แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Yubo
Mendengar itu, sudut bibir Reina terangkat membentuk senyum tipis, tetapi segera disembunyikannya kembali.

"Apa nggak sebaiknya dipikirin lagi? Kalau gitu, nanti Vinna akan tidur di mana?"

"Bukannya masih ada satu kamar kosong? Suruh saja dia pindah ke sana."

Kamar itu sangat kecil dan penuh tumpukan barang.

Aku tidak keberatan. Setelah mengangguk, aku langsung membawa barang-barangku ke gudang.

Rafael dan Stefan bahkan ikut membantuku memindahkan tempat tidur ke sana.

"Tempat ini cuma muat satu tempat tidur?"

Stefan bergumam pelan. Nada suaranya terdengar seperti sedang merasa kasihan kepadaku.

"Vinna, mending kamu minta maaf saja sama kakakmu. Dia orangnya baik, pasti dia akan belain kamu supaya dimaafin."

"Mengambil uangnya tanpa izin memang salahku. Aku sudah minta maaf."

"Bukan itu maksudku. Aku bicara soal kamu sengaja masukin kacang."

"Aku nggak lakuin itu."

Stefan menghela napas. "Jadi maksudmu aku yang masukin?"

Aku terdiam.

Aku duduk di atas tempat tidur dan berkata pelan, "Siapa pun yang masukin, sekarang sudah nggak penting lagi."

"Vinna, kenapa kamu keras kepala banget?"

Aku masih ingat masa kecil kami. Saat itu, Stefan pernah berkata bahwa aku adalah putri kecil yang rapuh dan dia akan selalu melindungiku.

Sayangnya, di masa itu pula, seluruh kasih sayang Ayah dan Ibu sudah tertuju kepada Reina.

Setiap hari, hanya Stefan yang masih menemaniku.

Dia sangat pintar, nilainya selalu berada di tiga besar.

Aku sering mengikutinya ke mana-mana, memintanya mengajariku mengerjakan soal.

Sampai suatu hari, Reina juga mulai sering datang dan minta diajari olehnya.

Stefan kemudian memintaku menunggu karena ingin mengajari Reina lebih dulu.

Tapi setelah itu, aku tidak pernah lagi mendapat giliran.

Sejak saat itu, teman-temanku hanyalah tumpukan soal latihan dan buku-buku pelajaran.

Aku menunduk, menatap pemuda yang sedang berjongkok di hadapanku.

Mata yang dulu begitu jernih itu sudah lama kehilangan cahayanya.

"Sudahlah, nggak apa-apa. Lagi pula, aku juga nggak akan tinggal di sini lebih lama lagi."

Setelah menyuruh Stefan keluar, aku mengambil pena dan kembali menggoreskan satu garis di dinding.

Sepuluh hari lagi, aku akhirnya bisa meninggalkan rumah ini.Keesokan harinya, beberapa pekerja masuk ke kamarku.

Barang-barang yang belum sempat kubereskan dilempar begitu saja keluar.

Ibu tampak sedikit tidak tega. Dia bertanya apakah masih ada barang milikku yang ingin kubawa pergi.

Aku menunduk dan melihat sebuah bando yang tergeletak di lantai.

Bando itu dibelikan Ibu saat usiaku empat tahun, sebelum aku menjalani kemoterapi pertama. Saat itu, Ibu mengajakku pergi ke taman hiburan.

Di sampingnya ada boneka beruang cokelat.

Kala itu, sebelum menjalani operasi besar, aku begitu ketakutan sampai terus menangis dan Rafael memberikannya sebagai hadiah.

Selain itu, ada juga tiga baju keluarga.

Baju-baju itu dibuat saat usiaku enam tahun, ketika dokter mengatakan kondisiku mulai membaik. Ayah dan Ibu begitu bahagia hingga mengajakku membuatnya bersama.

Di atasnya masih tercetak cap telapak tangan kami bertiga dari waktu itu.

