LOGINAlexa sempat berpikir, dengan cara ini ia bisa membuktikan kalau dirinya cukup menggoda di depan Theo.
Tadi, pria itu memang sempat menatapnya, dan Alexa hampir saja yakin kalau Theo akan bereaksi, mungkin sekadar berkomentar atau bahkan memujinya. Namun ternyata tidak. Tatapan datar itu hanya singgah sebentar sebelum Theo bangkit dari kursinya, lalu tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Alexa sendirian di kolam. Rasa kecewa langsung menyelinap ke dada Alexa. Kepergian Theo begitu saja membuat kata-kata Dylan kembali bergema di kepalanya, 'Alexa tidak cukup menggoda'. Sungguh, itu menusuk jauh lebih dalam dari yang ia kira. Apa benar dirinya tidak menarik sama sekali di mata pria? Padahal, beberapa bulan lagi ia akan berusia sembilan belas tahun. Usia yang menurutnya bukan lagi masa anak-anak. Ia pantas dianggap dewasa. Ia pantas dihargai… bahkan diinginkan. Dengan gerakan malas, Alexa naik ke permukaan. Air menetes dari ujung rambut hingga ke lekuk tubuhnya. Tepat ketika ia menapakkan kaki ke tepi kolam, Theo kembali muncul, kali ini dengan sehelai handuk di tangan. Tanpa basa-basi, pria itu meraih bahunya, lalu membungkus tubuh basahnya dengan kain hangat itu. Refleks, Alexa menggenggam erat handuk agar tidak terlepas. Degup jantungnya mendadak melonjak saat jari-jari Theo menyentuh kulit lengannya, meski hanya sepersekian detik. “Ganti pakaianmu yang basah itu,” ucap Theo dingin, suaranya dalam dan datar seperti biasa. Bibir Alexa sudah terbuka untuk menanggapi, mungkin menggoda, atau malah bentuk protes, sayangnya Theo berbalik lebih cepat. Pria itu meninggalkannya lagi, berjalan santai ke dalam rumah, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Alexa terdiam, menatap punggung lebar itu menghilang di ambang pintu. Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. Ada rasa frustasi sekaligus dorongan nakal yang makin membara. “Aku tidak mungkin menyerah begitu saja,” gumamnya pelan, menggenggam handuk lebih kuat. “Aku akan buktikan kalau aku ini bisa diandalkan… dan juga menggoda.” Tatapan Alexa mengunci pada sosok Theo yang kini tampak berjalan di dalam rumah, membelakanginya. Sudut bibirnya terangkat tipis, menampilkan senyum nakal yang jarang ia tunjukkan. "Sepertinya yang satu ini, boleh juga." pikirnya. Begitu Theo menghilang dari pandangan, Alexa melangkah pelan masuk ke dalam rumah. Handuk masih melingkar di tubuhnya, namun pikirannya sudah jauh berkelana. Ia merasa seperti berperang dengan dirinya sendiri, antara rasa sakit hati yang ditinggalkan Dylan, dan rasa penasaran yang tiba-tiba tumbuh terhadap Theo. Di ruang tengah, aroma daging marinasi yang Theo siapkan masih tercium samar. Alexa menapakkan kaki tanpa suara, matanya tak lepas dari pria itu yang sedang berdiri membelakangi, menyiapkan minuman di meja bar kecil. Bahu lebar itu bergerak ringan tiap kali Theo menuangkan cairan ke gelas. Alexa menggigit bibir bawahnya. Ada sesuatu yang berbeda pada sosok ini, dingin, berjarak, tapi justru itulah yang menarik. Dylan selalu mudah ditebak, penuh gombalan murahan. Sementara Theo… pria itu hampir tidak pernah menunjukkan kelemahan. Alexa melangkah lebih dekat, membiarkan ujung handuknya sedikit terbuka sehingga memperlihatkan pahanya yang masih basah. Ia tahu, ini bukan sekadar tentang membuktikan diri pada Dylan. Ini tentang menguji Theo, apakah pria yang jauh lebih dewasa itu benar-benar kebal terhadap pesonanya. “Paman,” panggil Alexa dengan suara lirih namun sengaja dibuat manja. Theo menoleh sebentar, alisnya terangkat