Share

Bab 2

Author: Ges
Keesokan harinya, setelah selesai mencoba gaun pengantin dan pulang ke rumah, ruang tamu terasa sangat ramai.

Calon suami Adikku, Jonathan juga ada di sana.

Di atas meja tersaji lima jenis buah-buahan dan Ayah sampai mengeluarkan satu set cangkir teh yang biasanya tak rela dia pakai.

Sikap mereka pada Jonathan dari dulu selalu sangat baik. Bukan karena takut padanya, tapi mereka berharap kelak dia bisa memperlakukan Adik dengan lebih baik.

Sementara pacarku, Ayah dan Ibu hanya tahu namanya Bayu. Mereka pernah melihat fotonya, tapi belum pernah bertemu langsung.

Setiap kali aku mengusulkan agar kedua belah pihak keluarga bertemu, Ibu selalu bilang,

“Lagipula kalian mau menikah, cepat atau lambat juga bakal ketemu. Yang penting kamu suka.”

Bukan karena sibuk, tapi karena tak peduli. Karena mereka tak peduli padaku, jadi pacar pilihanku pun sama sekali tak mereka hiraukan.

Sama halnya seperti Jonathan, saat melihat aku muncul, dia hanya melirik sekilas, bahkan tak sudi menyapa sepatah katapun.

Bahkan calon menantu yang belum resmi masuk keluarga saja tahu siapa di rumah ini yang bisa diperlakukan semena-mena.

Begitu melihatku, mata Adik langsung berbinar.

“Kak, pas sekali kamu pulang. Ada yang mau Ayah dan Ibu bicarakan.”

Gerakanku saat mengganti sendal pun terhenti, lalu reflek menatap ke arah mereka.

Ayah berdeham pelan.

“Pas sekali kamu sudah pulang dan Jonathan juga ada di sini.”

“Urusan mas kawin sekalian kita perjelas hari ini.”

Sambil berbicara begitu, Ayah mengeluarkan sebuah sertifikat kepemilikan rumah dan menyodorkannya ke hadapan Adik.

“Elis, ini rumah yang Ayah dan Ibu kasih untuk mas kawinmu.”

Kakak juga mengeluarkan sebuah kunci mobil.

“Kalau ini mobil hadiah dari aku untukmu.”

Seketika, Adik terkejut. Dia mengambil semua barang itu, lalu berteriak kegirangan sambil masuk ke pelukan Jonathan.

“Lihat, ini dukungan penuh dari keluargaku.”

“Awas saja kalau kamu nggak baik padaku ke depannya!”

Jonathan tersenyum sambil memeluknya.

“Iya iya, kamu bakal selamanya jadi putri kecil kami semua.”

Aku berjalan ke samping meja, barulah Ibu menatapku.

“Delia, kamu itu kakaknya, rencananya mau kasih hadiah mas kawin apa untuk Elis?”

Tanganku yang sedang memegang gelas air tiba-tiba gemetar.

“Bu, aku mau tanya dulu, mas kawinku… ada apa?”

Seketika, ruang tamu menjadi hening. Pandangan mata Ibu sempat teralih, dia diam saja.

Akhirnya, Ayah yang membuka suara.

“Elis, keadaan ekonomi Ayah dan Ibu terbatas, sudah nggak ada apa-apa lagi di rumah yang bisa dikasih padamu.”

“Elis itu untuk menghidupi dirinya sendiri saja nggak bisa. Pekerjaanmu lebih bagus dari dia, kamu juga lebih dewasa dari dia, jadi nggak perlu membandingkan diri dengannya.”

Jadi, sama-sama mau menikah, hanya gara-gara aku bisa menghidupi diri sendiri, diriku tak mendapatkan apa-apa.

Melihat aku tak berbicara lama, Kakak mulai terlihat kesal.

“Sudahlah Delia, jangan buat malu di depan Adik Ipar. Kamu juga sudah kerja beberapa tahun, masa uang puluhan juta saja nggak ada?”

Mereka sudah memberikan semuanya untuk Adik, tapi masih merasa kurang dan sisanya harus aku yang menambahkan.

Aku menajamkan sudut bibir.

“Elis juga sudah kerja beberapa tahun, terus dia mau kasih mas kawin apa untukku?”

Begitu kalimat itu terucap, wajah Adik langsung memerah, matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku memang nggak sehebat kamu, kalau nggak mau kasih mas kawin, ya sudah…”

Ibu langsung naik pitam.

“Kamu itu Kakaknya, masa minta mas kawin dengan Adik sendiri? Kalau sampai orang luar tahu, apa nggak malu-maluin?!”

