MasukSetelah puas menatap ke dalam gedung sekolahnya itu, Harun pun melanjutkan perjalanannya. Ia mengayuh sepedanya ke arah barat, lalu melintas di wilayah Tangerang. Terik matahari bulan Mei terasa kian panas seolah-olah hendak mendidihkan otak dalam cangkang kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak melihat adanya proyek bangunan apa pun di sepanjang kawasan yang ia lewati.
Setelah kemudian ia membelokkan sepedanya ke arah barat, melewati sebuah jalan yang mungkin merupakan jalan perkampungan atau kawasan. Suasananya cukup sepi. Sebelah timur adalah kawasan industri, sementara di sebelah barat sebuah kawasan seperti sebuah hutan, tapi tidak begitu luas. Namun banyak ditumbuhi pohon-pohon seperti pohon jati, sonokeling, dan lain-lain.
Sepertinya itu sebuah kebun tanaman keras milik masyarat di sekitarnya, atau milik sebuah perusahaan, namun lahan yang cukup luas itu belum dibangun. Mungkin suatu saat tempat itu akan berdiri sebuah komplek industri atau pabrik. Suasana jalan di tempat itu tidak bising karena tidak begitu ramai dilewati oleh berbagai jenis kendaraan. Di bagian selatan kawasan hutan buatan itu ada mengalir sungai yang tidak begitu besar.
Suasana sejuk dan tenang di tempat itu membuat Harun merasa tergoda untuk berhenti. Ia berniat untuk beristirahat dulu barang sebentar di kebun seperti hutan itu, untuk menghilangkan penat sembari berpikir. Kebetulan di dalam kebun itu juga ada sebuah pondok yang seperti jarang dipakai oleh pemilik kebun.
Setelah menyandarkan sepedanya pada bagian depan pondok itu, Harun melangkah ke arah sungai yang hanya berjarak sekitar lima belas meter di depan pondok itu. Ia ingin membasuh wajah, tangan , dan kakinya. Airnya cukup jernih dan tidak berbau limbah seperti kebanyakan air sungai di Jakarta. Itu cukup aneh. Ia tidak tahu, itu sungai merupakan cabang kecil dari induk sungai mana. Karena merasa air sungai itu cukup jernih dan tak berbau, ia mencoba meminumnya secukupnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya sebagai gayung. Cukup segar dan mampu memadamkan dahaganya. Ia berharap, semoga ia tidak apa-apa setelah meminum air itu.
Setelah itu ia kembali ke atas pondok, dan ia duduk di lantai pondok yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Tempat itu terlihat masih kuat, hanya memang jarang digunakan oleh pemilik kebun. Pondok itu tempatnya agak ke dalam sedikit, sehingga ia bisa menikmati suasana hutan buatan yang sudah tampak alami.
Suasananya terasa tenang dan damai. Andaikata tak terletak di pinggir jalan raya, mungkin suasana tempat itu jauh lebih tenang dan senyap.
Harum mencoba menyandarkan punggungnya pada bambu yang dipakai untuk pembatas serambi pondok itu. Ia coba memejamkan kedua matanya untuk memikirkan ke mana selanjutnya ia harus mengayuh sepedanya. Atau mungkin ia lebih baik kembali. Mungkin esok hari ia bisa mencoba lagi. Ia akan mencoba dengan cara yang lebih baik, yaitu menyiapkan bahan lamaran, berpakaian rapi, lalu datang ke perusahaan-perusahaan yang sedang membuka lowongan kerja. Hari ini ia mencari pekerjaan ke sana ke mari karena hanya ingin mendapatkan penghasilan yang cepat. Dan pekerjaan itu ya seperti jadi laden tukang di proyek-pyoyek. Biasanya di proyek-proyek banyak yang menerapkan gaji mingguan, bukan bulanan seperti di pabrik-pabrik atau perkantoran.
Dan, mungkin karena suasananya yang demikian tenang, damai, ditambah lagi dengan rasa penatnya, ia sampai terlena untuk beberapa saat. Sejak kematian ibunya, ia memang sangat jarang tidur. Kalaupun tidur, itu tidak sepenuhnya tidur, dan tidak lama. Jiwanya yang merasa masih merasakan kehilangan, membuatnya selalu bangun secara tiba-tiba.
