MasukSabrina menarik napas panjang, menatap botol tanpa label yang kini berada di genggamannya. Di ruang kerja yang sunyi itu, ia perlahan mengenakan sarung tangan karet kuningnya. Bunyi karet yang beradu dengan kulit terdengar nyaring di tengah keheningan. Dengan gerakan perlahan, ia memutar tutup botol tersebut.
Klik.
Segelnya terbuka. Sabri
Sabrina menarik napas panjang, mencoba menata kembali serpihan harga dirinya sebelum memutar knop pintu kamar. Di luar, di ruang tamu kecil apartemennya, sosok pria yang sejak pagi tadi mengacaukan emosinya sedang menunggu. Ia melihat Kael berdiri seketika begitu pintu terbuka. Penampilan pria itu tidak lagi serapi biasanya; kemeja polonya tampak kusut dan ada guratan kelelahan yang sangat dalam di wajahnya."Sab," panggil Kael lirih. Langkahnya tertahan saat melihat tatapan dingin Sabrina. Sabrina berjalan melewati Kael menuju meja makan, seolah pria itu hanya pajangan ruangan. Ia menuangkan air putih ke gelas dengan tangan yang diusahakan tetap tenang."Kenapa belum pulang? Ayah bilang kau sudah menunggu dua jam.
Sabrina menutup pintu apartemen dengan tenaga yang tersisa sedikit. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu, mencoba mengatur napas yang terasa tidak teratur. Hunian itu sangat sepi, sebuah keheningan yang ia syukuri karena ia tidak perlu berpura-pura baik-baik saja di depan siapa pun saat ini. Tadi, Ganda sudah mengirimkan pesan singkat bahwa ia mengajak Aliz ke bandara. Mereka menjemput ayah mereka, yang akhirnya tiba di Jakarta sore ini. Sabrina berjalan gontai menuju kamarnya. Bayangan kejadian di rumah sakit tadi terus berulang di kepalanya. Suara tangis Gladis dan permintaan wanita itu agar Kael menikahinya terasa seperti beban yang sangat berat. Sabrina melepaskan kaos navy milik Kael yang melilit pinggangnya. Ia melipat pakaian pria itu dan menaruhnya di dalam
"Aku bisa pulang sendiri," ucap Sabrina lirih, memecah keheningan yang menyesakkan di dalam kabin mobil. Tangannya masih meremas ujung celana training hitam pemberian Kael, seolah mencari pegangan pada realitas yang baru saja berguncang."Tidak," bantah Kael cepat tanpa menoleh. Fokusnya tertuju sepenuhnya pada jalanan di depan, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan ketegangan yang hebat. "Kita ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaan Gladis. Sepertinya dia tidak baik-baik saja." Sabrina terdiam. Ia membuang muka ke arah jendela, menatap deretan pepohonan yang tampak kabur karena kecepatan mobil. Entah mengapa, ada denyut nyeri yang tiba-tiba hinggap di hatinya, rasa sakit yang lebih tajam daripada kram haid yang ia rasakan tadi. Kenapa dengannya? Apa iya dia mulai memiliki perasaan pada pria itu? Bukankah selama ini
Kael menunjuk dengan gerakan ragu, jarinya terangkat sedikit ke arah bagian belakang rok legging merah muda yang dikenakan Sabrina."Itu, sepertinya kau..." Sabrina membeku. Detik itu juga, ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembap merembes di area sensitifnya. Sebuah firasat buruk mulai merayapi benaknya saat otaknya tiba-tiba memutar balik tanggal di kalender yang ia abaikan karena terlalu sibuk mengurus skema polimer kemarin. Ia haid. Dan jika melihat tatapan orang-orang, darah itu pasti sudah menembus kain tipis roknya, membentuk pola merah yang sangat kontras di atas warna merah muda cerah. Wajah Sabrina yang tad
Perjalanan menuju lapangan umum yang terletak tak jauh dari kompleks apartemen itu hanya memakan waktu sepuluh menit. Namun, bagi Sabrina, duduk di kursi penumpang sementara Kael yang menyetir mobil terasa seperti perjalanan panjang yang penuh kecanggungan. Pria itu tampak santai dengan tangan satu di kemudi, sementara Sabrina terus merapikan topi olahraganya yang sebenarnya sudah terpasang sempurna. Begitu sampai, kencan yang menjadi syarat bantuan Kael tadi malam pun dimulai. Bukan makan malam romantis di restoran berbintang, melainkan olahraga lari di bawah sinar matahari pagi yang mulai menyengat. Masalah muncul dalam lima menit pertama. Tinggi Sabrina yang hanya 156 cm jelas kalah telak dengan Kael yang menjulang lebih dari 30 cm darinya. Langkah panjang Kael membuat
"Aku tidak memaksa. Aku hanya memberikan penawaran.” Kael berkata dengan suara tenang dan senyum yang terkulum. Ia menyesap kopinya perlahan, menatap Sabrina dari balik uap tipis yang mengepul di antara mereka.Namun, Sabrina malah membelalakkan matanya begitu lebar. "Kau... apa-apaan? Permintaanmu tidak masuk akal!!""Kalau begitu ya sudah. Tugasku selesai sampai di sini membantumu. Lagipula aku yakin kau cukup pintar untuk mengatasinya sendiri," sahut Kael enteng. Ia mulai menutup laptopnya, seolah-olah data sabotase polimer tipe B yang mereka bahas tadi bukan lagi urusannya."Kael? Kau sengaja memanfaatkanku ya?" sentak Sabrina dengan mata yang masih melotot. Napasnya memburu, kesal melihat ketenangan pria yang dulu adalah atasannya itu."Aku hanya sedang bernegosiasi." Sabrina berdecak sebal. Ia merasa terjebak dalam skema pria ini. Di satu sisi, ia butuh akses data industri milik Kael untuk membuktikan kecurangan Rama sebelum laboratorium risetnya benar-be
Keheningan yang dingin menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Jemari Kael masih melingkar di pergelangan tangan Sabrina. Sebuah cengkeraman yang tidak menyakiti, namun penuh dengan klaim kepemilikan yang tak terucap. Tatap
Kael melangkah menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah lebar yang memancarkan aura permusuhan. Jas-nya yang mahal tersampir sembarangan di lengannya. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal di dalam saku cela
Sabrina mengerang frustrasi. Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan seragam kerja yang sebenarnya sudah licin, lalu melangkah keluar menuju dapur rumah utama. Ia hanya ingin melakukan sesuatu. Apa pun. Entah itu menata piring, me
Sabrina tersentak, hampir terjatuh dari bangku kayu kecil tempatnya duduk. Ia mendongak cepat, jantungnya mencelos saat melihat Kael berdiri tegak di hadapannya.&







