LOGINNaren menatap gadis yang kini berada begitu dekat dengannya. Althea bisa merasakan tangan Naren yang masih menahan pinggangnya agar tidak jatuh. Jarak mereka terlalu dekat hingga ia bisa melihat jelas sorot mata tajam pria itu yang tengah menatapnya.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena gugup. Setidaknya, itu yang ingin ia yakini. "Lepaskan aku," ujar Althea cepat sambil mencoba menjauh. Namun, saat ia bergerak, kakinya masih belum benar-benar stabil. Naren akhirnya melepaskan tangannya perlahan setelah memastikan gadis itu sudah berdiri dengan benar. Althea segera mundur beberapa langkah. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba terasa memanas. "Ini salahmu," gumamnya tiba-tiba. Naren menatap datar ke arah gadis itu, "Jangan salahkan orang lain atas kecerobohanmu sendiri," ujarnya, dingin. Althea memutar bola matanya, tatapannya masih kesal ke arah Naren. "Tetap saja ini salahmu! Kalau kamu tadi berhenti dan dengar aku bicara, aku nggak akan jatuh seperti ini." Naren menatap gadis di depannya tanpa ekspresi. Bagi pria itu, berdebat dengan Althea terasa seperti membuang waktu. Gadis itu selalu memiliki seribu alasan untuk membantah. "Saya lelah, kita bicarakan besok. " Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu, Naren sudah lebih dahulu masuk ke dalam kamarnya. Althea yang hendak menyusul langsung terpaku saat pintu kamar itu tertutup lebih cepat, bahkan hampir mengenai dahinya. "Hii!" serunya kesal sambil mengusap dahinya yang terkena pintu. Ia menatap pintu kamar Naren dengan tatapan tidak kesal. "Dasar pria menyebalkan seantero dunia!" gerutunya. Althea masih berdiri di depan kamar itu beberapa detik, berharap pria di balik pintu tersebut mendengar keluhannya. Namun, tentu saja tidak ada jawaban. Atau lebih tepatnya, Naren memang sengaja tidak ingin menanggapi ocehannya. "Benar-benar tidak punya sopan santun," gumamnya sambil memutar bola mata. Dengan langkah kesal, Althea akhirnya kembali ke sofa. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sana dan menarik bantal untuk dipeluk. "Kenapa aku harus bertemu orang seperti dia?benar benar nasib buruk!" keluh Althea pelan. Naren yang berada di dalam kamar sebenarnya masih belum sepenuhnya bisa mengabaikan suara gadis itu. Suara ocehan Althea yang terdengar sampai ke dalam membuat alisnya sedikit berkerut. Ia benar benar tidak menyangka akan bertemu seorang gadis yang berhasil membuat kesabarannya diuji berkali-kali. Naren menghela napasnya, "Benar benar gadis merepotkan," gumamnya, sebelum melepaskan jam tangannya lalu meletakkannya di atas meja. Sementara itu, di luar kamar, Althea masih mengomel sambil memeluk bantal. "Dia pikir dia siapa? Bos besar yang bisa seenaknya memperlakukan orang lain?" gerutunya. "Iya, memang dia bosku, tapi bukan berarti dia boleh bersikap seperti itu." Althea mengusap wajahnya kasar. "Kalau semua orang di perusahaan takut padanya, bukan berarti aku juga harus takut." Tanpa sadar, ia malah mengingat kejadian beberapa menit lalu. Saat tubuhnya hampir jatuh dan Naren menangkapnya. Sentuhan tangan pria itu di pinggangnya masih terasa. Althea langsung menggeleng cepat. "Apa yang aku pikirkan?" gumamnya kesal. "Dia tetap pria menyebalkan yang mengusik hidupku!" ..... Naren berjalan ke luar dari kamarnya saat alarm terus mengusiknya.. Baru saja ia menyalakan lampu di ruang tengah, pandangannya langsung tertuju ke arah seorang gadis yang sedang tertidur di atas sofa. Althea terlihat meringkuk karena udara pagi yang cukup dingin. Tubuhnya hanya tertutup sebagian oleh selimut tipis yang mulai bergeser dari tubuhnya. Naren melangkah mendekat. Tatapannya tertuju pada wajah Althea yang terlihat jauh lebih tenang saat sedang tertidur. Naren sebenarnya ingin membiarkan gadis itu tidur begitu saja. Namun melihat selimut yang hampir jatuh dan udara pagi yang dingin, ia akhirnya menghela napas lalu mengambilnya. Dengan tangan besarnya, Naren menarik kembali selimut yang hampir jatuh, lalu menutupi tubuh gadis itu agar tidak kedinginan. "Benar-benar ceroboh," gumamnya pelan. Saat ia tengah menatap gadis itu, tanpa sadar tangan Althea menarik kerah pakaian Naren Gerakan tiba-tiba itu membuat Naren kehilangan keseimbangan. Tubuhnya sedikit membungkuk, membuat jarak mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Mata Naren membulat sesaat. Wajah