LOGINSaat musim panas berikutnya tiba, aku dinyatakan hamil.Bayu membuatkan sebuah ayunan untukku disamping pohon halaman rumah.Setelah mengikat tali terakhir dengan kencang, dia mencoba duduk di sana lebih dulu.“Sangat kuat dan stabil. Delia, kamu coba dulu.”Aku duduk di sana dan Bayu mengayunku perlahan dari belakang.Angin sore berhembus, terasa sejuk dan menyegarkan.Sejak saat itu, setiap sore aku selalu meluangkan waktu duduk sebentar di halaman rumah.Banyak hal yang terjadi di rumah lama setelah aku pergi.Karena kakak sering mengirim pesan ke ponselku, mungkin dia kira suatu saat aku bakal membacanya.[Ibu sering melamun sendirian di kamarmu. Kalau bisa, teleponlah Ibu sekali saja.][Hidup Elis nggak tenang, dia sering pulang ke rumah sambil menangis.][Ibu sudah belajar banyak resep makanan yang nggak pedas. Dia terus menunggumu pulang.][Delia, kamu masih pulang nggak?]Saat membaca pesan terakhir itu, aku sedang menikmati stroberi yang dibawakan oleh Ibu Mertua.Tanganku sem
Pesan dari Ayah hanya ada satu.[Petinya sudah dibuatkan ulang untukmu, nanti kalau pulang ambil saja.]Dia memang tak suka banyak bicara sejak dulu. Setiap kali terjadi pertengkaran apapun, dia hanya bertindak sebagai pengambil keputusan.Seperti seorang hakim yang membacakan vonis, bedanya dalam ruangan sidang itu, aku selalu jadi pihak yang kalah.Keberaniannya mengirimkan pesan ini menandakan kalau dia sedang menundukkan kepala. Aku paham, tapi tak menerimanya.Aku tak lagi melanjutkan membaca pesan-pesan itu, tapi tak juga memblokir mereka.Karena aku belum tahu bagaimana cara menghadapinya.Hari saat aku menerima pemberitahuan lulus wawancara di perusahaan baru bertepatan dengan hari ulang tahunku.Ibu Mertua memesan sebuah kue ulang tahun yang besar.Di atasnya tertulis, [Bidadari Delia, 18 tahun selamanya.]Dia juga mamasak makanan satu meja penuh. Berulang kali aku mencoba masuk ke dapur untuk membantunya, tapi selalu gagal.Dia terus menolak dan mendorongku keluar.“Kamu pali
Beberapa hari berikutnya, Kakak keluar pagi pulang malam untuk mencari keberadaanku.Dia mendatangi tempat kerja lamaku, memperkenalkan diri dan mengaku sebagai Kakakku.Seorang rekan kerja yang sempat menghadiri pernikahanku menatap Kakak dengan raut wajah yang heran.“Kamu Kakaknya Delia? Nggak salah? Kok aku nggak melihatmu di pernikahannya kemarin?”“Kamu benaran keluarganya?”Kakak seperti tercekik lehernya, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.Pada akhirnya, rekan kerja itu memperlihatkan sebuah video pernikahanku padanya.Saat Kakak berbalik untuk pergi, rekan kerja itu bergumam pelan di belakangnya, “Kakak kandung? Masa pernikahan adik sendiri saja nggak tahu, siapa yang percaya?!”“Duh, sebenarnya bagaimana kehidupan Delia selama ini?”Seketika, langkah Kakak pun berhenti. Dia teringat kejadian sehari sebelum aku pergi meninggalkan rumah.Seluruh orang di rumah memojokkan dan memarahiku, dia sendiri yang memegangi tubuhku dengan kasar, menuduhku telah membuat rumah kacau b
Hari ini adalah hari pernikahan Elis, seluruh anggota keluarga bangun sangat pagi.Sampai akhirnya terdengar teriakan Elis yang panik.“Bu, nggak ada orang di kamar Kakak! Dia belum pulang juga?”Seketika, Ibu terkejut.“Mana mungkin! Bukannya dia menikah hari ini?”Elis menyeret dua selimut pernikahan itu keluar dari kamarku.“Dia nggak membawa apa-apa, bahkan ini juga nggak dibawa.”Kakak mengibaskan tangannya santai, tampak tak peduli.“Nggak perlu panik, dia pasti langsung pergi ke hotel. Sejak kapan dia benar-benar bertengkar dengan orang rumah?”Ibu berusaha mengabaikan perasaan yang mengganjal di dalam hatinya, lalu ikut mengiyakan.“Elis, cepat beberes, kita pergi ke hotel duluan.”“Pernikahanmu lebih penting.”Rombongan keluarga mereka tiba di hotel, lalu menyebutkan nama ruang perjamuan yang sudah dipesan sebelumnya ke pihak resepsionis.Namun, petugas di sana menatap Elis dengan raut heran.“Bukannya kamu sudah selesai menggelar acara pernikahan kemarin?”“Apa?”Yang pertama
Bayu memikulku turun ke bawah, langkah kakinya begitu tegas sampai-sampai aku tak merasakan guncangan sama sekali.Tak ada acara menahan pintu, tak ada sesi game tantangan.Namun, suasana di belakang kami tetap terasa sangat ramai.Karena Bayu membawa serombongan orang, ada sahabatnya, ada rekan kerjaku, serta teman-teman kami berdua.Mereka tak bertanya apa-apa, semuanya memakai bros bunga di dada sebagai rombongan keluarga pengantin wanita. Di wajah mereka semuanya terpancar senyuman dan doa kebahagiaan.Seorang pemuda berteriak lantang, “Siapa yang memuji pengantin wanita satu kali, aku bagikan uang!”Seketika, aku mendengar begitu banyak doa dan pujian.Pejalan kaki bilang, “Pengantin wanitanya cantik sekali, bidadari dari mana ini?!”Anak kecil bilang, “Kalau sudah besar nanti, aku juga mau menikahi kakak cantik seperti ini.”Ibu-ibu petugas kebersihan ikut menggoda Bayu, “Lihat rombongan keluarga istrinya ramai sekali, nanti kalau sudah menikah jangan berani-berani buat istri ma
Tiga hari sebelum pernikahan, seluruh anggota keluarga larut dalam kesibukan.Ayah sibuk memberitahu kerabat dan teman-teman untuk terakhir kalinya, bangga memberitahu kalau Elis mau menikah.Ibu merapikan mas kawin Adik berulang kali, takut ada satu barang yang terlewat hingga membuat putri kecilnya merasa sedih.Kakak apalagi, selalu siap sedia setiap kali dipanggil. Dia bantu menjemput teman-teman Adik, membantu tanpa mengeluh.Seluruh rumah sibuk setengah mati, tidak ada satu orang pun yang bertanya bagaimana persiapanku atau apakah aku kekurangan sesuatu.Pandanganku tertuju pada meja serbaguna di dekat pintu masuk. Di sana tergeletak sebuah undangan pernikahanku yang sangat mencolok.Seminggu penuh, tak ada satu orang pun yang membuka dan melihatnya. Tak ada juga yang sadar kalau sebenarnya tanggal pernikahanku sudah tidak lagi sama dengan Elis.Mereka sama sekali tak peduli dengan jalannya acara pernikahanku, tak peduli apakah sisa hidupku bakal bahagia atau tidak.Bagi mereka,







