مشاركة

PART 03

مؤلف: Kalang Langit
last update آخر تحديث: 2026-02-21 01:54:37

      Entah berapa jauh Harun mengayuh sepedanya, ia tiba-tiba berada di  depan sebuah proyek pertokoan yang sedang dibangun. Pemuda malang itu menghentikan sepedanya. Ia berharap di tempat itu ia diterima kerja.

      Ia memasang standar sepedanya lalu melangkah ke dalam kawasan itu. Namun ia harus menghentikan langkahnya, karena ia tiba-tiba mendapat teguran dari seorang laki-laki dari arah sampingnya. Ia belum sempat bertanya kepada laki-laki itu, karena ia langsung diusir.

    Saat sudah berada kembali di bahu jalan, ekpresinya menunjukkan kebingungan. Bingung ia harus mengayuh ke arah mana? Namun ia tahu bahwa saat itu ia masih berada dalam wilayah Jakarta Barat. Karena ia belum pernah melewati tempat itu sebelumnya. Namun tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan masih sangat kuat. Matahari tak lama lagi akan berada tepat di atas kepalanya. Ia memutuskan untuk berjalan memutar.

     “Mungkin sebaiknya aku melanjutkan ke barat sana, siapa tau ada proyek yang butuh tenaga aku,” batinnya, lalu hendak menaiki kembali sepedanya. Ia mengayuh, menyusuri pinggiran jalan raya yang saat itu sedang ramai oleh berbagai kendaraan bermesin.

       Ketika sampai di pinggiran sebuah kawasan yang cukup ramai dan padat, Harun beristirahat sebentar di bawah naungan rindang pohon waru di sisi jalan. Kebetulan tak jauh dari tempat itu ada penjual es. Ia membelinya dengan plastik. Kerongkongan yang sama sekali belum kemasukan nasi dan air sejak pagi, terasa sangat segar sekali. Namun saat itu pikirannya ke mana-mana.

     Di depan sana, di seberang jalan, ada sebuah kantor cabang pembantu sebuah bank swasta nasional. Ia melihat beberapa nasabah bank itu keluar-masuk. Dui depan pintu kaca kantor bank itu berdiri seorang petugas security yang selalu menyambut para nasabah bank dengan sikap sopannya dan membukakan pintunya. Petugas itu ganteng, mungkin 11-12 dengan dirinya. Dari segi postur, pria itu lebih kekar, namun lebih pendek darinya.

     Harun pun berkhayal bisa bekerja di kantor bank itu, walau sebagai tenaga security.

     “Atau aku coba saja nanya-nanya ke sana, ya? Siapa tahu ada lowongan,” batinnya, seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri.

      Setelah berpikir yuntuk beberapa saat lamanya, ia pun memutuskan untuk menanyakan lowongan kepada satpam itu. Ia menghabiskan esnya lalu bangkit. Ia menyeberangi jalan dengan tidak menaiki sepedanya.

      Setelah memarkir sepedanya, ia pun melangkah ke arah Pak Satpam itu. Laki-laki itu menatap ke arahnya. Ketika ia mengangguk dan tersenyum, laki-laki itu pun melakukan hal yang sama.

      “Maaf, Pak,  sama mau nanya sesuatu,” ucap Harun dengan sikapnya yang sopan.

     “Iya, Dik, silakan, Adik mau nanya apa?”

     “Anu, Pak, apa di sini ada lowongan kerja? Maksud saya, mungkin sebagai tenaga security.”

     “Oh maaf, Dik, di sini tenaganya sudah ful. Belum buka lowongan lagi tuh. Bagaimana?”

      “Gitu ya, Pak?”

      “Iya, Dik. Silakan Adik cari di tempat lain, siapa tahu ada lowongan.”

      Harun manggut-manggut pelan. “Baik, Pak, terima kasih. Assalamualaikum.”

     “Ya, waalaikumsalam.”

      Harun pikirannya lagi buntet. Ia menyeberang jalan lagi.  Mas-mas penjual es keliling tempat ia membeli es tadi menatap ke arahnya. Harun yang menyadari itu tersenyum dan mengangguk, yang dibalas oleh laki-laki penjual es itu dengan anggukan kecil dan senyum yang nanggung. Akan tetapi, ketika Harun mengayuh sepedanya ke arah barat, penjual es itu langsung menghubungi seseorang melalui ponselnya.

     “Iya, Bray, ia mengayuh ke arah barat. Oh, tapi hati-hati, Bray. Ok.”

