Home / Romansa / SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK / BAB..2 Sedingin Es

Share

BAB..2 Sedingin Es

last update Last Updated: 2025-09-29 12:01:45

"Semuanya telah selesai, Papi!" seru Peter lantang.

"Maksud kamu, apanya yang telah usai?" tanya Tuan Theo penasaran.

"Semua telah berakhir! Aku jamin, ini yang terakhir kalinya aku tersakiti karena wanita, Papi. Untuk kedepannnya aku tidak akan mau mengenal wanita manapun lagi. Aku juga sudah bertekad untuk melajang seumur hidupku! Aku akan menikmati rasa sakit itu sendiri." tegas Peter lagi.

"Apa? Kamu jangan bercanda begitu, Peter!" Kali ini justru ayahnya yang kaget dengan pernyataan sang putra.

"Papi tidak akan pernah setuju. Masa kamu mengambil keputusan yang sangat ekstrim?"

"Keputusan ekstrim apa maksud Papi?" tanya Peter lagi. Dia sepertinya pura-pura tidak tahu.

"Yang kamu katakan barusan, akan melajang seumur hidup. Papi tidak setuju dengan itu." ujar sang ayah khawatir kepada putra semata wayangnya.

"Keputusanku sudah bulat, Papi." ujarnya Peter lagi.

"Peter, jika kamu betah melajang sampai tua. Siapakah nantinya yang akan menjadi penerus keturunan keluarga Jacob? Kamu jangan asal ambil keputusan seperti itu! Kamu harus tahu jika hanya kamu satu-satunya yang berhak meneruskan generasi Keluarga Jacob berikutnya! Pokoknya apapun yang terjadi. Papi tidak setuju dengan keputusanmu itu!" sergah Tuan Theo kepada anaknya.

"Papi, Please. Tolong jangan goyahkan pendirianku kali ini! Tekadku sudah bulat. Aku tidak mau kecewa lagi! seru Peter lantang.

Tuan Theo menjadi terdiam. Putranya sungguh keras kepala.

"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus segera memberitahukan hal ini kepada Neira!" gumam Tuan Theo dalam hati.

Lalu Peter pun terlihat bersiap-siap hendak ke luar dari ruangannya.

"Kamu mau ke mana?" tanya sang ayah.

"Sebentar lagi aku ada meeting dengan klien di luar kantor, Pi. Jadi aku mau bersiap-siap dulu." ujarnya lalu beranjak ke luar dari ruangannya.

Setelah Putranya ke luar dari ruangan itu, Tuan Theo segera menelpon sang istri.

Nyonya Neira :

"Halo, Pi. Ada apa kamu menelepon Mami?"

Tuan Theo :

"Halo, Mi! Gawat ... Mami!"

Nyonya Neira :

"Apanya yang gawat sih, Papi? Mami lagi sama teman nih."

Tuan Theo :

"Ini tentang Peter, Mami!"

Nyonya Neira :

"Memangnya Peter kenapa, Pi? Apa dia membuat masalah lagi?"

Tuan Theo :

"Pokoknya aku tunggu Mami di rumah, sekarang! Secepatnya Mami pulang, ya!"

Lalu panggilan telepon itu pun diakhiri oleh Tuan Theo.

"Kenapa jeng? Kok sepertinya ada hal penting?" Tanya Nyonya Dira kepada sahabatnya.

"Nggak tahu tuh jeng. Suamiku menyuruhku untuk pulang cepat. Katanya ada hal penting tentang Peter yang ingin dia bicarakan denganku."

"Oh gitu ya, Jeng? Ngomong-ngomong Nak Peter apa kabar, Jeng? Apakah sudah punya calon pendamping, belum?" selidik nyonya Dira.

"Sepertinya belum punya calon, jeng. Peter malah sering dikhianati sama perempuan."

"Wah kasihan banget. Semoga Nak Peter mendapatkan jodoh yang baik ya, Jeng?" seru Nyonya Dira.

"Ya harapan kita sebagai orang tua tentunya ingin yang terbaik untuk Peter. Kalau Farah kabarnya bagaimana?" Kali ini Nyonya Neira yang balik bertanya.

"Farah sebentar lagi akan wisuda, Jeng. Mungkin bulan depan wisudanya."

"Wah tak terasa ya, Jeng. Anak-anak kita sudah pada besar semua." ucap Nyonya Neira.

"Benar, Jeng. Umur kita juga semakin bertambah. Tapi kita jangan sampai tua-tua banget deh! Harus pintar merawat diri," tutur Nyonya Dira kepada sahabatnya.