Entah saat itu ia sempat tidur atau tidak, namun kedua bola matanya tiba-tiba terbuka lebar ketika mendengar suara dedaunan kering seperti dipijak. Namun betapa kagetnya ia, karena ia tidak melihat lagi sepeda yang ia sandarkan pada sisi depan peranda pondok. Benda kesayangannya itu telah raib.
“Sepedaku …!”
Harun meloncat turun dari pondok lalu melemparkan pandangannya ke sana ke mari. Ia lari ke sisi jalan raya dan menoleh ke kiri dan kanan. Ia tak melihat seseorang yang sedang mengayuh sepedanya itu. Ia pun langsung mengejar dan meneriakinnya maling. Sepertinya di sebelah barat kebun itu ada semacam jalan kecil yang bisa dilewati dengan kendaraan roda dua atau empat.
Karena dikayuh dalam hutan, si pencuri sepeda itu tak bisa mengayuh sepeda curiannya itu dengan lempeng dan kencang, sehingga harusnya bisa mengejarnya. Akan tetapi ia tidak akan pernah sampai menangkap maling itu. Karena tiba-tiba dari balik dua pohon yang cukup besar muncul seorang laki-laki yang langsung menyerangnya dengan terjangan dan pukulan keras. Sepertinya laki-laki itu adalah teman dari laki-laki yang melarikan sepeda onthelnya.
Harun yang sama sekali tidak menduga akan mendapat serangan mendadak seperti itu, tentu tak punya kesempatan untuk menghindar. Bahkan tendangan dan pukulan keras langsung menghajarnya secara beruntun dna mengenai tepat pada beberapa bagian tubuhnya, terutama pada bagian wajah dan dada. Pria itu bukan saja memukul dan menendangnya, namun menghantamnya dengan batang kayu secara brutal dan bertubi-tubi, sampai membuat pemuda malang itu benar-benar dibuat tidak berdaya sama sekali. Nyaris semua tubuhnya terkena hantaman dan pukulan benda keras itu.
Tiba-tiba ia mendengarkan ucapan sang gurunya, Eyang Jabat Wening, bahwa di kamar sebelah ada seorang wanita muda yang sedang dizalimi oleh nseorang laki-laki yang berumur. Mendengar itu membuah Harun begitu geram. “Kamu pejamkan matamu, biat Eyang yang menghubungan mata batinmu ke kamar sebelah,” terdengar lagi suara Eyang Jabal Wening, yang langsung dilakukan oleh Harun. Ia seolah-olah merasakan sentuhan tangan halus pada wajahnya. Itu pasti tangannya sang guru. Tiba-tiba ia seperti membuka matanya dan melihat apa yang sedang terjadi di kamar sebelah. Di sana ada dua orang, laki-laki dan wanita muda, yang bertengkar dengan sengit. Wanita itu ia kenal karena pernah berada dalam satu lift bersama. Wanita muda itu tampak tak berdaya karena terus dih*jar oleh sang laki-laki di kamar mandi. Wajah wanita itu telah berlumuran darah. Kemungkinan kena pukulan, tendangan, atau bantingan. Saat ia menyaksikan laki-laki itu menyeret keluar si wanita dengan menar
Ia membuka kembali helm yang telah ia pakai, lalu berkaca pada kaca spion sepeda motornya. Ia benar-benar dibuat kaget. Ternyata pipinya terlihat normal kembali, sudah tak bengkak. Saat ia menepuk-nepuknya pun, rasa sakit itu sama sekali tak terasa lagi. Bahkan ketika ia menekankan langsung ujung jarinya pada gigi yang krowok, ia sama sekali tak merasakan sakit. Bahkan krowoknya sudah tak ada lagi. Ia meraba-raba kembali untuk memastikan bagian puncak giginya pun, ia benar-benar heran bercampur gembira. Puncak giginya terasa normal. Sudah tak ada lagi krowoknya. “Wah, ini benar-benar ajaib!” celetuknya pelan. “Berarti air ini benar-benar air yang sangat mujarab. Aku harus segera menuju rumah sakit. Bismillah.” Sesampai di rumah sakit kebetulan waktu besuk sudah dibuka. Ada ayah dan ibu mertuanya yang menunggu di bangku pangjang di depan ruang rawat. Zaki menyalami dan menciumi tangan keduanya. “Ibu Bapak sudah masuk melihat Isti?” “Barusan. Tadi Ibu nyuapin,”
