Short
Rumah Baru Untukku

Rumah Baru Untukku

بواسطة:  Gesمكتمل
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9فصول
150وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Di Kota Batama, setiap kali ada keluarga yang melahirkan anak perempuan, mereka akan menanam sebatang pohon kamper pada tahun tersebut. Saat putrinya menikah nanti, pohon itu akan ditebang dan dijadikan dua peti besar untuk menampung mas kawin, sebagai simbol doa agar pernikahan mereka langgeng. Setengah bulan sebelum hari pernikahanku dan adik perempuanku, kakak laki-laki kami pulang membawa dua peti yang sudah selesai dibuat. Dia bersusah payah membawanya masuk dan mata adik langsung berbinar gembira. Ibu mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang. “Anak kesayangan Ibu sudah mau menikah saja. Padahal rasanya baru kemarin kamu masih anak kecil yang belum dewasa.” Ayah juga mengerutkan kening, nada bicaranya terdengar tegas. “Kalau dia berani bertindak semena-mena dengan Elis, bakal kuhabisi dia!” Tidak ada satu orang pun yang merasa aneh dengan peti itu. Mataku pun menatap ke belakang Kakak. Kosong, tidak ada apa-apa di sana. Aku pun bertanya, “Kak, di mana punyaku?” Kakak terkejut, seolah-oah baru teringat kalau pernikahanku juga diadakan di hari yang sama. “Saat selesai buat satu untuk Elis, ternyata kayunya kurang. Mau bagaimana lagi, jadi pohon milikmu juga ikut kupakai.” Ibu tampak agak kesal. “Sudahlah, sudah terlanjur terpakai, mau bagaimana lagi? Nanti kamu tinggal beli saja dua tas, nggak perlu pasang muka cemberut begitu, mau dikasih lihat ke siapa?” Aku menatap punggung mereka yang sedang mengerumuni adik, lalu teringat pesan yang pernah disampaikan Ayah dan Ibu pada Kakak sebelumnya. “Peti mas kawin anak perempuan itu harus dibuat dengan sungguh-sungguh, soalnya ini menyangkut kebahagiaan seumur hidupnya.” Ternyata, anak perempuan yang mereka maksud tidak termasuk aku. Jika begitu, aku juga tak membutuhkan mereka lagi.

عرض المزيد

الفصل الأول

Bab 1

“Ibu, lihat! Di empat sisi petinya bahkan diukir bunga kamper!”

Ibu mengelus tangannya dengan suara yang agak serak menahan tangis.

“Anak kesayanganku berhak mendapatkan peti mas kawin yang terbaik. Dengan begitu baru kelihatan pantas, kalau nggak nanti bisa dipandang sebelah mata.”

Ternyata Ibu tahu kalau peti kayu kamper untuk pernikahan tidak dIbuat dengan baik, pengantinnya bisa jadi bahan tertawaan.

Namun, saat aku sama sekali tak punya peti, dia tak merasa ada masalah sama sekali. Karena yang ditertawakan adalah aku dan dia hanya tak peduli.

Ayah maju dan mengacak-acak rambut Adik.

“Ayah dan Ibu sudah siapkan mas kawin yang banyak. Di rumah mertua nanti tegakkan kepalamu. Kalau sampai tersakiti sedikit saja, langsung pulang ke rumah.”

Padahal seminggu yang lalu, Ayah baru saja bilang padaku, kalau sudah menikah berarti sudah jadi anggota keluarga lain dan menyuruhku bersabar kalau sampai merasa tertekan.

Aku berdiri di sudut ruang tamu, menatap ukiran pola rumit di peti itu. Tanganku mengepal dan merenggang kembali.

Kalimat ‘bukannya aku juga anak Ayah dan Ibu?’ akhirnya ditelan kembali.

Untuk apa bertanya? Sejak kecil sampai besar sudah tak terhitung berapa kali aku menanyakannya.

Setiap kali jawaban yang kudapatkan selalu sama, “sama hal begini saja mau rebutan?”

Kalimat itu diulang-ulang terus-menerus.

“Adikmu itu fisiknya lemah dari kecil.”

“Kamu itu Kakak, mengalahlah dengannya.”

Aku dan Adik itu kembar, saat lahir aku lebih berat 150 gram dari dia.

Sejak saat itulah, Ayah dan Ibu merasa kalau aku harus selalu mengalah.

Waktu kecil, ekonomi keluarga agak sulit, uang yang ada hanya cukup untuk mendaftarkan satu orang ke camp musim panas. Ibu bilang mengalahlah padanya.