“Begini saja, kamu nggak perlu kasih banyak-banyak, cukup sepuluh juta saja!”

Aku menatap tangannya yang menyodor di depanku, lalu menundukkan pandangan.

“Bagaimana kalau aku nggak mau kasih?”

Mungkin karena ini pertama kalinya aku menolak, Ibu sempat terdiam sejenak. Lalu memasang raut wajah yang sangat muram.

“Kalau begitu nggak perlu harap kami bakal datang ke pernikahanmu! Kita lihat siapa yang bakal malu nanti!”

Padahal sedang musim panas, tapi aku merasa seluruh tubuhku sangat dingin.

Tiba-tiba aku teringat tangkapan layar yang dikirimkan pacarku tadi malam.

Itu adalah pesan dari ibunya yang bertanya padanya,

[Delia suka makan daging sapi, nggak? Aku baru belajar resep masakan baru, nih. Kalau Ibu sering kirim pesan ke dia, kira-kira dia bakal terganggu, nggak?]

Foto tangkapan layar itu sudah kusimpan dan kupandangi lama sekali. Bukan karena aku berharap ingin dimanja orang lain, tapi hanya ingin membuktikan bahwa diriku juga layak untuk dicintai.

“Kamu melamun apa, sih?” Tangan ibu melambai-lambai di depanku.

“Dengar nggak?”

“Baiklah, aku kasih.”

Sepuluh juta untuk memutuskan hubungan keluarga dengan mereka, rasanya tak rugi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rumah Baru Untukku   Bab 9

    Saat musim panas berikutnya tiba, aku dinyatakan hamil.Bayu membuatkan sebuah ayunan untukku disamping pohon halaman rumah.Setelah mengikat tali terakhir dengan kencang, dia mencoba duduk di sana lebih dulu.“Sangat kuat dan stabil. Delia, kamu coba dulu.”Aku duduk di sana dan Bayu mengayunku perlahan dari belakang.Angin sore berhembus, terasa sejuk dan menyegarkan.Sejak saat itu, setiap sore aku selalu meluangkan waktu duduk sebentar di halaman rumah.Banyak hal yang terjadi di rumah lama setelah aku pergi.Karena kakak sering mengirim pesan ke ponselku, mungkin dia kira suatu saat aku bakal membacanya.[Ibu sering melamun sendirian di kamarmu. Kalau bisa, teleponlah Ibu sekali saja.][Hidup Elis nggak tenang, dia sering pulang ke rumah sambil menangis.][Ibu sudah belajar banyak resep makanan yang nggak pedas. Dia terus menunggumu pulang.][Delia, kamu masih pulang nggak?]Saat membaca pesan terakhir itu, aku sedang menikmati stroberi yang dibawakan oleh Ibu Mertua.Tanganku sem

  • Rumah Baru Untukku   Bab 8

    Pesan dari Ayah hanya ada satu.[Petinya sudah dibuatkan ulang untukmu, nanti kalau pulang ambil saja.]Dia memang tak suka banyak bicara sejak dulu. Setiap kali terjadi pertengkaran apapun, dia hanya bertindak sebagai pengambil keputusan.Seperti seorang hakim yang membacakan vonis, bedanya dalam ruangan sidang itu, aku selalu jadi pihak yang kalah.Keberaniannya mengirimkan pesan ini menandakan kalau dia sedang menundukkan kepala. Aku paham, tapi tak menerimanya.Aku tak lagi melanjutkan membaca pesan-pesan itu, tapi tak juga memblokir mereka.Karena aku belum tahu bagaimana cara menghadapinya.Hari saat aku menerima pemberitahuan lulus wawancara di perusahaan baru bertepatan dengan hari ulang tahunku.Ibu Mertua memesan sebuah kue ulang tahun yang besar.Di atasnya tertulis, [Bidadari Delia, 18 tahun selamanya.]Dia juga mamasak makanan satu meja penuh. Berulang kali aku mencoba masuk ke dapur untuk membantunya, tapi selalu gagal.Dia terus menolak dan mendorongku keluar.“Kamu pali