"Iya, Jeng. Benar itu. Oh ya, Jeng. Bagaimana dengan Farah? Apakah Farah sudah memiliki kekasih?" tanya Nyonya Neira.

"Wah, soal itu saya kurang tahu, Jeng. Farah anaknya tertutup banget dan rada pendiam gitu. Tapi sepertinya tidak ada, deh." sahut Nyonya Dira.

Dering telepon Nyonya Neira kembali terdengar lagi. Di layar ponsel ada nama suaminya.

"Jeng, sepertinya aku harus pulang duluan nih. Suamiku menelepon lagi," ujarnya dengan wajah memelas.

"Iya, Jeng. Nggak apa-apa kok. Sebentar lagi, Zack juga akan menjemputku."

"Oh ya, bagus deh kalau begitu. Salam buat Mas Zack ya, Jeng. Kapan-kapan kita ngumpul bareng, deh. Sambil membawa keluarga kita masing-masing." seru Nyonya Neira

"Wah ide bagus tuh, jeng! Patut dicoba." Setelah selesai berbasa-basi ria. Nyonya Neira segera ke luar dari salon itu. Dan berjalan menuju parkiran di mana sang sopir sedang menunggunya dari tadi.

Nyonya Neira pun masuk ke dalam mobil.

"Kita ke mana, Nyonya?" tanya sang sopir.

"Langsung pulang saja, Pak." titahnya kepada sang sopir.

Sesampai di rumah. Nyonya Neira pun melihat jika suaminya sedang berjalan mondar-mandir di ruang keluarga. Dia pun menjadi bingung melihat tingkah suaminya itu.

"Papi, aku pulang," ujar Nyonya Neira senang. Lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.

Tuan Theo segera menatap ke arah istrinya dengan pandangan datar.

"Kamu kenapa sih, Pi? Dari tadi aku melihat kamu jalan mondar-mandir terus. Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya sang istri kepada suaminya.

"Mami! Gawat, Mi! Ini sangat serius! ucapnya tiba-tiba.

"Gawat? Apanya yang gawat sih, Pi? Kamu yang jelas dong kalau ngomong. Oh ya, bagaimana penampilan Mami setelah ke salon? Makin cantik nggak, Pi?" seru Nyonya Neira meminta pendapat suaminya.

"Mami! Kita fokus dulu! Kamu kok terlihat santai, sih?" ucap Tuan Theo lagi.

"Maksud kamu apa sih, Papi? Tolong dong jangan mutar-mutar. Kepalaku bisa pusing. Aku hanya minta kamu memuji penampilanku. Tapi kamu malah seolah-olah tidak peduli!" Nyonya Neira pun mulai kesal kepada suaminya.

"Penampilanmu tetap cantik, Mami. Itu tidak diragukan lagi." puji Tuan Theo.

"Akan tetapi ada yang lebih penting dari itu sekarang!" serunya lagi.

"Duh, Papi! Kamu bikin aku sewot deh! Dari tadi bilang gawat, penting dan lain-lain tapi kamu tidak menyebutkan apa itu yang gawat dan penting!" kesal Nyonya Dira.

"Itu karena aku terlalu kaget, Mami! Aku tidak bisa berkata-kata lagi!" ujarnya tak kalah sengit.

"Papi, lihat aku!" ucap Nyonya Neira mendekat kepada suaminya.

"Coba sekarang Papi tarik napas dalam-dalam." Dengan cepat Tuan Theo mengikuti perkataan istrinya.

Suaminya pun menarik napasnya dan tidak lupa, dia menghembuskannya kembali.

"Nah sekarang ceritakan, apakah hal gawat itu?" tanya Nyonya Neira penasaran.

Tuan Theo pun mulai menceritakan keputusan putra mereka, Peter yang tidak ingin mengenal wanita lagi di dalam hidupnya.

"Apa? Papi jangan bercanda dong? Bukannya tadi pagi Peter sudah kembali masuk kantor, Pi? Bahkan tadi Leon memperlihatkan saat Peter sedang memimpin meeting di kantor." ucap sang istri.

"Iya, Mi. Memang benar Peter sudah masuk kantor. Bahkan tadi kami sarapan bersama."

"Terus kenapa Peter sampai berkata hal seperti itu?" tukas Nyonya Neira.

"Peter sama sekali tidak bercanda mengatakan itu, Mami. Dia mengatakannya dengan serius. Makanya Papi langsung menelpon Mami tadi." ucapnya lagi.

"Kalau begitu, kita harus mencari informasi dari Leon! Mami yakin, Leon pasti mengetahui sesuatu." tutur Nyonya Neira lalu menelepon Asisten Leon.

