مشاركة

PART 05

مؤلف: Kalang Langit
last update آخر تحديث: 2026-02-22 10:52:50

      Ketika Harun telah jatuh terkapar pun, bukan hanya laki-laki itu yang menhajarnya. Bahkan laki-laki yang membawa sepeda othelnya kembali dan ikut menghancurkan sang pemuda malang. Kedua laki-laki  itu tetap beringas dan tanpa bekas kasihan melanjutkan pukulan dan tendangan mereka walau Harun telah terkapar tak berdaya sama sekali. Bahkan beberapa kali tendangan yang mengenai wajahnya membuat bibir si remaja kelas tiga SMU itu pecah-pecah dan tulang hidungnya patah. Lalu pada sebuah tendangan lanjutan, pandangan Harun langsung gelap karena tepat mengenai matanya. Namun ia masih sempat merasakan cairan hangat darah, mengucur keluar dari kedua keningnya yang sobek.

      Remaja malang itu merasakan, bahwa umurnya akan segera berakhir pada detik-detik berikutnya. Kedua pria itu tak mungkin membiarkannya untuk masih bernafas. Ia pun pasrah untuk menunggu nasib. Bisa jadi kedua pria itu akan memastikan ketewasannya dengan sebuah pukulan keras atau hantaman keras dengan benda kayu dalam pegangannya.

     Tetapi tidak. Dalam kondisi antara sadar atau tidak, Harun merasakan kedua tangannya ditarik dan tubuhnya terseret. Lalu selanjutnya ia merasakan tubuhnya terlempar di sebuah tempat yang cukup dalam. Mungkin ke dalam dasar tebing atau apa. Lalu selanjutnya ia tak ingat apa-apa lagi.

       Akan tetapi kemudian—entah berselang berapa lama ia tak sadarkan diri--ia merasa seperti tersadarkan dan siuman. Hanya saja,  saat itu ia merasakan sedang berada di suatu tempat yang asing namun sangat indah. Seperti di sebuah taman. Di tengah taman itu mengalir sebuah sungai yang airnya sangat jernih. Tapi tempat itu begitu senyap dan sepi, tak ada sesiapa pun yang tampak di tempat itu. Ya, saat itu ia berada di sebuah kawasan yang lebih mirip sebuah taman.  Sebuah taman yang demikian indah namun juga demikian lengang.

      “Tempat apa ini? Aku sedang berada di mana?” gumam Harun. Dan gumamannya itu seperti menggema dan memenuhi dalam gendang telingannya sendiri.

     Dalam kebingungannya itu, tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya. Suara laki-laki tua.

      Harun spontan mengedarkan pandangannya segenap penjuru. Tetapi tak tampak di matanya wujud seorang manusia pun.

     “Jangan bingung, Anak Muda. Eyang sangat senang karena calon pewaris ilmuku akhirnya tiba juga.”

     Suara itu kembali menggema. Tapi saat itu Harun sangat bingung dengan yang dikatakan oleh laki-laki tua namun tanpa wujud itu. Calon pewaris ilmu? Ilmu apa?

      “A-apa maksud, Eyang? Apakah saat ini aku telah mati dan sedang berada di taman syurga?”

     Mendengar ucapannya itu, sosok tanpa wujud itu tertawa. Tawa yang menggema dan panjang.

     “Tidak, Anak Muda. Kamu memang nyaris mati, tapi kamu belum mati. Saat ini kamu hanya berada di suatu tempat di mana Eyang tinggal. Ya, kamu adalah calon pewaris seluruh ilmuku. Eyang telah lama menunggumu.”

      “Te-rima kasih, Eyang. Lantas, ilmu apakah yang akan Eyang wariskan kepadaku? Kalau ilmu hitam, tentu aku tidak akan mau, Eyang. Hidupku sudah sangat sengsara dan kelam, dan aku tidak ingin menambah hidupku dengan memegang ilmu hitam. Maafkan aku, Eyang.”

     Sosok tanpa wujud itu kembali tertawa sebelum berkata, “Sesungguhnya semua ilmu itu tidak ada yang hitam, karena semuanya baik. Yang hitam itu adalah hati dan tindakan dari sang pemegang ilmu itu sendiri. Seumpama pisau, benda itu sangat berguna jika digunakan untuk membawa kebaikan, akan tetapi akan sangat buruk jika digunakan untuk melakukan tindakan jahat. Dan sekarang aku benar-benar gembira, karena engkau benar-benar telah memenuhi syarat sebagai pewaris ilmuku. Kamu memiliki hati yang ikhlas, dermawan, dan selalu ingin melakukan hal-hal yang baik.”

     “Terima kasih, Eyang. Semoga aku kelak bisa menjadi murid dan pewaris ilmu Eyang yang baik dan tidak mengecewakan Eyang.”

     “Iya, Calon Pewarisku. Oh iya, namaku Eyang  Jabal Wening. Kamu bisa menyebutku Eyang Jabal  jika suatu saat kamu membutuhkan Eyang, cukup memanggil nama Eyang melalui kekuatan pikiranmu. Lantas siapakah namamu, calon pewarisku?”

