Share

Bab 3

Author: Ges
Seminggu sebelum pernikahan, Ibu tiba-tiba bilang ingin bertemu dengan Bayu.

Selain rasa terkejut, di dalam hatiku muncul sekilas harapan yang teramat rapuh.

Aku menyusun janji temu di sebuah restoran untuk keesokan harinya di jam makan siang, lalu menyuruh Bayu berpakaian rapi.

Jam sebelas siang aku sudah tiba lebih awal, memesan hidangan demi hidangan satu meja penuh, lalu mulai menunggu.

Jam satu, jam dua, jam tiga.

Pengunjung restoran berganti dari satu rombongan ke rombongan lainnya, hingga lampu-lampu hangat di restoran mulai dinyalakan.

Namun, tidak ada satu orang pun yang datang.

Layar ponselku menyala, Ibu membalas pesanku.

[Delia, ada urusan mendadak hari ini, lain kali saja ketemuannya.]

Di saat yang bersamaan, sebuah pesan masuk di grup keluarga dari Adik.

[Lihat, ini kuku pengantin yang ditemanin Ibu buatnya, bagus?]

Di dalam foto itu terlihat jarinya yang dihiasi taburan kristal hiasan, berkilau di bawah sorotan lampu hingga membuat mataku terasa pedih.

Kakak langsung membalas, [Bagus! Sangat cocok untuk Elis.]

Ayah ikut menimpali, [Cantik, kasihan putriku sampai capek begitu.]

Dengan tangan gemetar, aku meletakkan ponsel.

Ternyata urusan mendadak yang dimaksud Ibu adalah menemani Adik membuat kuku.

Delia oh Delia, apalagi yang sebenarnya kamu harapkan?

Semakin besar harapanmu, semakin dirimu akan terlihat seperti lelucon.

Aku menyapu bersih semua emosi, lalu menggelengkan kepala ke arah Bayu yang menatapku dengan penuh perhatian.

“Aku nggak apa-apa, suruh pelayan sajikan makanannya sekarang saja.”

Mata Bayu tampak penuh rasa iba.

“Sehari setelah pernikahan selesai, kita langsung terbang ke Swi saja. Kita nggak perlu kembali lagi ke depannya.”

Aku tersenyum sambil mengangguk.

“Iya, nggak perlu kembali lagi.”

Saat pulang ke rumah, suasana ruang tamu tampak berantakan.

Satu keluarga sedang sibuk. Ayah sibuk memasukkan barang-barang ke dalam peti mas kawin, menekannya berkali-kali, tapi tetap saja tak muat semua.

Dua peti besar sudah terisi penuh dan di lantai masih tersisa beberapa set sprei dan selimut.

Ada yang untuk musim panas, untuk musim dingin, semuanya merah menyala.

“Elis, sisanya ini nanti dibawa terpisah, ya.”

Ibu berbalik dan melihatku, matanya malah tampak menyalahkan.

“Kok baru pulang sekarang? Sudah mau menikah, tapi setiap hari nggak tahu untuk mempersiapkan apapun.”

Tenggorokanku terasa kering.

“Aku menunggu kalian sampai jam 4 sore hari ini.”

Wajah Ibu langsung memuram.

“Bukannya sudah kubilang ada urusan mendadak?! Setiap hari aku sibuk ke sana kemari mengurus pernikahan kalian, jangankan dengar ucapan terima kasih darimu, malah setiap hari harus melihat muka cemberutmu terus!”

“Buat kuku juga termasuk urusan mendadak?”

Usai aku bicara, Kakak tiba-tiba berdiri dan membentak keras,

“Delia, Ibu itu seharian nggak istirahat demi membelikan perlengkapan nikah untuk kalian! Barangnya dari tadi sudah ditata dan ditaruh di kamarmu!”

“Kok kamu masih saja mempermasalahkan acara makan siang itu? Kenapa? Umur pacarmu sudah nggak panjang? Sampai nggak bisa menunggu setelah menikah?”

Aku langsung menatapnya dengan tak percaya. Kakak kandungku sendiri sanggup mengatakan kata-kata sejahat dan sekejam itu pada pria yang sebentar lagi akan menikah denganku.

Seketika, ruang tamu menjadi hening, hanya tersisa suara isak tangis Ibu.