tipis. “Kenapa belum ganti pakaian?” suaranya datar, nyaris seperti teguran. Alexa tersenyum samar, mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut satu langkah. “Aku tidak sempat. Lagipula… bukankah Paman sudah menolongku dengan handuk ini?” Ia menarik ujung kain, menegaskan maksudnya. Theo terdiam. Tatapannya turun sekilas, lalu kembali menancap di mata Alexa. Ada kilatan aneh di sana, antara kesabaran yang diuji dan keengganan untuk terpancing. “Kau bermain dengan api, Alexa,” ucapnya pelan namun tegas. Bukannya mundur, Alexa justru tersenyum lebih lebar. Ia mencondongkan tubuh, hampir bisa merasakan hembusan nafas pria itu di wajahnya. “Mungkin aku memang suka api, Paman.” Sekilas, ada ketegangan yang begitu nyata di antara mereka. Jantung Alexa berdegup liar, menunggu reaksi Theo. Namun alih-alih mendekat, pria itu justru mundur satu langkah, meneguk isi gelasnya sampai habis. “Naik ke atas. Ganti pakaianmu. Sekarang.” Suaranya kali ini berat, nyaris seperti perintah yang tidak bisa dibantah. Alexa mendengus pelan, pura-pura kecewa. Tapi di balik ekspresi itu, hatinya justru bergetar. Theo memang bukan pria sembarangan. Dan itu, justru membuatnya semakin tertarik. "Paman mengatakan penyuka gadis di bawah umur, lantas bagaimana denganku?” goda Alexa, suaranya rendah tapi penuh tantangan. Theo menghentikan gerakannya, gelas yang tadi ia pegang diletakkan ke meja dengan suara gedebuk kecil, cukup untuk membuat suasana seketika menegang. Alexa tidak gentar. Pandangannya tetap menancap pada wajah pria itu, wajah matang yang terlalu tampan untuk diabaikan, rahang tegas, sorot mata tajam, dan aura yang tidak bisa ditiru lelaki seumurannya. Theo menyeringai tipis, dingin. “Kau bukan gadis di bawah umur, Alexa.” Kalimat itu membuat Alexa refleks menelan ludah. Ada kepanikan kecil yang sempat melintas di wajahnya, tapi ia segera mengendalikan diri. Dengan cepat, ia pasang kembali senyum menantang. Satu langkah ia dekati Theo, kepalanya mendongak karena perbedaan tinggi tubuh mereka begitu kontras. “Oh, benarkah? Lalu gadis seperti apa yang Paman suka? Jangan bilang… kau benar-benar seorang pedo?” Tangan Theo terangkat. Alexa sempat kaget, tubuhnya refleks menegang, mata terpejam seolah bersiap menerima tamparan. Namun ternyata, bukan pukulan yang datang. Telunjuk Theo hanya menekan keningnya dengan tenang, mendorongnya mundur beberapa sentimeter. Alexa membuka mata, setengah terkejut, setengah kesal. “Aku tahu kau sedang mencoba menggodaku, Alexa. Kau benar-benar tidak ada takutnya… kalau aku sampai melakukan sesuatu padamu,” ucap Theo, nadanya berat, nyaris seperti peringatan. Bukannya gentar, Alexa malah menaikkan alis, ekspresi wajahnya semakin menantang. Bibirnya membentuk senyum nakal. “Kenapa tidak Paman lakukan saja?” ucapnya berani, nyaris berbisik. “Aku bukan anak kecil. Aku… bisa membuat Paman puas.” Suasana seketika menegang. Udara di antara mereka seperti mengandung listrik. Theo memiringkan kepalanya ke kiri, tatapannya menelusuri wajah Alexa dengan seksama, seolah sedang menimbang apakah ucapan gadis itu hanya gertakan atau memang sungguh-sungguh. “Kau yakin dengan kalimatmu barusan?” suaranya tenang, tapi matanya tajam menusuk. “Yakin kau bisa membuatku puas?” Alexa menegakkan bahunya, rasa percaya dirinya meluap. “Ya,” katanya mantap. “Tentu saja aku bisa.” Theo menahan tawa kecil, matanya menyipit, seolah sedang menguji batas kesombongan Alexa. "Kalau begitu maka buktikan kau bisa membuatku puas." balas Theo dingin dan tajam.Bersambung...
