Share

Terlalu Cemburu

Penulis: YuRa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-20 21:19:55

Sudah satu bulan sejak Haris salah sebut nama, sejak itu pula Esti selalu beralasan ketika Haris mengajak berhubungan.

“Kenapa sih kamu selalu menghindar? Selalu saja ada alasan, sekarang alasanmu apa lagi?” tanya Haris dengan kesal.

Esti hanya terdiam. Ia tahu kalau ia salah karena sudah menolak ajakan suaminya. Tapi hatinya sangat sakit ketika mengingat kejadian waktu itu.

“Kamu itu istri durhaka dan Allah akan marah karena menolak ajakan suami. Apa yang akan kamu lakukan tidak berkah karena suami tidak ridho. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku cari lagi.” Haris mendengus kesal. Nafsu sudah di ubun-ubun tapi Esti malah menghindar.

“Silahkan kalau mau cari lagi,” sahut Esti dengan tenang.

“Kamu menantangku? Masih banyak perempuan yang mau denganku. Aku masih gagah. Apa kamu pikir aku tidak mampu mencari perempuan lain?” ejek Haris sambil menatap sinis ke arah Esti.

“Termasuk Indah? Apakah Indah yang akan kamu cari untuk melampiaskan nafsumu?”

“Mengapa selalu kamu kait-kaitkan d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Jangan Tergoda

    “Pak Haris, ada yang mencari Bapak,” ujar seorang pegawai sambil berdiri di ambang pintu.Haris yang tengah berkutat dengan laporan kerjanya mendongak. “Siapa?” tanyanya, sedikit terganggu namun penasaran.Namun saat ia menoleh penuh, pegawai itu sudah tidak ada di sana. Hanya terdengar suaranya dari kejauhan, sibuk berbicara di telepon.“Siapa ya? Jangan-jangan… Widya?” gumam Haris, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.Ia berdiri, merapikan kemeja, lalu melangkah menuju lobi. Setiap langkah terasa berat, penuh tanda tanya.Dan benar saja… dugaan Haris tepat. Sosok itu berdiri di sana, menunggunya, dengan tatapan yang sulit diterka—antara rindu, penyesalan, dan sesuatu yang tak ingin diucapkan.“Widya? Ngapain kamu ke sini?” tanya Haris, terkejut setengah mati melihat sosok yang selama ini hanya ada di pikirannya.“Mas sudah janji… untuk menemuiku,” jawab Widya lirih, tapi matanya menatap penuh arti.“Tapi aku lagi banyak pekerjaan,” elak Haris, mencoba mengalihkan.

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Jangan Beri Celah

    Haris menunduk, rasa bersalah dan bingung bercampur jadi satu. “Aku janji, Esti. Nggak akan ada apa-apa. Aku nggak akan kasih dia kesempatan untuk berpikir lebih dari sekadar saudara.”Esti menghela napas panjang, lalu berkata pelan, “Aku ingin percaya tapi aku juga ingin kamu sadar, aku nggak mau sakit hati lagi.”Keheningan memenuhi kamar, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan. Namun di hati keduanya, percakapan tadi meninggalkan jejak yang sulit dihapuskan.Esti terdiam sejenak, menatap Haris tanpa berkedip. “Jadi kamu pernah jadi tempat dia curhat tentang rumah tangganya? Tanpa aku tahu?”Haris mengangguk pelan, berusaha meyakinkan. “Tapi itu sudah lama sekali, Esti. Aku cuma mendengar. Aku nggak ada maksud apa-apa.”Esti menarik napas dalam, lalu berkata dengan nada yang tenang tapi mengandung luka, “Mas, kamu tahu kan, perempuan nggak akan curhat masalah rumah tangganya pada laki-laki kecuali dia percaya. Kadang terlalu percaya.”Haris merasa terpojok. “Aku nggak

