로그인"Hah?" kaget perawat itu.
"Ayo cepat katakan!" hardiknya. "Sa ... saya tidak mengatakan apapun, Tuan." ujar sang perawat. "Kamu jangan bohong! Aku mendengar kamu mengatakan sesuatu tentang saya!" serunya marah. Tiba-tiba saja dokter Ridwan datang ke tempat itu "Ada apa ini ribut-ribut?" tegur dokter Ridwan kepada keduanya. "Untung kamu cepat datang! Perawat ini mengatakan sesuatu yang buruk tentang saya!" kesalnya lagi. Akan tetapi sang perawat menceritakan kepada dokter Ridwan tentang pemaksaan dari Peter untuk menemui dirinya. Setelah mendengar penjelasan dari sang perawat. Dokter Ridwan lalu menyuruh perawat itu untuk meninggalkan mereka berdua. "Mau ke mana, kamu? Urusan kita belum selesai!" tutur Peter, kesal. Namun sang perawat tetap saja pergi atas petunjuk dari dokter Ridwan. "Woi, Bro. Lo kenapa sih? Kayak anak ayam yang kehilangan induknya saja! Lama-lama Lo stroke, tahu! Marah melulu." ucap dokter Ridwan ketika keduanya berada di kafe yang ada di dekat klinik itu. "Bagaimana gue nggak kesal! Terlalu banyak prosedur yang harus ditempuh hanya untuk bertemu dengan Lo! Ribet banget tahu nggak sih!" marahnya lagi. "Yaelah, Bro. Menurut gue itu wajar. Apalagi Lo nyariin gue, di tempat kerja dan posisinya, gue memang sedang bekerja. Jadi wajar dong Lo harus menunggu untuk bertemu dengan gue. "Banyak gaya, Lo." tutur Peter. "Gue bukan kebanyakan gaya, Bro. Memang begitulah peraturannya. Contohnya nih Lo yang seorang CEO. Pasti nggak sembarangan kan, orang-orang bisa menemui Lo? Nah, begitu juga dengan gue!" Peter mencoba merenungkan perkataan Ridwan, sahabatnya. Dia pun mengiyakan perkataan temannya itu di dalam hatinya. "Oh ya, Lo ngapain nyariin gue di jam kerja? Ada apa ini?" "Gue mau Lo melakukan hipnoterapi!" "Apa? Jangan mengada-ngada, Lo?" tukas dokter Ridwan. "Gue tidak sedang mengada-ngada, Bro! Kapan Lo bisa melakukannya?" Dokter Ridwan menatap tak percaya dengan keputusan ekstrim yang akan dilakukan oleh sahabatnya. "Bro apa Lo yakin ingin melakukan hipnoterapi?" "Tentu saja gue yakin! Gue tidak mau lagi merasakan sakit hati yang mendalam hanya karena wanita." "Bro banyak hal positif lainnya yang bisa Lo lakukan. Tidak mesti hipnoterapi," jelas dokter Ridwan. "Gue tidak peduli! Gue nggak butuh cinta dari perempuan mana pun lagi! Dan gue sudah membulatkan tekad gue untuk hidup melajang selamanya, titik!" tegas Peter. Dokter Ridwan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Setengah hatinya merasa kasihan kepada Peter karena nasib cintanya yang selalu kandas dan menyisakan rasa trauma di dalam dirinya. Sementara setengah hatinya yang lain, merasa jika Peter terlalu terburu-buru untuk melakukan tindakan hipnoterapi itu. "Jadi kapan kamu bisa melakukannya?" tanya lagi. Dokter Ridwan pun memilih diam. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk membujuk sahabatnya. Dia pun lalu berkata, "Okay, saya akan menjadwalkannya secepatnya." tukasnya kepada sahabatnya itu. Kediaman Jacob, Asisten Leon akhirnya sampai di kediaman sang atasan. Dia pun langsung di sidang oleh kedua orang tua Peter. "Leon, kamu tentu tahu kenapa kami berdua memanggilmu ke sini!" seru Nyonya Neira. Sementara Tuan Theo menatapnya sangat tajam. "Maaf, tapi saya tidak tahu apapun Tuan, Nyonya." Leon mencoba untuk terlihat biasa saja dan