Sementara itu, Peter saat ini melajukan mobilnya di sebuah klinik tempat kerja sahabatnya. Setelah menempuh beberapa waktu dalam perjalanan, akhirnya dia sampai juga.

Peter turun dari mobil sport keluaran terbaru miliknya. Banyak mata melirik penampilannya yang sungguh tampan itu. Ada beberapa orang perempuan yang menatapnya dengan kekaguman yang hakiki karena wajahnya yang sangat tampan.

Namun sayangnya, Peter mengabaikan semuanya. Dia sama sekali tidak peduli dan masa bodoh. Setelah masa pelariannya selama hampir satu bulan lamanya. Peter telah mengambil tekad untuk mulai bersikap cuek dan dingin terutama dengan para wanita.

"Selamat pagi," ujarnya datar kepada seorang perawat yang sedang berjaga di klinik itu.

"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa perawat itu.

"Saya mau bertemu dengan dokter Ridwan," ucapnya dingin.

"Apakah Anda sudah buat janji sebelumya, Tuan?"

"Cih, memangnya saya perlu buat janji dulu?" Peter mulai membangun sifat dinginnya dan perawat ini adalah kelinci percobaannya pertama.

"Harus ada janji dulu Tuan, karena dokter Ridwan sedang sangat sibuk saat ini. Terlebih saat ini Beliau sedang menangani seorang pasien." Jawab perawat itu mulai jengkel dengan sifat arogan yang ditampilkan oleh Peter.

"Katakan saja jika Peter Jacob ingin bertemu dengannya!" serunya sambil menatap tajam ke arah perawat itu.

"Ganteng-ganteng tapi galak!" gumam sang perawat.

"Anda mengatakan apa barusan?" tatapnya semakin tajam kepada perawat itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 104 Keluarga Adalah Anugerah Terindah Dalam Hidup

    Kehidupan Farah dan Peter semakin berwarna setelah kelahiran putra pertama mereka, Jovan Jacob. Jovan, yang kini berusia empat tahun, adalah sumber kebahagiaan yang tak ternilai bagi keluarga kecil ini. Peter dan Farah telah menempuh banyak perjalanan indah bersama, akan tetapi ada kabar baik yang membuat mereka semakin berbahagiaFarah hamil anak kedua, seorang bayi perempuan yang rencananya akan mereka beri nama Feifelin Jacob.Suatu pagi yang cerah, Farah dan Peter duduk di teras belakang rumah mereka sambil menikmati secangkir teh. Farah memandang ke arah Jovan yang sedang bermain dengan mobil-mobilannya di taman. Dia mengusap perutnya yang semakin besar dengan penuh kasih sayang. "Mas Peter, rasanya tidak sabar menunggu kehadiran Feifelin. Aku yakin dia akan membawa lebih banyak kebahagiaan dalam hidup kita," ujar Farah dengan senyum lembut.Peter menggenggam tangan Farah, menatapnya dengan penuh cinta."Aku juga, Sayang. Jovan pasti akan menjadi kakak yang luar biasa. Aku bisa

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 103 Ulang Tahun Jovan

    Pagi yang cerah di Pantai Ancol, Jakarta Utara. Menjadi tempat yang bagus dan latar belakang sempurna untuk ulang tahun ketiga Jovan Jacob, putra dari Peter dan Farah. Langit biru yang cerah dan angin sepoi-sepoi menambah semaraknya suasana di pantai indah itu. Peter dan Farah memilih tema pantai untuk merayakan momen spesial bagi putra mereka kali ini. Semua persiapan telah dilakukan dengan cermat. Meja-meja telah dipenuhi berbagai jenis camilan dan es krim beraneka rasa sementara beberapa badut Dufan yang disewa oleh Peter juga sudah bersiap dengan atraksi mereka.Di tepi pantai, Farah sibuk mengatur dekorasi terakhir sambil memastikan Jovan yang berlari-lari di sekitar tetap aman. "He-he-he! Mas Peter, kamu sudah pasang balon-balon itu dengan benar?" teriak Farah sambil tertawa melihat suaminya berusaha mengikat balon-balon warna-warni ke tiang-tiang."Sudah, Sayang! Lihat saja, Jovan sangat senang," jawab Peter sambil menunjuk ke arah putranya, Jovan yang sedang bermain dengan

