تسجيل الدخولSetelah menyelesaikan ujian mata pelajaran terakhir, dari kejauhan aku melihat Ibu sudah berdiri mengenakan pakaian terbaiknya. Saat hendak berlari menghampirinya, kakak kembarku, Reina, sudah lebih dulu berlari dan memeluk Ibu. "Sayang, kamu capek, ya?" Ibu mengusap kepala Reina dengan lembut, sementara kakak laki-lakiku, Rafael, menyodorkan jus dingin yang sudah disiapkan dan dengan sigap mengambil tas sekolahnya. Aku hanya berdiri terpaku di tempat, memandangi ibu dan Rafael yang berjalan di sisi kanan dan kiri Reina, seolah melindunginya sambil membawanya masuk ke mobil pribadi. Tepat ketika mobil hendak melaju, Reina tiba-tiba berseru, "Eh, masih kurang satu orang." Aku kira, yang dimaksud adalah aku, jadi aku segera mempercepat langkah menghampiri mereka. Tak kusangka, dia justru melambaikan tangan ke arah belakangku. "Kak Stefan, di sini!" Setelah sahabat masa kecil kami, Stefan Janitra, naik ke mobil, barulah mereka menyadari bahwa aku masih berdiri di samping pintu mobil. "Vinna, kok kamu ada di sini? Bukannya kamu satu tingkat di bawah kakakmu?" Karena kondisi kesehatanku, aku masuk sekolah setahun lebih lambat daripada Reina. Setelah kesehatanku pulih, perhatian mereka sepenuhnya beralih kepadanya. Sampai-sampai mereka tidak tahu bahwa aku sudah melompati satu tingkat.
عرض المزيدIbu segera berkata, "Ibu sudah ngirim uang buatmu, Vinna. Seharusnya cukup, 'kan?"Uang 200 juta masuk ke rekeningku.Perasaanku bercampur aduk."Bu.""Apa Ibu masih ingat waktu aku kelas dua SMP, sekolah ngadain acara piknik dan minta kami bayar 400 ribu?""Ibu bilang itu terlalu mahal, 'kan?""Bahkan saat aku lulus dan kelas ngadain acara perpisahan, Ibu juga nggak ngizinin aku pergi.""Dulu bahkan Ibu bilang, aku sudah ngabisin begitu banyak uang kalian karena sakit."Aku tersenyum lalu mengembalikan uang itu."Aku sudah nggak berani nerima uang Ibu lagi."Mendengar itu, Nenek menangis dan berkata, "Vinna, Nenek akan kasih kamu uang. Pulanglah.""Semua orang sedang menunggumu.""Nggak perlu. Aku cuma seorang peraih nilai tertinggi.""Kalau saja Ayah dan Ibu ngasih sedikit lebih banyak perhatian, mereka pasti tahu bahwa nilai ujian percobaanku selalu berada di peringkat pertama."Setelah menutup telepon, aku menerima surat penyesalan panjang yang ditulis oleh Ibu.Di bagian akhir, di
Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah.Aku hanya tahu, begitu turun dari pesawat, ponselku dipenuhi banyak panggilan tak terjawab.Aku tidak menghiraukannya.Sambil membawa tas sendiri, aku berjalan menuju kampus."Vinna, terima kasih sudah memilih kampus kami. Kami pasti akan membimbingmu dengan baik."Aku tidak menyangka rektor datang menjemputku secara langsung, hingga membuatku sedikit tersipu malu."Terima kasih juga karena kampus ini bersedia ngasih pengecualian dan menerima saya lebih awal.""Itu hanya hal kecil."Rektor membawaku menuju gedung asrama.Dia berkata bahwa setelah mengetahui kondisiku, pihak kampus telah mengajukan kamar asrama pribadi untukku.Dia bahkan mentraktirku makan.Kampus juga memberiku sejumlah beasiswa.Dengan uang beasiswa itu, aku membeli berbagai perlengkapan hidup yang kubutuhkan.Setelah berbaring di ranjang baru yang kurapikan sendiri, akhirnya aku bisa merasa tenang dan tidur dengan nyenyak.Namun, getaran ponselku tidak berhenti.Melihat ada
Di dalam kamar tidur yang sempit itu hanya terdapat sebuah tempat tidur dan beberapa kotak kardus.Dilihat dari mana pun, kamar ini jelas lebih mirip gudang untuk menyimpan barang-barang lama.Begitu melihatnya, Bibi langsung berteriak, "Kalian biarin Vinna tinggal di tempat seperti ini?""Bukankah Vinna punya kamar sendiri? Di mana kamarnya?"Ibu tersipu malu lalu berkata pelan, "Ka-kamarnya sudah kuubah jadi ruang pakaian Reina."Takut disalahkan oleh semua orang, Ibu buru-buru menjelaskan, "Itu karena Vinna ngambil uang kakaknya, jadi ....""Ngambil uang?""Kenapa Vinna sampai ngambil uang?" tanya Kakek dengan heran.Sementara itu, Nenek mengernyitkan dahi lalu masuk ke dalam kamarku.Di sana, dia melihat selembar catatan medis yang tergeletak di dekat kepala tempat tidur.Tertulis bahwa sepuluh hari sebelumnya, aku menghabiskan hampir satu juta untuk mengobati alergi.Sebelum Nenek sempat mengatakan apa pun, Bibi tiba-tiba berseru, "Ada tulisan di dinding!"Mendengar itu, para wart
Setelah memastikan bahwa orang yang hendak diwawancarai para wartawan adalah aku, Ibu menggigit bibir bawahnya dan berkata kesal, "Anak ini, ternyata dia juga ikut ujian masuk perguruan tinggi tahun ini tanpa ngasih tahu kami. Gara-gara dia, kami jadi dipermalukan kayak begini."Setelah mengalami gejolak emosi yang begitu besar, Reina bersandar di pelukan Rafael sambil menangis tanpa henti."Bu, Vinna pasti sengaja ngelakuin ini!""Sudahlah. Terlepas dari dia sengaja atau nggak, Vinna menjadi peraih nilai tertinggi tetaplah kabar baik."Nenek menatap Ibu dengan tidak senang. "Kamu juga. Selama ini, apa kamu nggak pernah datang ke pertemuan orang tua kelas Vinna?""Masa sampai nggak tahu anakmu sudah kelas berapa?"Ibu terdiam. Saat itu barulah mereka teringat, setiap kali aku meminta bantuan soal pelajaran, mereka selalu menunjukkan wajah tidak sabar.Sejak saat itu, aku pun berhenti bercerita kepada mereka.Ketika guru mengatakan akan mengadakan pertemuan orang tua murid, aku selalu m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.