مشاركة

PART 04

مؤلف: Kalang Langit
last update آخر تحديث: 2026-02-22 10:37:24

     Setelah puas menatap ke dalam gedung sekolahnya itu, Harun pun melanjutkan perjalanannya. Ia mengayuh sepedanya ke arah barat, lalu melintas di wilayah Tangerang. Terik matahari bulan Mei terasa kian panas seolah-olah hendak mendidihkan otak dalam cangkang kepalanya.  Tetapi ia sama sekali tidak melihat adanya proyek bangunan apa pun di sepanjang kawasan yang ia lewati.

       Setelah kemudian ia membelokkan sepedanya ke arah barat, melewati sebuah jalan yang mungkin merupakan jalan perkampungan atau kawasan. Suasananya cukup sepi.  Sebelah timur adalah kawasan industri, sementara di sebelah barat sebuah kawasan seperti sebuah hutan, tapi tidak begitu luas. Namun banyak ditumbuhi pohon-pohon seperti pohon jati, sonokeling, dan lain-lain.

      Sepertinya itu sebuah kebun tanaman keras milik masyarat di sekitarnya, atau milik sebuah perusahaan, namun lahan yang cukup luas itu belum dibangun. Mungkin suatu saat tempat itu akan berdiri sebuah komplek industri atau pabrik. Suasana jalan di tempat itu tidak bising karena tidak begitu ramai dilewati oleh berbagai jenis kendaraan. Di bagian selatan kawasan hutan buatan itu ada mengalir sungai yang tidak begitu besar.

      Suasana sejuk dan tenang di tempat itu membuat Harun merasa tergoda untuk berhenti. Ia berniat untuk beristirahat dulu barang sebentar di kebun seperti hutan itu, untuk menghilangkan penat sembari berpikir. Kebetulan di dalam kebun itu juga ada sebuah pondok yang seperti jarang dipakai oleh pemilik kebun.

      Setelah menyandarkan sepedanya pada bagian depan pondok itu, Harun melangkah ke arah sungai yang hanya berjarak sekitar lima belas meter di depan pondok itu. Ia ingin membasuh wajah, tangan , dan kakinya. Airnya cukup jernih dan tidak berbau limbah seperti kebanyakan air sungai di Jakarta. Itu cukup aneh.  Ia tidak tahu, itu sungai merupakan cabang kecil dari induk sungai mana. Karena merasa air sungai itu cukup jernih dan tak berbau, ia mencoba meminumnya secukupnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya sebagai gayung. Cukup segar dan mampu memadamkan dahaganya. Ia berharap, semoga ia tidak apa-apa setelah meminum air itu.

       Setelah itu ia kembali ke atas pondok, dan ia duduk di lantai pondok yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Tempat itu terlihat masih kuat, hanya memang jarang digunakan oleh pemilik kebun. Pondok itu tempatnya agak ke dalam sedikit, sehingga ia bisa menikmati suasana hutan buatan yang sudah tampak alami.

       Suasananya terasa tenang dan damai. Andaikata tak terletak di pinggir jalan raya, mungkin suasana tempat itu jauh lebih tenang dan senyap.

      Harum  mencoba menyandarkan punggungnya pada bambu yang dipakai untuk pembatas serambi pondok itu. Ia coba memejamkan kedua matanya untuk memikirkan ke mana selanjutnya ia harus mengayuh sepedanya. Atau mungkin ia lebih baik kembali. Mungkin esok hari ia bisa mencoba lagi. Ia akan mencoba dengan cara yang lebih baik, yaitu menyiapkan bahan lamaran, berpakaian rapi, lalu datang ke perusahaan-perusahaan yang sedang membuka lowongan kerja. Hari ini ia mencari pekerjaan ke sana ke mari karena hanya ingin mendapatkan penghasilan yang cepat. Dan pekerjaan itu ya seperti jadi laden tukang di proyek-pyoyek. Biasanya di proyek-proyek banyak yang menerapkan gaji mingguan, bukan bulanan seperti di pabrik-pabrik atau perkantoran.

      Dan, mungkin karena suasananya yang demikian tenang, damai, ditambah lagi dengan rasa penatnya, ia sampai terlena untuk beberapa saat. Sejak kematian ibunya, ia memang sangat jarang tidur. Kalaupun tidur, itu tidak sepenuhnya tidur, dan tidak lama. Jiwanya yang merasa masih merasakan kehilangan, membuatnya selalu bangun secara tiba-tiba.