Harun masih sempat mendengar jika wanita itu disambut oleh seseorang yang bersuara bariton. Mungkin pemilik suara itu laki-laki yang sudah berumur, di atas tiga puluhan tahun. Berada dalam kamar hotel, Harun menyempatkan dulu untuk mengamati seluruh bagian dari kamar yang sangat mewah itu. Kamar sejenis itu hanya ia pernah lihat di sinetron-sinetron. Ia kemudian melemparkan begitu saja tasnya di atas tempat tidur sebelum ia melepas sepatunya. Setelah itu ia melemparkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dengan posisi telentang. Ia menikmati kondisi itu sembari memejamkan kedua matanya. Tok … tok … tok… Ketukan di pintu kamar membuat ia membuka matanya. Dengan sedikit malas-malasan ia bangkit dan melangkah ke arah pintu. Ia mengira itu adalah si tukang ojek. Tetapi ketika ia mengintai melalui lobang intai yang diberi kaca, ia melihat wajah orang lain. Seorang pemuda berdiri di depan pintu. Tampaknya petugas hotel. Ia langsung membukakan pintunya. “
Yang tahu mengapa api itu tadi mendadak padam, hanya dua orang, yaitu ibu pemilik ruko dan anak gadisnya yang berada di lantai atas tadi. Bahkan petugas dinas kebakaran yang muncul kemudian merasa heran, mengapa api yang sedang berkobar tiba-tiba bisa padam seketika? Padahal saat itu sedang musim kemarau dan terik masih terasa sangat menyengat. Di tengah-tengah kerumunan, terlihat beberapa orang berusaha merangsek masuk. Ternyata mereka adalah sanak kadang dari keluarga yang mendapat musibah. Mereka pun langsung berpelukan dan sama-sama menangis haru. “Syukurlah kalian selamat. Untunglah pemadam kebekaran sigap dan cepat ….” “Bukan,” potong si ibu yang menjadi korban. “Kami diselamatklan oleh Mas … Lh, Mas penyelamat barusan ke mana?” Sekeluarga itu pun dibuat heran dan berusaha mencari ke mana-mana dengan menebarkan pandangan mereka. “Diselamatkan oleh Mas? Maksudnya seorang pemuda?” tanya laki-laki yang baru datang. “Iya. Dia yang tiba-tiba muncu
Dari mesjid komplek itu, ia kembali melangkah menyusuri trotoar di pusat kota bersama para pejalan kaki lainnya. Di kiri kanan jalan raya yang cukup lebar dan dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu-lalang itu berdiri toko-toko, perkantoran, hotel, dan sebagainya. Pada malam hari, tempat itu dikenal sebagai tempat mejengnya para muda-mudi kota. Lokasinya di samping strategis, namun juga tempatnya bagus dan asri. Harun tak tahu, apakah pemkot juga telah mendukung dan memfasilitasi kawasan itu sebagai tempat mejengnya anak muda kota? Betapa tidak, kawasan itu tersedia berbagai fasilitas pendukung, seperti taman bunga memanjang di dua bahu jalan, bangku-bangku besi panjang yang bagus, san sebagainya. Sementara pada siang hari tentu kawasan itu tetap menjadi pusat kesibukan. Pada sebuah restoran Padang, sang pewarisnya Erang Jabal Wening itu mampir. Ia harus mengisi perutnya. Rumah makan itu cukup banyak pelanggannya. Namun masih ada satu dua meja-kursi yang kosong. Ket
Saat itu Harun telah tiba di sebuah taman kota. Tiba-tiba terdengar ada suara teriakan seorang ibu-ibu yang mengalami kecopetan. Namun Harun tidak menghentikan atau memelankan langkah kakinya. Karena saat itu ia sedang memikirkan banyak hal, terutama saat itu ia akan pergi ke mana. Akan tetapi teriakan itu makin dekat dan bukan saja satu orang yang berteriak. Ternyata copet itu berlari ke arahnya. Terpaksa Harun menghentikan langkahnya. Sang copet yang merupakan laki-laki muda larinya cukup kencang. Di belakangnya ia dikejar oleh banyak orang. Namun pengejar yang paling dekat dengan sang copet adalah seorang gadis dan seorang pemuda. Jarak antara si copet dengan si gadis dan pemuda itu hanya sekitar sepuluh meter. Ketika copet itu akan melewatinya, Harun langsung menarik tubuhnya ke samping, membiarkan sang copet lewat di depannya. Ia tidak berusaha untuk menghentikan pelaku kriminal kelas receh itu dengan cara apa pun. Akan tetapi, ketika sang gadis pengejar







