LOGINKetika Harun telah jatuh terkapar pun, bukan hanya laki-laki itu yang menhajarnya. Bahkan laki-laki yang membawa sepeda othelnya kembali dan ikut menghancurkan sang pemuda malang. Kedua laki-laki itu tetap beringas dan tanpa bekas kasihan melanjutkan pukulan dan tendangan mereka walau Harun telah terkapar tak berdaya sama sekali. Bahkan beberapa kali tendangan yang mengenai wajahnya membuat bibir si remaja kelas tiga SMU itu pecah-pecah dan tulang hidungnya patah. Lalu pada sebuah tendangan lanjutan, pandangan Harun langsung gelap karena tepat mengenai matanya. Namun ia masih sempat merasakan cairan hangat darah, mengucur keluar dari kedua keningnya yang sobek.
Remaja malang itu merasakan, bahwa umurnya akan segera berakhir pada detik-detik berikutnya. Kedua pria itu tak mungkin membiarkannya untuk masih bernafas. Ia pun pasrah untuk menunggu nasib. Bisa jadi kedua pria itu akan memastikan ketewasannya dengan sebuah pukulan keras atau hantaman keras dengan benda kayu dalam pegangannya.
Tetapi tidak. Dalam kondisi antara sadar atau tidak, Harun merasakan kedua tangannya ditarik dan tubuhnya terseret. Lalu selanjutnya ia merasakan tubuhnya terlempar di sebuah tempat yang cukup dalam. Mungkin ke dalam dasar tebing atau apa. Lalu selanjutnya ia tak ingat apa-apa lagi.
Akan tetapi kemudian—entah berselang berapa lama ia tak sadarkan diri--ia merasa seperti tersadarkan dan siuman. Hanya saja, saat itu ia merasakan sedang berada di suatu tempat yang asing namun sangat indah. Seperti di sebuah taman. Di tengah taman itu mengalir sebuah sungai yang airnya sangat jernih. Tapi tempat itu begitu senyap dan sepi, tak ada sesiapa pun yang tampak di tempat itu. Ya, saat itu ia berada di sebuah kawasan yang lebih mirip sebuah taman. Sebuah taman yang demikian indah namun juga demikian lengang.
“Tempat apa ini? Aku sedang berada di mana?” gumam Harun. Dan gumamannya itu seperti menggema dan memenuhi dalam gendang telingannya sendiri.
Dalam kebingungannya itu, tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya. Suara laki-laki tua.
Harun spontan mengedarkan pandangannya segenap penjuru. Tetapi tak tampak di matanya wujud seorang manusia pun.
“Jangan bingung, Anak Muda. Eyang sangat senang karena calon pewaris ilmuku akhirnya tiba juga.”
Suara itu kembali menggema. Tapi saat itu Harun sangat bingung dengan yang dikatakan oleh laki-laki tua namun tanpa wujud itu. Calon pewaris ilmu? Ilmu apa?
“A-apa maksud, Eyang? Apakah saat ini aku telah mati dan sedang berada di taman syurga?”
Mendengar ucapannya itu, sosok tanpa wujud itu tertawa. Tawa yang menggema dan panjang.
“Tidak, Anak Muda. Kamu memang nyaris mati, tapi kamu belum mati. Saat ini kamu hanya berada di suatu tempat di mana Eyang tinggal. Ya, kamu adalah calon pewaris seluruh ilmuku. Eyang telah lama menunggumu.”
“Te-rima kasih, Eyang. Lantas, ilmu apakah yang akan Eyang wariskan kepadaku? Kalau ilmu hitam, tentu aku tidak akan mau, Eyang. Hidupku sudah sangat sengsara dan kelam, dan aku tidak ingin menambah hidupku dengan memegang ilmu hitam. Maafkan aku, Eyang.”
Sosok tanpa wujud itu kembali tertawa sebelum berkata, “Sesungguhnya semua ilmu itu tidak ada yang hitam, karena semuanya baik. Yang hitam itu adalah hati dan tindakan dari sang pemegang ilmu itu sendiri. Seumpama pisau, benda itu sangat berguna jika digunakan untuk membawa kebaikan, akan tetapi akan sangat buruk jika digunakan untuk melakukan tindakan jahat. Dan sekarang aku benar-benar gembira, karena engkau benar-benar telah memenuhi syarat sebagai pewaris ilmuku. Kamu memiliki hati yang ikhlas, dermawan, dan selalu ingin melakukan hal-hal yang baik.”
“Terima kasih, Eyang. Semoga aku kelak bisa menjadi murid dan pewaris ilmu Eyang yang baik dan tidak mengecewakan Eyang.”
“Iya, Calon Pewarisku. Oh iya, namaku Eyang Jabal Wening. Kamu bisa menyebutku Eyang Jabal jika suatu saat kamu membutuhkan Eyang, cukup memanggil nama Eyang melalui kekuatan pikiranmu. Lantas siapakah namamu, calon pewarisku?”