      Entah saat itu ia sempat tidur atau tidak, namun kedua bola matanya tiba-tiba terbuka lebar ketika mendengar suara dedaunan kering seperti dipijak. Namun betapa kagetnya ia, karena ia tidak melihat lagi sepeda yang ia sandarkan pada sisi depan peranda pondok. Benda kesayangannya itu  telah raib.

     “Sepedaku …!”

     Harun meloncat turun dari pondok lalu melemparkan pandangannya ke sana ke mari. Ia lari ke sisi jalan raya dan menoleh ke kiri dan kanan. Ia tak melihat seseorang yang sedang mengayuh sepedanya itu. Ia pun langsung mengejar dan meneriakinnya maling. Sepertinya di sebelah barat kebun itu ada semacam jalan kecil  yang bisa dilewati dengan kendaraan roda dua atau empat.

     Karena dikayuh dalam hutan, si pencuri sepeda itu tak bisa mengayuh sepeda curiannya itu dengan lempeng dan kencang, sehingga harusnya bisa mengejarnya. Akan tetapi ia tidak akan pernah sampai menangkap maling itu.  Karena tiba-tiba dari balik dua pohon yang cukup besar muncul seorang laki-laki yang langsung menyerangnya dengan terjangan dan pukulan keras. Sepertinya laki-laki itu adalah teman dari laki-laki yang melarikan sepeda onthelnya.

        Harun yang sama sekali tidak menduga akan mendapat serangan mendadak seperti itu, tentu tak punya kesempatan untuk menghindar. Bahkan tendangan dan pukulan keras langsung menghajarnya secara beruntun dna mengenai tepat pada beberapa bagian tubuhnya, terutama pada bagian wajah dan dada. Pria itu bukan saja memukul dan menendangnya, namun menghantamnya dengan batang kayu secara brutal dan bertubi-tubi, sampai membuat pemuda malang itu benar-benar dibuat tidak berdaya sama sekali. Nyaris semua tubuhnya terkena hantaman dan pukulan benda keras itu.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 07

    Kening Harun tiba-tiba mengerut, tampaknya ada yang ia ingat saat itu. “Eyang Jabal Wening …! Beliau yang membuat aku kembali hidup dalam kondisi pulih seperti ini. Dan tadi … beliau mengatakan akan menurunkan semua ilmu pamungkasnya kepadaku, terutama ilmu penyembuh. Apakah beliau benar-benar telah mewariskan ilmu-ilmu itu ke aku? Atau beliau hanyalah sesosok manusia yang ada dalam pingsanku saja? Entahlah ….!” Harun bangkit dan mendongak ke atas. Tebing uang berada di kedua sisinya itu tidaklah tinggi, hanya tiga meteran saja. Ia lalu mencoba melompati tebing itu, dan hup! Tubuhnya demikian ringan, sehingga dengan mudah ia meloncati tebing itu dan langsung berada di tepian tebing. “Waw …!” ucapnya takjub dengan apa yang barusan dilakukannya. “Kok aku bisa melakukannya dengan mudah? Gerakanku terasa sangat ringan dan lincah.” Ia merogoh saku depan celana blue jean’s-nya, mengambil ponselnya. Ia hendak menghubungi Kak Nazwa. Ternyata benda itu sudah tid

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 06

    “Baiklah, Eyang. Aku akan mengingat nasihat Eyang. Oh iya, aku ingat bagaimana aku dihajar oleh dua orang yang mengambil sepeda aku. Mereka bukan hanya memukul dengan tangan dan menendang dengan kaki, namun juga memukul aku dengan kayu. Benar-benar sakit rasanya, sampai aku benar-benar tak mampu untuk menanggung rasa sakit. Lalu, ketika aku merasa siuman, aku tidak merasakan sakit lagi. Bahkan bekas pukulan itu sama sekali tidak terasa lagi. Aku rasakan kondisiku sangat normal. Pastilah yang menyembuhkan aku adalah Eyang.” “Hm …” Harun lantas dibuat kaget oleh kemunculan laki-laki tua yang mengaku diri sebagai Eyang Jabal Wening di hadapannya. “Engkaukah Eyang Jabal Wening?” tanya Harun dengan menatap wajah laki-laki tua itu tanpa berkedip. Laki-laki sepuh itu tersenyum sumringah kepadanya, mengangguk-angguk pelan, dan berkata “Benar, calon pewarisku, akulah Eyang Jabal Wening. Apakah engkau sudah siap untuk menerima ilmu yang akan Eyang turunkan?” “Te-t