       Ketika ia melewati sebuah gedung sekolah SMA,  Harun langsung berhenti. Ternyata ia sedang melewati sekolahnya, namun di jalan yang berada di sebelah barat komplek sekolah itu. Tempat itu memang tak pernah ia lewati. Biasanya ia datang dan pulang dari arah depan, melalui jalan raya utama. Sesaat ia memandang ke arah kumpulan gedung itu, ia mendengar suara khas para siswa di dalamnya. Pasti teman-temannya di dalam sana sedang mendapatkan pengajaran dari guru mata pelajaran mereka. Ah, dia merindukan suasana seperti itu. Sudah hampir satu bulan ia tidak masuk sekolah. Ia lebih memilih untuk menjaga ibunya yang sakit, yaitu sejak almarhumah ibunya belum dibawa ke rumah sakit. Dan ia sama sekali tidak tahu, apakah pihak sekolah masih merimanya? Karena dulu ia hanya izin selama beberapa hari. Jika tidak, berarti akan otomatis juga status siswa miskinnya akan dicabut berikut hak dan kewajibannya terhadap sekolahnya itu. Artinya ia sudah dikeluarkan atau dicoret.

       Harun langsung tersenyum getir. Senyum yang bukan senyuman bahagia, tetapi sebuah senyuman yang menyimpan kepahitan.  Ia pasrah jika memang pihak sekolah telah mencoret namanya sebagai siswa di sekolah itu. Namun di sisi lain dalam ruang batinnya, ia juga merasa bahagia, karena ia telah menemani ibunya sampai akhir hayatnya.

       Sebenarnya,   ia salah seorang siswa berprestasi di sekolahnya itu. Ia selalu mendapat ranking satu di kelasnya, sejak dari kelas satu hingga naik ke kelas tiga. Bahkan ia pernah meraih juara umum. Hanya saja, karena ia seorang siswa miskin, terkadang ia selalu dipandang remeh. Bahkan tak jarang dianggap sebagai anak bawang.  Hanya beberapa orang saja yang benar-benar menerimanya sebagai teman mereka. Mereka antara lain adalah Julian, Benta Atmaja, dan Sekar Astalina, putri

seorang pengusaha perbengkelan yang cukup sukses. Ia gadis yang benar-benar baik dan tidak sombong. Lalu sahabatnya yang bernama Benta Atmojo, adalah sahabatnya yang juga sangat memahaminya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 07

    Kening Harun tiba-tiba mengerut, tampaknya ada yang ia ingat saat itu. “Eyang Jabal Wening …! Beliau yang membuat aku kembali hidup dalam kondisi pulih seperti ini. Dan tadi … beliau mengatakan akan menurunkan semua ilmu pamungkasnya kepadaku, terutama ilmu penyembuh. Apakah beliau benar-benar telah mewariskan ilmu-ilmu itu ke aku? Atau beliau hanyalah sesosok manusia yang ada dalam pingsanku saja? Entahlah ….!” Harun bangkit dan mendongak ke atas. Tebing uang berada di kedua sisinya itu tidaklah tinggi, hanya tiga meteran saja. Ia lalu mencoba melompati tebing itu, dan hup! Tubuhnya demikian ringan, sehingga dengan mudah ia meloncati tebing itu dan langsung berada di tepian tebing. “Waw …!” ucapnya takjub dengan apa yang barusan dilakukannya. “Kok aku bisa melakukannya dengan mudah? Gerakanku terasa sangat ringan dan lincah.” Ia merogoh saku depan celana blue jean’s-nya, mengambil ponselnya. Ia hendak menghubungi Kak Nazwa. Ternyata benda itu sudah tid

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 06

    “Baiklah, Eyang. Aku akan mengingat nasihat Eyang. Oh iya, aku ingat bagaimana aku dihajar oleh dua orang yang mengambil sepeda aku. Mereka bukan hanya memukul dengan tangan dan menendang dengan kaki, namun juga memukul aku dengan kayu. Benar-benar sakit rasanya, sampai aku benar-benar tak mampu untuk menanggung rasa sakit. Lalu, ketika aku merasa siuman, aku tidak merasakan sakit lagi. Bahkan bekas pukulan itu sama sekali tidak terasa lagi. Aku rasakan kondisiku sangat normal. Pastilah yang menyembuhkan aku adalah Eyang.” “Hm …” Harun lantas dibuat kaget oleh kemunculan laki-laki tua yang mengaku diri sebagai Eyang Jabal Wening di hadapannya. “Engkaukah Eyang Jabal Wening?” tanya Harun dengan menatap wajah laki-laki tua itu tanpa berkedip. Laki-laki sepuh itu tersenyum sumringah kepadanya, mengangguk-angguk pelan, dan berkata “Benar, calon pewarisku, akulah Eyang Jabal Wening. Apakah engkau sudah siap untuk menerima ilmu yang akan Eyang turunkan?” “Te-t

