Short
Rumah yang Tak Pernah Menyambutku

Rumah yang Tak Pernah Menyambutku

بواسطة:  Yuboمكتمل
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10فصول
0وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Setelah menyelesaikan ujian mata pelajaran terakhir, dari kejauhan aku melihat Ibu sudah berdiri mengenakan pakaian terbaiknya. Saat hendak berlari menghampirinya, kakak kembarku, Reina, sudah lebih dulu berlari dan memeluk Ibu. "Sayang, kamu capek, ya?" Ibu mengusap kepala Reina dengan lembut, sementara kakak laki-lakiku, Rafael, menyodorkan jus dingin yang sudah disiapkan dan dengan sigap mengambil tas sekolahnya. Aku hanya berdiri terpaku di tempat, memandangi ibu dan Rafael yang berjalan di sisi kanan dan kiri Reina, seolah melindunginya sambil membawanya masuk ke mobil pribadi. Tepat ketika mobil hendak melaju, Reina tiba-tiba berseru, "Eh, masih kurang satu orang." Aku kira, yang dimaksud adalah aku, jadi aku segera mempercepat langkah menghampiri mereka. Tak kusangka, dia justru melambaikan tangan ke arah belakangku. "Kak Stefan, di sini!" Setelah sahabat masa kecil kami, Stefan Janitra, naik ke mobil, barulah mereka menyadari bahwa aku masih berdiri di samping pintu mobil. "Vinna, kok kamu ada di sini? Bukannya kamu satu tingkat di bawah kakakmu?" Karena kondisi kesehatanku, aku masuk sekolah setahun lebih lambat daripada Reina. Setelah kesehatanku pulih, perhatian mereka sepenuhnya beralih kepadanya. Sampai-sampai mereka tidak tahu bahwa aku sudah melompati satu tingkat.

عرض المزيد

الفصل الأول

Bab 1

Melihat wajah mereka yang penuh kebingungan, aku hanya tersenyum dan berkata, "Aku datang buat kasih selamat pada Kak Reina."

"Baik banget kamu. Uang buat naik busnya cukup, nggak? Kalau kurang, Ibu kasih."

Aku menatap uang empat ribu di tangan Ibu, lalu menundukkan kepala dan menjawab pelan, "Cukup, Bu."

Pintu mobil pun langsung tertutup tanpa keraguan.

Saat aku mengangkat kepalaku lagi, bahkan jejak asap knalpot mobil itu pun sudah menghilang.

Aku mengusap hidungku yang mulai terasa perih, lalu mengeluarkan ponsel dan mencari:

[Apakah bisa mulai kuliah lebih awal di Universitas Altara?]

….

Seperti biasanya, aku pulang naik bus.

Sopir bus melihatku dan sempat tertegun. "Nak, habis ujian masuk perguruan tinggi, kok nggak ada yang jemput?"

Aku tersenyum sambil menggeleng, lalu memilih duduk di kursi dekat jendela.

Ponselku bergetar. Ada pesan dari Ibu.

Katanya, ujian Reina berjalan cukup baik dan malam ini seluruh keluarga akan makan malam di hotel bintang lima.

Aku menatap kata "seluruh keluarga" itu cukup lama, lalu membalas:

[Busku akan sampai di rumah lima belas menit lagi.]

Di seberang sana, tampak pesan beberapa kali dihapus dan diketik ulang, sebelum akhirnya terkirim satu kalimat.

[Kamu nggak usah ikut, ya. Nanti kalau giliran kamu yang ujian, Ibu akan ajak kamu makan berdua.]

Aku menatap kartu peserta ujian di tanganku. Saat masih ragu apakah harus memberi tahu Ibu bahwa tahun ini aku juga mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, sebuah pesan dari Rafael masuk.

[Vinna, kamu juga sudah besar. Harusnya kamu sudah mengerti, 'kan?]

[Sebelum kamu umur tujuh tahun, kondisi kesehatanmu buruk, jadi perhatian seluruh keluarga selalu tertuju sama kamu.]

[Hari ini hari penting bagi Reina karena dia baru selesai ujian masuk universitas. Jadi, jangan bertengkar sama dia.]

[Lagi pula, kamu sudah terlalu banyak berutang sama dia.]

Rasa tak berdaya kembali menyelimutiku. Aku tahu Rafael pasti akan mengungkit lagi kejadian saat usiaku tujuh tahun, ketika Reina hampir diculik.

Semua itu hanya karena hari itu aku tiba-tiba pingsan saat pertunjukan Reina.

Tanpa ragu, Ibu langsung menggendongku dan meninggalkan bangku penonton.

Saat aku tersadar lagi, yang kulihat hanya mata Ibu yang bengkak karena menangis.

"Reina hilang."

"Kamu sengaja, 'kan? Ibu sudah begitu perhatiannya ke kamu, kenapa kamu nggak bisa duduk saja baik-baik sama Ibu nonton pertunjukan Reina?"

Tiga hari kemudian, Reina akhirnya ditemukan. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ibu.

Aku memberanikan diri mendekat, berniat memberikan boneka kesayanganku kepadanya.

Namun, Rafael justru mendorongku dengan keras.

"Mau pura-pura sakit lagi, ya? Cepat pergi!"

Sejak hari itu, aku dicap sebagai anak yang selalu mencari perhatian.

Reina yang berhasil kembali dengan selamat mendapatkan seluruh perhatian dan kasih sayang keluarga.

Sementara aku di rumah bagaikan orang yang tidak terlihat.

Bahkan ketika aku benar-benar sakit, mereka tetap menganggapku hanya berpura-pura.

"Kamu sudah sembuh sejak lama. Mau pakai cara yang sama lagi buat nakut-nakutin kami?"

"Selama tujuh tahun pertama, seluruh keluarga selalu ngurusin kamu. Sekarang kami harus kasih perhatian itu sama Reina."

"Itu baru adil."

Lamunanku kembali pada kenyataan.

Aku menarik napas panjang, menahan rasa perih di hidung, dan membalas dengan satu kata saja, [Baik.]

Saat turun dari bus, mobil keluarga kebetulan melintas di depanku.

Kaca mobil perlahan diturunkan. Aku melihat Reina mengenakan gaun putri, bersandar dalam pelukan Ibu sambil tersenyum begitu ceria.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
10 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status