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 05

    Ketika Harun telah jatuh terkapar pun, bukan hanya laki-laki itu yang menhajarnya. Bahkan laki-laki yang membawa sepeda othelnya kembali dan ikut menghancurkan sang pemuda malang. Kedua laki-laki itu tetap beringas dan tanpa bekas kasihan melanjutkan pukulan dan tendangan mereka walau Harun telah terkapar tak berdaya sama sekali. Bahkan beberapa kali tendangan yang mengenai wajahnya membuat bibir si remaja kelas tiga SMU itu pecah-pecah dan tulang hidungnya patah. Lalu pada sebuah tendangan lanjutan, pandangan Harun langsung gelap karena tepat mengenai matanya. Namun ia masih sempat merasakan cairan hangat darah, mengucur keluar dari kedua keningnya yang sobek. Remaja malang itu merasakan, bahwa umurnya akan segera berakhir pada detik-detik berikutnya. Kedua pria itu tak mungkin membiarkannya untuk masih bernafas. Ia pun pasrah untuk menunggu nasib. Bisa jadi kedua pria itu akan memastikan ketewasannya dengan sebuah pukulan keras atau hantaman keras dengan benda kayu dala

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 04

    Setelah puas menatap ke dalam gedung sekolahnya itu, Harun pun melanjutkan perjalanannya. Ia mengayuh sepedanya ke arah barat, lalu melintas di wilayah Tangerang. Terik matahari bulan Mei terasa kian panas seolah-olah hendak mendidihkan otak dalam cangkang kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak melihat adanya proyek bangunan apa pun di sepanjang kawasan yang ia lewati. Setelah kemudian ia membelokkan sepedanya ke arah barat, melewati sebuah jalan yang mungkin merupakan jalan perkampungan atau kawasan. Suasananya cukup sepi. Sebelah timur adalah kawasan industri, sementara di sebelah barat sebuah kawasan seperti sebuah hutan, tapi tidak begitu luas. Namun banyak ditumbuhi pohon-pohon seperti pohon jati, sonokeling, dan lain-lain. Sepertinya itu sebuah kebun tanaman keras milik masyarat di sekitarnya, atau milik sebuah perusahaan, namun lahan yang cukup luas itu belum dibangun. Mungkin suatu saat tempat itu akan berdiri sebuah komplek industri atau pabrik. Suasana ja

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 03

    Entah berapa jauh Harun mengayuh sepedanya, ia tiba-tiba berada di depan sebuah proyek pertokoan yang sedang dibangun. Pemuda malang itu menghentikan sepedanya. Ia berharap di tempat itu ia diterima kerja. Ia memasang standar sepedanya lalu melangkah ke dalam kawasan itu. Namun ia harus menghentikan langkahnya, karena ia tiba-tiba mendapat teguran dari seorang laki-laki dari arah sampingnya. Ia belum sempat bertanya kepada laki-laki itu, karena ia langsung diusir. Saat sudah berada kembali di bahu jalan, ekpresinya menunjukkan kebingungan. Bingung ia harus mengayuh ke arah mana? Namun ia tahu bahwa saat itu ia masih berada dalam wilayah Jakarta Barat. Karena ia belum pernah melewati tempat itu sebelumnya. Namun tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan masih sangat kuat. Matahari tak lama lagi akan berada tepat di atas kepalanya. Ia memutuskan untuk berjalan memutar. “Mungkin sebaiknya aku melanjutkan ke barat sana, siapa tau ada proyek yang butuh tenaga aku,” batinny

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 02

    Harun mengayuh sepedanya. Tempat selanjutnya yang ia tuju adalah rumah salah seorang teman SMA-nya. Namanya Julian. Papanya Julian termasuk pebisnis yang cukup sukses, dan Julian sendiri merupakan anak yang baik dan tidak pelit. Siapa tahu temannya itu memahami keadaannya dan mau membantunya. Tetapi harapannya itu tampaknya sangat berat untuk diwujudkan oleh Julian. Bahkan pemuda itu langsung kaget mendengar besarnya uang yang dibutuhkan oleh Harun. “Ya Allah, Run, dari mana gue bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Gue ikut prihatin dan sangat memahami kondisi lu saat ini, tetapi kan lu tahu sendiri, gue pun masih ngamen sama bokap dan nyokap gue. Uang jatah harian gue ya hanya segitu-segitu doang. Gua minta maaf ya, Bro,” ucap Julian dengan wajah penuh empati. Apa yang dikatakan oleh Julian itu benar adanya. Walaupun ayahnya seorang pebisnis, tetapi sulit rasanya untuk memberikan uang belanja buat anaknya uang sebesar itu. “Iya, Jul, gak papa. Justru gua yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status