tak terpancing dengan tatapan penuh selidik kedua orang atasannya. Namun tetap saja mulutnya bergetar saat berkata-kata. Dia sangat gugup saat ini. "Ternyata kamu masih membela tuanmu, rupanya?" tukas Nyonya Neira. "Nyonya, sungguh saya tidak tahu apapun saat ini." tuturnya. "Leon ... Leon, saya akui kesetiaanmu kepada Peter patut diberi penghargaan. Tapi ingat! Jika kamu menyembunyikan sesuatu tentang putra kami. Saya tidak akan segan-segan untuk memecatmu! Saya tidak peduli jika kamu adalah orang kepercayaan anak saya! Saya tidak peduli tentang itu! Satu lagi yang harus kamu ingat! Saya bukan hanya akan memecatmu. Akan tetapi namamu akan saya black list! Sehingga, tidak ada satu perusahaan pun yang akan menerimamu sebagai karyawan perusahaan mereka!" Mendengar penuturan Tuan Theo yang menusuk itu, Leon yang dari tadi memilih menundukkan kepalanya, dengan segera menegakkannya. Kedua orang tua Peter mulai tersenyum sinis kepadanya. "Pilihan ada di tanganmu, Peter." ucapnya lagi. Lalu terjadi keheningan di ruangan itu. Kemudian Tuan Theo berkata lagi. Mami tolong ambilkan beberapa lembar kertas rekomendasi pemecatan untuk Leon di ruang kerja saya. Sepertinya dia lebih memilih setia kepada tuannya, dibandingkan jujur kepada kita." tukas Tuan Theo menakut-nakuti Leon. Ternyata Leon masih tak bergeming. Lalu Tuan Theo memberi isyarat kepada istrinya untuk segera ke ruang kerjanya. Nyonya Neira beranjak menuju ke ruang kerja suaminya. Tapi asisten anaknya itu, masih saja diam dan tidak melakukan tindakan apa-apa. Bahkan sampai Nyonya Neira kembali dari ruang kerja suaminya, dan membawa dokumen pemecatan untuknya, Leon tetap tak bergeming. "Ini dokumennya, Papi." ucap Nyonya Neira. Tuan Theo menerima dokumen itu. Lalu membacanya sekilas. "Selamat menjadi gelandangan baru, Leon!" serunya tajam, lalu mulai menandatangani dokumen itu. Tiba-tiba Leon terlihat panik saat Tuan Theo mulai menandatangi surat pemecatan untuk dirinya. "Tunggu sebentar, Tuan!" ucanya panik sambil meraih pulpen yang ada di tangan Tuan Tho. "Lho? Kenapa kamu merebut pulpennya? Apakah kamu ragu untuk menjadi gelandangan baru di Kota Jakarta ini?" sindir Tuan Theo. "Bu ... bukan begitu, Tuan." tuturnya. "Terus apa? Tolong kembalikan pulpen saya. Saya ingin secepatnya mewujudkan mimpi Anda, menjadi gelandangan!" tukas Tuan Theo lagi. "Ternyata Tuan dan Nyonya Jacob, tidak main-main dengan perkataan mereka!" gumamnya dalam hati. "Maafkan aku, Tuan Muda. Kali ini aku terpaksa mengkhianatimu." ucapnya lagi. "Kamu menunggu apa lagi Leon, berikan pulpen itu." tukas Tuan Theo tajam. Leon pun terlihat menghela napasnya. Lalu dia mulai berkata, "Baiklah Tuan, Nyonya, apa yang kalian ingin ketahui tentang Tuan Muda?" "Apakah benar Peter memiliih akan melajang seumur hidup?" Kali ini Nyonya Neira yang angkat bicara. Leon terdiam sejenak. Lalu berkata lagi, "Iya, Nyonya. Tuan Peter sudah bertekad untuk tidak mengenal perempuan lagi. Dia sudah tidak mau terjebak dengan ikatan cinta kepada wanita manapun lagi di dunia ini." tutur Leon panjang lebar. "Apa?" Nyonya Neira menjadi kaget dengan penjelasan Leon. "Bahkan Tuan Peter akan melakukan sesuatu hal besar dalam hidupnya." "Sesuatu hal besar apa maksud, kamu?" tanya Tuan Theo. "Saya takut untuk mengatakannya, Tuan." ujarnya takut. "Tolong