Se connecterAlthea segera mengambil laptop dan beberapa map di mejanya. Tanpa pikir panjang, ia langsung berjalan menuju ruang rapat. Baru saja ia sampai di depan pintu, dari dalam terdengar suara Naren yang tengah berteriak.
"Bagaimana bisa kalian membiarkan laporan ini masuk ke meja saya dalam kondisi seperti ini?" suara Naren terdengar penuh amarah. Althea menghentikan langkahnya. Tangannya yang semula hendak membuka pintu langsung tergantung di udara. Dari balik pintu kaca, ia bisa melihat beberapa kepala divisi duduk dengan wajah tegang. Tidak ada satu pun yang berani menatap langsung ke arah Naren. 'Sial, kenapa harus telat disaat pria itu tengah kesal. Bisa gawat ini, ' batinnya, menghela napas. Naren berdiri di ujung meja rapat sambil memegang sebuah berkas. Tatapannya tajam, membuat seluruh ruangan terasa semakin dingin dan mencekam. "Ini bukan sekadar kesalahan kecil," lanjut Naren dengan suara rendah namun penuh tekanan. "Data penjualan kuartal terakhir tidak sesuai dengan angka yang diberikan divisi keuangan. Kalau laporan ini sampai diberikan kepada investor, siapa yang akan bertanggung jawab?" Salah satu manajer segera berdiri. "Maaf, Pak Naren. Kami akan segera memperbaikinya." Naren melempar berkas ke atas meja yang membuat Althea terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan mapnya. "Siapa di luar?" tanya Naren. Althea membeku. Kenapa hari ini dirinya begitu sial? Beberapa detik ia hanya berdiri diam di depan pintu, berharap tidak ada yang menyadari keberadaannya. Namun suara map yang jatuh tadi sudah cukup keras untuk menarik perhatian semua orang di dalam ruangan. Perlahan, pintu ruang rapat terbuka, yang membuat Althea mundur beberapa langkah. Saat ia mendongakkan kepalanya, tatapan tajam Naren langsung mengarah kepadanya. "Kamu!" Althea buru buru membungkuk, "Pak Naren, maaf... maaf karena saya terlambat." Naren masih menatap tajam ke arah Althea. Tatapan pria itu berpindah dari wajah Althea menuju laptop dan map yang ada di tangannya. Wajahnya tetap dingin, seolah tidak ada sedikit pun rasa iba melihat gadis itu berdiri canggung di depan pintu. " Sekarang sudah jam berapa?" tanyanya, dingin. Althea masih menunduk, ia menatap ke arah jam tangannya. "Jam delapan lebih lima menit," jawabnya. Naren menyandarkan tubuhnya sedikit, tatapannya tetap dingin. "Kau tidak tahu aturan dasar dari perusahaan ini?" Althea menggeleng kecil, ia masih baru di perusahan ini sehingga ia belum membaca semua aturan. Apa lagi baru pertama kerja ia sudah mengerjakan banyak sekali tugas. Bagaimana bisa ia menghapal aturan perusahaan. Althea terdiam sejenak sebelum menggeleng kecil. "Saya tahu aturan mengenai jam kerja, Pak. Namun, saya masih baru di perusahaan ini, jadi masih ada beberapa aturan yang belum saya pahami sepenuhnya." Ia menggenggam map di tangannya lebih erat. "Saya akan lebih memperhatikannya mulai sekarang, Pak," tambah Althea. Naren menatap Althea beberapa detik, sebelum ia kembali membuka suaranya. "Masuk," ujar Naren akhirnya. Althea mengangkat wajahnya sedikit, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Bagaimana mungkin pria itu membiarkannya masuk begitu saja? "Pak?" "Kalau kau mau berdiri di sana selama lima menit hanya untuk meminta maaf, lebih baik gunakan waktu itu untuk bekerja." Beberapa kepala divisi yang masih berada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah Althea. Mereka terlihat penasaran dengan siapa wanita yang baru saja ditegur langsung oleh CEO mereka. Althea menahan napas kecil. 'Pria ini benar-benar tidak punya cara bicara yang lembut, ya. Tapi tidak apa apa seengaknya ia masih dibiarkan masuk.' Ia masuk ke dalam ruangan sambil membawa laptop dan mapnya. Dengan hati-hati ia berjalan menuju sisi meja yang kosong. Naren kembali ke tempatnya semula, tetapi pandangannya masih menatap ke arah Althea. "Althea, saya tunggu diruangan saya setelah rapat hari ini!" tegasnya. Althea hanya mengangguk kecil, ia menurunkan bahunya setelah mendengar ucapan bosnya itu. Setelah satu jam rapat, akhirnya Althea bisa bernapas lega. Ia segera bangkit duduknya untuk keluar dari ruangan rapat. Namun, pikirannya kembali ke perintah Naren yang harus menemuinya diruangan nanti. 