แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Dreamers
Begitu sampai di rumah, Daniel langsung merebahkan diri di sofa. Baru saja dia mengeluh lapar, sang kakak, Rachel langsung bergegas ke dapur dan berkata ingin memamerkan keterampilan memasak yang baru dipelajarinya.

Rachel yang tidak pernah menyentuh dapur itu menatap ponselnya untuk mencari berbagai resep masakan bergizi. Dia khawatir jika sedikit saja melakukan kesalahan, maka akan membuat Daniel merasa tidak nyaman.

Ayah mengeluarkan konsol gim mewah keluaran terbaru. Katanya itu adalah hadiah khusus untuk merayakan kepulangan Daniel dari rumah sakit. Hadiah karena berhasil lolos dari maut.

Ibu membersihkan kamar Daniel dengan telaten, menempatkan berbagai tanaman sehat di dalam dan di luar. Katanya menghirup udara yang segar akan membantu proses pemulihannya.

Daniel hanya berbaring nyaman di sofa sambil bermain gim, tetapi dia berhasil menarik perhatian seluruh keluarga.

Sementara itu ada arwahku yang juga ikut pulang bersama mereka. Namun tempat yang sangat akrab bagiku ini, selalu terasa dingin.

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Aku melihat sosok familiar yang ternyata adalah kekasihku, Laura Valencia.

Begitu masuk, dia langsung menanyakan kondisi Daniel, "Om, Tante, aku dengar Daniel sudah pulang dari rumah sakit hari ini. Jadi, aku sengaja datang menjenguk sekalian membeli beberapa suplemen untuk membantu pemulihannya.”

Daniel langsung meletakkan konsol gimnya, dan dengan malu-malu kucing berkata, "Kak Laura, maaf merepotkanmu datang jauh-jauh hanya untuk menjengukku. Aku sudah sembuh, kok."

Laura tersenyum manis padanya. Bidadari yang selalu dingin di hadapanku itu tampak begitu hangat di hadapan Daniel.

Aku memandangnya dengan perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

Tiba-tiba, Laura mengubah nada bicaranya dan bertanya, “Aldo di mana?”

Jika bukan karena Laura yang menyebutkan namaku, mungkin seluruh keluargaku sudah melupakan keberadaanku.

Mendengar namaku disebut, wajah Ibu menjadi muram, "Kenapa harus menyebut-nyebut nama anak kurang ajar itu? Hari itu aku hanya membentaknya sedikit, tapi langsung tidak mau pulang. Tapi tak apa, kalau memang suka di luar, sebaiknya jangan pernah pulang. Rumah ini akan lebih tenang kalau dia mati di luar sana, kami tak perlu membereskan masalah yang ditimbulkannya!"

Laura segera mengangguk setuju, “Tidak pulang juga tidak apa-apa. Supaya tidak mengganggu Daniel beristirahat.”

Rachel muncul membawa suplemen sambil menggoda, "Jadi, kapan kamu akan putus dari Aldo? Jangan lama-lama, nanti Daniel keburu diambil orang, lho.”

Laura menundukkan kepala malu, “Sebenarnya hari ini aku memang berniat menjenguk Daniel sekalian membicarakan hal ini dengan Aldo.”

Rasa perih yang tak bisa dijelaskan meluap dari dadaku hingga ke tenggorokan. Aku tersenyum miris seraya memalingkan wajahku. Aku tidak ingin melihat mereka lagi.

Tidak dicintai. Aku sudah terbiasa dengan itu sejak awal.

Usai makan malam, entah mengapa Ibu tampak diselimuti kegelisahan.

Ibu kembali ke kamarnya sendiri, lalu entah menekan apa pada ponselnya.

Aku mendekat dan melihatnya. Ternyata Ibu sedang mencari nomorku.

Tak lama kemudian, ibu meneleponku berkali-kali. Namun, yang terdengar hanyalah pesan suara.

Setelah beberapa saat, Ibu membanting ponselnya, “Beraninya kamu tidak mengangkat teleponku! Apa kamu benar-benar mengira ada orang yang memedulikanmu?”