kamu jangan mutar-mutar kalau ngomong!" Tuan Theo menjadi jengkel melihat tingkah Leon itu. "Maaf Tuan, saya takut untuk jujur. Tuan Peter telah mengancam saya sebelumnya." takutnya lagi. "Oh begitu? Saya akan menaikkan gajimu tiga kali lipat dari gajimu sekarang. Jika kamu jujur dihadapan kami!" "Maaf Tuan, bukannya saya menolaknya tapi Tuan Peter telah mengancam saya, jika saya membocorkan rahasia ini. Tuan Peter akan melenyapkan saya di muka bumi ini." tuturnya semakin takut. "Apa?" Kedua orang tua sang atasan, seakan tak percaya dengan ancaman yang diutarakan oleh Peter kepada asistennya ituKehidupan Farah dan Peter semakin berwarna setelah kelahiran putra pertama mereka, Jovan Jacob. Jovan, yang kini berusia empat tahun, adalah sumber kebahagiaan yang tak ternilai bagi keluarga kecil ini. Peter dan Farah telah menempuh banyak perjalanan indah bersama, akan tetapi ada kabar baik yang membuat mereka semakin berbahagiaFarah hamil anak kedua, seorang bayi perempuan yang rencananya akan mereka beri nama Feifelin Jacob.Suatu pagi yang cerah, Farah dan Peter duduk di teras belakang rumah mereka sambil menikmati secangkir teh. Farah memandang ke arah Jovan yang sedang bermain dengan mobil-mobilannya di taman. Dia mengusap perutnya yang semakin besar dengan penuh kasih sayang. "Mas Peter, rasanya tidak sabar menunggu kehadiran Feifelin. Aku yakin dia akan membawa lebih banyak kebahagiaan dalam hidup kita," ujar Farah dengan senyum lembut.Peter menggenggam tangan Farah, menatapnya dengan penuh cinta."Aku juga, Sayang. Jovan pasti akan menjadi kakak yang luar biasa. Aku bisa
Pagi yang cerah di Pantai Ancol, Jakarta Utara. Menjadi tempat yang bagus dan latar belakang sempurna untuk ulang tahun ketiga Jovan Jacob, putra dari Peter dan Farah. Langit biru yang cerah dan angin sepoi-sepoi menambah semaraknya suasana di pantai indah itu. Peter dan Farah memilih tema pantai untuk merayakan momen spesial bagi putra mereka kali ini. Semua persiapan telah dilakukan dengan cermat. Meja-meja telah dipenuhi berbagai jenis camilan dan es krim beraneka rasa sementara beberapa badut Dufan yang disewa oleh Peter juga sudah bersiap dengan atraksi mereka.Di tepi pantai, Farah sibuk mengatur dekorasi terakhir sambil memastikan Jovan yang berlari-lari di sekitar tetap aman. "He-he-he! Mas Peter, kamu sudah pasang balon-balon itu dengan benar?" teriak Farah sambil tertawa melihat suaminya berusaha mengikat balon-balon warna-warni ke tiang-tiang."Sudah, Sayang! Lihat saja, Jovan sangat senang," jawab Peter sambil menunjuk ke arah putranya, Jovan yang sedang bermain dengan
Farah merasakan nyeri yang semakin intens di perutnya. Dia berbaring di kamar, mencoba mengatur napasnya, namun kontraksi yang datang silih berganti membuatnya sulit untuk tenang. Jam di dinding menunjukkan pukul satu siang. Peter, yang sudah beberapa hari ini siaga di rumah, segera mendekatinya. "Farah, Sayang. Apakah kamu baik-baik saja? Kontraksinya semakin sering, ya?" tanya Peter dengan nada cemas.Farah mengangguk, wajahnya menahan sakit. "Sepertinya sudah saatnya, Mas Peter. Aku perlu ke rumah sakit sekarang," ujarnya sambil menggenggam tangan suaminya erat-erat.Peter mengangguk cepat, "Baik, aku akan menyiapkan mobil dengan segera. Jangan khawatir, Sayang. Semua akan baik-baik saja." Sang suami lalu dengan cepat mengambil tas yang sudah mereka siapkan sebelumnya dan membantu Farah berdiri. Dengan hati-hati, Peter menuntun Farah menuju ke mobil dan memastikan dia duduk nyaman di kursi penumpang.Setibanya di rumah sakit, mereka segera disambut oleh bidan dan dokter spesiali