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 102 Kelahiran Baby Jovan

    Farah merasakan nyeri yang semakin intens di perutnya. Dia berbaring di kamar, mencoba mengatur napasnya, namun kontraksi yang datang silih berganti membuatnya sulit untuk tenang. Jam di dinding menunjukkan pukul satu siang. Peter, yang sudah beberapa hari ini siaga di rumah, segera mendekatinya. "Farah, Sayang. Apakah kamu baik-baik saja? Kontraksinya semakin sering, ya?" tanya Peter dengan nada cemas.Farah mengangguk, wajahnya menahan sakit. "Sepertinya sudah saatnya, Mas Peter. Aku perlu ke rumah sakit sekarang," ujarnya sambil menggenggam tangan suaminya erat-erat.Peter mengangguk cepat, "Baik, aku akan menyiapkan mobil dengan segera. Jangan khawatir, Sayang. Semua akan baik-baik saja." Sang suami lalu dengan cepat mengambil tas yang sudah mereka siapkan sebelumnya dan membantu Farah berdiri. Dengan hati-hati, Peter menuntun Farah menuju ke mobil dan memastikan dia duduk nyaman di kursi penumpang.Setibanya di rumah sakit, mereka segera disambut oleh bidan dan dokter spesiali

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 101 Acara Tujuh Bulanan

    Ballroom hotel bintang lima di Jakarta Pusat kembali menjadi tempat berkumpulnya keluarga dan kerabat dekat untuk merayakan momen istimewa dalam hidup Farah dan Peter. Kali ini, mereka merayakan acara tujuh bulanan kehamilan Farah, sebuah tradisi yang sarat makna dan harapan baik bagi calon ibu dan bayinya. Pagi itu, ballroom telah di dekorasi dengan nuansa tradisional yang elegan. Warna-warna emas dan putih mendominasi, memberikan kesan anggun dan sakral. Meja-meja dihias dengan bunga melati dan mawar putih, sementara di tengah ruangan terdapat panggung kecil yang didekorasi dengan kain batik dan payung tradisional. Di panggung itu, terdapat kursi yang disiapkan untuk Farah dan Peter, tempat mereka akan menjalani serangkaian prosesi.Farah mengenakan kebaya modern berwarna emas dengan sentuhan bordir yang rumit, sementara Peter mengenakan batik berwarna senada. Mereka tampak serasi dan penuh semangat menyambut acara yang penuh doa dan harapan ini.Sekitar pukul sepuluh pagi, para ta

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 100 Acara Baby Shower

    Pada suatu sore yang cerah di Kota Jakarta, Farah dan Peter tengah bersiap-siap menyambut para tamu undangan yang akan hadir di acara baby shower untuk menyambut kelahiran Baby Jovan. Acara tersebut diadakan di sebuah ballroom megah di hotel bintang lima ternama di Jakarta Pusat. Ballroom tersebut dihiasi dengan elegan, menampilkan dekorasi berwarna biru dan putih, simbolisasi akan kelahiran anak laki-laki yang mereka nantikan, Baby Jovan Jacob.Farah mengenakan gaun maternity berwarna biru pastel yang anggun, dengan pita putih besar di bagian pinggang. Peter, di sisi lain, tampil gagah dengan setelan jas berwarna abu-abu. Wajah mereka tampak berseri-seri, senyuman tak pernah lepas dari wajah keduanya. Peter menggenggam tangan Farah erat-erat, memberikan dukungan penuh kepada istrinya.Saat jam menunjukkan pukul enam sore, tamu-tamu mulai berdatangan. Pintu ballroom terbuka lebar, menyambut para kerabat dan partner bisnis Peter. Tamu pertama yang datang adalah Tuan Rahez dan istriny

  • SATU ATAP DENGAN CEO JUTEK    BAB. 99 Mempersiapkan Kamar Bayi

    Farah dan Peter sedang berdiri di depan toko perlengkapan bayi yang baru saja mereka temukan di pusat perbelanjaan mewah di kawasan Jakarta Selatan. Udara sore yang sejuk dan matahari yang masih bersinar lembut menemani langkah mereka memasuki toko yang penuh dengan barang-barang imut dan pernak-pernik bayi. Pintu kaca toko berderit ringan saat Peter menariknya terbuka, dan mereka berdua disambut oleh aroma segar bedak bayi yang menguar di seluruh ruangan istimewa itu.Farah menggandeng lengan Peter sambil tersenyum lebar. "Sayang, lihat! Ada banyak pilihan tempat tidur bayi di sini. Aku ingin memilih yang terbaik untuk Jovan," ucapnya dengan antusias.Peter mengangguk, matanya juga mulai berkeliling meneliti berbagai barang yang ada. "Iya, sayang. Kita perlu memastikan semuanya siap sebelum Jovan lahir. Aku akan mulai mencari cat dinding untuk kamar bayi kita," jawab Peter sambil melepaskan tangannya dari genggaman Farah dan berjalan ke arah rak-rak yang penuh dengan kaleng-kaleng c

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status