แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Dreamers
Beberapa hari kemudian, Daniel keluar dari rumah sakit setelah dirawat dengan penuh perhatian oleh seluruh keluarga.

Ibu sibuk berkemas, Ayah menyiapkan mobil sampai ke depan pintu masuk rumah sakit lebih awal, takut Daniel harus berjalan terlalu jauh. Sementara Rachel bahkan tidak mengizinkannya memakai sepatu sendiri.

Dalam perjalanan pulang, Ibu menggerutu kesal, "Aldo itu anak macam apa dia! Bahkan sampai keluar dari rumah sakit, menjenguk adiknya sekali pun tidak, apalagi meminta maaf. Tunggu sampai di rumah nanti, aku akan memberinya pelajaran!"

Ayah melirik Ibu sekilas, "Sudah kubilang, membiarkannya berada di rumah itu sebuah petaka. Cepat atau lambat, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi pada keluarga kita.”

Mendengar kata ‘memberinya pelajaran’, perasaanku langsung campur aduk.

Kenangan masa kecil itu tiba-tiba membanjiri pikiranku.

Sejak kecil, Ibu selalu memihak adikku dan memintaku untuk selalu mengalah dengannya.

Itu semua berawal di hari ketika adikku lahir, aku tanpa sengaja menumpahkan air yang menyebabkan Ibu terpeleset hingga harus menjalani persalinan prematur.

Adikku yang dirawat di dalam inkubator, menghancurkan hati seisi keluarga.

Ayahku menamparku begitu keras hingga gendang telingaku pecah, "Dasar anak pembawa sial! Adikmu baru lahir tapi sudah hampir mati gara-gara ulahmu!"

Ibu yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit membuka matanya perlahan. Dia memandangku dengan tatapan penuh kekecewaan.

Pernah suatu hari ketika aku masih duduk di Sekolah Dasar, hanya karena aku dan Daniel bertengkar memperebutkan mobil mainan, ayahku memukuliku sampai aku tidak bisa bangun dari tempat tidur selama tiga hari.

Itu adalah mainan favoritku.

Meskipun sebenarnya mainan itu hanyalah bonus dari mainan yang Ayah beli untuk Daniel ketika dinas, tapi tetap saja itu adalah barang yang paling berharga untukku.

Namun Daniel yang mobil mainannya jelas tidak muat sampai beberapa kotak, sengaja bertengkar denganku untuk merebutnya.

Ketika kami sedang tarik menarik mainan itu, dia tiba-tiba berteriak dan mulai menangis keras.

Ibu langsung memeluk Daniel dengan penuh rasa sayang sambil menangis dan berteriak padaku, "Aldo, adikmu sudah sangat menderita karenamu, apa lagi yang mau kamu lakukan padanya?"

“Bukan aku ....”

Belum sempat aku menjelaskan apa-apa, Daniel dengan air mata yang sudah bercucuran itu berkata dengan suara terisak, “Bu, jangan marah. Ini salahku. Aku seharusnya tidak merepotkan ibu dan bertengkar dengan Kak Aldo karena rebutan mainan.”

Ayah yang baru saja pulang dan melihat pemandangan itu pun langsung memukuliku, “Anak sepertimu ini lebih baik dibuang saja, dibiarkan di rumah juga hanya membawa sial!”

Aku menangis dan meminta ampun kepada Ayah untuk berhenti memukuliku. Namun, semakin aku menangis, Ayah justru semakin mengira aku berpura-pura. Pukulannya kepadaku pun semakin keras.

Ibu dan Kakakku hanya berdiri jauh di sana, menyaksikan aku dipukuli dengan wajah dingin.

Seolah-olah aku adalah penjahat yang memang pantas dipukuli sampai mati.

Sejak hari itu, setiap kali aku membuat Daniel menangis, aku akan dimarahi dan dihujani dengan pukulan oleh Ayah dan Ibuku.