  • Rumah Baru Untukku   Bab 7

    Beberapa hari berikutnya, Kakak keluar pagi pulang malam untuk mencari keberadaanku.Dia mendatangi tempat kerja lamaku, memperkenalkan diri dan mengaku sebagai Kakakku.Seorang rekan kerja yang sempat menghadiri pernikahanku menatap Kakak dengan raut wajah yang heran.“Kamu Kakaknya Delia? Nggak salah? Kok aku nggak melihatmu di pernikahannya kemarin?”“Kamu benaran keluarganya?”Kakak seperti tercekik lehernya, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.Pada akhirnya, rekan kerja itu memperlihatkan sebuah video pernikahanku padanya.Saat Kakak berbalik untuk pergi, rekan kerja itu bergumam pelan di belakangnya, “Kakak kandung? Masa pernikahan adik sendiri saja nggak tahu, siapa yang percaya?!”“Duh, sebenarnya bagaimana kehidupan Delia selama ini?”Seketika, langkah Kakak pun berhenti. Dia teringat kejadian sehari sebelum aku pergi meninggalkan rumah.Seluruh orang di rumah memojokkan dan memarahiku, dia sendiri yang memegangi tubuhku dengan kasar, menuduhku telah membuat rumah kacau b

  • Rumah Baru Untukku   Bab 6

    Hari ini adalah hari pernikahan Elis, seluruh anggota keluarga bangun sangat pagi.Sampai akhirnya terdengar teriakan Elis yang panik.“Bu, nggak ada orang di kamar Kakak! Dia belum pulang juga?”Seketika, Ibu terkejut.“Mana mungkin! Bukannya dia menikah hari ini?”Elis menyeret dua selimut pernikahan itu keluar dari kamarku.“Dia nggak membawa apa-apa, bahkan ini juga nggak dibawa.”Kakak mengibaskan tangannya santai, tampak tak peduli.“Nggak perlu panik, dia pasti langsung pergi ke hotel. Sejak kapan dia benar-benar bertengkar dengan orang rumah?”Ibu berusaha mengabaikan perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, lalu ikut mengiyakan.“Elis, cepat beberes, kita pergi ke hotel duluan.”“Pernikahanmu lebih penting.”Rombongan keluarga mereka tiba di hotel, lalu menyebutkan nama ruang perjamuan yang sudah dipesan sebelumnya ke pihak resepsionis.Namun, petugas di sana menatap Elis dengan raut heran.“Bukannya kamu sudah selesai menggelar acara pernikahan kemarin?”“Apa?”Yang pertama

  • Rumah Baru Untukku   Bab 5

    Bayu memikulku turun ke bawah, langkah kakinya begitu tegas sampai-sampai aku tak merasakan guncangan sama sekali.Tak ada acara menahan pintu, tak ada sesi game tantangan.Namun, suasana di belakang kami tetap terasa sangat ramai.Karena Bayu membawa serombongan orang, ada sahabatnya, ada rekan kerjaku, serta teman-teman kami berdua.Mereka tak bertanya apa-apa, semuanya memakai bros bunga di dada sebagai rombongan keluarga pengantin wanita. Di wajah mereka semuanya terpancar senyuman dan doa kebahagiaan.Seorang pemuda berteriak lantang, “Siapa yang memuji pengantin wanita satu kali, aku bagikan uang!”Seketika, aku mendengar begitu banyak doa dan pujian.Pejalan kaki bilang, “Pengantin wanitanya cantik sekali, bidadari dari mana ini?!”Anak kecil bilang, “Kalau sudah besar nanti, aku juga mau menikahi kakak cantik seperti ini.”Ibu-ibu petugas kebersihan ikut menggoda Bayu, “Lihat rombongan keluarga istrinya ramai sekali, nanti kalau sudah menikah jangan berani-berani buat istri ma

  • Rumah Baru Untukku   Bab 4

    Tiga hari sebelum pernikahan, seluruh anggota keluarga larut dalam kesibukan.Ayah sibuk memberitahu kerabat dan teman-teman untuk terakhir kalinya, bangga memberitahu kalau Elis mau menikah.Ibu merapikan mas kawin Adik berulang kali, takut ada satu barang yang terlewat hingga membuat putri kecilnya merasa sedih.Kakak apalagi, selalu siap sedia setiap kali dipanggil. Dia bantu menjemput teman-teman Adik, membantu tanpa mengeluh.Seluruh rumah sibuk setengah mati, tidak ada satu orang pun yang bertanya bagaimana persiapanku atau apakah aku kekurangan sesuatu.Pandanganku tertuju pada meja serbaguna di dekat pintu masuk. Di sana tergeletak sebuah undangan pernikahanku yang sangat mencolok.Seminggu penuh, tak ada satu orang pun yang membuka dan melihatnya. Tak ada juga yang sadar kalau sebenarnya tanggal pernikahanku sudah tidak lagi sama dengan Elis.Mereka sama sekali tak peduli dengan jalannya acara pernikahanku, tak peduli apakah sisa hidupku bakal bahagia atau tidak.Bagi mereka,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status