Pemandangan ini terasa sangat familiar. Aku kembali menjadi orang yang bersalah di rumah ini.

Kalau dulu dalam situasi seperti ini, aku pasti akan langsung minta maaf dan mengakui kalau diriku yang salah.

Namun sekarang, aku hanya merasa lelah. Sungguh merasa sangat lelah dari lubuk hati terdalam.

Aku tak berbicara lagi dan berbalik masuk ke dalam kamar.

Di samping ranjang ada dua selimut pernikahan. Aku mencoba mencari ke sudut-sudut lain, tapi tidak ada apa-apa lagi.

Inilah mas kawin yang disiapkan Ibu sampai-sampai katanya tak sempat beristirahat.

Di dalam kamar yang kosong ini, dua bungkusan merah itu terlihat sangat mencolok, seolah-olah sedang menyindirku dalam diam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rumah Baru Untukku   Bab 9

    Saat musim panas berikutnya tiba, aku dinyatakan hamil.Bayu membuatkan sebuah ayunan untukku disamping pohon halaman rumah.Setelah mengikat tali terakhir dengan kencang, dia mencoba duduk di sana lebih dulu.“Sangat kuat dan stabil. Delia, kamu coba dulu.”Aku duduk di sana dan Bayu mengayunku perlahan dari belakang.Angin sore berhembus, terasa sejuk dan menyegarkan.Sejak saat itu, setiap sore aku selalu meluangkan waktu duduk sebentar di halaman rumah.Banyak hal yang terjadi di rumah lama setelah aku pergi.Karena kakak sering mengirim pesan ke ponselku, mungkin dia kira suatu saat aku bakal membacanya.[Ibu sering melamun sendirian di kamarmu. Kalau bisa, teleponlah Ibu sekali saja.][Hidup Elis nggak tenang, dia sering pulang ke rumah sambil menangis.][Ibu sudah belajar banyak resep makanan yang nggak pedas. Dia terus menunggumu pulang.][Delia, kamu masih pulang nggak?]Saat membaca pesan terakhir itu, aku sedang menikmati stroberi yang dibawakan oleh Ibu Mertua.Tanganku sem

  • Rumah Baru Untukku   Bab 8

    Pesan dari Ayah hanya ada satu.[Petinya sudah dibuatkan ulang untukmu, nanti kalau pulang ambil saja.]Dia memang tak suka banyak bicara sejak dulu. Setiap kali terjadi pertengkaran apapun, dia hanya bertindak sebagai pengambil keputusan.Seperti seorang hakim yang membacakan vonis, bedanya dalam ruangan sidang itu, aku selalu jadi pihak yang kalah.Keberaniannya mengirimkan pesan ini menandakan kalau dia sedang menundukkan kepala. Aku paham, tapi tak menerimanya.Aku tak lagi melanjutkan membaca pesan-pesan itu, tapi tak juga memblokir mereka.Karena aku belum tahu bagaimana cara menghadapinya.Hari saat aku menerima pemberitahuan lulus wawancara di perusahaan baru bertepatan dengan hari ulang tahunku.Ibu Mertua memesan sebuah kue ulang tahun yang besar.Di atasnya tertulis, [Bidadari Delia, 18 tahun selamanya.]Dia juga mamasak makanan satu meja penuh. Berulang kali aku mencoba masuk ke dapur untuk membantunya, tapi selalu gagal.Dia terus menolak dan mendorongku keluar.“Kamu pali

  • Rumah Baru Untukku   Bab 7

    Beberapa hari berikutnya, Kakak keluar pagi pulang malam untuk mencari keberadaanku.Dia mendatangi tempat kerja lamaku, memperkenalkan diri dan mengaku sebagai Kakakku.Seorang rekan kerja yang sempat menghadiri pernikahanku menatap Kakak dengan raut wajah yang heran.“Kamu Kakaknya Delia? Nggak salah? Kok aku nggak melihatmu di pernikahannya kemarin?”“Kamu benaran keluarganya?”Kakak seperti tercekik lehernya, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.Pada akhirnya, rekan kerja itu memperlihatkan sebuah video pernikahanku padanya.Saat Kakak berbalik untuk pergi, rekan kerja itu bergumam pelan di belakangnya, “Kakak kandung? Masa pernikahan adik sendiri saja nggak tahu, siapa yang percaya?!”“Duh, sebenarnya bagaimana kehidupan Delia selama ini?”Seketika, langkah Kakak pun berhenti. Dia teringat kejadian sehari sebelum aku pergi meninggalkan rumah.Seluruh orang di rumah memojokkan dan memarahiku, dia sendiri yang memegangi tubuhku dengan kasar, menuduhku telah membuat rumah kacau b