Saat kuliah, aku kerja paruh waktu selama tiga bulan untuk membeli kamera sendiri. Adik menyukainya, Ibu pun bilang mengalahlah padanya.

Sampai akhirnya tanggal pernikahanku ditentukan, dalam hati aku berpikir, akhirnya kali ini aku bisa jadi pemeran utamanya.

Bagaimanapun, pemeran utama perempuan di pernikahan ini hanya diriku, masa hal ini masih harus diikhlaskan untuk dia juga.

Namun, setelah Adik tahu, dia malah bersikeras ingin menikah di hari yang sama denganku.

Jadi, peti mas kawinku pun hilang lagi.

Tak jauh dari sana, Adik masih memeluk lengan Ibu sambil bermanja-manja.

“Ibu, malam ini masakkan ayam goreng cabai dong.”

Ibu tersenyum sambil mencubitnya.

“Dasar kamu, hanya tahu makan saja.”

Adik sudah setengah bulan berturut-turut menentukan masakan, alasannya karena setelah menikah, dia tak bisa lagi mencicipi masakan Ibu.

Dia sangat suka pedas, jadi selama setengah bulan ini setiap masakan di rumah selalu ada cabainya.

Sementara aku punya penyakit lambung dan tak bisa makan pedas.

Di hari pertama Adik memilih menu masakan, aku sempat bilang ke Ibu,

“Lambungku lagi nggak begitu nyaman, bisa buatkan masakan yang nggak pedas? Apa saja boleh.”

Ibu langsung melempar sendok ke meja, suaranya memang tidak keras.

“Emang sudah nasibku begini seumur hidup, melayani orang pun selalu dianggap salah.”

Gara-gara satu kalimat itu, aku jadi orang yang bersalah bagi seluruh keluarga. Tatapan Ayah dan Kakak padaku bahkan rasanya lebih menyakitkan daripada dimaki-maki.

Sejak saat itu, aku hanya ikut makan dan tak pernah komentar lagi.

Kakak tiba-tiba menatapku sambil mengerutkan kening.

“Delia, kamu lagi melamun apa, sih? Sana pergi beli bahan makanan!”

Di rumah ini, sepertinya hanya urusan beli bahan makanan, mengepel lantai dan membuang sampah yang bisa membuat mereka teringat padaku.

Aku membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya hanya berkata pelan,

“Iya, aku pergi sekarang.”

Malam harinya, Ibu memasak tiga menu, ayam goreng cabai, lobster andaliman pedas dan irisan daging kuah pedas.

Satu keluarga makan dengan sangat lahap. Setelah menyedot bumbu lobster, tiba-tiba Adik melihatku.

“Kak, kok kamu hanya makan nasi? Nggak makan lauk?”

Ibu menimbun piring Adik yang sudah penuh seperti gunung itu dengan sesendok irisan daging lagi, lalu melirikku dengan tajam.

“Nggak perlu pedulikan dia, setiap hari gayanya sudah seperti semua orang berhutang budi padanya.”

Kakak juga menatapku dengan tatapan jijik.

“Kalau ada masalah ya dibilang, bisa nggak pasang muka cemberut seperti itu?”

Padahal aku sudah pernah bilang, tapi tak ada yang mau mendengar.

Usai makan, seperti biasa aku mencuci piring di dapur yang minyak cabainya sangat tebal.

Suara gelak tawa terdengar dari ruang tamu, mereka sedang melihat album foto keluarga.

Tiba-tiba, Ayah berkata,

“Mumpung Elis belum menikah, besok kita pergi foto keluarga lagi, yuk.”

Dia mengatakannya saat aku baru keluar dari dapur, langkah kakiku pun terhenti.

“Ayah, besok aku harus pergi mencoba gaun pengantin.”

Ayah bahkan tak mengangkat kelopak matanya sedikitpun.

“Ya sudah, kamu pergi saja.”

Dia mengatakannya dengan sangat santai, tapi rasanya sangat menyakiti hatiku.

Karena dia memang tulus merasa, tanpa kehadiranku pun, itu sudah bisa disebut sebagai foto keluarga.

Aku berbalik dan masuk ke kamar, lalu mengunci pintu.

Pesan dari pacarku masuk.

[Pernikahannya dimajukan satu hari, orang tuamu sudah setuju?]

[Iya, kamu urus saja surat penugasan kerja keluar negerinya, aku bakal ikut denganmu.]

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
9 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status