Share

23. DASAR PLIN-PLAN

Author: A mum to be
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-23 15:23:35

            Kael menyentil layar laptopnya. Bunyi benturan benda elektronik itu terdengar jelas di ruangan yang mendadak terasa sempit. Ia memutar ulang rekaman CCTV di kepalanya untuk kesekian kali.

            Sosok itu. Pria yang selalu tampak santun dan profesional itulah yang menyelinap masuk ke ruangannya sebelum Sabrina. Kael memperhatikan bagaimana

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   258. LABIRIN RAHASIA

    Kael meletakkan gelas air hangat yang masih mengepul itu ke meja kayu di samping mereka. Suasana hening di dalam panic room membuat suara gesekan gelas dan meja terdengar begitu nyaring. Perlahan, Kael meraih kedua tangan Sabrina, menggenggamnya dengan jemari yang masih terasa dingin. Tatapannya yang tadi sempat melunak kini berubah menjadi sangat serius, mengunci manik mata Sabrina yang masih basah."Aku tidak akan membohongimu dengan kata-kata manis," ucap Kael pelan namun tajam. "Selama nama O'Shea masih melekat pada silsilah ini, ancaman akan selalu mengintai dari bayang-bayang. Aku tidak bisa menjanjikan kedamaian yang kau impikan, tapi aku bisa menjanjikan perlindungan mutlak selama aku masih bernapas." Sabrina merasa dunianya yang selama ini ia susun dengan logika sederhana kini benar-benar hancur berantakan. Ia harus menerima fakta pahit bahwa pria yang ia cintai bukan sekadar CEO sukses, melainkan target permanen dari dendam masa lalu."Ken

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   257. KENAPA KAU JADI PENAKUT?

    Denging panjang memekakkan telinga setelah dentuman itu meledak. Sabrina mematung. Selama beberapa saat, dunianya kehilangan warna dan suara. Ia hanya menatap nanar pada sosok yang terkapar di lantai, sementara getaran hebat mulai menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya. Asap mesiu masih mengepul, mengaburkan pandangan sejenak. Namun, begitu kabut itu menipis, Sabrina jatuh terduduk. Di depannya, sosok pria yang mengenakan jaket yang sangat mirip dengan milik kakaknya tergeletak bersimbah darah. Wajahnya hancur terkena peluru, namun postur dan pakaian itu benar-benar menyerupai Ganda."T-tidak... Bang Ganda..." bisik Sabrina dengan bibir gemetar. Air mata langsung luruh membasahi pipinya. Ia merangkak mendekat, hendak menyentuh tubuh yang sudah tak bernyawa itu, merasa dunianya runtuh seketika. Namun, sebelum jemarinya menyentuh kain jaket tersebut, langkah kaki yang tegas dan berat bergema di lorong marmer. Sabrina mendongak dan menemuk

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   256. SUARA YANG FAMILIAR

    Nyonya Maureen bergerak dengan ketenangan yang ganjil. Ia tidak tampak panik, melainkan sangat terukur setelah kondisi yang membuat wanita tua itu terkejut beberapa saat lalu. Dengan satu sentuhan pada ukiran kayu ek di rak buku yang menjulang tinggi, sebuah panel rahasia terbuka dengan suara desis halus. Sabrina, yang jantungnya masih berpacu karena suara tembakan di luar, segera ditarik masuk ke dalam kegelapan yang kemudian disinari oleh cahaya lampu neon otomatis. Panel itu tertutup rapat, mengunci mereka di dalam sebuah panic room yang dilapisi baja tahan ledakan. Di tengah ruangan, deretan monitor menampilkan setiap sudut kediaman O’Shea melalui kamera infra merah."Duduklah, Sabrina. Kita aman di sini untuk sementara," ucap Nyonya Maureen lembut, meski matanya tetap tertuju pada layar monitor. Sabrina duduk dengan lemas, matanya terpaku pada layar yang menunjukkan Kael bergerak taktis di balik pilar marmer teras utama. "Nyonya, ke