Lambat laun, aku tidak lagi berani untuk bersaing dengan adikku untuk mendapatkan kasih sayang dari mereka. Aku juga tak lagi berani membela diri atau mendekat.

Selalu begitu hingga sekarang, mereka meninggalkanku tergeletak sendirian di atas meja operasi yang dingin.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 9

    Dua minggu kemudian, putusan pengadilan diumumkan.Daniel dijatuhi hukuman mati.Ibuku dijatuhi hukuman penjara seumur hidup disertai pencabutan hak politik seumur hidup.Mungkin dengan terpenuhinya balas dendamku, arwahku menjadi bebas. Aku bisa pergi ke mana pun aku mau, tidak lagi terkurung di sisi ibuku.Di hari-hari terakhirnya, Daniel dikuasai oleh rasa takut akan kematian. Dia bahkan selalu menumpahkan makanan yang dibawakan polisi untuknya setiap hari.Dalam waktu kurang dari seminggu, tubuhnya terlihat menyusut drastis.Jika ini terjadi pada saat dahulu, Ayah, Ibu, dan kakakku pasti sangat sedih dan merasa kasihan. Namun kini, tak seorang pun mau datang mengunjunginya.Pada hari eksekusinya, arwahku melayang tenang di langit dan menyaksikan. Sesaat setelah kematiannya, arwahnya sepertiku, melayang keluar dari tubuhnya. Dia menatapku dengan ketakutan, "Kak Aldo, maafkan aku, aku tahu aku salah, tolong jangan bunuh aku, tolong jangan bunuh aku ...."Aku tersenyum tipis, "Bukanka

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 8

    Mengetahui kebenaran itu, Ayah, Ibu dan Rachel menatap Daniel dengan sorot mata yang tak percaya. Semua orang terdiam, tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan.Ibu yang akhirnya tersadar langsung menerjang Daniel dan mencengkeram pakaiannya dengan erat, "Daniel, dasar pembunuh! Kenapa kamu bisa sekejam itu? Bahkan kamu berani membunuh kakak kandungmu sendiri!" Semakin Ibu berbicara, semakin meledak-ledak juga emosinya. Dia melayangkan tangan dan hendak memukulnya, tetapi polisi segera turun tangan.Selama bertahun-tahun, inilah pertama kalinya aku melihat Ibu ingin memukulnya.Melihat semuanya sudah tak bisa diperbaiki, Daniel menengadah dan tertawa keras. Kemudian dia menoleh ke arah Ibu. Tatapan matanya dingin, tanpa sedikit pun kehangatan, “Aku kejam? Bukankah itu semua yang Ibu ajarkan padaku? Aku pembunuh? Bukankah pada hari kecelakaan itu Ibu yang memanggil semua dokter ke bangsalku, hingga dia tidak sempat dioperasi? Kalau bukan karena Ibu, apa mungkin aku bisa membunuhnya

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 7

    Beberapa hari kemudian, Ibu yang diliputi perasaan bersalah itu mengadakan upacara pemakaman yang layak untukku.Yang hadir tidak hanya beberapa kerabat dan teman, tetapi juga para dokter dari rumah sakit Ibuku.Perawat yang hari itu sempat membantuku juga hadir. Dia membawa seikat bunga dan berjalan ke depan nisanku, lalu berkata dengan suara lirih, “Maafkan aku, kalau waktu itu aku sedikit lebih berani, mungkin kamu tidak akan meninggal.”Di antara semua orang yang hadir, dialah satu-satunya yang pernah menolongku dan juga satu-satunya orang yang meminta maaf padaku. Sebaliknya, Ibuku sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Dia justru mencelaku seolah-olah dengan begitu dosanya akan terhapus, “Aldo ini, sejak kecil selalu membangkang. Kali ini juga karena masalah dendam di masa lalu, dia mau mencelakai adiknya, tapi malah menuai akibatnya sendiri.”Semua orang tahu bahwa Ibu lebih menyayangi adikku. Mereka juga tahu penderitaan yang telah kualami selama bertahun-tahun. Namun tak se