  • Rumah Baru Untukku   Bab 6

    Hari ini adalah hari pernikahan Elis, seluruh anggota keluarga bangun sangat pagi.Sampai akhirnya terdengar teriakan Elis yang panik.“Bu, nggak ada orang di kamar Kakak! Dia belum pulang juga?”Seketika, Ibu terkejut.“Mana mungkin! Bukannya dia menikah hari ini?”Elis menyeret dua selimut pernikahan itu keluar dari kamarku.“Dia nggak membawa apa-apa, bahkan ini juga nggak dibawa.”Kakak mengibaskan tangannya santai, tampak tak peduli.“Nggak perlu panik, dia pasti langsung pergi ke hotel. Sejak kapan dia benar-benar bertengkar dengan orang rumah?”Ibu berusaha mengabaikan perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, lalu ikut mengiyakan.“Elis, cepat beberes, kita pergi ke hotel duluan.”“Pernikahanmu lebih penting.”Rombongan keluarga mereka tiba di hotel, lalu menyebutkan nama ruang perjamuan yang sudah dipesan sebelumnya ke pihak resepsionis.Namun, petugas di sana menatap Elis dengan raut heran.“Bukannya kamu sudah selesai menggelar acara pernikahan kemarin?”“Apa?”Yang pertama

  • Rumah Baru Untukku   Bab 5

    Bayu memikulku turun ke bawah, langkah kakinya begitu tegas sampai-sampai aku tak merasakan guncangan sama sekali.Tak ada acara menahan pintu, tak ada sesi game tantangan.Namun, suasana di belakang kami tetap terasa sangat ramai.Karena Bayu membawa serombongan orang, ada sahabatnya, ada rekan kerjaku, serta teman-teman kami berdua.Mereka tak bertanya apa-apa, semuanya memakai bros bunga di dada sebagai rombongan keluarga pengantin wanita. Di wajah mereka semuanya terpancar senyuman dan doa kebahagiaan.Seorang pemuda berteriak lantang, “Siapa yang memuji pengantin wanita satu kali, aku bagikan uang!”Seketika, aku mendengar begitu banyak doa dan pujian.Pejalan kaki bilang, “Pengantin wanitanya cantik sekali, bidadari dari mana ini?!”Anak kecil bilang, “Kalau sudah besar nanti, aku juga mau menikahi kakak cantik seperti ini.”Ibu-ibu petugas kebersihan ikut menggoda Bayu, “Lihat rombongan keluarga istrinya ramai sekali, nanti kalau sudah menikah jangan berani-berani buat istri ma

  • Rumah Baru Untukku   Bab 4

    Tiga hari sebelum pernikahan, seluruh anggota keluarga larut dalam kesibukan.Ayah sibuk memberitahu kerabat dan teman-teman untuk terakhir kalinya, bangga memberitahu kalau Elis mau menikah.Ibu merapikan mas kawin Adik berulang kali, takut ada satu barang yang terlewat hingga membuat putri kecilnya merasa sedih.Kakak apalagi, selalu siap sedia setiap kali dipanggil. Dia bantu menjemput teman-teman Adik, membantu tanpa mengeluh.Seluruh rumah sibuk setengah mati, tidak ada satu orang pun yang bertanya bagaimana persiapanku atau apakah aku kekurangan sesuatu.Pandanganku tertuju pada meja serbaguna di dekat pintu masuk. Di sana tergeletak sebuah undangan pernikahanku yang sangat mencolok.Seminggu penuh, tak ada satu orang pun yang membuka dan melihatnya. Tak ada juga yang sadar kalau sebenarnya tanggal pernikahanku sudah tidak lagi sama dengan Elis.Mereka sama sekali tak peduli dengan jalannya acara pernikahanku, tak peduli apakah sisa hidupku bakal bahagia atau tidak.Bagi mereka,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status