Dylan duduk bersandar di bangku taman belakang sekolah, matanya terpaku pada layar ponselnya. Senyum puas terpampang jelas di wajahnya, senyum seseorang yang merasa menang.“Kau sudah lihat apa yang terjadi?” suara Tiana memecah keheningan.Dylan mengangguk tanpa mengangkat wajah. “Jelas. Alexa pasti dikeluarkan. Siapa yang tidak? Ketahuan tinggal dengan guru sendiri dan bahkan menjalin hubungan? Itu pelanggaran berat.”Tiana menghela nafas, lalu menyandarkan bahunya pada dinding. Ia menatap Dylan seperti menatap anak kecil yang terlalu percaya diri.“Dylan,” gumamnya santai, “kau benar-benar yakin mereka tinggal bersama?”“Aku mengikutinya selama beberapa hari.” Dylan menjawab cepat, penuh keyakinan. “Aku lihat dia keluar dari rumah Theo. Itu sudah cukup bukti.”“Cukup bukti?” Tiana terkekeh mengejek. “Serius? Kau hanya punya foto mereka makan bersama dan Alexa keluar dari rumah itu. Tidak ada yang lebih... sensitif?”Dylan baru mengalihkan perhatian dari ponsel. “Apa maksudmu?”“Mak
Ruang rapat guru mendadak berubah menjadi ruang sidang kecil. Setelah beberapa menit diskusi antar guru, keputusan dijatuhkan, ujian ulang dilakukan hari ini juga, tanpa persiapan, tanpa jeda, tanpa kesempatan pulang untuk mengambil catatan. Alexa hanya mengangguk. Tidak ada rasa takut di wajahnya, yang ada hanyalah api kecil yang menyala di matanya. Theo berdiri sedikit lebih jauh dari meja, menyilangkan tangan di depan dada. Ia tidak ikut campur, tapi sorot matanya mengikuti setiap gerak Alexa. Ada kegelisahan yang ia sembunyikan di balik ekspresi datarnya. “Baik,” ucap kepala sekolah sambil meletakkan satu lembar set soal tebal ke meja panjang. “Ini soal khusus yang tidak digunakan untuk siswa lain. Tidak mudah. Jika kau bisa mengerjakan ini, kami akan mencabut seluruh tuduhan.” Alexa menarik kursi, duduk, dan mengambil pena. Sebelum mulai, ia sempat menatap Theo satu detik. Hanya satu. Cukup untuk melihat bagaimana pria itu menahan nafas, seolah ia sendiri yang akan menjalani
Menuju semester akhir, status Alexa sebagai siswi yang hampir lulus membuatnya tak lagi wajib masuk setiap hari. Jam belajarnya kini lebih fleksibel, tapi tugas tetap saja menumpuk. Hari ini adalah hari pertama sekolah kembali aktif setelah libur musim panas, dan suasana sekolah terasa berbeda… entah kenapa. Alexa berjalan berdampingan dengan Felix memasuki area sekolah. Namun baru saja melewati undakan tangga dari area parkiran, Alexa menangkap tatapan-tatapan aneh dari beberapa siswa. Tatapan panjang, menyipit, penuh penilaian. Awalnya ia mengabaikan, seperti biasa ia memang selalu menjadi pusat perhatian, tapi kali ini tatapan itu terasa berbeda. Lebih… menjurus. Felix ikut memperhatikan ke sekeliling. “Apa kau merasa tatapan mereka agak… aneh hari ini?” bisiknya. Alexa mendengus halus. “Aku juga merasa demikian. Kau tau ada apa?” Felix menggeleng, mengedikan bahu. “Tidak. Ini kan baru hari pertama sekolah buka lagi. Mereka seharusnya sibuk dengan urusan masing-masing.” Tapi ny