“Namaku Harun Al-Fatih, Eyang.”
“Sebuah nama yang sangat bagus. Nama seorang hamba yang sangat mulia. Dari ceritamu barusan, kamu telah digembleng oleh keadaan yang tidak selalun indah untuk pemuda seusiamu. Dan yang terakhir, ujianmu sangat berat. Kamu dizalimi sampai ragamu nyaris mati. Namun untung, kamu belum waktunya untuk mati. Kamu ditakdirkan untuk mewarisi ilmuku. Tadi kamu bertanya, ilmu apa sajakah yang akan Eyang wariskan kepadamu? Tentu adalah ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat untuk dirimu dan untuk orang banyak. Dulu, Eyang dijuluki sebagai Dewa Penyembuh karena Eyang mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan segala jenis penyakit. Ilmu itu merupakan ilmu utama yang akan Eyang wariskan kepadamu. Ada juga ilmu-ilmu pendukung yang akan Eyang wariskan kepadamu, seperti ilmu kesaktian tingkat tinggi. Eyang akan mengisi tubuhmu dengan Ajian Melipat Bumi yang memungkinkanmu untuk berjalan di atas bumi ini lebih cepat dari perjalanan biasa. Yang kedua yaitu Ajian Saipi Angin, yang merupakan ajian yang memungkinkanmu bisa bergerak seperti angin, jauh lebih cepat dari Ajian Melipat Bumi. Lalu Ajian Lembu Sekilan, yang membuatmu terhindar dari segala benda-benda yang berbahaya untukmu, sekaligus untuk memberikan efek pukulan yang sangat kuat. Ajian berikutnya adalah Ajian Wesi Kersani. Ajian ini adalah ajian yang mampu melindungi tubuhmu dari segala senjata yang bisa melukai yang terbuat dari bahan apa pun. Untuk ajian yang satu ini bisa kamu isikan pada tubuh seseorang yang perlu kamu bentengi hidupnya. Semua ajian itu akan Eyang tanamankan dalam tubuh dan jiwamu, sehingga kamu bisa menggunakannya. Kamu bisa menggunakannya dengan niat serta menyebutkan namanya. Lalu, agar ilmu-ilmu itu makin kuat, kamu bisa menguatkannya dengan olah pernafasan dan konsentrasi. Masih ada beberapa ilmu lain yang akan Eyang wariskan kepadamu, seperti ilmu pembuka aura sejati. Namun ilmu-ilmu itu akan menyusul. Pesan Eyang, kamu pergunakan semua ilmu itu untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain.”
Tiba-tiba ia mendengarkan ucapan sang gurunya, Eyang Jabat Wening, bahwa di kamar sebelah ada seorang wanita muda yang sedang dizalimi oleh nseorang laki-laki yang berumur. Mendengar itu membuah Harun begitu geram. “Kamu pejamkan matamu, biat Eyang yang menghubungan mata batinmu ke kamar sebelah,” terdengar lagi suara Eyang Jabal Wening, yang langsung dilakukan oleh Harun. Ia seolah-olah merasakan sentuhan tangan halus pada wajahnya. Itu pasti tangannya sang guru. Tiba-tiba ia seperti membuka matanya dan melihat apa yang sedang terjadi di kamar sebelah. Di sana ada dua orang, laki-laki dan wanita muda, yang bertengkar dengan sengit. Wanita itu ia kenal karena pernah berada dalam satu lift bersama. Wanita muda itu tampak tak berdaya karena terus dih*jar oleh sang laki-laki di kamar mandi. Wajah wanita itu telah berlumuran darah. Kemungkinan kena pukulan, tendangan, atau bantingan. Saat ia menyaksikan laki-laki itu menyeret keluar si wanita dengan menar
Ia membuka kembali helm yang telah ia pakai, lalu berkaca pada kaca spion sepeda motornya. Ia benar-benar dibuat kaget. Ternyata pipinya terlihat normal kembali, sudah tak bengkak. Saat ia menepuk-nepuknya pun, rasa sakit itu sama sekali tak terasa lagi. Bahkan ketika ia menekankan langsung ujung jarinya pada gigi yang krowok, ia sama sekali tak merasakan sakit. Bahkan krowoknya sudah tak ada lagi. Ia meraba-raba kembali untuk memastikan bagian puncak giginya pun, ia benar-benar heran bercampur gembira. Puncak giginya terasa normal. Sudah tak ada lagi krowoknya. “Wah, ini benar-benar ajaib!” celetuknya pelan. “Berarti air ini benar-benar air yang sangat mujarab. Aku harus segera menuju rumah sakit. Bismillah.” Sesampai di rumah sakit kebetulan waktu besuk sudah dibuka. Ada ayah dan ibu mertuanya yang menunggu di bangku pangjang di depan ruang rawat. Zaki menyalami dan menciumi tangan keduanya. “Ibu Bapak sudah masuk melihat Isti?” “Barusan. Tadi Ibu nyuapin,”
