LOGINAlthea tertawa kecil. "Sedikit, Pak. Tapi sekarang semua dokumen peluncuran sudah selesai. Jadi, sepertinya saya bisa bernapas lega."Ciko mengangguk sambil tersenyum. "Saya sudah melihat hasil analisismu. Cukup bagus, bahkan beberapa data yang kamu kumpulkan sangat membantu divisi kami. Padahal kaamu baru saja pindah di perusahaan ini."Althea tampak sedikit terkejut. "Benarkah, Pak? Saya kira masih banyak kekurangan.""Tentu saja masih ada yang perlu diperbaiki. Tapi untuk seseorang yang harus mengumpulkan laporan dari berbagai divisi, hasil kerjamu sudah sangat baik.""Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha lebih baik lagi."Ciko tertawa pelan. "Kamu tidak perlu terlalu tegang. Anggap saja saya teman kamu, lagi pula selama beberapa bulan kamu disini kamu masih belum mendapatkan teman. Bagaimana jika saya menjadi teman pertamamu di divisi ini?"Althea sempat terdiam mendengar ucapan Ciko. Ia kemudian tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya."Tentu saja, Pak. Saya justru senang
Althea segera kembali dengan dokumen yang baru saja ia selesaikan, setidaknya selama beberapa hari ini ia kerja lembur bagai kuda dokumen dokumennya sudah selesai.Althea segera melangkah masuk ke dalam ruangan itu, ia melongokkan kepalanya sedikit untuk menatap apakah ada ornag lain di sana, untung saja wanita yang sering membuatnya kesal tidak ada disana."Pak, saya sudah menyelesaikan semua dokumen ini. Bapak bisa membuat peluncuran market place dan beberapa model pakaian kekinian dari perusahaan kita."Naren yang sedang memeriksa beberapa berkas langsung mengangkat wajahnya. Ia kemudian menerima dokumen yang disodorkan Althea dan mulai membolak-balik setiap halamannya."Sudah selesai semuanya?"Althea mengangguk. "Iya, Pak. Saya juga sudah memeriksa kembali beberapa desain dan daftar produk yang akan diluncurkan. Kalau tidak ada perubahan lagi, bagian pemasaran bisa segera mempersiapkan peluncurannya."Naren memperhatikan dokumen tersebut dengan saksama. Ia cukup puas melihat peke
Pria tua itu langsung mengerutkan dahinya. Ia tampak tidak menyangka Naren akan kembali membantah keputusannya di hadapan orang lain."Setuju? Kapan Kakek menyetujui hal seperti itu? Kakek hanya memberimu waktu untuk berpikir, bukan membatalkan perjodohan ini! Lagi pula Almira sudah setuju dengan pernikahan ini."Naren mengembuskan napas kasar. Ia sudah terlalu sering membicarakan masalah yang sama dengan kakeknya, tetapi pria tua itu selalu saja mengulang keputusan yang sudah dibuatnya."Saya sudah mengatakan sejak awal bahwa saya tidak akan menikahi Almira. Bukankah kakek sudah menyetujui permintaan ini, bahkan kakek sudah membagi perusahaan ini.Jika kakek tetap memaksaku bukankah sama saja kakek mengingkari janji?""Jaga bicaramu, Naren!" bentak pria tua itu.Althea yang masih berdiri di dekat pintu hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak ingin terlibat dalam pertengkaran keluarga tersebut. Namun, ia juga merasa tidak nyaman karena namanya terus dibawa-bawa.Pria tua
Almira menoleh kepada Naren dengan wajah tidak bersalah."Aku hanya merobek dokumen yang sudah tidak diperlukan, Kak. Bukankah aku sudah bilang kalau desainnya tidak perlu diubah lagi?"Naren menatap potongan kertas di atas meja. Rahangnya mengeras menahan kekesalan."Siapa yang mengatakan dokumen ini tidak diperlukan?""Aku, Kak. Aku yang bertanggung jawab atas desain tersebut.""Tapi kamu bukan pemilik perusahaan ini, Almira. Kamu tidak bisa seenaknya mengubah keputusan yang sudah disetujui, apalagi merusak dokumen perusahaan."Almira langsung terdiam. Ia tidak menyangka Naren akan membentaknya hanya karena masalah tersebut."Kak Naren! Kenapa kamu jadi seperti ini? Aku hanya ingin membantu perusahaan!""Membantu perusahaan dengan merusak pekerjaan orang lain?" Naren mengangkat sebelah alisnya."Menurutmu itu tindakan yang benar?"Almira menggigit bibir bawahnya. Ia kemudian melirik Althea yang masih berdiri di dekat pintu."Semua ini gara-gara dia! Kalau saja dia tidak selalu dekat
Setelah kejadian di kamar mandi, Althea memilih untuk menjaga jarak dengan bosnya itu beberapa hari. Ia sudah benar benar muak jika terus di ganggu oleh tunangan bosnya itu. Hingga saat ini, wanita bernama Almira itu masih saja menyusahkannya. Padahal ia sudah menjaga jarak dengan bosnya itu."Sudah aku katakan! Seharusnya desain pakaian ini dirubah!" omelnya kepada Althea.Althea yang sedang berdiri di hadapan Almira hanya bisa menarik napas panjang. Sejak pagi, wanita itu terus mempermasalahkan desain pakaian yang sebenarnya sudah disetujui oleh bagian pemasaran dan bagian desain, hanya saja sepertinya wanita itu masih ingin menyusahkannya."Maaf, Nona. Tapi desain ini sudah melalui proses persetujuan sebelumnya. Jika ada perubahan, saya perlu mendapatkan arahan dari atasan terlebih dahulu," jawab Althea dengan sopan.Almira mendengus kesal. Ia kemudian melemparkan beberapa lembar kertas desain ke atas meja."Apa kamu tidak bisa berpikir sendiri? Aku sudah bilang bagian ini terlalu
Setelah mereka menyelesaikan makanannya, Althea izin untuk ke toilet untuk mencuci tangan sekaligus menghindari dua orang kaya yang tersu berdebat dihadapannya itu.Namun, baru saja ia masuk dari arah belakang terlihat seorang yang menutup pintu toilet dengan kasar."Sebaiknya kamu jauhi kak Naren!" tegas Almira.Althea yang tengaah mencuci tangannya segera membalikan badannya ia benar benar lelah dengan sikap wanita itu yang terus mengincarnya."Saya tidak melakukan apa apa nona, kenapa sepertinya nona selalu curiga kepada saya?"Almira mendengus kesal. Ia kemudian melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Althea dari ujung kepala hingga kaki."Jangan berpura-pura tidak tahu! Sejak tadi aku melihat bagaimana Kak Naren memperlakukanmu. Dia bahkan lebih memperhatikanmu daripada aku!"Althea mengernyitkan dahinya. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa wanita itu begitu mempermasalahkan sikap Naren kepadanya."Nona, Pak Naren adalah atasan saya. Wajar kalau beliau memperhatika