Musim panas kali ini berjalan dengan ritme yang berbeda bagi Alexa. Hari-harinya bukan lagi diisi dengan keluhan tanpa arah atau pembangkangan kecil, melainkan rutinitas yang tertata, sebuah dunia baru yang memaksanya tumbuh dewasa lebih cepat dari yang ia bayangkan. Setiap pagi, ia berangkat bekerja paruh waktu. Sesuatu yang dulu terasa menakutkan kini berubah menjadi pengalaman berharga. Alexa mulai memahami bahwa dunia kerja tidak sesederhana yang terlihat, ada tekanan, ada tanggung jawab, ada tuntutan untuk tetap tersenyum meski tubuhnya meminta istirahat. Ia belajar bahwa setiap gaji kecil yang ia terima adalah hasil dari keringat dan waktu, bukan hadiah yang datang begitu saja. Dan begitu pulang, bukannya rebahan seperti remaja kebanyakan, ia langsung beralih pada materi belajar yang sudah Theo susun rapi. Jadwal itu disiplin, detail, hampir seperti jadwal seorang atlet, dan anehnya, Alexa mulai menikmatinya. Ada kepuasan tersendiri saat ia bisa mencentang satu tugas demi satu
“Alexa…” suara Rose terdengar selembut angin sore yang menyapu permukaan kolam. Alexa yang tadinya bersandar santai di kursi panjang segera menoleh. Ia merapatkan sikunya, duduk tegak menghadap sang ibu. Rose ikut duduk di sebelahnya, memperhatikan putrinya dengan senyum hangat yang sudah lama tak ia berikan. “Ibu senang sekali punya waktu lebih banyak denganmu,” kata Rose sambil menepuk ringan tangan Alexa. “Bagaimana kalau siang nanti… kita jalan-jalan berdua?” Alexa mengerjap. “Apa kondisi Ibu sudah lebih baik?” “Sudah,” Rose mengangguk pelan, senyumnya merekah. “Berkat putriku yang pengertian dan selalu setia menjaga. Terima kasih, Sayang… untuk perhatianmu beberapa hari ini.” Belaiannya jatuh lembut di pipi Alexa, hangat, penuh kasih sayang yang selama ini sering tidak terasa karena kesibukan dan jarak di antara mereka. Siang itu, mereka makan bersama di restoran kecil dekat taman. Setelahnya, keduanya memilih duduk di bawah pohon maple besar di tepi danau. Tempat itu sunyi,
Dua hari berlalu.Rose akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Selama ia dirawat, Alexa hampir tidak pernah meninggalkannya. Gadis yang dulunya lebih memilih dunia game dan teman-temannya itu kini duduk di sisi ranjang, membantu Rose makan, bercerita, bahkan sekadar menemani tanpa kata.Perubahan itu begitu terasa. Rose merasakannya seperti hembusan angin hangat di tengah dingin yang panjang.“Alexa,” panggil Rose lembut.Alexa yang sedang mendorong kursi roda ibunya menyahut pelan. “Ya, Bu? Ada yang Ibu perlukan?”Rose tersenyum samar. “Mulai hari ini… kembalilah ke rumah, sayang. Tinggallah bersama Ibu lagi. Sebelum Ibu kembali tenggelam dalam pekerjaan, Ibu ingin menghabiskan waktu denganmu.”Alexa tak menjawab, hanya mengangguk pelan. Tapi Rose merasakan gerakan lembut itu, dan hatinya menghangat.Mobil keluarga membawa mereka pulang. Begitu berhenti di halaman kediaman Moore, Theo langsung turun. Ia bergerak cepat menyiapkan kursi roda, sementara Alexa menopang ibunya yan