'Ya tuhan, bisakah satu hari tanpa harus berurusan dengan pria itu,' batinnya, menghela napas frustasi. Dengan perasaan malas, Althea berjalan menuju ke ruangan Naren. Baru saja ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. "Masuk." Suara Naren terdengar dari balik pintu. Althea mengerutkan kening kecil. Ia bahkan belum sempat mengetuk pintu, tetapi pria itu sudah tahu dirinya berada di luar. "Dia punya mata di mana-mana, atau memang kebetulan saja?" gumam Althea pelan. Ia akhirnya membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. "Pak Naren," sapanya sambil berdiri di depan meja kerja pria itu. Naren masih sibuk membaca beberapa dokumen di depannya. Ia tidak langsung menatap Althea, seolah sengaja membiarkan wanita itu menunggunya. Althea yang sudah berdiri beberapa menit, mulai merasa tidak nyaman. Ia berdiri tegak sambil memainkan jarinya sendiri. "Kalau hanya ingin membuat saya berdiri seperti ini, lebih baik bapak minta saya berdiri di pojokan," jelasnya. Mendengar itu, Naren akhirnya meletakkan dokumen yang sedang dibacanya. Pandangannya beralih ke arah Althea. "Ambilkan saya minum!" perintahnya. Althea mengerjapkan pandangannya beberapa kali, memastikan bahwa ia tidak salah dengar. "Minum pak?" ulangnya pelan. Naren menatapnya datar. "Apa ada masalah dengan pendengaranmu?" Althea langsung menahan napas. Lagi dan lagi pria itu terus membuatnya tidak nyaman. Althea segera berjalan keluar menuju ke arah dapur. "Ini pak minumannya," ujarnya, sambil menyodorkan satu gelas kopi di meja Naren. Naren segera mengambil kopi itu. "Ini terlalu panas, cepat ganti!" Althea menatap gelas kopi yang baru saja diletakkannya di meja. Uap tipis masih terlihat naik dari permukaan kopi tersebut. 'Pasti dia mau menyusahkan ku lagi,' pikirnya Namun, melihat tatapan Naren yang tetap dingin, Althea tahu bahwa berdebat hanya akan membuat pekerjaannya semakin panjang. "Baik, Pak," jawabnya singkat. Ia mengambil kembali gelas kopi itu dan berjalan keluar dari ruangan. Sepanjang perjalanan menuju dapur, Althea berusaha menahan kekesalannya. "CEO macam apa yang memperlakukan karyawan seperti pelayan pribadi?" gerutunya pelan. Beberapa karyawan yang kebetulan melewati lorong sempat melirik ke arahnya. Althea segera memperbaiki ekspresinya dan kembali berjalan dengan wajah profesional. Sesampainya di dapur, ia mengganti kopi tersebut dengan yang baru. Kali ini ia sengaja menunggu beberapa menit agar suhunya tidak terlalu panas. "Semoga kali ini tidak ada masalah lagi," ucapnya sambil membawa kopi itu kembali. Namun, baru saja ia berdiri di depan pintu. Dari dalam terdengar suara dua orang yang sedang berbicara. "Naren, kenapa kamu membatalkan pertunangan kita?" Suara seorang wanita membuat Althea terdiam. Tangannya yang memegang gelas kopi perlahan mengencang. Pertunangan? Sejak kapan pria itu memiliki tunangan? Sebelum ia sempat bergerak, suara wanita itu kembali terdengar. "Atau jangan-jangan, kamu memang menyukai seorang pria?"Naren yang awalnya hendak mengambil sesuatu di ruangan itu langsung terdiam ketika pandangannya menangkap pemandangan di hadapannya. Althea sedang menangis dalam pelukan Robert. Langkahnya terhenti. Tangannya yang semula hendak membuka pintu itu menggantung di udara. Tangan satunya mengepal di sisi tubuhnya. Seharusnya ia pergi. Tidak ada alasan baginya untuk berdiri di sana dan menyaksikan urusan pribadi Althea. Namun, anehnya, kedua kakinya justru enggan bergerak.Terlebih ketika ia mendengar suara tangis Althea. Wanita yang biasanya begitu banyak bicara, begitu mudah tersenyum, dan selalu berhasil membuat suasana di sekitarnya menjadi ramai, kini justru menangis di pelukan pria lain.Naren mengembuskan napas pelan. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya. Rasa yang tidak ingin ia akui atau sebuah perasaan yang sebenarnya ia tidak ketahui. Namun, saat ia melihat Althea menatap ke arah pintu, ia memilih untuk bersembunyi. Althea melepas pelukan Robert, ia masih teris
Naren terdiam. Untuk beberapa saat, pria itu tidak memberikan respons apa pun. Tatapannya tetap tertuju ke depan, tetapi rahangnya terlihat sedikit mengeras. "Silakan," ujarnya singkat. Althea terdiam. Ia tidak menyangka bosnya akan mengizinkannya begitu saja. Bukankah biasanya Naren akan bertanya macam-macam terlebih dahulu dan membuat semuanya terasa ribet? Althea mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah masih tidak percaya. "Bapak ngizinin saya?" Naren kembali menatap ke arha tabnya, ia hanya mengangguk singkat tanpa berbicara apa apa. Mobil mereka terus melaju hingga sampailah mereka di gedung perusahaan milik Robert. Naren turun lebih dahulu. Ia merapikan jasnya sebelum berjalan menuju lobi gedung tersebut. Althea yang masih berada di dalam mobil segera turun menyusul. "Pak Naren." Naren menghentikan langkahnya, ia segera menoleh ke arah Althea. "Kenapa?" Althea segera berdiri di samping bosnya itu, ia segera mengambil map dan tab yang tengah di bawa bosnya. "Ini ka