     “Namaku Harun Al-Fatih, Eyang.”

     “Sebuah nama yang sangat bagus. Nama seorang hamba yang sangat mulia. Dari ceritamu barusan, kamu telah digembleng oleh keadaan yang tidak selalun indah untuk pemuda seusiamu. Dan yang terakhir, ujianmu sangat berat. Kamu dizalimi sampai ragamu nyaris mati. Namun untung, kamu belum waktunya untuk mati. Kamu ditakdirkan untuk mewarisi ilmuku. Tadi kamu bertanya, ilmu apa sajakah yang akan Eyang wariskan kepadamu? Tentu adalah ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat untuk dirimu dan untuk orang banyak. Dulu, Eyang dijuluki sebagai Dewa Penyembuh karena Eyang mempunyai kemampuan  untuk menyembuhkan segala jenis penyakit. Ilmu itu merupakan ilmu utama yang akan Eyang wariskan kepadamu. Ada juga ilmu-ilmu pendukung yang akan Eyang wariskan kepadamu, seperti ilmu kesaktian tingkat tinggi. Eyang akan mengisi tubuhmu dengan Ajian Melipat Bumi yang memungkinkanmu untuk berjalan di atas bumi ini lebih cepat dari perjalanan biasa. Yang kedua yaitu Ajian Saipi Angin, yang merupakan ajian yang memungkinkanmu bisa bergerak seperti angin, jauh lebih cepat dari Ajian Melipat Bumi. Lalu Ajian Lembu Sekilan, yang membuatmu terhindar dari segala benda-benda yang berbahaya untukmu, sekaligus untuk memberikan efek pukulan yang sangat kuat. Ajian berikutnya adalah Ajian Wesi Kersani. Ajian ini adalah ajian yang mampu melindungi tubuhmu dari segala senjata yang bisa melukai yang terbuat dari bahan apa pun. Untuk ajian yang satu ini bisa kamu isikan pada tubuh seseorang yang perlu kamu bentengi hidupnya. Semua ajian itu akan Eyang tanamankan dalam tubuh dan jiwamu, sehingga kamu bisa menggunakannya. Kamu bisa menggunakannya dengan niat serta menyebutkan namanya.  Lalu, agar ilmu-ilmu itu makin kuat, kamu bisa menguatkannya dengan olah pernafasan dan konsentrasi. Masih ada beberapa ilmu lain yang akan Eyang wariskan kepadamu, seperti ilmu pembuka aura sejati. Namun ilmu-ilmu itu akan menyusul. Pesan Eyang, kamu pergunakan semua ilmu itu untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 07

    Kening Harun tiba-tiba mengerut, tampaknya ada yang ia ingat saat itu. “Eyang Jabal Wening …! Beliau yang membuat aku kembali hidup dalam kondisi pulih seperti ini. Dan tadi … beliau mengatakan akan menurunkan semua ilmu pamungkasnya kepadaku, terutama ilmu penyembuh. Apakah beliau benar-benar telah mewariskan ilmu-ilmu itu ke aku? Atau beliau hanyalah sesosok manusia yang ada dalam pingsanku saja? Entahlah ….!” Harun bangkit dan mendongak ke atas. Tebing uang berada di kedua sisinya itu tidaklah tinggi, hanya tiga meteran saja. Ia lalu mencoba melompati tebing itu, dan hup! Tubuhnya demikian ringan, sehingga dengan mudah ia meloncati tebing itu dan langsung berada di tepian tebing. “Waw …!” ucapnya takjub dengan apa yang barusan dilakukannya. “Kok aku bisa melakukannya dengan mudah? Gerakanku terasa sangat ringan dan lincah.” Ia merogoh saku depan celana blue jean’s-nya, mengambil ponselnya. Ia hendak menghubungi Kak Nazwa. Ternyata benda itu sudah tid

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 06

    “Baiklah, Eyang. Aku akan mengingat nasihat Eyang. Oh iya, aku ingat bagaimana aku dihajar oleh dua orang yang mengambil sepeda aku. Mereka bukan hanya memukul dengan tangan dan menendang dengan kaki, namun juga memukul aku dengan kayu. Benar-benar sakit rasanya, sampai aku benar-benar tak mampu untuk menanggung rasa sakit. Lalu, ketika aku merasa siuman, aku tidak merasakan sakit lagi. Bahkan bekas pukulan itu sama sekali tidak terasa lagi. Aku rasakan kondisiku sangat normal. Pastilah yang menyembuhkan aku adalah Eyang.” “Hm …” Harun lantas dibuat kaget oleh kemunculan laki-laki tua yang mengaku diri sebagai Eyang Jabal Wening di hadapannya. “Engkaukah Eyang Jabal Wening?” tanya Harun dengan menatap wajah laki-laki tua itu tanpa berkedip. Laki-laki sepuh itu tersenyum sumringah kepadanya, mengangguk-angguk pelan, dan berkata “Benar, calon pewarisku, akulah Eyang Jabal Wening. Apakah engkau sudah siap untuk menerima ilmu yang akan Eyang turunkan?” “Te-t