Aku sangat ingin mengatakan padanya bahwa aku sudah mati. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa mengangkat telepon darinya?

Tetapi kemudian, dia menelepon perawat di rumah sakit, “Sandiwara apa yang Aldo katakan padamu? Sampaikan padanya, jangan keterlaluan. Cepat pulang dan minta maaf pada adiknya. Dengan begitu, mungkin aku masih mengizinkannya pulang ke rumah!”

Ada keheningan selama beberapa saat di ujung telepon hingga akhirnya perawat itu membuka suara, “Dok, Aldo sudah meninggal seminggu yang lalu. Kecelakaan mobil menyebabkan rupture jantung. Namun pada hari itu, Anda memanggil semua dokter untuk berada di bangsal Daniel sehingga tidak ada dokter yang dapat melakukan operasi untuknya ....”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 9

    Dua minggu kemudian, putusan pengadilan diumumkan.Daniel dijatuhi hukuman mati.Ibuku dijatuhi hukuman penjara seumur hidup disertai pencabutan hak politik seumur hidup.Mungkin dengan terpenuhinya balas dendamku, arwahku menjadi bebas. Aku bisa pergi ke mana pun aku mau, tidak lagi terkurung di sisi ibuku.Di hari-hari terakhirnya, Daniel dikuasai oleh rasa takut akan kematian. Dia bahkan selalu menumpahkan makanan yang dibawakan polisi untuknya setiap hari.Dalam waktu kurang dari seminggu, tubuhnya terlihat menyusut drastis.Jika ini terjadi pada saat dahulu, Ayah, Ibu, dan kakakku pasti sangat sedih dan merasa kasihan. Namun kini, tak seorang pun mau datang mengunjunginya.Pada hari eksekusinya, arwahku melayang tenang di langit dan menyaksikan. Sesaat setelah kematiannya, arwahnya sepertiku, melayang keluar dari tubuhnya. Dia menatapku dengan ketakutan, "Kak Aldo, maafkan aku, aku tahu aku salah, tolong jangan bunuh aku, tolong jangan bunuh aku ...."Aku tersenyum tipis, "Bukanka

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 8

    Mengetahui kebenaran itu, Ayah, Ibu dan Rachel menatap Daniel dengan sorot mata yang tak percaya. Semua orang terdiam, tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan.Ibu yang akhirnya tersadar langsung menerjang Daniel dan mencengkeram pakaiannya dengan erat, "Daniel, dasar pembunuh! Kenapa kamu bisa sekejam itu? Bahkan kamu berani membunuh kakak kandungmu sendiri!" Semakin Ibu berbicara, semakin meledak-ledak juga emosinya. Dia melayangkan tangan dan hendak memukulnya, tetapi polisi segera turun tangan.Selama bertahun-tahun, inilah pertama kalinya aku melihat Ibu ingin memukulnya.Melihat semuanya sudah tak bisa diperbaiki, Daniel menengadah dan tertawa keras. Kemudian dia menoleh ke arah Ibu. Tatapan matanya dingin, tanpa sedikit pun kehangatan, “Aku kejam? Bukankah itu semua yang Ibu ajarkan padaku? Aku pembunuh? Bukankah pada hari kecelakaan itu Ibu yang memanggil semua dokter ke bangsalku, hingga dia tidak sempat dioperasi? Kalau bukan karena Ibu, apa mungkin aku bisa membunuhnya

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 7

    Beberapa hari kemudian, Ibu yang diliputi perasaan bersalah itu mengadakan upacara pemakaman yang layak untukku.Yang hadir tidak hanya beberapa kerabat dan teman, tetapi juga para dokter dari rumah sakit Ibuku.Perawat yang hari itu sempat membantuku juga hadir. Dia membawa seikat bunga dan berjalan ke depan nisanku, lalu berkata dengan suara lirih, “Maafkan aku, kalau waktu itu aku sedikit lebih berani, mungkin kamu tidak akan meninggal.”Di antara semua orang yang hadir, dialah satu-satunya yang pernah menolongku dan juga satu-satunya orang yang meminta maaf padaku. Sebaliknya, Ibuku sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Dia justru mencelaku seolah-olah dengan begitu dosanya akan terhapus, “Aldo ini, sejak kecil selalu membangkang. Kali ini juga karena masalah dendam di masa lalu, dia mau mencelakai adiknya, tapi malah menuai akibatnya sendiri.”Semua orang tahu bahwa Ibu lebih menyayangi adikku. Mereka juga tahu penderitaan yang telah kualami selama bertahun-tahun. Namun tak se