Harun masih sempat mendengar jika wanita itu disambut oleh seseorang yang bersuara bariton. Mungkin pemilik suara itu laki-laki yang sudah berumur, di atas tiga puluhan tahun. Berada dalam kamar hotel, Harun menyempatkan dulu untuk mengamati seluruh bagian dari kamar yang sangat mewah itu. Kamar sejenis itu hanya ia pernah lihat di sinetron-sinetron. Ia kemudian melemparkan begitu saja tasnya di atas tempat tidur sebelum ia melepas sepatunya. Setelah itu ia melemparkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dengan posisi telentang. Ia menikmati kondisi itu sembari memejamkan kedua matanya. Tok … tok … tok… Ketukan di pintu kamar membuat ia membuka matanya. Dengan sedikit malas-malasan ia bangkit dan melangkah ke arah pintu. Ia mengira itu adalah si tukang ojek. Tetapi ketika ia mengintai melalui lobang intai yang diberi kaca, ia melihat wajah orang lain. Seorang pemuda berdiri di depan pintu. Tampaknya petugas hotel. Ia langsung membukakan pintunya. “
Yang tahu mengapa api itu tadi mendadak padam, hanya dua orang, yaitu ibu pemilik ruko dan anak gadisnya yang berada di lantai atas tadi. Bahkan petugas dinas kebakaran yang muncul kemudian merasa heran, mengapa api yang sedang berkobar tiba-tiba bisa padam seketika? Padahal saat itu sedang musim kemarau dan terik masih terasa sangat menyengat. Di tengah-tengah kerumunan, terlihat beberapa orang berusaha merangsek masuk. Ternyata mereka adalah sanak kadang dari keluarga yang mendapat musibah. Mereka pun langsung berpelukan dan sama-sama menangis haru. “Syukurlah kalian selamat. Untunglah pemadam kebekaran sigap dan cepat ….” “Bukan,” potong si ibu yang menjadi korban. “Kami diselamatklan oleh Mas … Lh, Mas penyelamat barusan ke mana?” Sekeluarga itu pun dibuat heran dan berusaha mencari ke mana-mana dengan menebarkan pandangan mereka. “Diselamatkan oleh Mas? Maksudnya seorang pemuda?” tanya laki-laki yang baru datang. “Iya. Dia yang tiba-tiba muncu
Dari mesjid komplek itu, ia kembali melangkah menyusuri trotoar di pusat kota bersama para pejalan kaki lainnya. Di kiri kanan jalan raya yang cukup lebar dan dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu-lalang itu berdiri toko-toko, perkantoran, hotel, dan sebagainya. Pada malam hari, tempat itu dikenal sebagai tempat mejengnya para muda-mudi kota. Lokasinya di samping strategis, namun juga tempatnya bagus dan asri. Harun tak tahu, apakah pemkot juga telah mendukung dan memfasilitasi kawasan itu sebagai tempat mejengnya anak muda kota? Betapa tidak, kawasan itu tersedia berbagai fasilitas pendukung, seperti taman bunga memanjang di dua bahu jalan, bangku-bangku besi panjang yang bagus, san sebagainya. Sementara pada siang hari tentu kawasan itu tetap menjadi pusat kesibukan. Pada sebuah restoran Padang, sang pewarisnya Erang Jabal Wening itu mampir. Ia harus mengisi perutnya. Rumah makan itu cukup banyak pelanggannya. Namun masih ada satu dua meja-kursi yang kosong. Ket
Saat itu Harun telah tiba di sebuah taman kota. Tiba-tiba terdengar ada suara teriakan seorang ibu-ibu yang mengalami kecopetan. Namun Harun tidak menghentikan atau memelankan langkah kakinya. Karena saat itu ia sedang memikirkan banyak hal, terutama saat itu ia akan pergi ke mana. Akan tetapi teriakan itu makin dekat dan bukan saja satu orang yang berteriak. Ternyata copet itu berlari ke arahnya. Terpaksa Harun menghentikan langkahnya. Sang copet yang merupakan laki-laki muda larinya cukup kencang. Di belakangnya ia dikejar oleh banyak orang. Namun pengejar yang paling dekat dengan sang copet adalah seorang gadis dan seorang pemuda. Jarak antara si copet dengan si gadis dan pemuda itu hanya sekitar sepuluh meter. Ketika copet itu akan melewatinya, Harun langsung menarik tubuhnya ke samping, membiarkan sang copet lewat di depannya. Ia tidak berusaha untuk menghentikan pelaku kriminal kelas receh itu dengan cara apa pun. Akan tetapi, ketika sang gadis pengejar