Setelah mengatakan itu, Naren memilih untuk berjalan menuju tempat tidurnya. Althea memperhatikan punggung pria itu selama beberapa detik. Entah mengapa, ia merasa Naren terlihat sedikit berbeda malam ini. Biasanya pria itu tidak pernah peduli dengan urusan pribadinya. Namun, kali ini Naren justru menanyakan Robert. Althea segera menggelengkan kepalanya. "Sudahlah." Ia kembali menatap ponselnya. Pesan Robert masih terbuka di layar. Jarinya sempat bergerak untuk membalas, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin bertemu dengan Robert. Setidaknya, bukan sekarang. Althea akhirnya mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Namun, baru beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Satu pesan baru masuk. Althea menatap layar itu dengan ragu sebelum akhirnya membukanya. "Aku akan menunggumu besok setelah diskusi proyek. Kalau kamu tidak datang, aku akan menganggap kamu memang tidak ingin mendengar penjelasanku." Althea menghela napas. Ia segera men
Althea menatap tangan Robert yang masih menggenggam pergelangan tangannya. Ia segera menarik tangannya dengan sedikit kasar. "Aku rasa kita tidak punya sesuatu untuk dibicarakan, Robert." Robert terdiam sejenak. Tatapannya masih tertuju pada Althea. Ia tersenyum tipis ke arah wanita itu. "Benarkah?" tanyanya pelan. "Setelah dua tahun tidak bertemu, kamu bahkan tidak mau bicara denganku?" Althea menghela napas. Ia melirik ke arah ruang pertemuan yang tidak jauh dari mereka, memastikan tidak ada yang memperhatikan. "Robert, aku sedang bekerja.Jadi, tolong jangan membuat masalah." "Aku tidak berniat membuat masalah." Robert melangkah sedikit mendekat yang membuat Althea buru buru mundur. "Aku hanya ingin tahu kenapa kamu tadi berpura-pura tidak mengenalku." Althea terdiam. Jantungnya kembali berdegup tidak beraturan. "Aku..." Ia menggigit bibir bawahnya. "Itu bukan urusanmu." Robert terdiam, senyuman yang semula menghiasi wajahnya mulai memudar. Digantikan wajah data
"Ingat! Jangan sampai kamu membuat kesalahan!" tegas Naren. Althea hanya mengangguk. Ia segera turun sambil membawa tumpukan berkas yang sudah mereka siapkan di kamar hotel. Naren melangkah lebih dulu, sementara Althea mengikuti dari belakang. Namun, karena membawa terlalu banyak dokumen, langkah Althea menjadi lebih lambat. Ia bahkan tampak kesulitan menjaga agar tumpukan berkas itu tidak jatuh. Sementara itu, Naren sudah berjalan cukup jauh di depannya tanpa menyadari kesulitan yang dialami Althea. "Pak Naren!" panggil Althea. Naren yang sudah beberapa langkah di depan berhenti dan menoleh. Alisnya sedikit terangkat ketika melihat Althea masih berada cukup jauh darinya dengan kedua tangan penuh berkas. "Ada apa?" "Bisa jalan sedikit lebih pelan?" pinta Althea, berusaha mempercepat langkahnya. Naren menatap tumpukan dokumen di tangan wanita itu. Tatapannya kemudian beralih pada Althea yang bahkan hampir tidak bisa melihat jalan karena sebagian berkas menutupi pandangannya. N
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan dengan pesawat dan beberapa menit berkendara menggunakan mobil, Althea dan Naren akhirnya tiba di hotel yang sebelumnya telah dipesan oleh Althea. Begitu turun dari mobil, Naren segera menatap ke arah Althea yang tengah menatap ke bangunan mewah itu. "Kamu sudah pesan kamar untuk saya kan?" tanyanya. Althea menoleh ke arah Naren lalu mengangguk. "Sudah, pak." Naren mengangguk kecil. "Kalau begitu, ayo masuk." Keduanya kemudian berjalan menuju lobi hotel. Althea langsung menuju meja resepsionis untuk melakukan check-in, sementara Naren berdiri tidak jauh darinya sambil memeriksa ponselnya dan menjaga koper besar milik gadis itu. Beberapa saat kemudian, Althea menerima kartu akses dari resepsionis. Ia segera menghampiri Naren. "Ayo, pak," ajaknya. Naren mengangguk, ia segera mengambil kartu akses itu dan berjalan lebih dahulu. Sedangkan Althea segera menarik kopernya dan buru buru menyusul Naren yang sudah hampir sampai di depan