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 6

    Keesokan paginya, Ibu langsung bergegas ke rumah sakit tanpa sempat sarapan. Ayah yang merasa khawatir ikut bersamanya. Dalam perjalanan, Ibu mengeluh kepada Ayah bahwa mereka pergi ke rumah sakit demi hal yang sia-sia. Namun setibanya di rumah sakit dan melihat tubuhku yang terbujur kaku di kamar jenazah, Ibu langsung mundur selangkah dengan wajah pucat. Dia terhuyung-huyung dan berjongkok di dinding seraya memeluk dirinya sendiri erat-erat, "Bagaimana mungkin ini terjadi? Bagaimana bisa jadi seperti ini? Dia terlihat tidak terluka parah hari itu dan fisiknya juga baik-baik saja."Memang aku tampak tidak terluka parah selain lecet kecil di tanganku karena memeluk adikku, selebihnya tidak ada luka yang terlihat lagi. Hanya saja karena aku berbalik untuk memeluk adikku dan melindunginya di bawahku, benturan hebat itu menyebabkan aku mengalami ruptur jantung.Alasan aku terlihat masih sadar dan tampak baik-baik saja adalah karena organ dalamku sudah pecah dan tubuhku berada di ambang ke

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 5

    Mendengar itu, pupil mata Ibu membesar, dan seketika membeku di tempat.Teringat kembali pada kecelakaan mobil hari itu, Ibu mengerutkan kening tampak tak percaya. Dia berkata dengan yakin, "Ini tidak mungkin. Dia dan Daniel berada di mobil yang sama. Daniel saja sudah keluar dari rumah sakit. Bagaimana mungkin dia terluka separah itu?""Jangan kira aku tidak tahu tipu muslihatnya, ya. Dia hanya berusaha mencari perhatianku dan bersaing dengan adiknya untuk mendapatkan kasih sayangku, ‘kan?""Aku peringatkan kalian berdua, hentikan sandiwara ini! Jangan terus bersekongkol dan membuat keributan! Kalau tidak, kalian akan menyesal!"Mendengar Ibu yang sama sekali tidak mempercayainya, perawat itu hanya bisa menghela napas panjang dan berkata dengan pasrah, "Dok, saya benar-benar tidak berbohong. Kalau Dokter tidak percaya, datanglah ke rumah sakit dan lihatlah sendiri di kamar jenazah.”Seketika Ibu menjadi tegang. Dia mondar-mandir di dalam kamarnya. Langkahnya berat dan tergesa, “Dasar

  • Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku   Bab 4

    Begitu sampai di rumah, Daniel langsung merebahkan diri di sofa. Baru saja dia mengeluh lapar, sang kakak, Rachel langsung bergegas ke dapur dan berkata ingin memamerkan keterampilan memasak yang baru dipelajarinya.Rachel yang tidak pernah menyentuh dapur itu menatap ponselnya untuk mencari berbagai resep masakan bergizi. Dia khawatir jika sedikit saja melakukan kesalahan, maka akan membuat Daniel merasa tidak nyaman.Ayah mengeluarkan konsol gim mewah keluaran terbaru. Katanya itu adalah hadiah khusus untuk merayakan kepulangan Daniel dari rumah sakit. Hadiah karena berhasil lolos dari maut.Ibu membersihkan kamar Daniel dengan telaten, menempatkan berbagai tanaman sehat di dalam dan di luar. Katanya menghirup udara yang segar akan membantu proses pemulihannya.Daniel hanya berbaring nyaman di sofa sambil bermain gim, tetapi dia berhasil menarik perhatian seluruh keluarga.Sementara itu ada arwahku yang juga ikut pulang bersama mereka. Namun tempat yang sangat akrab bagiku ini, selal

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status