LOGINBersambung... Besok aku usahakan update lebih 1 bab :)
Hari kelulusan akhirnya tiba.Gedung auditorium sudah penuh dengan para siswa, guru, serta keluarga yang datang membawa bunga dan kamera. Alexa berdiri di antara teman-temannya, jantungnya berdebar penuh campuran gugup dan bahagia. Satu tahun yang melelahkan… akhirnya terbayar. Hari ini ia resmi dinyatakan lulus, bahkan dengan nilai yang membuat banyak orang menoleh.Saat namanya dipanggil untuk menerima sertifikat, tepuk tangan bergemuruh dari seluruh ruangan.Namun satu tepuk tangan, lebih tepatnya dua sosok di barisan depan yang membuat langkah Alexa terhenti sejenak.Ibunya. Dan Theo.Duduk berdampingan.Dan yang membuat Alexa tersentak, Theo mengenakan setelan hitam formal, sangat mirip dengan gaya berpakaian petinggi perusahaan. Sementara Rose berdiri sambil tersenyum bangga… terlalu bangga. Senyuman seorang ibu, ya ... tapi juga… sesuatu yang lain.Alexa menelan ludah. Kenapa mereka tampak sedekat itu?Dan kenapa ibunya tampak… sangat nyaman berada di sampingnya?Setelah upacar
Satu pekan setelah ujian.“Bu… ibu yakin mau aku ikut?” tanya Alexa, langkahnya mengikuti Roselinda yang berjalan anggun memasuki gedung perusahaan. Suara hak stiletto sang ibu memantul lembut di lantai marmer, terdengar sangat profesional mencerminkan statusnya.Meski ini bukan kali pertama Alexa datang ke perusahaan, ada yang berbeda hari ini.Ada rasa canggung… dan sedikit gugup.Rose ingin mengenalkan Alexa pada dunia kerja.Bukan lagi café, bukan lagi restoran.Tapi dunia besar yang suatu hari mungkin akan Alexa pimpin.“Ujianmu sudah selesai, kan?” Rose menoleh sambil tersenyum bangga. “Ibu dengar laporan dari sekolah, nilaimu sangat memuaskan. Itu berita yang bagus.”Alexa mengendurkan langkah, tidak percaya. “Serius? Ibu tidak bercanda?”Rose mengangguk mantap. “Kali ini tidak. Karena itu, sebelum hasil resmi keluar, ibu ingin kamu lihat bagaimana dunia yang akan kamu masuki nanti.”Alexa terdiam sesaat.Kalau selama ini ia cuma jadi pelayan restoran, dunia besar bernama C.J M
Selama masa ujian berlangsung, hari-hari Alexa berjalan seperti mesin. Pagi buta ia bangun, belajar sebentar, lalu berangkat. Malam hari baru ia melihat Theo, itu pun hanya sekilas, di meja makan atau dalam percakapan singkat sebelum ia kembali terbenam dalam buku.Theo pun tak kalah sibuk. Entah proyek apa yang sedang ia tangani, pria itu sering kali menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kerjanya, bahkan lebih larut dari biasanya.Minggu ujian berjalan panjang dan melelahkan.Ketika akhirnya pekan itu berakhir, Alexa merasa seperti baru bebas dari penjara akademik.Ia pulang sekolah lebih cepat dari biasanya, berharap bisa bertemu Theo. Namun ketika membuka pintu rumah, suara keheningan menyergapnya.“Hm? Sepi sekali… Paman pasti bekerja di luar.” gumam Alexa.Setelah meletakkan tas di kamarnya, rasa penasaran merayap begitu saja. Langkahnya mengarah ke ruang kerja Theo, ruangan yang jarang ia masuki kecuali untuk mengantar makanan atau sekadar melihat pria itu mengernyit serius di d
Terbangun dalam dekapan pria yang ia cintai adalah kehangatan paling nyata yang pernah Alexa rasakan, seolah seluruh dunia mengecil hingga hanya menyisakan dada bidang Theo dan lengannya yang melingkari tubuhnya dengan proteksi sempurna. Ada rasa aman yang begitu lembut, seperti selimut tak terlihat yang membalut jiwanya.Saat Alexa membuka mata, remang cahaya pagi merembes masuk melalui celah tirai. Theo masih pulas, namun dekapan itu tetap erat, seolah tubuh mereka sudah tahu cara saling mencari bahkan dalam tidur. Kulit mereka bersentuhan di bawah selimut, hangat dan begitu intim hingga membuat pipinya merona sendiri.Senyum kecil terbit tanpa bisa ia cegah. Semalam… semalam benar-benar gila. Liar. Intens. Dan bodohnya, Alexa menyukai setiap detik dari kebebasan emosional itu.Tanpa sadar ia menggeser tubuhnya, merapat lebih dekat seakan ingin menenggelamkan diri dalam kehangatan Theo. Gerakan kecil itu cukup untuk membuat pria tersebut terjaga. Kelopak matanya terbuka perlahan, mas
Waktu terus berlalu seperti deru angin yang tak memberi jeda. Alexa tenggelam dalam rutinitas barunya, sekolah, belajar, bekerja paruh waktu tanpa benar-benar punya waktu untuk bernafas. Ujian akhir sudah di depan mata, dan Alexa tahu satu hal, ia tidak boleh mempermalukan dirinya lagi. Tidak untuk kedua kalinya.Malam itu, setelah makan malam selesai dan rumah kembali tenang, Alexa duduk bersama Theo di ruang belajar. Buku-buku menumpuk di meja, lembar tugas berserakan, dan pensil warna-warni menjadi saksi betapa keras ia berusaha.Theo menjelaskan materi dengan suara tenang, stabil, dan penuh kesabaran. Cara bicaranya teratur, tidak terburu-buru, setiap kalimatnya terasa jelas dan mudah dipahami. Alexa menatap papan catatan di depannya, tapi fokusnya perlahan memudar ketika pandangannya menangkap profil wajah Theo.Raut serius itu… dingin namun hangat pada saat bersamaan.Sikap tenangnya… terlihat dewasa, penuh kendali.Dan tidak bisa dipungkiri, Theo memang mempesona.Tidak heran,
Sebagai satu-satunya saksi di ruang tamu itu, Alexa berdiri membeku di dekat dinding. Kedua matanya tak pernah lepas dari Theo dan Jaslyn yang kini saling berhadapan, aura pertengkaran memanas di udara seperti listrik yang siap menyambar. Sebenarnya, Alexa hanya ingin memastikan satu hal, apakah Theo menyimpan perasaan pada Jaslyn… atau semua ini sekadar kesalahpahaman bodoh.Sayangnya, jawabannya muncul dengan cara yang sangat… eksplosif.“Jadi ini alasanmu menolakku?” suara Jaslyn meninggi, nadanya seperti pecahan kaca. “Kau lebih memilih gadis kecil itu daripada aku? Oh, aku mengerti sekarang, Theo.” Ia tertawa miring, tawa yang lebih mirip ejekan. “Kau ternyata punya selera aneh. Seorang pedofil, kan? Suka anak-anak?”Alexa nyaris tersedak udara sendiri. Ia bukan lagi anak-anak, usianya sudah sembilan belas tahun, namun ia mengurungkan niat untuk protes dan terus menonton.Sementara Theo hanya menghela nafas, panjang dan penuh kesabaran yang hampir habis. “Kau sudah selesai bicara?







