LOGINGanda tidak bisa tidur. Di sampingnya, Aliz sudah meringkuk nyenyak, tapi otak Ganda justru sedang berdisko dengan berbagai skenario buruk. Ia masih terngiang bagaimana Sabrina mendadak amnesia soal pekerjaan saat dicecar tadi, lalu kabur ke kamar dengan alasan mengantuk yang sangat tidak meyakinkan.
Tapi yang paling mengganggu sirk
Kael masih terpaku di dekat ambang pintu. Dia tidak berani melangkah lebih dekat. Rasa bersalah membuat seluruh persendiannya terasa lumpuh dan kaku. Namun, mau sampai kapan? Pada akhirnya Kael memandangi wajah Sabrina yang sembab, lalu beralih pada perut buncit istrinya itu. Hatinya sesak mendapati Sabrina harus menanggung beban duka dalam keadaan hamil besar bagini. Kael teringat bagaimana perjuangan panjang yang telah mereka lalui untuk sampai di titik ini. Tiga tahun terpisah dalam jurang kesalahpahaman yang menyiksa, saling menyakiti dalam keangkuhan, hingga akhirnya takdir melunakkan hati mereka untuk menjalani hidup bersama. Sabrina adalah poros dunianya, satu-satunya alasan Kael bertahan di tengah kejamnya ajang balas dendam di masa lalu. Namun kini, melihat kerapuhan istrinya, Kael dirayapi ketakutan luar biasa. Dia sadar bahwa cinta mereka selalu dikelilingi badai, dan kali ini, dia takut apa yang terlah terjadi a
“A.. ayah.” Bibir ganda bergetar hebat. Suaranya berganti menjadi isakan yang begitu dalam."Bang, kenapa?" desak Sabrina lagi. Suaranya merendah, namun getaran hebat di dalamnya tidak bisa disembunyikan. "Ayah... Ayah kenapa? Jangan membuatku gila ya." Ganda mematung di sisi ranjang. Kedua tangannya yang gemetar perlahan terangkat. Pertahanannya runtuh berantakan saat sepasang mata sembab sang adik menuntut kejujuran yang paling menyakitkan dalam hidup mereka. Dia tidak bisa lagi bersandiwara di hadapan darah dagingnya sendiri."Sabi..." Ganda tercekat, tenggorokannya bagai tersumbat kerikil tajam. Air matanya kembali merebak dan meluncur jatuh tanpa bisa ditahan. "Ayah... Ayah sudah tidak ada."“Ayah sudah meninggalkan kita.”
"Bukankah itu tanda gejala preeklampsia?" Tanpa menunggu persetujuan atau banyak kata lagi, Ganda langsung bangkit dari posisinya. Langkah kakinya bergerak lebar dan tergesa-gesa menghampiri sang adik, lalu dengan sigap memapah tubuh Sabrina yang tampak lemas menuju ke arah pintu keluar. Kepanikan yang sejak tadi dia tahan akibat berita kematian Adrian kini seolah menemukan pelampiasan dalam bentuk kekhawatiran yang meledak-ledak atas kondisi fisik Sabrina."Bang, jangan berlebihan!" ujar Sabrina seraya memegangi kepalanya yang terasa semakin berdenyut nyeri akibat pergerakan Ganda yang terlalu mendadak. "Aku hanya pusing biasa karena kurang tidur semenjak Kael pergi."Gladis yang berjalan cepat di sisi kiri Sabrina ikut menyela, mencoba menenangkan atmosfer yang mendadak tegang.
"Oh, ya Tuhanku!" Nyonya Maureen yang baru saja keluar dari kamarnya pagi itu langsung terisak, menangkup wajahnya yang mendadak pucat pasi. Tubuh sepuhnya tampak bergetar begitu hebat menahan syok, hingga Gladis dengan sigap langsung merangkul pundak wanita tua itu dan menuntunnya secara perlahan menuju sofa beludru di ruang tengah. Sementara itu, Ganda masih berdiri mematung dan diam seribu bahasa di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke sudut kota. Kedua tangannya mengepal begitu erat di dalam saku celana, sementara matanya masih berkaca-kaca menatap kosong ke luar gedung. Kabar buruk yang disampaikan oleh Victor melalui panggilan telepon darurat setengah jam yang lalu benar-benar meruntuhkan seluruh pertahana
Adrian menyentak tangan Kael dengan kasar hingga terlepas. Pria paruh baya itu berjalan lebar dengan langkah kokoh menuju mobil taktis yang mesinnya sudah menderu keras di depan pintu hanggar. Kael mengepalkan tangan kuat-kuat. Menyadari keras kepala mertuanya tidak akan bisa dipatahkan, dia tidak punya pilihan lain."Sialan!" umpat Kael, lalu berlari menyusul dan melompat masuk ke dalam mobil yang sama. Malam itu, serangan membabi buta tidak lagi bisa dihindari di sektor utara Berlin. Suasana gudang yang menjadi markas sayap burung perak langsung pecah oleh rentetan tembakan. Kael akhirnya mendampingi Adrian di garis paling depan. Keduanya be
Udara dingin Berlin yang menusuk tulang langsung menyambut kedatangan Kael begitu dia menapakkan kakinya turun dari tangga jet pribadi. Di dalam sebuah hanggar tua yang terisolasi jauh di pinggiran kota, atmosfer terasa begitu mencekam. Cahaya lampu yang temaram berkedip sesekali, hanya mampu menerangi beberapa sudut ruangan yang luas, memantulkan bayangan hitam dari deretan mobil taktis antipeluru yang sudah bersiaga sejak beberapa jam lalu. Di sudut hanggar yang paling gelap, sesosok pria paruh baya dengan setelan mantel wol tebal berwarna gelap berdiri tegak. Adrian sudah menunggunya di sana dengan ekspresi wajah yang luar biasa dingin. Gurat kelelahan yang sempat terlihat saat mereka melakukan panggilan video di Singapura kini telah menguap sepen
Kael melangkah keluar, langsung disambut oleh tiga pasang mata yang memancarkan kecemasan luar biasa. Adrian, Ganda, dan Nyonya Maureen masih berdiri di posisi yang sama seperti setengah jam lalu, seolah tidak berani bergeser satu
"Sabrina!" Kael menggendong Sabrina ala bridal style, membawanya keluar dari kamar mandi dengan langkah tergeser-geser panik. Perlahan, ia membaringkan tubuh pucat istrinya di atas ranjang king size mereka. Kedua tangan Kael bergerak cepat, menepuk-nepuk halus pipi gembil Sa
Kelopak mata Sabrina melebar sempurna. Pertanyaan Ganda yang begitu frontal meruntuhkan seluruh dinding pertahanannya. Di dalam kepalanya, kalender siklus bulanannya mendadak berputar cepat, menghitung mundur hari demi hari sejak dia dan Kael masih berada di bawah langit Pulau Socotra.
Kael menghela napas pendek, lalu dengan gerakan perlahan memindahkan tubuh Aliz ke lengan salah seorang pelayan wanita yang sejak tadi menunggu di dekat tangga."Bawa Aliz ke kamar tamu. Pastikan selimutnya terpasang dengan benar," perintah Kael dengan suara baritonnya yang rendah."Baik, Tuan," bis