….

Semua barang itu selalu kusimpan baik-baik di bagian paling dalam lemari.

Aku menatapnya lama, lalu akhirnya mengalihkan pandangan dan berkata, "Nggak usah. Buang saja."

Dengan mengenakan kaus yang warnanya sudah memudar, aku membantu membawa beberapa kantong besar pakaian Reina ke dalam kamar.

"Semua ini dibeliin Ayah dan Ibu untukku kemarin."

Dia mengangkat alis dengan penuh kemenangan.

Melihat ekspresiku tetap datar, dia berkata lagi dengan kesal, "Lalu, kapan kamu mau kembaliin uang satu jutaku yang kamu pakai?"

"Tiga hari lagi. Aku sudah dapat pekerjaan."

Hari pertama bekerja, aku begitu kelelahan hingga jatuh tersungkur di depan pintu rumah.

Hari kedua, lenganku bahkan tidak sanggup diangkat, tetapi aku tetap memaksakan diri bangun dan berangkat bekerja.

Hari ketiga, aku kembalikan uang satu juta itu kepada Reina.

Dengan santai, dia melemparkan uang itu ke atas meja. Setelah itu, dia bilang dia hendak pergi ke sebuah acara dan menyuruhku menyetrika gaunnya.

Hari keempat, tubuhku mulai terbiasa dengan pekerjaan berat itu. Bos memujiku karena rajin bekerja, bahkan menaikkan upahku seratus ribu.

Hari kelima, mereka berdiskusi mencari guru pembimbing untuk pengisian pilihan universitas Reina. Mereka juga berencana membeli rumah di dekat kampusnya agar nanti dia tidak perlu repot tinggal di asrama.

Hari keenam, seluruh keluarga membahas rencana liburan. Reina berkata agar membeli lima tiket dan mengajak Stefan ikut bersama.

Langkahku terhenti. Saat itu, aku merasa seperti orang asing yang kebetulan melintas dalam dunia mereka.

Reina ampak sangat puas melihatku setiap hari berangkat pagi dan pulang larut malam.

Setiap kali pulang, tubuhku penuh keringat dan bau, seolah baru saja diangkat keluar dari air.

Sementara dia menikmati semangka di ruangan ber-AC sambil menutup hidung dan berkata, "Ih, bau apa ini? Jangan-jangan kamu kerja ngangkut kotoran, ya?"

Mendengar itu, Stefan langsung menyodorkan masker kepada Reina.

Rafael melirikku sekilas lalu bergumam, "Tubuhmu baik-baik saja, 'kan? Masih saja pura-pura sakit."

Aku tidak menjawab.

Karena aku sudah tidak punya tenaga untuk mengatakan apa pun lagi.

Setelah kembali ke kamar dan menggoreskan garis terakhir dengan kuku di dinding, ponselku tiba-tiba berdering.

….

Aku membeli tiket pesawat untuk penerbangan dini hari.

Dengan membawa ransel, aku melangkah keluar kamar tanpa suara.

Aku berdiri di depan pintu rumah dan menatap rumah yang telah kutinggali selama delapan belas tahun itu untuk terakhir kalinya.

Kenangan selama belasan tahun berputar di benakku seperti tayangan yang dipercepat.

Tujuh tahun pertama penuh dengan perhatian, sedangkan sebelas tahun berikutnya dipenuhi pengabaian.

Demi "keadilan" yang selalu dikatakan Ayah dan Ibu, selama ini aku hidup di rumah ini dengan sangat berhati-hati.

Di meja makan, aku tidak pernah berani mengambil daging. Meski keluarga memiliki mobil, aku juga tidak pernah berani minta diantar atau dijemput. Selama sebelas tahun, aku selalu naik bus.

Meski begitu, Reina tetap tidak pernah merasa puas.

Tapi tidak apa-apa. Mulai sekarang, aku sendiri yang akan menentukan hidupku.

