공유

Bab 3

작가: Yubo
Namun, pada akhirnya aku tetap terlalu penakut.

Karena tidak punya uang, aku mengambil uang satu juta yang tergeletak di meja dekat pintu masuk.

Itu uang jajan Reina selama seminggu.

Sementara uang jajanku hanya 40 ribu, yang pas-pasan untuk ongkos bus pulang-pergi ke sekolah.

Aku berpikir, setelah pulang nanti aku akan menjelaskannya. Anggap saja aku hanya meminjam uangnya.

Setelah infus selesai, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

Dengan hati-hati aku memasukkan kunci ke lubang pintu, tetapi pintu itu tidak bisa dibuka.

"Ayah! Ibu!"

Saat aku panik mengetuk pintu, pintu rumah sebelah tiba-tiba terbuka.

Stefan berdiri di sana mengenakan piyama, bersandar di kusen pintu, dengan tatapan mengejek.

"Vinna, awalnya waktu aku dengar Reina bilang bahwa demi menarik perhatian Om dan Tante, kamu rela ngelakuin apa saja, aku masih nggak percaya. Tapi sekarang, aku percaya."

Aku buru-buru menggeleng, hendak menjelaskan bahwa alergi ini benar-benar terjadi secara tidak sengaja.

Tak lama kemudian, pintu rumah pun terbuka.

Lampu ruang tamu masih menyala. Reina duduk di sofa sambil terisak.

Ayah dan Ibu menatapku dengan marah, sementara Rafael langsung menarik lenganku dan menyeretku masuk.

"Vinna, ternyata sekarang kamu sudah berani nyuri uang?"

Aku segera menjelaskan, "Bukan begitu. Aku nggak punya uang buat pergi ke rumah sakit, jadi ...."

"Apa pun alasannya, ngambil tanpa izin tetap saja mencuri!"

Ayah menepuk meja dengan keras, seolah langsung menjatuhkan vonis kepadaku.

Aku begitu panik hingga air mataku mengalir. "Aku sebenarnya mau kasih tahu Ayah dan Ibu, tapi kalian semua sudah memblokirku."

Aku menggulung lengan bajuku dan memperlihatkan ruam merah yang belum hilang, beserta obat dan rekam medis dari rumah sakit.

Mereka menyaksikan semua itu dengan tatapan ragu. Nada bicara mereka pun akhirnya sedikit melunak.

"Tapi itu tetap uang kakakmu. Bagaimana mungkin kamu ...."

Aku menundukkan kepala dengan penuh penyesalan.

"Aku anggap ini sebagai utangku kepada Kak Reina. Pasti akan aku kembaliin."

Sambil terus berbicara, pandanganku perlahan mulai kabur lagi.

"Ayah, Ibu, waktu aku sedang diinfus sendirian di rumah sakit, aku sangat berharap kalian ada di sampingku. Meski cuma sebentar ...."

Sekilas rasa iba melintas di mata Ibu. Dia bangkit berdiri, seolah ingin menghiburku.

Namun, Reina langsung menggenggam tangannya.

"Vinna, selama tujuh tahun pertama hidupmu, Ayah dan Ibu hampir setiap hari nemani kamu ke rumah sakit, sementara aku selalu ditinggal sendirian di rumah. Apa itu masih belum cukup?"

Dengan suara tercekat, dia melanjutkan, "Sepertinya justru aku yang seharusnya nggak ada di keluarga ini ...."

"Lebih baik dulu aku benar-benar diculik sindikat penculik anak saja, supaya kalian bisa hidup bahagia sama dia!"

Saat hendak berlari keluar, Rafael langsung memeluknya.

"Reina, Ayah dan Ibu nggak bermaksud begitu. Jangan berpikir macam-macam."

Stefan melangkah masuk dari luar lalu berkata dengan tegas, "Vinna, kamu sendiri pasti tahu kenapa kamu bisa sampai alergi."

Mendengar perkataannya, semua orang serempak menoleh kepadaku.

"Stefan, apa maksud ucapanmu? Jangan-jangan Vinna sengaja bikin dirinya alergi?"

Stefan tidak menjawab. Dia berjalan menuju mangkuk mi instan yang sudah dingin, lalu mengaduknya.

Butiran kacang tanah pun mengapung ke permukaan.

"Vinna, pendapatku tetap sama."

"Mana mungkin ada potongan kacang dalam mi instan?"