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 05

    Ketika Harun telah jatuh terkapar pun, bukan hanya laki-laki itu yang menhajarnya. Bahkan laki-laki yang membawa sepeda othelnya kembali dan ikut menghancurkan sang pemuda malang. Kedua laki-laki itu tetap beringas dan tanpa bekas kasihan melanjutkan pukulan dan tendangan mereka walau Harun telah terkapar tak berdaya sama sekali. Bahkan beberapa kali tendangan yang mengenai wajahnya membuat bibir si remaja kelas tiga SMU itu pecah-pecah dan tulang hidungnya patah. Lalu pada sebuah tendangan lanjutan, pandangan Harun langsung gelap karena tepat mengenai matanya. Namun ia masih sempat merasakan cairan hangat darah, mengucur keluar dari kedua keningnya yang sobek. Remaja malang itu merasakan, bahwa umurnya akan segera berakhir pada detik-detik berikutnya. Kedua pria itu tak mungkin membiarkannya untuk masih bernafas. Ia pun pasrah untuk menunggu nasib. Bisa jadi kedua pria itu akan memastikan ketewasannya dengan sebuah pukulan keras atau hantaman keras dengan benda kayu dala

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 04

    Setelah puas menatap ke dalam gedung sekolahnya itu, Harun pun melanjutkan perjalanannya. Ia mengayuh sepedanya ke arah barat, lalu melintas di wilayah Tangerang. Terik matahari bulan Mei terasa kian panas seolah-olah hendak mendidihkan otak dalam cangkang kepalanya. Tetapi ia sama sekali tidak melihat adanya proyek bangunan apa pun di sepanjang kawasan yang ia lewati. Setelah kemudian ia membelokkan sepedanya ke arah barat, melewati sebuah jalan yang mungkin merupakan jalan perkampungan atau kawasan. Suasananya cukup sepi. Sebelah timur adalah kawasan industri, sementara di sebelah barat sebuah kawasan seperti sebuah hutan, tapi tidak begitu luas. Namun banyak ditumbuhi pohon-pohon seperti pohon jati, sonokeling, dan lain-lain. Sepertinya itu sebuah kebun tanaman keras milik masyarat di sekitarnya, atau milik sebuah perusahaan, namun lahan yang cukup luas itu belum dibangun. Mungkin suatu saat tempat itu akan berdiri sebuah komplek industri atau pabrik. Suasana ja

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 03

    Entah berapa jauh Harun mengayuh sepedanya, ia tiba-tiba berada di depan sebuah proyek pertokoan yang sedang dibangun. Pemuda malang itu menghentikan sepedanya. Ia berharap di tempat itu ia diterima kerja. Ia memasang standar sepedanya lalu melangkah ke dalam kawasan itu. Namun ia harus menghentikan langkahnya, karena ia tiba-tiba mendapat teguran dari seorang laki-laki dari arah sampingnya. Ia belum sempat bertanya kepada laki-laki itu, karena ia langsung diusir. Saat sudah berada kembali di bahu jalan, ekpresinya menunjukkan kebingungan. Bingung ia harus mengayuh ke arah mana? Namun ia tahu bahwa saat itu ia masih berada dalam wilayah Jakarta Barat. Karena ia belum pernah melewati tempat itu sebelumnya. Namun tekadnya untuk mendapatkan pekerjaan masih sangat kuat. Matahari tak lama lagi akan berada tepat di atas kepalanya. Ia memutuskan untuk berjalan memutar. “Mungkin sebaiknya aku melanjutkan ke barat sana, siapa tau ada proyek yang butuh tenaga aku,” batinny

  • SANG DEWA PENYEMBUH   PART 02

    Harun mengayuh sepedanya. Tempat selanjutnya yang ia tuju adalah rumah salah seorang teman SMA-nya. Namanya Julian. Papanya Julian termasuk pebisnis yang cukup sukses, dan Julian sendiri merupakan anak yang baik dan tidak pelit. Siapa tahu temannya itu memahami keadaannya dan mau membantunya. Tetapi harapannya itu tampaknya sangat berat untuk diwujudkan oleh Julian. Bahkan pemuda itu langsung kaget mendengar besarnya uang yang dibutuhkan oleh Harun. “Ya Allah, Run, dari mana gue bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Gue ikut prihatin dan sangat memahami kondisi lu saat ini, tetapi kan lu tahu sendiri, gue pun masih ngamen sama bokap dan nyokap gue. Uang jatah harian gue ya hanya segitu-segitu doang. Gua minta maaf ya, Bro,” ucap Julian dengan wajah penuh empati. Apa yang dikatakan oleh Julian itu benar adanya. Walaupun ayahnya seorang pebisnis, tetapi sulit rasanya untuk memberikan uang belanja buat anaknya uang sebesar itu. “Iya, Jul, gak papa. Justru gua yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status