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Perasaan Ganjil

    Setelah makan, suasana rumah mulai mereda. Piring-piring dikumpulkan, sisa aroma pindang tulang masih menggantung di udara. Esti memilih membantu Dewi membereskan meja, sementara Haris berpamitan sebentar keluar ke teras untuk “menghirup udara segar.” Widya pun tak lama kemudian menyusul dengan alasan ingin menelpon.Esti yang baru selesai mencuci piring menyadari kedua orang itu tak kembali. Perasaan ganjil kembali mengusik. Ia berjalan perlahan ke dekat ruang tamu yang terhubung ke teras, langkahnya hati-hati agar tak menimbulkan suara.Dari balik pintu yang sedikit terbuka, ia mendengar suara Haris.“Sudah lama sekali, ya, aku hampir nggak mengenalimu tadi.”Suara Widya terdengar lirih, namun jelas. “Aku juga nggak menyangka bisa ketemu kamu lagi di sini. Aku sudah pisah dengan Mas Erwin.”Jantung Esti berdetak lebih cepat.“Pisah? Bercerai maksudnya?” kata Esti dalam hati.Haris menarik napas panjang. “Widya, aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu. Semoga kehidupanmu lebih b

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Saudara Jauh

    Haris dan Esti tiba di rumah kecil bercat hijau muda itu saat matahari sore menebarkan cahaya hangat. Aroma masakan tradisional tercium samar dari dapur, menambah rasa rindu yang selalu hadir setiap kali mereka berkunjung."Ibu sehat?" tanya Esti sambil cipika-cipiki dengan Bu Siti, senyumnya tulus meski masih tersisa jejak hati-hati dalam hatinya."Alhamdulillah, Nak, sehat," jawab Bu Siti dengan wajah berbinar. Ada haru yang tak bisa disembunyikan. Sejak Esti menerima kembali Haris setelah luka masa lalu akibat perselingkuhannya, kasih sayang Bu Siti pada menantunya semakin mendalam—campuran antara rasa syukur dan rasa bersalah yang tak pernah diucapkan.Dari arah belakang rumah, Dewi muncul sambil mengusap tangannya dengan lap kecil. "Lho, Esti, sudah lama datangnya?" tanyanya ramah."Belum, Mbak. Baru nyampai kok," jawab Esti ringan, mencoba menjaga suasana tetap hangat.Obrolan pun mengalir tentang hal-hal sederhana—kegiatan sehari-hari, tetangga, dan rencana akhir pekan."Mana M

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Kasus Selesai

    Keesokan harinya, Esti menerima pesan baru.[Aku tidak menginginkan Haris, aku ingin memiliki apa yang ia punya. Kita bicara lagi, Esti. Sendirian.]Esti membaca pesan itu berulang kali. Kali ini jelas, wanita itu tidak mengincar Haris, tapi sesuatu yang lebih berbahaya, kehancuran keluarganya.“Tapi kemarin ia bilang ingin memiliki Haris?” Esti mengernyitkan dahinya.“Ucapannya nggak jelas. Sebenarnya apa maunya ya?”Esti bimbang, ia ingin menemui Maya untuk mengetahui apa keinginan Maya. Tapi disisi lain, ia ingat ucapan Haris untuk tidak bertindak gegabah dan sendirian. Akhirnya Esti memutuskan untuk menemui Maya sendirian.***Pertemuan berikutnya berlangsung di sebuah kafe kecil yang sepi. Esti duduk berhadapan dengan wanita itu, mencoba menyembunyikan kegelisahan.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Esti tanpa basa-basi.Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke kursi, tersenyum dingin. “Aku ingin kau merasakan apa yang pernah aku rasakan. Kau pikir Haris hanya menyakitimu? Dia

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Diuji

    Esti menahan napas, mencoba tetap tenang saat wanita itu semakin mendekat. “Aku tidak ingin membicarakan ini di sini,” ucap Esti singkat, lalu berbalik menuju mobilnya.Esti mencoba mengingat-ingat wajah perempuan itu, sepertinya ia mengenali, tapi masih bingung, siapa dan dimana ia pernah mengenalnya.Wanita itu tersenyum samar, seolah tak terganggu oleh penolakan itu. “Kalau begitu, aku akan datang sendiri, ke tempat yang lebih nyaman. Rumahmu, mungkin?” katanya lirih, tapi cukup jelas untuk membuat Esti merinding.Esti tidak menjawab. Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan pergi secepat mungkin. Namun, rasa tidak nyaman menggelayuti pikirannya sepanjang perjalanan pulang.Malam itu, saat Esti, Haris, dan anak-anak makan malam, suara bel rumah tiba-tiba berbunyi. Haris berdiri hendak membukanya, namun Esti lebih dulu berkata, “Biar aku yang buka.”Ketika pintu terbuka, di sanalah wanita itu berdiri dengan senyum tipis yang menyiratkan sesuatu yang tak terucap.“Boleh aku masuk? Ki

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status