Pintu rumah tertutup perlahan, tidak ada seorang pun yang menyadari kepergianku.

Baru ketika para wartawan datang membawa kamera dan mengetuk pintu rumah, mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 10

    Ibu segera berkata, "Ibu sudah ngirim uang buatmu, Vinna. Seharusnya cukup, 'kan?"Uang 200 juta masuk ke rekeningku.Perasaanku bercampur aduk."Bu.""Apa Ibu masih ingat waktu aku kelas dua SMP, sekolah ngadain acara piknik dan minta kami bayar 400 ribu?""Ibu bilang itu terlalu mahal, 'kan?""Bahkan saat aku lulus dan kelas ngadain acara perpisahan, Ibu juga nggak ngizinin aku pergi.""Dulu bahkan Ibu bilang, aku sudah ngabisin begitu banyak uang kalian karena sakit."Aku tersenyum lalu mengembalikan uang itu."Aku sudah nggak berani nerima uang Ibu lagi."Mendengar itu, Nenek menangis dan berkata, "Vinna, Nenek akan kasih kamu uang. Pulanglah.""Semua orang sedang menunggumu.""Nggak perlu. Aku cuma seorang peraih nilai tertinggi.""Kalau saja Ayah dan Ibu ngasih sedikit lebih banyak perhatian, mereka pasti tahu bahwa nilai ujian percobaanku selalu berada di peringkat pertama."Setelah menutup telepon, aku menerima surat penyesalan panjang yang ditulis oleh Ibu.Di bagian akhir, di

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 9

    Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah.Aku hanya tahu, begitu turun dari pesawat, ponselku dipenuhi banyak panggilan tak terjawab.Aku tidak menghiraukannya.Sambil membawa tas sendiri, aku berjalan menuju kampus."Vinna, terima kasih sudah memilih kampus kami. Kami pasti akan membimbingmu dengan baik."Aku tidak menyangka rektor datang menjemputku secara langsung, hingga membuatku sedikit tersipu malu."Terima kasih juga karena kampus ini bersedia ngasih pengecualian dan menerima saya lebih awal.""Itu hanya hal kecil."Rektor membawaku menuju gedung asrama.Dia berkata bahwa setelah mengetahui kondisiku, pihak kampus telah mengajukan kamar asrama pribadi untukku.Dia bahkan mentraktirku makan.Kampus juga memberiku sejumlah beasiswa.Dengan uang beasiswa itu, aku membeli berbagai perlengkapan hidup yang kubutuhkan.Setelah berbaring di ranjang baru yang kurapikan sendiri, akhirnya aku bisa merasa tenang dan tidur dengan nyenyak.Namun, getaran ponselku tidak berhenti.Melihat ada

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 8

    Di dalam kamar tidur yang sempit itu hanya terdapat sebuah tempat tidur dan beberapa kotak kardus.Dilihat dari mana pun, kamar ini jelas lebih mirip gudang untuk menyimpan barang-barang lama.Begitu melihatnya, Bibi langsung berteriak, "Kalian biarin Vinna tinggal di tempat seperti ini?""Bukankah Vinna punya kamar sendiri? Di mana kamarnya?"Ibu tersipu malu lalu berkata pelan, "Ka-kamarnya sudah kuubah jadi ruang pakaian Reina."Takut disalahkan oleh semua orang, Ibu buru-buru menjelaskan, "Itu karena Vinna ngambil uang kakaknya, jadi ....""Ngambil uang?""Kenapa Vinna sampai ngambil uang?" tanya Kakek dengan heran.Sementara itu, Nenek mengernyitkan dahi lalu masuk ke dalam kamarku.Di sana, dia melihat selembar catatan medis yang tergeletak di dekat kepala tempat tidur.Tertulis bahwa sepuluh hari sebelumnya, aku menghabiskan hampir satu juta untuk mengobati alergi.Sebelum Nenek sempat mengatakan apa pun, Bibi tiba-tiba berseru, "Ada tulisan di dinding!"Mendengar itu, para wart