Althea yang masih tertidur kini berada begitu dekat dengannya. Ia bisa melihat jelas wajah gadis bahkan nafas dari gadis itu mulai mengenai wajahnya. Naren terdiam, ia mencoba melepaskan tangan Althea dari merahnya. Namun, baru saja ia menarik kerahnya. Althea sudah lebih dahulu membuka matanya, gadis itu terkejut saat mendapati Naren berada begitu dekat dengan dirinya. "Kamu... Kamu mau berbuat macam macam ya?" Althea buru buru bangkit dan menutupi tubuhnya dengan selimutnya. Naren yang semula masih terdiam karena terkejut langsung mengerutkan kening mendengar tuduhan Althea. "Apa?" tanyanya datar. Althea menatapnya dengan curiga. Wajahnya masih terlihat mengantuk, tetapi ekspresinya sudah kembali seperti biasanya penuh perlawanan dna kecurigaan. "Aku bangun dan kamu sudah ada di depanku dengan jarak sedekat itu. Menurutmu aku harus berpikir apa?" ujar Althea sambil menarik selimut lebih tinggi. Naren menatap gadis di depannya dengan tatapan tidak percaya. Beberapa detik kemudian, ia menghela napas panjang. "Kamu benar-benar suka membuat kesimpulan sendiri, ya?" "Kalau begitu jelaskan. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Althea cepat. Naren membenarkan pakaiannya, "Kamu lupa dengan sikapmu saat tidur?" Althea terdiam, sejujurnya ia benar benar tidak ingat hal bodoh apa yang ia lakukan saat tidur. Ia buru buru berdiri sambil menutupi badannya dengan tangannya. "Apa yang aku lakukan? Aku tidak ingat." "Kamu sendiri yang menarikku," jelasnya, singkat. Althea terkejut, bagaimana bisa ia melakukan hal bodoh seperti ini. Namun, baru saja ia membuka matanya. Pria itu sudah lebih dahulu berjalan ke arah luar apartemen. Althea yang melihat pria itu yang sudah siap bekerja, membuat Althea menatap ke arah jam dinding. Sialnya, ia kembali kesiangan. "Ah, masa bodoh masalah itu. Aku harus bergegas," ujarnya, berlari menuju ke arah kamarnya. Althea akhirnya sampai di kantor tepat waktu. Ia menghela napas lega saat berhasil masuk ke dalam gedung sebelum jam kerja dimulai. Namun, ketika menatap ke arah ruangannya, ada sesuatu yang terasa aneh. Ruangan itu terlihat jauh lebih sepi dari biasanya. Althea mengerutkan kening sambil melihat sekeliling. Ruangan besar itu kosong, tidak ada satu pun karyawan yang terlihat. "Hari ini kenapa sepi sekali?" gumamnya. Ia mencoba mengingat apakah ada sesuatu yang ia lewatkan. Kemudian, pandangannya jatuh pada sebuah catatan kecil yang tertempel di depan laptopnya. Althea langsung terbelalak. "Hari ini ada rapat..." Ia menatap catatan itu beberapa detik. Baru saat itu ia menyadari kesalahannya. Rapat penting divisi strategi bisnis sudah dimulai jam 7 pagi dan sekarang? Ia menatap ke arah jam tangannya. "Sial, aku terlambat satu jam!"Naren yang awalnya hendak mengambil sesuatu di ruangan itu langsung terdiam ketika pandangannya menangkap pemandangan di hadapannya. Althea sedang menangis dalam pelukan Robert. Langkahnya terhenti. Tangannya yang semula hendak membuka pintu itu menggantung di udara. Tangan satunya mengepal di sisi tubuhnya. Seharusnya ia pergi. Tidak ada alasan baginya untuk berdiri di sana dan menyaksikan urusan pribadi Althea. Namun, anehnya, kedua kakinya justru enggan bergerak.Terlebih ketika ia mendengar suara tangis Althea. Wanita yang biasanya begitu banyak bicara, begitu mudah tersenyum, dan selalu berhasil membuat suasana di sekitarnya menjadi ramai, kini justru menangis di pelukan pria lain.Naren mengembuskan napas pelan. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya. Rasa yang tidak ingin ia akui atau sebuah perasaan yang sebenarnya ia tidak ketahui. Namun, saat ia melihat Althea menatap ke arah pintu, ia memilih untuk bersembunyi. Althea melepas pelukan Robert, ia masih teris
Naren terdiam. Untuk beberapa saat, pria itu tidak memberikan respons apa pun. Tatapannya tetap tertuju ke depan, tetapi rahangnya terlihat sedikit mengeras. "Silakan," ujarnya singkat. Althea terdiam. Ia tidak menyangka bosnya akan mengizinkannya begitu saja. Bukankah biasanya Naren akan bertanya macam-macam terlebih dahulu dan membuat semuanya terasa ribet? Althea mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah masih tidak percaya. "Bapak ngizinin saya?" Naren kembali menatap ke arha tabnya, ia hanya mengangguk singkat tanpa berbicara apa apa. Mobil mereka terus melaju hingga sampailah mereka di gedung perusahaan milik Robert. Naren turun lebih dahulu. Ia merapikan jasnya sebelum berjalan menuju lobi gedung tersebut. Althea yang masih berada di dalam mobil segera turun menyusul. "Pak Naren." Naren menghentikan langkahnya, ia segera menoleh ke arah Althea. "Kenapa?" Althea segera berdiri di samping bosnya itu, ia segera mengambil map dan tab yang tengah di bawa bosnya. "Ini ka
