisa wanita itu tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi. Ditambah kejadian saat mereka tiba di dalam kamar Althea. Naren akhirnya menghela napas, lalu bangkit dari duduknya. "Sudahlah kalau kamu tidak ingat, kalau begitu saya ingin kembali tidur," ujarnya, lalu melangkah keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari Althea. Althea masih menatap Naren yang tengah keluar dari kamarnya, ia memukul pelan
Naren mengangkat sebelah alisnya. Pria itu menatap Althea yang masih sibuk memperhatikan wajahnya dengan ekspresi bingung. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu hingga berani menyebutnya pria galak, padahal beberapa detik sebelumnya ia masih memujinya setampan itu."Kamu mengatakan saya pria galak?" tanyanya.Althea mengerucutkan bibirnya. Ia kembali mencubit pipi Naren pelan, kemudian menggelengkan kepala dengan ekspresi kesal."Iya iya seperti pak Naren, satu satunya pria galak yang suka marah-marah. Kalau bicara sama aku, mukanya selalu kayak orang mau makan orang. Apalagi wajahnya selalu saja dingin seperti batu es. " Ia menggerakkan tangannya di depan wajah Naren, menirukan ekspresi pria itu. "Sini, sini, Althea! Kerjakan ini! Althea, masuk ke ruangan saya! Althea, kenapa kamu menghindari saya?"Lisa yang berjalan di samping mereka seketika menutup mulutnya, berusaha keras menahan tawa. Ia tidak menyangka Althea yang biasanya cukup tenang bisa menirukan atasannya dengan
Helena menatapnya tidak percaya. "Kamu benar-benar akan menolak pilihan Kakek demi wanita itu?" "Saya tidak pernah mengatakan bahwa saya akan menikahi Althea." "Kalau begitu, kenapa kamu terus membelanya? Apa pentingnya wanita sepertinya?" Pertanyaan itu membuat Naren terdiam sesaat. Ia sendiri belum pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Althea. Bahkan, beberapa hari terakhir, wanita itu justru terus menghindarinya. Setiap kali Naren mencoba mendekat, Althea selalu berusaha menciptakan jarak di antara mereka, seolah-olah keberadaan dirinya adalah sesuatu yang harus dihindari. Namun, satu hal yang ia yakini adalah bahwa Althea tidak pantas menerima perlakuan seperti ini. Lagi pula wanita itu tidak pernah berbuat nekat untuk mendekatkan dirinya kepadanya, walau wnaita itu begitu cererwt tetapi bersamanya Naren bisa merasa nyaman,setidkanya ia tidak merasakan sepi lagi. "Karena saya tahu dia tidak melakukan kesalahan apa pun kepada Ibu," jawabnya. "Dan s