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 7

    Setelah memastikan bahwa orang yang hendak diwawancarai para wartawan adalah aku, Ibu menggigit bibir bawahnya dan berkata kesal, "Anak ini, ternyata dia juga ikut ujian masuk perguruan tinggi tahun ini tanpa ngasih tahu kami. Gara-gara dia, kami jadi dipermalukan kayak begini."Setelah mengalami gejolak emosi yang begitu besar, Reina bersandar di pelukan Rafael sambil menangis tanpa henti."Bu, Vinna pasti sengaja ngelakuin ini!""Sudahlah. Terlepas dari dia sengaja atau nggak, Vinna menjadi peraih nilai tertinggi tetaplah kabar baik."Nenek menatap Ibu dengan tidak senang. "Kamu juga. Selama ini, apa kamu nggak pernah datang ke pertemuan orang tua kelas Vinna?""Masa sampai nggak tahu anakmu sudah kelas berapa?"Ibu terdiam. Saat itu barulah mereka teringat, setiap kali aku meminta bantuan soal pelajaran, mereka selalu menunjukkan wajah tidak sabar.Sejak saat itu, aku pun berhenti bercerita kepada mereka.Ketika guru mengatakan akan mengadakan pertemuan orang tua murid, aku selalu m

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 6

    Kamera diarahkan tepat ke layar komputer. Semua orang menantikan detik-detik pengumuman nilai.Pertanyaan tentang berapa nilai yang diperoleh Reina terus terdengar dari berbagai arah.Namun, tiba-tiba Reina tercekat. Dia bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Melihat itu, Ibu membelalakkan mata. "Gimana ... gimana bisa begini?"Ayah berkata panik, "Apa mungkin nilainya salah catat? Ayo kita telepon Dinas Pendidikan."Stefan yang berdiri di belakang belum sempat melihat hasilnya.Sambil tersenyum, dia menjelaskan, "Apa nilainya nggak terlihat? Biasanya nilai peringkat teratas tingkat provinsi memang disembunyikan."Sambil berkata begitu, Stefan menyelip maju ke barisan depan.Begitu melihat angka yang tertera di layar, dia langsung mundur selangkah."Apa mungkin salah masukin nomor peserta ujiannya?"Para wartawan juga terpaku. Mereka mencocokkan foto yang ada di tangan mereka, lalu baru hendak bertanya apakah nama di kartu itu adalah Vinna SubrataTiba-tiba, Kakek dan Nenek d

  • Rumah yang Tak Pernah Menyambutku   Bab 5

    "Kalian nyari siapa?"Ayah dan Ibu saling berpandangan dengan wajah kebingungan.Sekeras apa pun Reina berusaha, mustahil dia bisa masuk universitas terbaik, apalagi sampai membuat para wartawan datang untuk mewawancarainya.Para wartawan itu tersenyum lalu menjelaskan, "Memangnya kalian belum mengecek hasil ujian?""Anak dari keluarga kalian menjadi peraih nilai tertinggi!"Mendengar itu, Reina segera berlari menghampiri mereka.Bibirnya sedikit bergetar. Dia tidak mampu menyembunyikan rasa kagetnya sekaligus kegembiraannya. "Nggak mungkin. Apa kalian nggak salah orang?""Oh, aku tahu. Kalian pasti datang untuk mewawancara Kak Stefan, 'kan?"Dia langsung berlari ke rumah sebelah dan mengetuk pintunya."Kak Stefan, ada wartawan yang mau wawancara kamu!"Teriakannya bukan hanya membuat Stefan keluar, tetapi juga menarik perhatian para penghuni lantai atas dan bawah.Kabar bahwa dari Blok 13 ada seorang siswa peraih nilai tertinggi pun segera menyebar.Setelah Stefan membuka pintu, tatap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status