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   255. KAU MEMBUATKU TAKUT

    "Dalam dunia keluarga kita, garis antara bisnis dan keamanan fisik itu tidak pernah ada," sahut Kael dengan nada yang mendadak sangat dingin. Ia berdiri tegak, bayangannya jatuh menutupi meja kayu ek yang kokoh.Sabrina mendongak, menatap pria itu dengan alis berkerut dalam. “Jangan mengada-ada. Kau pasti mengerjaiku,” ucapnya pura-pura tak percaya walau di dalam hati meragu."Kau pikir saham dan angka di layar itu satu-satunya cara orang menjatuhkan kita?" Kael tertawa hambar, sebuah suara yang tidak memiliki sedikit pun unsur humor. "Kadang, peluru lebih cepat daripada surat gugatan."Sabrina mendengus, mencoba mencairkan suasana yang terasa terlalu berat untuknya. "Wah, kau bicara seolah-olah kau ini bos mafia di film-film. Apa setelah ini kau akan memaksaku memakai rompi antipeluru juga?""Kalau itu bisa membuatmu tetap hidup, aku akan memakaikanmu dua lapis," jawab Kael tanpa ekspresi."Kau berlebihan," gumam Sabrina sambil menyila

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   254. PEMBERONTAK?

    Mobil hitam mewah itu melaju cepat membelah kegelapan pinggiran kota. Lampu depannya menyapu jalanan berliku yang diapit deretan pohon pinus tinggi, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak di aspal basah. Sementara Sabrina duduk kaku di kursi penumpang, mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat. Matanya berkali-kali melirik ke arah Kael. Profil pria itu tampak tegang. Rahangnya mengeras, dan sorot mata yang biasanya menyimpan ejekan santai kini berubah tajam dan dingin. Ada aura otoriter yang belum pernah Sabrina lihat sebelumnya.Kecepatan mobil tidak juga berkurang.“Kael… kita tidak perlu ngebut seperti ini,” gumam Sabrina pelan, mencoba menenangkan suasana.Kael tidak menoleh.“Pegang sabukmu dengan benar,” jawabnya singkat.&

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   253. PRIA MURAHAN

    "Ceknya, Mbak. Saya permisi sekarang juga," ucap Sabrina dengan nada ketus yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.Sret! Suara derit kursi yang bergesekan dengan lantai marmer restoran itu terdengar begitu nyaring, membelah kebisingan area lounge yang eksklusif. Sabrina berdiri secara mendadak, membuat beberapa pelayan dan tamu menoleh ke arahnya, termasuk sepasang manusia di meja sudut yang sejak tadi menjadi pusat badai di hatinya. Kael tidak menoleh sedikit pun. Pria itu tetap bersikap acuh tak acuh, justru sengaja tertawa rendah menanggapi candaan manja dari wanita berpakaian minim di hadapannya. Tawa itu terdengar begitu menyakitkan di telinga Sabrina, seperti sembilu yang menyayat tepat di atas luka rasa bersalahnya pagi tadi. Rasa sesak di dadanya memuncak, perpaduan antara cemburu yang membakar dan amarah me

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   59. GADIS SMP

    Denting lonceng di pintu butik Le Vian terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Sabrina. Begitu mereka melangkah masuk, manajer butik langsung mengunci pintu kaca besar itu dari dalam dan membalik papan nama menjadi Closed. Di bawah pendar lampu kristal yang mewah, butik itu kini berubah m

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   58. KENAPA JAUH SEKALI?

    Untuk pertama kalinya, bukan seragam abu-abu kaku dengan kerah tinggi yang Kael lihat. Bukan pula celemek pelayan yang sering kali tampak lusuh karena debu pekerjaan. Di hadapannya kini, Sabrina tampil dalam balutan tunik sederhana berwarna krem yang jatuh dengan anggun di tubuhnya. Ram

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   57. BU NENEK

    Minggu pagi itu, Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat. Langit biru bersih memayungi perjalanan mobil sedan hitam yang meluncur tenang menuju kawasan Jakarta Barat. Di dalam kabin yang kedap suara, Sabrina duduk berdampingan dengan Nyonya Maureen. Ya. Pagi ini, Sabrina men

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   56. OBROLAN MALAM MINGGU

    Malam Minggu di kediaman mewah keluarga O’Shea tidaklah diisi dengan pesta pora atau dentuman musik yang memekakkan telinga. Sebaliknya, suasana tenang yang elegan menyelimuti ruang tengah. Di sana, di atas sofa beledu yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status