Share

126. PESAN BERUNTUN

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-04-02 18:19:17

"Aku hanya mau ke kantor, Mas Teguh," ujar Sabrina dengan nada frustrasi. Ia sudah rapi dengan setelan kerjanya, tas kulit tersampir di bahu, namun langkahnya dihadang oleh tubuh tegap Teguh yang berdiri kokoh di depan pintu utama.

Teguh tidak bergeming sedikit pun, wajahnya sekaku beton. "Maaf, Mbak Sabrina. Perintah Tuan Kael tidak bisa dibantah. Untuk sementara waktu, Mbak dilarang meninggalkan area rumah."

Sabrina menghela napas pa

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   264. BERTAHANLAH

    "Menjauh dari pintu, Sabi! Sekarang!" teriak Adrian, suaranya parau menembus deru angin laut Pelabuhan Merak. Tanpa menunggu jawaban putrinya, Adrian menghantamkan alat override manual universal itu ke panel kontrol elektronik di samping pintu besi. Seketika, bunyi mekanis klik yang berat terdengar, disusul oleh suara desis hidrolik yang memekakkan telinga. Pintu magnetik itu terlempar terbuka akibat tekanan udara dari dalam, menyemburkan sisa cadangan gas kuning pekat secara masif ke arah luar."Tahan maskermu, Nona!" pekik Teguh yang langsung melompat mundur bersama Adrian untuk menghindari paparan langsung. Semburan gas bertekanan tinggi itu menghantam tubuh Sabrina dengan keras. Sesuai peringatan ayahnya, dorongan udara tersebut nyaris merenggut masker respirator industrinya. Dengan sigap, Sabrina menggunakan tangan kirinya untuk menekan kuat-kuat bingkai karet maskernya ke wajah, memastikan segelnya tidak bocor oleh konsentrasi Sarin yang mematikan, sement

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   263. KEHABISAN WAKTU

    Kabut kuning pekat dari pelepasan cadangan gas kedua mulai bergulung liar, mengaburkan pandangan di sekitar dermaga tua Pelabuhan Merak. Aroma tajam sulfur yang bercampur dengan senyawa zat kimia lain terasa begitu pekat, mengalahkan bau amis air laut. Sabrina bergegas menarik tali masker respirator industrinya hingga menempel ketat di wajah, mengisolasi pernapasannya dari udara luar yang kini telah berubah menjadi racun mematikan. Di sampingnya, Victor dan Teguh terbatuk hebat, terpaksa mundur beberapa langkah karena hanya mengenakan masker standar anti-huru-hara yang tak mampu menyaring partikel Sarin dosis tinggi. Di tengah kepulan uap kuning itu, sesosok pria melangkah maju dari balik deretan kontainer logistik pelabuhan. Ia berjalan dengan tenang, sama sekali tidak t

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   262. AKU PUNYA PENAWARNYA

    Sabrina mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang tajam memindai layar monitor. Ia memperbesar gambar CCTV pada area pintu masuk gudang pelabuhan utara yang ternyata berlokasi di area dermaga tua Pelabuhan Merak. Di sana, ia tidak hanya melihat struktur bangunan tua yang kusam, melainkan sebuah anomali atmosferik yang luput dari pandangan mata awam. Ada distorsi udara yang samar, sebuah efek pelangi tipis yang membiaskan cahaya matahari pagi di sekitar ventilasi gudang."Bukan... itu bukan uap air," bisik Sabrina dengan napas tertahan. Sebagai ahli kimia murni, ia mengenali fenomena itu sebagai refractive index yang tidak wajar akibat pelepasan uap kimia korosif dalam konsentrasi tinggi.

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   261. PERGI DIAM-DIAM

    Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden kamar Nyonya Maureen, menyapu lembut wajah Sabrina yang masih terlelap. Di atas ranjang besar dengan seprai sutra itu, Sabrina tampak begitu tenang, wajahnya yang damai membuat siapa pun akan teringat pada sosok putri tidur dalam dongeng lama. Tidak ada sisa kemarahan atau isakan pilu yang tadi malam menghancurkan jiwanya; yang tersisa hanyalah kecantikan yang rapuh di tengah badai yang belum usai. Di sudut ruangan, Nyonya Maureen berdiri memperhatikan cucunya dan gadis itu dengan tatapan sayu."Kasihan sekali. Gadis itu pasti selalu merasa terancam," kata sang nenek, suaranya parau oleh usia dan rasa prihatin. Kael hanya diam. Ia

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   260. KARENA GADIS YANG KUCINTAI

    “Victor, dengar aku baik-baik.” Suara Kael terdengar rendah namun tajam, memotong keheningan di dalam panic room yang dipenuhi deretan monitor keamanan. Ia berdiri di dekat meja kontrol sambil memegang telepon satelit dengan erat.“Tarik semua tim Alpha dari sektor timur,” lanjutnya tegas. “Pindahkan mereka ke jalur utama sekarang juga. Aku tidak ingin ada celah sekecil apa pun di area ini.” Dari seberang sambungan terdengar suara samar sang kepala keamanan. Kael melanjutkan tanpa memberi jeda.“Pantau setiap pergerakan. Jika ada kendaraan atau orang asing yang mendekat, laporkan padaku sebelum mereka melewati pagar kedua.”Ia berhenti sebentar, menatap layar yang menampilkan halaman rumah besar itu.“Dan Victor,” tambahnya dingin. &l

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   259. RAHASIA LAMA

    "Apa maksud Bang Ganda tentang operasi pembersihan itu?" Suara Sabrina memecah keheningan yang menyesakkan, matanya menatap tajam ke arah Kael yang masih menggenggam ponselnya yang sudah gelap. Kael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, membiarkan jemarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu ek seolah sedang menimbang beban rahasia yang selama ini ia pikul sendiri."Ada bagian dari sejarah keluarga kita yang sengaja dikubur agar kau bisa tidur dengan nyenyak setiap malam.""Jangan gunakan kalimat klise itu lagi," potong Sabrina cepat, nada suaranya meninggi. "Ayahku tertahan di perbatasan, dan musuhmu menggunakan namanya sebagai senjata. Aku bukan seperti Aliz, anak kecil yang hanya bisa kau beri dongeng sebelum tidur. Katakan yang sebenarnya!"

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   25. ADA APA DENGANMU?

    "Kael, kau dengar aku tidak sih?" Gladis akhirnya meledak. Bahasa formalnya menguap, digantikan nada merajuk yang biasa ia gunakan saat mereka hanya berdua. "Keputusanmu memindahkan si OB itu ke ruanganmu benar-benar konyol. Semua orang di kantor membicarakannya. Mereka akan mengira aku tidak bec

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   24. JANGAN PINGSAN DI KARPETKU

    Kael yang memiliki pendengaran tajam seketika menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard. Ia mendongak, matanya yang abu-abu menatap Sabrina dengan penuh selidik.

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   23. DASAR PLIN-PLAN

    Kael menyentil layar laptopnya. Bunyi benturan benda elektronik itu terdengar jelas di ruangan yang mendadak terasa sempit. Ia memutar ulang rekaman CCTV di kepalanya untuk kesekian kali.&

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   22. BUKAN DIA ORANGNYA

    Matahari baru saja menyembul di cakrawala ketika Sabrina sudah selesai menyetrika seragam birunya hingga ke tiap sudut lipatan. Tidak ada lagi getaran di jemarinya. Rasa sakit karena dihina oleh Kael semalam tidak lantas menguap, namun ia memilih untuk membekukannya. Jika ia harus pergi bulan depan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status