LOGINKael menyentil layar laptopnya. Bunyi benturan benda elektronik itu terdengar jelas di ruangan yang mendadak terasa sempit. Ia memutar ulang rekaman CCTV di kepalanya untuk kesekian kali.
Sosok itu. Pria yang selalu tampak santun dan profesional itulah yang menyelinap masuk ke ruangannya sebelum Sabrina. Kael memperhatikan bagaimana
Kael melangkah keluar dari pintu jet pribadinya, disambut oleh udara lembap yang khas dan deru mesin pesawat di landasan pacu Bandara Seletar. Langkah kakinya yang tegas bergema di lantai aspal, dikelilingi oleh empat pria berpostur tegap dengan setelan jas hitam yang tampak kontras dengan cerahnya langit pagi. Wajah Kael tampak kaku, sisa-sisa trauma dari bioskop semalam masih membekas dalam bentuk lingkaran hitam di bawah matanya. Saat ia memasuki mobil sedan mewah yang sudah menunggu di pinggir landasan, ponselnya bergetar di saku jas. Kael merogohnya, mengharapkan laporan dari tim intelijen, namun justru nama Sabrina yang muncul di layar.[Tuan, maafkan saya karena pilihan film semalam. Saya sangat menyesal telah membuat Anda tidak nyaman. Tolong istirahatl
Pagi itu, sinar matahari Jakarta menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar Sabrina, membawa kehangatan yang kontras dengan sisa-isa ketegangan di bioskop semalam. Ia terbangun dengan jantung yang masih sedikit berdebar. Bayangan wajah Kael yang pucat pasi dan genggaman tangannya yang sedingin es terus berputar di kepalanya. Namun, di balik rasa cemas itu, ada seulas senyum tipis di bibirnya. Semalam, sebelum serangan panik itu menghancurkan suasana, Kael telah mengabulkan satu permintaannya, yakni menonton film di bioskop biasa, berdesakan dengan orang banyak, sebuah pengalaman yang sangat manusiawi bagi pria sekelas Kael. Bagi Sabrina, itu bukan sekadar menonton film, tapi sebuah pengakuan tersirat bahwa Kael bersedia masuk ke dunianya. 
Suara dentuman senapan dari sistem suara Dolby Atmos itu terasa seolah meledak tepat di depan wajah Kael. Karena posisi mereka berada di barisan paling depan, layar raksasa itu seolah menelan seluruh eksistensi Kael. Setiap kilatan api dari moncong pistol dan setiap tetes darah buatan yang terciprat di layar terasa begitu nyata, memicu memori sensorik yang seharusnya terkunci rapat di dasar trauma masa kecilnya. Napas Kael tersengal, pendek-pendek dan berat. Paru-parunya terasa menyempit, menolak pasokan oksigen yang seolah-olah telah berubah menjadi gas beracun. Di dalam kegelapan teater yang dingin itu, Kael merasa kulitnya terbakar. Ia tidak lagi berada di sebuah bioskop di Jakarta. Namun, ia merasa kembali berada di dalam gudang tua yang pengap, mencium bau karat besi dan mesiu yang menyengat.&
"Tuan takut ya?" Suara Sabrina memecah keheningan kabin mobil tepat saat mereka baru saja mematikan mesin di area parkir sebuah pusat perbelanjaan besar di jantung Jakarta."Tidak!" bantah Kael tegas. Pria itu bahkan menggelengkan kepalanya beberapa kali, sebuah gerakan repetitif yang seolah-olah ditujukan untuk meyakinkan dirinya sendiri yang sebenarnya tampak sedikit ragu. Sorot matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kegelisahan tipis yang coba ia sembunyikan di balik kerah kemeja mahalnya."Terus?" tanya Sabrina lagi. Ia memiringkan kepala, menatap bosnya itu dengan penuh selidik. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum jahil yang jarang ia tunjukkan di kantor.Kael menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan."Aku hanya berpikir kau akan memilih genre romansa atau paling tidak komed
Sisa ketegangan dari pertemuan dengan Adrian di rooftop lounge kemarin sore seolah menguap begitu saja saat aroma kopi arabika yang baru digiling memenuhi ruang kerja Kael. Pagi itu, kantor O’Shea Group tampak jauh lebih tenang. Tidak ada lagi desakan dokumen dari pihak Jerman yang harus ditandatangani segera. Semuanya sudah selesai, setidaknya untuk fase pertama yang menguras emosi itu. Kael keluar dari ruangannya dengan langkah yang tidak secepat biasanya. Jas kasmirnya tersampir santai di lengan kiri, sementara lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku, menonjolkan urat-urat tangan yang kuat namun tampak rileks. Ia berhenti tepat di depan meja Sabrina, menatap asistennya itu dengan binar yang lebih hangat.
Pintu kaca otomatis di belakang Kael tertutup dengan desis halus, menyisakan keheningan yang mendadak terasa menyesakkan di dalam rooftop lounge itu. Suara bising Jakarta di bawah sana seolah teredam sempurna, menyisakan detak jantung Sabrina yang berpacu liar. Sabrina masih mematung di kursinya, jemarinya terkunci rapat di atas pangkuan hingga kuku-kukunya memutih pias. Di hadapannya, sosok Adrian tidak lagi memancarkan kuasa absolut seorang investor besar dari Jerman yang ditakuti di ruang rapat. Pria itu sedikit menyandarkan punggungnya, membiarkan uap teh Earl Grey yang mulai mendingin menyapu wajahnya yang tampak jauh lebih tua dan letih di bawah sorot lampu temaram. T