"Menurutku, kamu sendiri yang sengaja masukin supaya kamu alergi, supaya Om dan Tante pulang lalu merawatmu."

Hampir tidak ada seorang pun yang meragukan ucapan Stefan.

Aku menggeleng panik dan berulang kali mengatakan bukan aku yang memasukkannya.

Namun, tidak ada yang percaya.

Karena sejak lama mereka sudah memberiku label sebagai anak yang selalu mencari perhatian.

Stefan berdiri, matanya penuh kekecewaan.

"Vinna, dulu waktu kecil kamu nggak seperti ini."

Mendengar itu, Rafael mencibir. "Memang dari kecil dia sudah seperti ini. Setiap kali Reina ikut lomba, dia pasti pingsan."

"Aku nggak sengaja. Waktu itu orangnya terlalu banyak, aku sampai sulit bernapas, jadi ...."

"Benar, kamu memang selalu punya alasan."

Mendengar ucapan Rafael, aku sudah tidak ingin mengatakan apa pun lagi.

Bagaimanapun juga, di telinga mereka, setiap penjelasanku hanyalah pembelaan diri.

Ibu menghela napas, lalu menatap kamarku. "Kebetulan, Reina ingin punya ruang khusus untuk pakaian."

"Kamarmu 'kan berdampingan dengan kamarnya. Nanti dindingnya dibobol saja, lalu dijadikan ruang ganti untuk Reina."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 10

    Ibu segera berkata, "Ibu sudah ngirim uang buatmu, Vinna. Seharusnya cukup, 'kan?"Uang 200 juta masuk ke rekeningku.Perasaanku bercampur aduk."Bu.""Apa Ibu masih ingat waktu aku kelas dua SMP, sekolah ngadain acara piknik dan minta kami bayar 400 ribu?""Ibu bilang itu terlalu mahal, 'kan?""Bahkan saat aku lulus dan kelas ngadain acara perpisahan, Ibu juga nggak ngizinin aku pergi.""Dulu bahkan Ibu bilang, aku sudah ngabisin begitu banyak uang kalian karena sakit."Aku tersenyum lalu mengembalikan uang itu."Aku sudah nggak berani nerima uang Ibu lagi."Mendengar itu, Nenek menangis dan berkata, "Vinna, Nenek akan kasih kamu uang. Pulanglah.""Semua orang sedang menunggumu.""Nggak perlu. Aku cuma seorang peraih nilai tertinggi.""Kalau saja Ayah dan Ibu ngasih sedikit lebih banyak perhatian, mereka pasti tahu bahwa nilai ujian percobaanku selalu berada di peringkat pertama."Setelah menutup telepon, aku menerima surat penyesalan panjang yang ditulis oleh Ibu.Di bagian akhir, di

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 9

    Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah.Aku hanya tahu, begitu turun dari pesawat, ponselku dipenuhi banyak panggilan tak terjawab.Aku tidak menghiraukannya.Sambil membawa tas sendiri, aku berjalan menuju kampus."Vinna, terima kasih sudah memilih kampus kami. Kami pasti akan membimbingmu dengan baik."Aku tidak menyangka rektor datang menjemputku secara langsung, hingga membuatku sedikit tersipu malu."Terima kasih juga karena kampus ini bersedia ngasih pengecualian dan menerima saya lebih awal.""Itu hanya hal kecil."Rektor membawaku menuju gedung asrama.Dia berkata bahwa setelah mengetahui kondisiku, pihak kampus telah mengajukan kamar asrama pribadi untukku.Dia bahkan mentraktirku makan.Kampus juga memberiku sejumlah beasiswa.Dengan uang beasiswa itu, aku membeli berbagai perlengkapan hidup yang kubutuhkan.Setelah berbaring di ranjang baru yang kurapikan sendiri, akhirnya aku bisa merasa tenang dan tidur dengan nyenyak.Namun, getaran ponselku tidak berhenti.Melihat ada