Ballroom hotel bintang lima di Jakarta Pusat kembali menjadi tempat berkumpulnya keluarga dan kerabat dekat untuk merayakan momen istimewa dalam hidup Farah dan Peter. Kali ini, mereka merayakan acara tujuh bulanan kehamilan Farah, sebuah tradisi yang sarat makna dan harapan baik bagi calon ibu dan bayinya. Pagi itu, ballroom telah di dekorasi dengan nuansa tradisional yang elegan. Warna-warna emas dan putih mendominasi, memberikan kesan anggun dan sakral. Meja-meja dihias dengan bunga melati dan mawar putih, sementara di tengah ruangan terdapat panggung kecil yang didekorasi dengan kain batik dan payung tradisional. Di panggung itu, terdapat kursi yang disiapkan untuk Farah dan Peter, tempat mereka akan menjalani serangkaian prosesi.Farah mengenakan kebaya modern berwarna emas dengan sentuhan bordir yang rumit, sementara Peter mengenakan batik berwarna senada. Mereka tampak serasi dan penuh semangat menyambut acara yang penuh doa dan harapan ini.Sekitar pukul sepuluh pagi, para ta
Pada suatu sore yang cerah di Kota Jakarta, Farah dan Peter tengah bersiap-siap menyambut para tamu undangan yang akan hadir di acara baby shower untuk menyambut kelahiran Baby Jovan. Acara tersebut diadakan di sebuah ballroom megah di hotel bintang lima ternama di Jakarta Pusat. Ballroom tersebut dihiasi dengan elegan, menampilkan dekorasi berwarna biru dan putih, simbolisasi akan kelahiran anak laki-laki yang mereka nantikan, Baby Jovan Jacob.Farah mengenakan gaun maternity berwarna biru pastel yang anggun, dengan pita putih besar di bagian pinggang. Peter, di sisi lain, tampil gagah dengan setelan jas berwarna abu-abu. Wajah mereka tampak berseri-seri, senyuman tak pernah lepas dari wajah keduanya. Peter menggenggam tangan Farah erat-erat, memberikan dukungan penuh kepada istrinya.Saat jam menunjukkan pukul enam sore, tamu-tamu mulai berdatangan. Pintu ballroom terbuka lebar, menyambut para kerabat dan partner bisnis Peter. Tamu pertama yang datang adalah Tuan Rahez dan istriny
Farah dan Peter sedang berdiri di depan toko perlengkapan bayi yang baru saja mereka temukan di pusat perbelanjaan mewah di kawasan Jakarta Selatan. Udara sore yang sejuk dan matahari yang masih bersinar lembut menemani langkah mereka memasuki toko yang penuh dengan barang-barang imut dan pernak-pernik bayi. Pintu kaca toko berderit ringan saat Peter menariknya terbuka, dan mereka berdua disambut oleh aroma segar bedak bayi yang menguar di seluruh ruangan istimewa itu.Farah menggandeng lengan Peter sambil tersenyum lebar. "Sayang, lihat! Ada banyak pilihan tempat tidur bayi di sini. Aku ingin memilih yang terbaik untuk Jovan," ucapnya dengan antusias.Peter mengangguk, matanya juga mulai berkeliling meneliti berbagai barang yang ada. "Iya, sayang. Kita perlu memastikan semuanya siap sebelum Jovan lahir. Aku akan mulai mencari cat dinding untuk kamar bayi kita," jawab Peter sambil melepaskan tangannya dari genggaman Farah dan berjalan ke arah rak-rak yang penuh dengan kaleng-kaleng c







