Se connecter"Kael, kau dengar aku tidak sih?" Gladis akhirnya meledak. Bahasa formalnya menguap, digantikan nada merajuk yang biasa ia gunakan saat mereka hanya berdua. "Keputusanmu memindahkan si OB itu ke ruanganmu benar-benar konyol. Semua orang di kantor membicarakannya. Mereka akan mengira aku tidak becus menjadi sekretarismu kalau kau sampai harus mengambil tenaga bantuan dari departemen kebersihan!"
Kael tidak menyahut. Jema
Di dalam kabin sedan perak yang hening, aroma maskulin dari parfum Daniel bercampur dengan wangi terapi yang menenangkan, menciptakan ruang kedap yang seolah memisahkan Sabrina dari hiruk-pikuk Jakarta di luar sana. Daniel sedikit memiringkan tubuhnya, memastikan wajahnya tertangkap kamera gawai Sabrina yang masih terhubung dengan Berlin."Halo, Tuan O'Shea. Saya Daniel, teman lama Sabrina sekaligus orang yang bertanggung jawab atas perjalanannya pagi ini..""Aku tidak tanya. Aku hanya ingin melihat Sabrina," potong Kael dengan nada dingin yang begitu tajam, memutus kalimat Daniel bahkan sebelum pria itu sempat menyelesaikan perkenalan formalnya. Daniel tidak terlihat tersinggung. Ia justru terkekeh pelan. Sebagai seorang psikiater, ia sangat mengenali nada
"Seharusnya kau tersanjung karena kau adalah pasienku satu-satunya yang kudatangi senekat ini."Sabrina yang duduk di samping kursi kemudi mobil Daniel saat ini mencebik. "Oh ya? Aku curiga kalau klinikmu hampir bangkrut karena cuma aku yang jadi pasienmu.""Astaga! Kau meledekku?" gumam Daniel sambil terbahak. Tawanya mengisi kabin sedan perak itu, mencairkan sedikit ketegangan yang membeku di bahu Sabrina sejak pagi tadi.Daniel perlahan meredakan tawanya, kembali ke mode profesional yang tenang namun hangat. "Tapi serius, Sab. Aku tidak akan menjemputmu kalau kau tidak menghilang dari radar klinisku selama tiga minggu. Sebagai psikiatermu, aku khawatir. Sebagai teman, aku... sedikit tersinggung."Sabrina menghela napas, menatap jalanan Jakarta yang mulai merayap padat. "Aku hanya sedang mencoba menjadi normal, Dan. Menjalani hidup tanpa harus menganalisis setiap ketakutan yang muncul di kepalaku.""Dan bagaimana hasilnya?" Daniel meliriknya seki
"Tolong pastikan semua dokumen kerja sama dengan Grup Müller sudah siap di meja ruang kerja saya besok pagi pukul tujuh," suara bariton Kael memecah keheningan lobi apartemen mewahnya di Berlin. Ya. Berlin menyambutnya dengan suhu yang jauh lebih rendah daripada kelembapan Jakarta yang biasa ia hirup. Pukul sembilan malam waktu setempat, ia melangkah masuk ke dalam unit pribadinya yang terletak di jantung kota."Baik, Tuan O'Shea. Semua sudah diatur," jawab anak buahnya, sembari mengambil mantel wol milik Kael. "Apakah ada tambahan lain untuk pertemuan makan malam besok?"Kael menghela napas, langkahnya terasa berat di atas lantai marmer yang dingin. "Batalkan agenda tambahan. Saya ingin istirahat total. Dan, pastikan tidak ada panggilan masuk kecuali itu masalah hidup dan mati.""Tuan tampak sangat lelah," Pria yang membersamainya itu memberanikan diri berujar. "Apa penerbangannya ti
Mobil yang dikemudikan Sabrina membelah jalanan Jakarta dengan ritme yang tenang, sangat kontras dengan dentum jantung di balik dadanya yang masih belum mau mereda. Ketika lampu merah menyala, Sabrina menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin, menatap deretan bangunan yang tampak buram. Pikirannya melayang kembali ke kabin jet pribadi beberapa menit yang lalu, ke arah sepasang mata abu-abu yang membelalak kaget dan rasa hangat pipi Kael yang sempat bersentuhan dengan bibirnya.“Bodoh, Sab. Kau ini benar-benar bodoh,” bisiknya pada diri sendiri, menutupi wajahnya yang memanas dengan kedua telapak tangan. Ya. Sabrina merutuki aksi dadakannya tadi. Bagaimana bisa ia melakukan hal seberani itu? Ia adalah gadis yang biasanya lebih suka berdebat dengan logika daripada menyerah pada perasaan. Namun tadi, di depan pria yang p
"Apa kau marah?" Sabrina bertanya sambil menyipitkan matanya, menatap lekat pada pria di hadapannya dengan perasaan waswas. Kael mengangkat sebelah alisnya, mencoba mempertahankan wibawa kepemimpinan O’Shea yang biasa tak tergoyahkan."Kenapa kau tanya begitu?" ia malah balik bertanya dengan nada suara yang sengaja dibuat berat. "Bukankah barusan kau marah-marah tidak jelas padaku?"Dengan bibir yang sedikit mengerucut, Sabrina menjawab, "Kita ’kan baru baikan. Jadi... aku merasa tidak enak jika harus menolak tawaranmu." Kael menghela napas panjang, sorot matanya melembut. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memberikan senyum yang sangat jarang ia perlihatkan kepada mitra bisnisnya."Hei, tidak masalah kalau kau tidak bisa ikut den
Sabrina terdiam, dadanya bergemuruh hebat hingga terasa menyakitkan. Di detik itu, kesadarannya menghantam keras. Kemarahannya yang meledak-ledak bukan karena ego yang terusik, melainkan ketakutan nyata akan kehilangan pria tua bangka yang paling menyebalkan dalam hidupnya ini.“Sudahlah. Sana pergi!” Kael kembali duduk lalu memalingkan wajahnya, seolah benar-benar akan mengabaikan keberadaan gadis itu. Hingga kemudian...,"Aku peduli, bodoh! Aku tidak ingin kau pergi!" teriak Sabrina akhirnya, mengakui kejujurannya dengan cara yang masih penuh amarah dan sisa tangis. Kael cepat menoleh, kini tidak melepaskan tatapannya sedikit pun dari Sabrina. Ia tetap berge
Sabrina langsung tersentak kaget. Tubuhnya berjengit kecil saat bunyi dentang besi gagang pel itu menghantam lantai marmer dengan suara yang memekakkan telinga di tengah lobi yang sunyi. Dengan napas yang menderu pendek, ia mencoba mengabaikan tatapan tajam Kael yang menghuj
Suasana di dalam kabin sedan mewah itu berubah drastis, seolah oksigen di dalamnya mendadak tersedot habis. Cengkeraman tangan Kael pada pergelangan tangan Sabrina tidak lagi terasa seperti bentuk kecemburuan, melainkan sebuah peringatan mati yang kaku. Sabrina bisa merasakan suhu tubuh
"Maksudku... itu... bau mulutmu," kilah Kael cepat, suaranya sedikit serak. Ia membuang muka, menatap deretan buku di belakang Sabrina seolah itu benda paling menarik di dunia. "Bau cabainya tercium sampai sini. Penciumanku sangat tajam."&nb
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Namun, lambung Sabrina masih terasa seperti disayat sembilu. Efek seblak sialan itu belum sepenuhnya hilang, meninggalkan rasa perih yang membuatnya menyerah pada kantuk. Dengan langkah gontai