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 6

    Keesokan paginya, Ibu langsung bergegas ke rumah sakit tanpa sempat sarapan. Ayah yang merasa khawatir ikut bersamanya. Dalam perjalanan, Ibu mengeluh kepada Ayah bahwa mereka pergi ke rumah sakit demi hal yang sia-sia. Namun setibanya di rumah sakit dan melihat tubuhku yang terbujur kaku di kamar jenazah, Ibu langsung mundur selangkah dengan wajah pucat. Dia terhuyung-huyung dan berjongkok di dinding seraya memeluk dirinya sendiri erat-erat, "Bagaimana mungkin ini terjadi? Bagaimana bisa jadi seperti ini? Dia terlihat tidak terluka parah hari itu dan fisiknya juga baik-baik saja."Memang aku tampak tidak terluka parah selain lecet kecil di tanganku karena memeluk adikku, selebihnya tidak ada luka yang terlihat lagi. Hanya saja karena aku berbalik untuk memeluk adikku dan melindunginya di bawahku, benturan hebat itu menyebabkan aku mengalami ruptur jantung.Alasan aku terlihat masih sadar dan tampak baik-baik saja adalah karena organ dalamku sudah pecah dan tubuhku berada di ambang ke

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 5

    Mendengar itu, pupil mata Ibu membesar, dan seketika membeku di tempat.Teringat kembali pada kecelakaan mobil hari itu, Ibu mengerutkan kening tampak tak percaya. Dia berkata dengan yakin, "Ini tidak mungkin. Dia dan Daniel berada di mobil yang sama. Daniel saja sudah keluar dari rumah sakit. Bagaimana mungkin dia terluka separah itu?""Jangan kira aku tidak tahu tipu muslihatnya, ya. Dia hanya berusaha mencari perhatianku dan bersaing dengan adiknya untuk mendapatkan kasih sayangku, ‘kan?""Aku peringatkan kalian berdua, hentikan sandiwara ini! Jangan terus bersekongkol dan membuat keributan! Kalau tidak, kalian akan menyesal!"Mendengar Ibu yang sama sekali tidak mempercayainya, perawat itu hanya bisa menghela napas panjang dan berkata dengan pasrah, "Dok, saya benar-benar tidak berbohong. Kalau Dokter tidak percaya, datanglah ke rumah sakit dan lihatlah sendiri di kamar jenazah.”Seketika Ibu menjadi tegang. Dia mondar-mandir di dalam kamarnya. Langkahnya berat dan tergesa, “Dasar

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 4

    Begitu sampai di rumah, Daniel langsung merebahkan diri di sofa. Baru saja dia mengeluh lapar, sang kakak, Rachel langsung bergegas ke dapur dan berkata ingin memamerkan keterampilan memasak yang baru dipelajarinya.Rachel yang tidak pernah menyentuh dapur itu menatap ponselnya untuk mencari berbagai resep masakan bergizi. Dia khawatir jika sedikit saja melakukan kesalahan, maka akan membuat Daniel merasa tidak nyaman.Ayah mengeluarkan konsol gim mewah keluaran terbaru. Katanya itu adalah hadiah khusus untuk merayakan kepulangan Daniel dari rumah sakit. Hadiah karena berhasil lolos dari maut.Ibu membersihkan kamar Daniel dengan telaten, menempatkan berbagai tanaman sehat di dalam dan di luar. Katanya menghirup udara yang segar akan membantu proses pemulihannya.Daniel hanya berbaring nyaman di sofa sambil bermain gim, tetapi dia berhasil menarik perhatian seluruh keluarga.Sementara itu ada arwahku yang juga ikut pulang bersama mereka. Namun tempat yang sangat akrab bagiku ini, selal

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status