ログイン"Kael! Kenapa diam sih? Mau jadi patung ya? Hehe. Atau loyo?”
Suara Sabrina meluncur pelan, serak, namun memiliki daya hancur yang luar biasa bagi pertahanan Kael. Ia tidak lagi tampak seperti gadis miskin yang selalu menunduk ketakutan. Dengan jemari yang gemetar namun gigih, ia menarik dasi Kael yang sudah longgar, memaksa wajah pria itu hanya berjarak beberapa inci dari bibirnya yang memerah padam.
Kael
Isi kepala Sabrina mendadak mendidih. Penolakan telak yang baru saja dilayangkan ayahnya membuat atmosfer di dalam apartemen terasa begitu mencekik. Sepasang matanya bergerak gelisah, menatap profil samping Kael yang kini tampak begitu kaku dengan rahang yang mengeras sempurna. Ya. Sabrina dirundung ketakutan yang hebat. Ia tahu betul siapa Kael, pria dengan harga diri setinggi langit yang tidak biasa didebat, apalagi ditolak mentah-mentah di depan umum. Bagaimana jika Kael murka? Bagaimana jika pria itu tersinggung dan memilih untuk berbalik pergi lalu mendiamkannya berhari-hari? Namun di sisi lain, benak Sabrina juga dipenuhi kebingungan yang teramat sangat atas sikap Adrian. Tumben sekali ayahnya bersikap sekeras dan sefrontal ini. Bukankah hubungan mereka sudah membaik setelah perseteruan tiga tahun lalu? Kenapa saat ini ayahnya mendadak memasang benteng pertahanan begitu tinggi, seolah-olah Kael adalah ancaman besar yang harus dihalau dari agen
“Ya. Kami memang mau pergi yang jauh.”“Begitu ya?” gumam Kael yang kini melirik ke arah sumber suara. Di sana ada Aliz yang menatapnya dengan mata berbinar-binar penuh semangat.“Kami mau pergi lihat gajah sama kelinci-kelinci lucu!" Bocah kecil itu melompat-lompat kecil di depan sofa sambil menunjukkan boneka binatang di pelukannya, memamerkan rencana besarnya kepada Kael yang masih berdiri diam di dekat ruang tengah. Kael menundukkan pandangannya, menatap sisa-sisa air mata yang mulai mengering di pipi gembil Aliz. Senyum tipis yang sarat akan rasa penasaran terukir di wajah tampannya. Ia kemudian beralih menatap Sabrina yang berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah yang tampak agak panik."Melihat gajah sore-sore begini?" tanya Kael, menuntut penjelasan dengan sebelah alis yang terangkat tinggi. Tatapannya yang tajam langsung mengunci manik mata Sabrina. Sabrina mengembuskan napas panjang, merasa tidak punya pilihan lain selain membongkar renca
“Aku tidak bisa tenang kalau tidak menyusulnya ke sana hari ini juga.” Suara Ganda terdengar berat, dipenuhi kecemasan yang sulit disembunyikan. Ia berdiri di tengah ruang apartemen sambil meremas ponselnya kuat-kuat, seolah berharap kabar dari Singapura akan berubah menjadi lebih baik jika ia terus menatap layar itu.Sabrina mengangguk pelan. Ia bisa melihat jelas kepanikan di mata kakaknya.“Pergi saja, Bang,” ujarnya lembut sambil menepuk bahu Ganda untuk menenangkan. “Urusan Aliz biar aku yang tangani di sini.”Ganda mengusap wajahnya kasar. “Tapi aku…”“Aku akan memastikan dia baik-baik saja,” potong Sabrina tegas. “Kau fokus saja pada terapi Gladis.” Kalimat itu sedikit melegakan Ganda. Namun, masalahnya ternyata belum selesai
Terkejut mendengar tawa Kael di telepon, Sabrina langsung turun dari ranjang tanpa alas kaki. Ia mengendap-endap keluar dari kamar Aliz, berjalan cepat menuju pintu depan apartemennya, lalu menempelkan wajahnya pada peephole, yakni lubang intip pintu di sana. Sabrina menahan napas. Di luar sana, di koridor yang sepi dan temaram, Kael benar-benar berdiri bersandar di bingkai pintu unit apartemennya yang terbuka sedikit. Pria itu masih menempelkan ponsel di telinga, menatap lurus ke arah pintu Sabrina dengan senyum jahil yang jarang sekali ia tunjukkan."Aku tahu kau sedang mengintipku," bisik Kael lewat telepon, suaranya terdengar sangat dekat sekaligus seksi. "Buka pintunya sebentar, atau aku yang akan mengetuknya sampai Aliz dan Ganda terbangun?" Sabrina
"Ayolah, Kael. Kita bisa minum di lounge sana sebentar saja," bujuk Rosaleen sembari mempererat gelayutan tangannya di lengan Kael, menunjuk ke arah bar mewah hotel dengan dagunya. Kael tidak goyah sedikit pun. Dengan gerakan kasar dan tak bersahabat, ia menyentak tangannya hingga tautan Rosaleen terlepas sepenuhnya. Tatapannya menatap wanita itu dengan kilat kemarahan yang mematikan."Aku lelah. Aku ingin pulang," tolak Kael tegas. Namun, Rosaleen tidak menyerah begitu saja. Di bawah pendar lampu koridor yang temaram, ia justru sengaja melangkah maju, memangkas jarak hingga tubuh mereka hampir tak berjarak. Dengan berani, jemari lenturnya bergerak naik, menyentuh dada bidang Kael dan merapikan kerah kemeja pria
“Kau membuntuti kami?” tuding Kael langsung, suaranya sedingin es dengan tatapan penuh intimidasi.Rosaleen menggeleng cepat lalu menjawab, “Aku hanya sedang berusaha mengingatkan jadwalmu saja. Seharusnya kau berterima kasih karena ini. Aku bahkan tidak menyelonong masuk seperti sebelumnya ‘kan?”"Sialan," umpat Kael lirih di dalam hati. Rahangnya mengeras sempurna saat menyadari bahwa pernyataan Rosaleen kali ini memang benar. Idenya yang menyuruh Victor pulang cepat sore tadi demi memberikan asistennya itu waktu bersama sang istri, kini berbalik menjadi bumerang. Kael benar-benar merutuki dirinya sendiri karena telah melupakan jadwal krusial perusahaan akibat terlalu terbuai asmara dan rasa bahagianya bersama Sabrina sejak dar
Denting lonceng di pintu butik Le Vian terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Sabrina. Begitu mereka melangkah masuk, manajer butik langsung mengunci pintu kaca besar itu dari dalam dan membalik papan nama menjadi Closed. Di bawah pendar lampu kristal yang mewah, butik itu kini berubah m
Untuk pertama kalinya, bukan seragam abu-abu kaku dengan kerah tinggi yang Kael lihat. Bukan pula celemek pelayan yang sering kali tampak lusuh karena debu pekerjaan. Di hadapannya kini, Sabrina tampil dalam balutan tunik sederhana berwarna krem yang jatuh dengan anggun di tubuhnya. Ram
Minggu pagi itu, Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat. Langit biru bersih memayungi perjalanan mobil sedan hitam yang meluncur tenang menuju kawasan Jakarta Barat. Di dalam kabin yang kedap suara, Sabrina duduk berdampingan dengan Nyonya Maureen. Ya. Pagi ini, Sabrina men
Malam Minggu di kediaman mewah keluarga O’Shea tidaklah diisi dengan pesta pora atau dentuman musik yang memekakkan telinga. Sebaliknya, suasana tenang yang elegan menyelimuti ruang tengah. Di sana, di atas sofa beledu yang







