MasukSuara helaan napas Kael terdengar berat di tengah keheningan balkon yang dingin. Di hadapannya, Sabrina masih bersimpuh. Gadis itu menunduk dalam, menangkupkan kedua telapak tangannya dengan tubuh yang sedikit bergetar.
"Tuan... saya mohon," suara Sabrina pecah, tertahan di tenggorokan. "Jangan pecat saya. Saya akan bekerja dua kali lebih keras. Saya tidak akan membuat masalah lagi dengan siapa pun di lantai bawah. Saya
“Hanya kita berdua di sini, Sabi.” Suara Rama merayap masuk ke telinga Sabrina seperti racun. Ia bisa merasakan hawa napas Rama yang panas berbaur dengan aroma parfum maskulin yang tajam, kini terasa memuakkan karena bercampur dengan debu kayu yang pengap. Sabrina berjuang melawan mual yang mengaduk perutnya. Ruang geraknya terkunci sepenuhnya oleh beban tubuh Rama yang menekan, membuatnya merasa sesak, seolah oksigen di gudang itu telah habis diserap oleh kegilaan pria di hadapannya itu."Kau tahu, Sabi," bisik Rama lagi, jemarinya kini menelusuri rahang Sabrina dengan kasar. "Menghancurkan kariermu adalah hukuman yang setimpal. Kau terus-menerus menolakku, menganggapku tidak ada, sementara aku sudah memberikan segalanya untuk perusahaan kalian. Jika aku tidak bisa memilikimu dengan cara biasa, maka aku akan memilikimu di kehancuranmu." Rama mendekatkan bibirnya ke ceruk leher Sabrina, menghirup aroma tubuh gadis itu dengan rakus seolah sedang meny
Debu kayu yang beterbangan di antara celah cahaya lampu gudang yang temaram mulai menyiksa indra penciuman Sabrina. Ia bisa merasakan gatal yang hebat di pangkal hidungnya, sebuah desakan biologis untuk bersin yang harus ia tekan sekuat tenaga hingga dadanya terasa sesak. Sementara di luar sana, suara langkah sepatu pantofel Rama terdengar seperti denting lonceng kematian yang semakin mendekat. Setiap derap langkah itu memicu memori masa kecil yang traumatis, saat ia dan Ganda harus bersembunyi di bawah kolong tempat tidur yang gelap demi menghindari suara gaduh para orang dewasa di masa lalu. Namun, kali ini monster yang mencarinya bukanlah bayangan masa kelam, melainkan pria yang pernah ia percaya
Aroma antiseptik yang tajam menyeruak di lorong rumah sakit berkelas di kawasan Jakarta Selatan, tempat di mana dinding-dindingnya dilapisi marmer dan keheningan adalah komoditas mahal. Ganda duduk di samping Gladis, menatap lurus ke arah pintu ruang spesialis yang masih tertutup rapat."Seharusnya kau tidak perlu mengaku jadi pacarku di depan mama. Itu hanya membuatku semakin menyedihkan. Mereka pasti akan menuntutmu," bisik Gladis, suaranya parau dan jemarinya bertaut gelisah."Menuntut apa?" tantang Ganda begitu santai, menyandarkan punggungnya tanpa beban.Gladis menoleh, menatap pria di sampingnya dengan pandangan nanar. "Kau bukan pekerja serabutan. Kau anak konglomerat. Cepat atau lambat mama pasti akan tahu siapa kau sebenarnya. Dia pasti akan menuntutmu, seperti Kael dulu sebelum akhirnya aku divonis mengidap sindrom ini.""Sudahlah. Jangan berpikir terlalu jauh," sela Ganda datar
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, satu-satunya hal yang memenuhi telinga Sabrina adalah degup jantungnya sendiri yang tidak beraturan. Ia kembali menatap layar ponsel, menelusuri riwayat panggilan tak terjawab kepada Ganda yang kini jumlahnya sudah tidak masuk akal. Dengan tangan sedikit gemetar, Sabrina mencoba menghubungi sang ayah. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara berat yang akrab menyapa di ujung sana."Ayah tidak tahu, Sayang. Ganda belum menghubungi ayah sejak tadi pagi," jawab Adrian di tengah kebisingan latar belakang bandara. Tampaknya pria itu baru saja tiba di terminal keberangkatan untuk penerbangan ke Singapura. "Ada apa? Suaramu terdengar cemas. Kau perlu bantuan ayah?"Sabrina memaksakan sebuah senyum kecut, meski ia tahu sang ayah tak bisa melihatnya. "Tidak, Yah. Aku masih bisa mengatasinya
"Kau terlalu serakah. Seharusnya kau ambil satu saja," komentar Nyonya Maureen memecah kesunyian di dalam kabin mobil mewah itu, sesaat setelah mereka baru saja selesai mengantarkan Sabrina kembali ke apartemennya. Nyonya Maureen melirik ronce melati yang masih menggantung di dasbor dengan tatapan jenaka. Ia tahu betul mitos di balik bunga itu, dan ia tahu lebih baik lagi betapa konyolnya sang cucu karena telah mengambil seluruh rangkaian melati pengantin milik orang lain. Namun, Kael hanya diam. Ia tetap fokus pada kemudi, mengarahkan mobil menuju kediaman megah keluarga O’Shea. Wajahnya tidak bersemangat. Tidak ada binar kemenangan meskipun ia baru saja menghabiskan waktu seharian bersama Sabrina."Ayolah! Apalagi yang bisa kubantu?" tanya sang nenek lagi, suaranya melembut. Ia bisa merasakan kegundahan yang memancar dari
Bayangan tentang masa kecil bagi Sabrina bukanlah tawa dan canda di meja makan, melainkan tangisan sang ibu yang sering ditinggal oleh ayahnya. Di sudut ingatannya yang paling gelap, ia masih bisa mendengar isak tangis ibunya yang tertahan di balik bantal, sementara ia dan Ganda bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, saling menggenggam tangan seolah dunia akan runtuh jika mereka melepaskannya. Ya. Sabrina tumbuh besar menyaksikan bagaimana pernikahan hanyalah sebuah transaksi atau penjara. Ia bahkan melihat sendiri bagaimana Ganda harus mengorbankan perasaannya dan terpaksa menikah hanya demi keuntungan bisnis keluarga yang nyaris karam. Baginya, janji suci tak lebih dari sekadar kontrak yang siap dikhianati, dan cinta hanyalah kata manis untuk menutupi dominasi satu pihak atas pihak lainnya.&n
Kael menyentil layar laptopnya. Bunyi benturan benda elektronik itu terdengar jelas di ruangan yang mendadak terasa sempit. Ia memutar ulang rekaman CCTV di kepalanya untuk kesekian kali.&
Matahari baru saja menyembul di cakrawala ketika Sabrina sudah selesai menyetrika seragam birunya hingga ke tiap sudut lipatan. Tidak ada lagi getaran di jemarinya. Rasa sakit karena dihina oleh Kael semalam tidak lantas menguap, namun ia memilih untuk membekukannya. Jika ia harus pergi bulan depan,
“Abang tahu enggak. Gara-gara foto kita kemarin bosku malah besar. Dia jadi salah sangka.”“Halah! Cuma foto doang kok.”“Tapi ‘kan, Bang..”“Udah ya, Sab
Setelah Gladis diusir dari ruangan, Kael masih terpaku pada meja kerjanya. Punggungnya menyandar pada kursi kulit ergonomis yang dingin, namun matanya tak lepas dari permukaan meja jati yang baru saja dibersihkan.&nb