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 8

    Di dalam kamar tidur yang sempit itu hanya terdapat sebuah tempat tidur dan beberapa kotak kardus.Dilihat dari mana pun, kamar ini jelas lebih mirip gudang untuk menyimpan barang-barang lama.Begitu melihatnya, Bibi langsung berteriak, "Kalian biarin Vinna tinggal di tempat seperti ini?""Bukankah Vinna punya kamar sendiri? Di mana kamarnya?"Ibu tersipu malu lalu berkata pelan, "Ka-kamarnya sudah kuubah jadi ruang pakaian Reina."Takut disalahkan oleh semua orang, Ibu buru-buru menjelaskan, "Itu karena Vinna ngambil uang kakaknya, jadi ....""Ngambil uang?""Kenapa Vinna sampai ngambil uang?" tanya Kakek dengan heran.Sementara itu, Nenek mengernyitkan dahi lalu masuk ke dalam kamarku.Di sana, dia melihat selembar catatan medis yang tergeletak di dekat kepala tempat tidur.Tertulis bahwa sepuluh hari sebelumnya, aku menghabiskan hampir satu juta untuk mengobati alergi.Sebelum Nenek sempat mengatakan apa pun, Bibi tiba-tiba berseru, "Ada tulisan di dinding!"Mendengar itu, para wart

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 7

    Setelah memastikan bahwa orang yang hendak diwawancarai para wartawan adalah aku, Ibu menggigit bibir bawahnya dan berkata kesal, "Anak ini, ternyata dia juga ikut ujian masuk perguruan tinggi tahun ini tanpa ngasih tahu kami. Gara-gara dia, kami jadi dipermalukan kayak begini."Setelah mengalami gejolak emosi yang begitu besar, Reina bersandar di pelukan Rafael sambil menangis tanpa henti."Bu, Vinna pasti sengaja ngelakuin ini!""Sudahlah. Terlepas dari dia sengaja atau nggak, Vinna menjadi peraih nilai tertinggi tetaplah kabar baik."Nenek menatap Ibu dengan tidak senang. "Kamu juga. Selama ini, apa kamu nggak pernah datang ke pertemuan orang tua kelas Vinna?""Masa sampai nggak tahu anakmu sudah kelas berapa?"Ibu terdiam. Saat itu barulah mereka teringat, setiap kali aku meminta bantuan soal pelajaran, mereka selalu menunjukkan wajah tidak sabar.Sejak saat itu, aku pun berhenti bercerita kepada mereka.Ketika guru mengatakan akan mengadakan pertemuan orang tua murid, aku selalu m

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 6

    Kamera diarahkan tepat ke layar komputer. Semua orang menantikan detik-detik pengumuman nilai.Pertanyaan tentang berapa nilai yang diperoleh Reina terus terdengar dari berbagai arah.Namun, tiba-tiba Reina tercekat. Dia bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Melihat itu, Ibu membelalakkan mata. "Gimana ... gimana bisa begini?"Ayah berkata panik, "Apa mungkin nilainya salah catat? Ayo kita telepon Dinas Pendidikan."Stefan yang berdiri di belakang belum sempat melihat hasilnya.Sambil tersenyum, dia menjelaskan, "Apa nilainya nggak terlihat? Biasanya nilai peringkat teratas tingkat provinsi memang disembunyikan."Sambil berkata begitu, Stefan menyelip maju ke barisan depan.Begitu melihat angka yang tertera di layar, dia langsung mundur selangkah."Apa mungkin salah masukin nomor peserta ujiannya?"Para wartawan juga terpaku. Mereka mencocokkan foto yang ada di tangan mereka, lalu baru hendak bertanya apakah nama di kartu itu adalah Vinna SubrataTiba-tiba, Kakek dan Nenek d

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 5

    "Kalian nyari siapa?"Ayah dan Ibu saling berpandangan dengan wajah kebingungan.Sekeras apa pun Reina berusaha, mustahil dia bisa masuk universitas terbaik, apalagi sampai membuat para wartawan datang untuk mewawancarainya.Para wartawan itu tersenyum lalu menjelaskan, "Memangnya kalian belum mengecek hasil ujian?""Anak dari keluarga kalian menjadi peraih nilai tertinggi!"Mendengar itu, Reina segera berlari menghampiri mereka.Bibirnya sedikit bergetar. Dia tidak mampu menyembunyikan rasa kagetnya sekaligus kegembiraannya. "Nggak mungkin. Apa kalian nggak salah orang?""Oh, aku tahu. Kalian pasti datang untuk mewawancara Kak Stefan, 'kan?"Dia langsung berlari ke rumah sebelah dan mengetuk pintunya."Kak Stefan, ada wartawan yang mau wawancara kamu!"Teriakannya bukan hanya membuat Stefan keluar, tetapi juga menarik perhatian para penghuni lantai atas dan bawah.Kabar bahwa dari Blok 13 ada seorang siswa peraih nilai tertinggi pun segera menyebar.Setelah Stefan membuka pintu, tatap

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status