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 05

    Ketika Harun telah jatuh terkapar pun, bukan hanya laki-laki itu yang menhajarnya. Bahkan laki-laki yang membawa sepeda othelnya kembali dan ikut menghancurkan sang pemuda malang. Kedua laki-laki itu tetap beringas dan tanpa bekas kasihan melanjutkan pukulan dan tendangan mereka walau Harun telah terkapar tak berdaya sama sekali. Bahkan beberapa kali tendangan yang mengenai wajahnya membuat bibir si remaja kelas tiga SMU itu pecah-pecah dan tulang hidungnya patah. Lalu pada sebuah tendangan lanjutan, pandangan Harun langsung gelap karena tepat mengenai matanya. Namun ia masih sempat merasakan cairan hangat darah, mengucur keluar dari kedua keningnya yang sobek. Remaja malang itu merasakan, bahwa umurnya akan segera berakhir pada detik-detik berikutnya. Kedua pria itu tak mungkin membiarkannya untuk masih bernafas. Ia pun pasrah untuk menunggu nasib. Bisa jadi kedua pria itu akan memastikan ketewasannya dengan sebuah pukulan keras atau hantaman keras dengan benda kayu dala

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 04

    Setelah puas menatap ke dalam gedung sekolahnya itu, Harun pun melanjutkan perjalanannya. Ia mengayuh sepedanya ke arah barat, lalu melintas di wilayah Tangerang. Terik matahari bulan Mei terasa kian panas seolah-olah hendak mendidihkan otak dalam cangkang kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak melihat adanya proyek bangunan apa pun di sepanjang kawasan yang ia lewati. Setelah kemudian ia membelokkan sepedanya ke arah barat, melewati sebuah jalan yang mungkin merupakan jalan perkampungan atau kawasan. Suasananya cukup sepi. Sebelah timur adalah kawasan industri, sementara di sebelah barat sebuah kawasan seperti sebuah hutan, tapi tidak begitu luas. Namun banyak ditumbuhi pohon-pohon seperti pohon jati, sonokeling, dan lain-lain. Sepertinya itu sebuah kebun tanaman keras milik masyarat di sekitarnya, atau milik sebuah perusahaan, namun lahan yang cukup luas itu belum dibangun. Mungkin suatu saat tempat itu akan berdiri sebuah komplek industri atau pabrik. Suasana ja

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 03

    Entah berapa jauh Harun mengayuh sepedanya, ia tiba-tiba berada di depan sebuah proyek pertokoan yang sedang dibangun. Pemuda malang itu menghentikan sepedanya. Ia berharap di tempat itu ia diterima kerja. Ia memasang standar sepedanya lalu melangkah ke dalam kawasan itu. Namun ia harus menghentikan langkahnya, karena ia tiba-tiba mendapat teguran dari seorang laki-laki dari arah sampingnya. Ia belum sempat bertanya kepada laki-laki itu, karena ia langsung diusir. Saat sudah berada kembali di bahu jalan, ekpresinya menunjukkan kebingungan. Bingung ia harus mengayuh ke arah mana? Namun ia tahu bahwa saat itu ia masih berada dalam wilayah Jakarta Barat. Karena ia belum pernah melewati tempat itu sebelumnya. Namun tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan masih sangat kuat. Matahari tak lama lagi akan berada tepat di atas kepalanya. Ia memutuskan untuk berjalan memutar. “Mungkin sebaiknya aku melanjutkan ke barat sana, siapa tau ada proyek yang butuh tenaga aku,” batinny

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 02

    Harun mengayuh sepedanya. Tempat selanjutnya yang ia tuju adalah rumah salah seorang teman SMA-nya. Namanya Julian. Papanya Julian termasuk pebisnis yang cukup sukses, dan Julian sendiri merupakan anak yang baik dan tidak pelit. Siapa tahu temannya itu memahami keadaannya dan mau membantunya. Tetapi harapannya itu tampaknya sangat berat untuk diwujudkan oleh Julian. Bahkan pemuda itu langsung kaget mendengar besarnya uang yang dibutuhkan oleh Harun. “Ya Allah, Run, dari mana gue bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Gue ikut prihatin dan sangat memahami kondisi lu saat ini, tetapi kan lu tahu sendiri, gue pun masih ngamen sama bokap dan nyokap gue. Uang jatah harian gue ya hanya segitu-segitu doang. Gua minta maaf ya, Bro,” ucap Julian dengan wajah penuh empati. Apa yang dikatakan oleh Julian itu benar adanya. Walaupun ayahnya seorang pebisnis, tetapi sulit rasanya untuk memberikan uang belanja buat anaknya uang sebesar itu. “Iya, Jul, gak papa. Justru gua yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status