تسجيل الدخولIbu segera berkata, "Ibu sudah ngirim uang buatmu, Vinna. Seharusnya cukup, 'kan?"Uang 200 juta masuk ke rekeningku.Perasaanku bercampur aduk."Bu.""Apa Ibu masih ingat waktu aku kelas dua SMP, sekolah ngadain acara piknik dan minta kami bayar 400 ribu?""Ibu bilang itu terlalu mahal, 'kan?""Bahkan saat aku lulus dan kelas ngadain acara perpisahan, Ibu juga nggak ngizinin aku pergi.""Dulu bahkan Ibu bilang, aku sudah ngabisin begitu banyak uang kalian karena sakit."Aku tersenyum lalu mengembalikan uang itu."Aku sudah nggak berani nerima uang Ibu lagi."Mendengar itu, Nenek menangis dan berkata, "Vinna, Nenek akan kasih kamu uang. Pulanglah.""Semua orang sedang menunggumu.""Nggak perlu. Aku cuma seorang peraih nilai tertinggi.""Kalau saja Ayah dan Ibu ngasih sedikit lebih banyak perhatian, mereka pasti tahu bahwa nilai ujian percobaanku selalu berada di peringkat pertama."Setelah menutup telepon, aku menerima surat penyesalan panjang yang ditulis oleh Ibu.Di bagian akhir, di
Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah.Aku hanya tahu, begitu turun dari pesawat, ponselku dipenuhi banyak panggilan tak terjawab.Aku tidak menghiraukannya.Sambil membawa tas sendiri, aku berjalan menuju kampus."Vinna, terima kasih sudah memilih kampus kami. Kami pasti akan membimbingmu dengan baik."Aku tidak menyangka rektor datang menjemputku secara langsung, hingga membuatku sedikit tersipu malu."Terima kasih juga karena kampus ini bersedia ngasih pengecualian dan menerima saya lebih awal.""Itu hanya hal kecil."Rektor membawaku menuju gedung asrama.Dia berkata bahwa setelah mengetahui kondisiku, pihak kampus telah mengajukan kamar asrama pribadi untukku.Dia bahkan mentraktirku makan.Kampus juga memberiku sejumlah beasiswa.Dengan uang beasiswa itu, aku membeli berbagai perlengkapan hidup yang kubutuhkan.Setelah berbaring di ranjang baru yang kurapikan sendiri, akhirnya aku bisa merasa tenang dan tidur dengan nyenyak.Namun, getaran ponselku tidak berhenti.Melihat ada
Di dalam kamar tidur yang sempit itu hanya terdapat sebuah tempat tidur dan beberapa kotak kardus.Dilihat dari mana pun, kamar ini jelas lebih mirip gudang untuk menyimpan barang-barang lama.Begitu melihatnya, Bibi langsung berteriak, "Kalian biarin Vinna tinggal di tempat seperti ini?""Bukankah Vinna punya kamar sendiri? Di mana kamarnya?"Ibu tersipu malu lalu berkata pelan, "Ka-kamarnya sudah kuubah jadi ruang pakaian Reina."Takut disalahkan oleh semua orang, Ibu buru-buru menjelaskan, "Itu karena Vinna ngambil uang kakaknya, jadi ....""Ngambil uang?""Kenapa Vinna sampai ngambil uang?" tanya Kakek dengan heran.Sementara itu, Nenek mengernyitkan dahi lalu masuk ke dalam kamarku.Di sana, dia melihat selembar catatan medis yang tergeletak di dekat kepala tempat tidur.Tertulis bahwa sepuluh hari sebelumnya, aku menghabiskan hampir satu juta untuk mengobati alergi.Sebelum Nenek sempat mengatakan apa pun, Bibi tiba-tiba berseru, "Ada tulisan di dinding!"Mendengar itu, para wart
Setelah memastikan bahwa orang yang hendak diwawancarai para wartawan adalah aku, Ibu menggigit bibir bawahnya dan berkata kesal, "Anak ini, ternyata dia juga ikut ujian masuk perguruan tinggi tahun ini tanpa ngasih tahu kami. Gara-gara dia, kami jadi dipermalukan kayak begini."Setelah mengalami gejolak emosi yang begitu besar, Reina bersandar di pelukan Rafael sambil menangis tanpa henti."Bu, Vinna pasti sengaja ngelakuin ini!""Sudahlah. Terlepas dari dia sengaja atau nggak, Vinna menjadi peraih nilai tertinggi tetaplah kabar baik."Nenek menatap Ibu dengan tidak senang. "Kamu juga. Selama ini, apa kamu nggak pernah datang ke pertemuan orang tua kelas Vinna?""Masa sampai nggak tahu anakmu sudah kelas berapa?"Ibu terdiam. Saat itu barulah mereka teringat, setiap kali aku meminta bantuan soal pelajaran, mereka selalu menunjukkan wajah tidak sabar.Sejak saat itu, aku pun berhenti bercerita kepada mereka.Ketika guru mengatakan akan mengadakan pertemuan orang tua murid, aku selalu m
Kamera diarahkan tepat ke layar komputer. Semua orang menantikan detik-detik pengumuman nilai.Pertanyaan tentang berapa nilai yang diperoleh Reina terus terdengar dari berbagai arah.Namun, tiba-tiba Reina tercekat. Dia bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Melihat itu, Ibu membelalakkan mata. "Gimana ... gimana bisa begini?"Ayah berkata panik, "Apa mungkin nilainya salah catat? Ayo kita telepon Dinas Pendidikan."Stefan yang berdiri di belakang belum sempat melihat hasilnya.Sambil tersenyum, dia menjelaskan, "Apa nilainya nggak terlihat? Biasanya nilai peringkat teratas tingkat provinsi memang disembunyikan."Sambil berkata begitu, Stefan menyelip maju ke barisan depan.Begitu melihat angka yang tertera di layar, dia langsung mundur selangkah."Apa mungkin salah masukin nomor peserta ujiannya?"Para wartawan juga terpaku. Mereka mencocokkan foto yang ada di tangan mereka, lalu baru hendak bertanya apakah nama di kartu itu adalah Vinna SubrataTiba-tiba, Kakek dan Nenek d
"Kalian nyari siapa?"Ayah dan Ibu saling berpandangan dengan wajah kebingungan.Sekeras apa pun Reina berusaha, mustahil dia bisa masuk universitas terbaik, apalagi sampai membuat para wartawan datang untuk mewawancarainya.Para wartawan itu tersenyum lalu menjelaskan, "Memangnya kalian belum mengecek hasil ujian?""Anak dari keluarga kalian menjadi peraih nilai tertinggi!"Mendengar itu, Reina segera berlari menghampiri mereka.Bibirnya sedikit bergetar. Dia tidak mampu menyembunyikan rasa kagetnya sekaligus kegembiraannya. "Nggak mungkin. Apa kalian nggak salah orang?""Oh, aku tahu. Kalian pasti datang untuk mewawancara Kak Stefan, 'kan?"Dia langsung berlari ke rumah sebelah dan mengetuk pintunya."Kak Stefan, ada wartawan yang mau wawancara kamu!"Teriakannya bukan hanya membuat Stefan keluar, tetapi juga menarik perhatian para penghuni lantai atas dan bawah.Kabar bahwa dari Blok 13 ada seorang siswa peraih nilai tertinggi pun segera menyebar.Setelah Stefan membuka pintu, tatap







