MasukKehidupan Farah dan Peter semakin berwarna setelah kelahiran putra pertama mereka, Jovan Jacob. Jovan, yang kini berusia empat tahun, adalah sumber kebahagiaan yang tak ternilai bagi keluarga kecil ini. Peter dan Farah telah menempuh banyak perjalanan indah bersama, akan tetapi ada kabar baik yang membuat mereka semakin berbahagiaFarah hamil anak kedua, seorang bayi perempuan yang rencananya akan mereka beri nama Feifelin Jacob.Suatu pagi yang cerah, Farah dan Peter duduk di teras belakang rumah mereka sambil menikmati secangkir teh. Farah memandang ke arah Jovan yang sedang bermain dengan mobil-mobilannya di taman. Dia mengusap perutnya yang semakin besar dengan penuh kasih sayang. "Mas Peter, rasanya tidak sabar menunggu kehadiran Feifelin. Aku yakin dia akan membawa lebih banyak kebahagiaan dalam hidup kita," ujar Farah dengan senyum lembut.Peter menggenggam tangan Farah, menatapnya dengan penuh cinta."Aku juga, Sayang. Jovan pasti akan menjadi kakak yang luar biasa. Aku bisa
Pagi yang cerah di Pantai Ancol, Jakarta Utara. Menjadi tempat yang bagus dan latar belakang sempurna untuk ulang tahun ketiga Jovan Jacob, putra dari Peter dan Farah. Langit biru yang cerah dan angin sepoi-sepoi menambah semaraknya suasana di pantai indah itu. Peter dan Farah memilih tema pantai untuk merayakan momen spesial bagi putra mereka kali ini. Semua persiapan telah dilakukan dengan cermat. Meja-meja telah dipenuhi berbagai jenis camilan dan es krim beraneka rasa sementara beberapa badut Dufan yang disewa oleh Peter juga sudah bersiap dengan atraksi mereka.Di tepi pantai, Farah sibuk mengatur dekorasi terakhir sambil memastikan Jovan yang berlari-lari di sekitar tetap aman. "He-he-he! Mas Peter, kamu sudah pasang balon-balon itu dengan benar?" teriak Farah sambil tertawa melihat suaminya berusaha mengikat balon-balon warna-warni ke tiang-tiang."Sudah, Sayang! Lihat saja, Jovan sangat senang," jawab Peter sambil menunjuk ke arah putranya, Jovan yang sedang bermain dengan
Farah merasakan nyeri yang semakin intens di perutnya. Dia berbaring di kamar, mencoba mengatur napasnya, namun kontraksi yang datang silih berganti membuatnya sulit untuk tenang. Jam di dinding menunjukkan pukul satu siang. Peter, yang sudah beberapa hari ini siaga di rumah, segera mendekatinya. "Farah, Sayang. Apakah kamu baik-baik saja? Kontraksinya semakin sering, ya?" tanya Peter dengan nada cemas.Farah mengangguk, wajahnya menahan sakit. "Sepertinya sudah saatnya, Mas Peter. Aku perlu ke rumah sakit sekarang," ujarnya sambil menggenggam tangan suaminya erat-erat.Peter mengangguk cepat, "Baik, aku akan menyiapkan mobil dengan segera. Jangan khawatir, Sayang. Semua akan baik-baik saja." Sang suami lalu dengan cepat mengambil tas yang sudah mereka siapkan sebelumnya dan membantu Farah berdiri. Dengan hati-hati, Peter menuntun Farah menuju ke mobil dan memastikan dia duduk nyaman di kursi penumpang.Setibanya di rumah sakit, mereka segera disambut oleh bidan dan dokter spesiali
Ballroom hotel bintang lima di Jakarta Pusat kembali menjadi tempat berkumpulnya keluarga dan kerabat dekat untuk merayakan momen istimewa dalam hidup Farah dan Peter. Kali ini, mereka merayakan acara tujuh bulanan kehamilan Farah, sebuah tradisi yang sarat makna dan harapan baik bagi calon ibu dan bayinya. Pagi itu, ballroom telah di dekorasi dengan nuansa tradisional yang elegan. Warna-warna emas dan putih mendominasi, memberikan kesan anggun dan sakral. Meja-meja dihias dengan bunga melati dan mawar putih, sementara di tengah ruangan terdapat panggung kecil yang didekorasi dengan kain batik dan payung tradisional. Di panggung itu, terdapat kursi yang disiapkan untuk Farah dan Peter, tempat mereka akan menjalani serangkaian prosesi.Farah mengenakan kebaya modern berwarna emas dengan sentuhan bordir yang rumit, sementara Peter mengenakan batik berwarna senada. Mereka tampak serasi dan penuh semangat menyambut acara yang penuh doa dan harapan ini.Sekitar pukul sepuluh pagi, para ta
Pada suatu sore yang cerah di Kota Jakarta, Farah dan Peter tengah bersiap-siap menyambut para tamu undangan yang akan hadir di acara baby shower untuk menyambut kelahiran Baby Jovan. Acara tersebut diadakan di sebuah ballroom megah di hotel bintang lima ternama di Jakarta Pusat. Ballroom tersebut dihiasi dengan elegan, menampilkan dekorasi berwarna biru dan putih, simbolisasi akan kelahiran anak laki-laki yang mereka nantikan, Baby Jovan Jacob.Farah mengenakan gaun maternity berwarna biru pastel yang anggun, dengan pita putih besar di bagian pinggang. Peter, di sisi lain, tampil gagah dengan setelan jas berwarna abu-abu. Wajah mereka tampak berseri-seri, senyuman tak pernah lepas dari wajah keduanya. Peter menggenggam tangan Farah erat-erat, memberikan dukungan penuh kepada istrinya.Saat jam menunjukkan pukul enam sore, tamu-tamu mulai berdatangan. Pintu ballroom terbuka lebar, menyambut para kerabat dan partner bisnis Peter. Tamu pertama yang datang adalah Tuan Rahez dan istriny
Farah dan Peter sedang berdiri di depan toko perlengkapan bayi yang baru saja mereka temukan di pusat perbelanjaan mewah di kawasan Jakarta Selatan. Udara sore yang sejuk dan matahari yang masih bersinar lembut menemani langkah mereka memasuki toko yang penuh dengan barang-barang imut dan pernak-pernik bayi. Pintu kaca toko berderit ringan saat Peter menariknya terbuka, dan mereka berdua disambut oleh aroma segar bedak bayi yang menguar di seluruh ruangan istimewa itu.Farah menggandeng lengan Peter sambil tersenyum lebar. "Sayang, lihat! Ada banyak pilihan tempat tidur bayi di sini. Aku ingin memilih yang terbaik untuk Jovan," ucapnya dengan antusias.Peter mengangguk, matanya juga mulai berkeliling meneliti berbagai barang yang ada. "Iya, sayang. Kita perlu memastikan semuanya siap sebelum Jovan lahir. Aku akan mulai mencari cat dinding untuk kamar bayi kita," jawab Peter sambil melepaskan tangannya dari genggaman Farah dan berjalan ke arah rak-rak yang penuh dengan kaleng-kaleng c