Setelah mengatakan itu, Naren memilih untuk berjalan menuju tempat tidurnya. Althea memperhatikan punggung pria itu selama beberapa detik. Entah mengapa, ia merasa Naren terlihat sedikit berbeda malam ini. Biasanya pria itu tidak pernah peduli dengan urusan pribadinya. Namun, kali ini Naren justru menanyakan Robert. Althea segera menggelengkan kepalanya. "Sudahlah." Ia kembali menatap ponselnya. Pesan Robert masih terbuka di layar. Jarinya sempat bergerak untuk membalas, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin bertemu dengan Robert. Setidaknya, bukan sekarang. Althea akhirnya mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Namun, baru beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Satu pesan baru masuk. Althea menatap layar itu dengan ragu sebelum akhirnya membukanya. "Aku akan menunggumu besok setelah diskusi proyek. Kalau kamu tidak datang, aku akan menganggap kamu memang tidak ingin mendengar penjelasanku." Althea menghela napas. Ia segera men
Althea menatap tangan Robert yang masih menggenggam pergelangan tangannya. Ia segera menarik tangannya dengan sedikit kasar. "Aku rasa kita tidak punya sesuatu untuk dibicarakan, Robert." Robert terdiam sejenak. Tatapannya masih tertuju pada Althea. Ia tersenyum tipis ke arah wanita itu. "Benarkah?" tanyanya pelan. "Setelah dua tahun tidak bertemu, kamu bahkan tidak mau bicara denganku?" Althea menghela napas. Ia melirik ke arah ruang pertemuan yang tidak jauh dari mereka, memastikan tidak ada yang memperhatikan. "Robert, aku sedang bekerja.Jadi, tolong jangan membuat masalah." "Aku tidak berniat membuat masalah." Robert melangkah sedikit mendekat yang membuat Althea buru buru mundur. "Aku hanya ingin tahu kenapa kamu tadi berpura-pura tidak mengenalku." Althea terdiam. Jantungnya kembali berdegup tidak beraturan. "Aku..." Ia menggigit bibir bawahnya. "Itu bukan urusanmu." Robert terdiam, senyuman yang semula menghiasi wajahnya mulai memudar. Digantikan wajah data
"Ingat! Jangan sampai kamu membuat kesalahan!" tegas Naren. Althea hanya mengangguk. Ia segera turun sambil membawa tumpukan berkas yang sudah mereka siapkan di kamar hotel. Naren melangkah lebih dulu, sementara Althea mengikuti dari belakang. Namun, karena membawa terlalu banyak dokumen, langkah Althea menjadi lebih lambat. Ia bahkan tampak kesulitan menjaga agar tumpukan berkas itu tidak jatuh. Sementara itu, Naren sudah berjalan cukup jauh di depannya tanpa menyadari kesulitan yang dialami Althea. "Pak Naren!" panggil Althea. Naren yang sudah beberapa langkah di depan berhenti dan menoleh. Alisnya sedikit terangkat ketika melihat Althea masih berada cukup jauh darinya dengan kedua tangan penuh berkas. "Ada apa?" "Bisa jalan sedikit lebih pelan?" pinta Althea, berusaha mempercepat langkahnya. Naren menatap tumpukan dokumen di tangan wanita itu. Tatapannya kemudian beralih pada Althea yang bahkan hampir tidak bisa melihat jalan karena sebagian berkas menutupi pandangannya. N
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan dengan pesawat dan beberapa menit berkendara menggunakan mobil, Althea dan Naren akhirnya tiba di hotel yang sebelumnya telah dipesan oleh Althea. Begitu turun dari mobil, Naren segera menatap ke arah Althea yang tengah menatap ke bangunan mewah itu. "Kamu sudah pesan kamar untuk saya kan?" tanyanya. Althea menoleh ke arah Naren lalu mengangguk. "Sudah, pak." Naren mengangguk kecil. "Kalau begitu, ayo masuk." Keduanya kemudian berjalan menuju lobi hotel. Althea langsung menuju meja resepsionis untuk melakukan check-in, sementara Naren berdiri tidak jauh darinya sambil memeriksa ponselnya dan menjaga koper besar milik gadis itu. Beberapa saat kemudian, Althea menerima kartu akses dari resepsionis. Ia segera menghampiri Naren. "Ayo, pak," ajaknya. Naren mengangguk, ia segera mengambil kartu akses itu dan berjalan lebih dahulu. Sedangkan Althea segera menarik kopernya dan buru buru menyusul Naren yang sudah hampir sampai di depan







